
Tapi karena tidak ingin membuat jerih payah ibunya sia-sia Desi pun memaksa memakan makanan itu.
Tiga sendok, empat dan sampai sendok yang kelima Desi sudah tidak bisa menahannya dengan segera ia meletakkan rantang makanan tersebut dan berlari ke arah kamar mandi yang ada di ruangannya itu.
Bu Dewi yang melihat hal itu merasa khawatir dengan segera ia mengikuti langkah kaki putrinya menujuh kamar mandi.
Hoek Hoek Hoek
Semua makanan yang tadi baru ia makan kembali ia muntahkan hingga terkahir cairan bening yang keluar karena semua makanan sudah ia muntahkan.
Bu Dewi yang melihat keadaan putrinya dengan segera membantu memijat tengkuk Desi, dilihatnya wajah putrinya begitu pucat membuat kekhawatirannya semakin bertambah.
" Nak, ada apa dengan mu, apa kamu sedang sakit, wajahmu sangat pucat" ucapnya dengan nada khawatir.
Tadi kondisi Desi baik-baik saja tapi kenapa sekarang malah berubah setelah memakan makanan yang dibawanya.
"Apa makanan yang ibu bawa tidak enak sehingga membuatmu seperti ini" ucapnya lagi dengan nada menyesal," tapi ibu sudah menyicipinya lebih dulu, dan rasanya sama seperti yang biasa ibu buat untuk mu nak" lanjut Bu Dewi merasa bingung.
" Tidak Bu, makanan yang ibu bawa tidak ada masalah, hanya saja memang akhir-akhir ini Desi merasa tidak terlalu berselera makan seperti yang ibu lihat baru beberapa sendok yang masuk ke mulut ku aku sudah kembali memuntahkannya" sahutnya dengan suara yang lemas karena tenaganya terkuras habis saat memuntahkan semua makanan yang tadi dimakannya dan juga kepalanya yang terasa mulai berat tapi ia berusaha menenangkan sang ibu yang terlihat khawatir.
Mendengar penuturan sang putri bukannya membuat Bu Dewi tenang wanita paruh baya itu justru bertambah khawatir, jadi sudah beberapa hari Putrinya itu mengalami gejala ini tapi malah tidak memeriksanya ke dokter.
Bagaimana jika ada penyakit serius yang sedang dideritanya. Pikir Bu Dewi
" Apa? Lalu kenapa kamu tidak memeriksanya ke dokter, ayo sekarang kita kerumah sakit"ucap wanita paruh baya itu tidak habis pikir
" Tapi Bu, Desi sudah tidak pa-pa, mungkin ini karena Desi kurang istirahat saja" sahutnya
" Tidak ada tapi-tapian, sekarang kamu harus ikut ibu kerumah sakit, jangan sampai ada penyakit serius yang sedang kamu idap" balas Bu Dewi membuat Desi hanya bisa terdiam dan pasrah percuma ia membantahnya, karena pasti ujung-ujungnya ia akan kalah mengingat ibunya itu mempunyai banyak cara untuk membuat dirinya tidak bisa berkutik.
***
Setelah membuka pintu ruangan Desi, mereka berpapasan dengan ayah Arman yang saat itu ingin kembali keruangan Putrinya ditemani oleh asisten Kevin.
" Loh, kalian mau kemana! Apa kalian sudah selesai" tanyanya mendapati anak dan istrinya itu berdiri di depan pintu masuk ruangan Desi." Desi kamu pucat bangat nak, apa kamu sedang sakit"tanyanya lagi setelah memperhatikan kondisi putrinya itu yang terlihat sangat pucat dan lemas.
Buru-buru ayah Arman mengambil alih tubuh Desi dan membopongnya, tapi Kevin lebih dulu meminta izin untuk menggendong Desi melihat keadaan putri atasannya itu yang mulai sangat lemah, jadi tidak mungkin sanggup untuk berjalan. Pikirnya.
__ADS_1
" Ia pak, tadi setelah Desi memakan makanan yang ibu bawa, keadaannya jadi seperti ini" sahut Bu Dewi yang sudah menangis melihat keadaan putrinya itu.
