
Veon sangat terkejut melihat kedatangan Zaki dan Kania, ‘untuk apa dia kesini?’ pria itu berpura-pura sedang memeriksa berkas-berkas di atas mejanya saat Kania melangkahkan kakinya mendekati meja kerjanya.
“Aku kesini karena Mama yang menyuruhku. Mama bilang tadi kamu belum sempat sarapan, jadi Mama menyuruhku untuk membuatkan bekal makan siang untuk kamu.” Kania lalu meletakkan paper bag di atas meja kerja Veon. Kedua mata Kania melirik ke arah pigura foto di atas meja itu, ‘siapa wanita itu sebenarnya? Apa dia akan kembali lagi di kehidupannya?’ gumamnya dalam hati.
Kania jadi teringat akan apa yang tadi Zaki katakan. Dimana Zaki mengatakan jika Kania memang sudah mulai mencintai Veon, apa dirinya akan siap untuk terluka nantinya?
‘Sebenarnya apa yang ingin Zaki katakan sama aku? apa maksudnya dengan aku harus siap terluka nantinya, apa itu ada hubungannya dengan wanita itu?’ gumam Kania dalam hati.
“Hem...” Veon berdehem hingga membuyarkan lamunan Kania, “apa yang kamu fikirkan? Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?” tanyanya kemudian.
“Em...aku...aku...memangnya apa yang kamu katakan? Maaf aku tidak mendengarnya,” ucap Kania gugup.
Zaki yang berdiri tidak jauh dari Kania pun tau apa yang sedang dilamunkan wanita itu. Apalagi sejak tadi Zaki mengikuti kemana ekor mata Kania menatap.
“Apa kamu ingin membohongi aku lagi tentang masakan siapa itu?”
“Makanan itu aku yang membuatnya, jika kamu tidak ingin memakannya juga tidak apa-apa.” Kania lalu mengambil paper bag itu dari atas meja kerja Veon, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati Zaki, “dari pada aku buang, mendingan aku kasih kamu. Ini makanan terlezat yang pernah aku buat,” ucapnya sambil melirik ke arah Veon.
Zaki tersenyum, “terima kasih adikku sayang, aku akan dengan senang hati memakan masakan kamu ini,” ucapnya sambil menerima paper bag itu.
‘Beraninya dia memberikan bekal makan siang ku untuk Zaki! Memangnya tadi aku bilang aku tidak ingin memakannya, dasar! Tapi jika aku mengatakan kalau aku ingin bekal makan siang itu, nanti dia jadi besar kepala lagi,’ gumam Veon dalam hati.
“Aku kesini hanya ingin mengantar bekal makan siang ini, jadi aku pulang dulu,” pamit Kania.
“Zak...antar dia pulang sampai di rumah,” perintah Veon.
Zaki menganggukkan kepalanya, “baik, tuan,” ucapnya. “ayo,” imbuhnya.
Zaki lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu dan di ikuti oleh Kania. Tapi langkah mereka terhenti saat Veon menyuruh mereka berhenti.
“Apa Tuan membutuhkan sesuatu?” tanya Zaki setelah membalikkan tubuhnya menghadap Veon.
“Kenapa kamu membawa bekal makan siang itu?” tanya Veon.
Zaki tersenyum tipis, ‘bilang saja kalau Tuan ingin memakan bekal makan siang ini, apa susahnya sih?’ “saya akan memakannya di luar Tuan, tidak mungkin kan saya akan memakannya di ruangan tuan,” ucapnya.
“Em...lebih baik kamu taruh bekal makan siang itu di meja, kamu bisa memakan nya nanti setelah kamu mengantar Kania pulang ke rumah,” ucap Veon lalu mengalihkan tatapannya ke berkas-berkas yang berada di meja kerjanya.
Kania mengernyitkan dahinya, dia juga tidak ingin berlama-lama di ruangan itu, “lebih baik kamu turuti apa katanya, aku ingin segera pergi dari sini,” ucapnya.
__ADS_1
“Ok...” Zaki lalu menaruh paper bag itu di atas meja, “saya titip bekal makan siang saya ya tuan, nanti saya akan mengambilnya lagi,” ucapnya sambil tersenyum.
Veon mengibas-ngibaskan tangannya dan meminta Zaki untuk segera keluar dari ruangannya. Zaki pun mengajak Kania untuk segera keluar dari ruangan itu.
“Kamu mau taruhan sama aku?” tanya Zaki setelah mereka keluar dari ruangan itu.
“Taruhan soal apa?”
“Aku yakin suami kamu itu sangat ingin memakan bekal makan siang yang tadi kamu bawa.”
Kania mengernyitkan dahinya, “mana mungkin, apa kamu tadi tidak melihat dia tidak ingin memakan masakan aku?” ucapnya tidak percaya.
“Tapi tadi aku tidak mendengar suami kamu mengatakan jika dia tidak ingin memakan masakan kamu, dia hanya bertanya apakah kamu akan berbohong lagi tentang masakan siapa itu.”
“Astaga! Kenapa kamu tadi tidak bilang sama aku, tapi kamu malah mau-mau saja aku beri bekal makan siang itu,” ucap Kania kesal.
Zaki menjitak kening Kania, “jadi kamu mau menyalahkan aku? apa karena semalam kamu habis...jadi otak kamu menjadi lemot,” sindirnya.
Muka Kania seketika memerah, “apa kamu tidak mau mengatakan itu? Aku saja merasa sangat malu saat mengingat kejadian itu,” ucapnya pelan.
Zaki tertawa, “jadi benar kalian sudah melakukan itu, aku kira kalian tidak akan pernah melakukan itu mengingat pernikahan kalian yang hanya pura-pura itu,” ledeknya.
“Kenapa kamu menanyakan itu terus? Apa kamu benar-benar sudah jatuh cinta dengan suami kamu?”
Kania menghela nafas panjang, “aku tidak tau, tapi saat aku memikirkan tentang wanita itu, entah kenapa hati aku rasanya sakit. Zak...apa yang harus aku lakukan jika wanita itu kembali lagi kesini?” tanyanya.
“Kenapa kamu menanyakan itu sama aku, yang tau jawabannya adalah kamu sendiri. Tapi ada satu hal yang perlu kamu ingat, meskipun dia kembali lagi kesini, kamu yang lebih berhak atas diri Tuan Veon, karena dia sekarang adalah suami kamu, bahkan kalian sudah melakukan itu, itu berarti Tuan Veon sudah menjadi milik kamu seutuhnya.”
“Tapi...apa dia akan berpikiran sama denganku? Apa dia juga menganggap aku sebagai istrinya seperti aku yang sudah menerima dia sebagai suamiku? Dia bahkan tidak mencintaiku, apa dia akan lebih memilih aku, istrinya?”
Zaki menepuk bahu Kania, “jika kamu ingin memilikinya selamanya, luluhkanlah hatinya. Buatlah dia jatuh cinta padamu, kamu saja bisa jatuh cinta padanya, kenapa dia tidak bisa jatuh cinta padamu,” ledeknya.
“Tapi aku tidak mungkin bersaing dengan wanita itu, karena wanita itu bahkan jauh lebih cantik daripada aku,” ucap Kania sambil menundukkan wajahnya.
“Iya sih, dia lebih cantik dari pada kamu.” Kania memelototkan kedua matanya menatap Zaki yang kini tengah tersenyum puas, “tapi...masih ada tapinya ini,” imbuhnya.
“Tapi apa?”
“Kamu jauh lebih muda dari dia, tentu saja tuan akan lebih memilih kamu, bukankah daun muda itu akan lebih terasa nikmat,” goda Zaki dan langsung mendapat pukulan di lengan dari Kania.
__ADS_1
***
Zaki yang sudah kembali ke kantor masuk ke dalam ruangan Veon, dia melihat Veon masih sibuk berkutat dengan laptopnya, “apa tuan ingin saya belikan makan siang?” tanyanya sambil berdiri di depan meja kerja Veon.
Veon menggelengkan kepalanya, “aku sedang tak berselera makan,” ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop itu.
Zaki menganggukkan kepalanya, “kalau begitu saya mohon izin untuk makan siang dulu, saya sudah tidak sabar ingin memakan masakan Nona Kania,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju sofa.
Zaki mulai mengeluarkan bekal makan siang itu dari dalam paper bag, “Tuan yakin tidak ingin memakan bekal ini?” tanyanya memastikan.
Veon hanya menggelengkan kepalanya, dia bahkan mencoba untuk tidak tertawa.
Zaki membulatkan kedua matanya saat membuka kotak bekal siang itu, ternyata kotak bekal makan siang itu sudah kosong dan tidak tersisa sedikitpun makanan di dalamnya.
Veon tau jika saat ini Zaki tengah menatapnya, “itu bekal makan siang aku, jadi aku berhak untuk memakannya,” ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Tapi bukannya tuan tadi tidak mau memakannya?”
“Aku tidak pernah bilang aku tidak ingin memakannya, Kania saja yang tiba-tiba mengambil bekal makan siang itu lalu diberikan ke kamu,” ucap Veon kesal.
Zaki tersenyum, ‘aku sudah tau ini pasti terjadi, untung tadi aku mampir ke restoran dulu sebelum kembali kesini,’ gumamnya dalam hati.
“Kenapa saat Nona Kania memberikan bekal ini pada saya, Tuan hanya diam saja?” Zaki akan terus menginterogasi Veon sampai dia mengakui jika dia mulai mempunyai perasaan pada Kania.
“Apa kamu sudah gila? Mau ditaruh dimana muka aku kalau aku sampai mengatakan itu di depan Kania.”
“Apa sekarang Tuan mulai merasa malu di depan Nona Kania?” tanya Zaki sambil tersenyum.
“Jangan berpikiran yang aneh-aneh, mana mungkin aku merasa malu di depan wanita itu, memangnya dia siapa aku.”
“Istri SAH anda.” Zaki berbicara dengan sangat mantap.
“Zak, apa kamu lupa kalau pernikahan ini hanya pura-pura, aku bahkan tidak mencintainya.”
“Apa tuan yakin jika tuan tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap istri tuan?” pertanyaan Zaki itu mendapatkan anggukkan dari Veon.
‘Mau sampai kapan Tuan akan mengelaknya, jika tuan tidak mencintai Kania, tapi kenapa tuan tega melakukan itu dengannya? Apa tuan hanya berniat untuk mempermain kan perasaannya?’ gumam Zaki dalam hati.
__ADS_1
~oOo~