" Sudah bu jangan menangis, Desi pasti baik-baik saja! Lebih baik sekarang kita membawanya segera kerumah sakit" balas ayah Arman menenangkan sambil mengikuti langkah asistennya yang sudah berjalan lebih dulu menuju lift.
***
Setelah sampai di lantai bawah dengan segera asisten Kevin berjalan membawa Desi keluar menuju lobi kantor dan berjalan ke area parkir khusus untuk sampai di mobil miliknya berada, diikuti oleh Bu Dewi dan Ayah Arman! Sedang para karyawan yang melihat pemandangan itu pun hanya bisa diam dan bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi pada putri atasan mereka itu.
Tapi tidak ada yang berani hanya untuk sekedar bertanya, mereka hanya bisa melihat dan berdoa semoga tidak ada hal serius yang dialami oleh nona muda mereka.
Sampai di tempat parkir khusus petinggi diperusahaan Kevin dengan segera membawa Desi kearah dimana mobilnya berada! Satpam yang berjaga di tempat tersebut dengan sigap membantu membukakan pintu mobil untuk atasan mereka, saat melihat nona muda mereka yang berada dalam gendongan asisten Kevin.
Dengan pelan Kevin memasukkan tubuh Desi kedalam mobil dan membaringkannya, disusul oleh Bu Dewi yang ikut duduk di jok belakang guna memangku sang putri! Sedangkan ayah Arman duduk didepan bersama Kevin yang menyetir mobil.
" Nak cepat jalankan mobilnya" pinta Bu Dewi yang sudah tidak sabar melihat kondisi putrinya.
Niat hati ingin menceritakan semuanya pada sang putri tentang dirinya harus urung ia lakukan saat mendapati keadaan Desi yang sekarat seperti ini.
"Ia nyonya" setelah mengatakan itu perlahan mobil yang dikemudikan oleh Kevin pun melesat meninggalkan area parkir dan gedung kantor DINATA GROUP menuju jalan raya untuk Sampai dirumah sakit terdekat.
Selama perjalanan menuju rumah sakit tidak henti-hentinya Bu Dewi menangis, dan berdo'a kepada yang kuasa semoga keadaan putrinya baik-baik saja, tapi sekuat apapun ia berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa keadaan Desi akan baik-baik saja gugur ketika melihat darah segar yang mengalir dibalik kaki putrinya yang saat itu menggunakan rok sebatas paha.
" Ada apa Bu?"sahut ayah Arman dengan segera melihat kearah belakang
" Darah dia berdarah" lanjutan kembali menangis" nak, buka mata kamu! Desi apa kamu mendengar suara ibu ?" Ucapnya dengan berusaha membangunkan sang putri.
Sedangkan Kevin yang menyetir pun menambahkan laju mobilnya saat melihat nyonya besarnya begitu histeris, tapi karena sekarang waktu pulang kerja jalanan menjadi macet membuat Kevin hanya bisa mengumpat kasar.
" Bu tenang, Desi pasti baik-baik saja! Kita berdo'a kepada yang maha kuasa semoga tidak ada hal serius yang dialami oleh Desi." Ucap ayah Arman berusaha menenangkan istrinya walaupun sebenarnya dirinya juga dilanda perasaan khawatir yang teramat dalam.
***
Setelah satu jam perjalanan karena terjebak macet akhirnya mobil yang dikendarai oleh Kevin pun sampai di rumah sakit milik keluarga BRAMANTYO, didepan pintu rumah sakit sudah berdiri beberapa staf ahli dokter dan perawat yang sudah menunggu kedatangan mereka saat tadi asisten Kevin menelpon dijalan! dengan segera ia para perawat itu mendekati mobil ketika melihat asisten Kevin mengeluarkan tubuh Desi dari mobil dan dibaringkan di atas brangkar yang dibawah oleh para petugas rumah sakit.
Setelah memastikan tubuh pasien Sudah diletakkan dengan benar para petugas itupun mendorong brangkar menuju ruang instalasi gawat darurat atau IGD, ukurannya lebih besar dibandingkan dengan unit gawat darurat (UGD).
Di IGD, alat yang digunakan dan dokter yang berjaga pun lebih lengkap dari sisi spesialisasi. Sementara itu di UGD, yang berjaga adalah dokter umum, dengan jenis alat yang relatif terbatas.
__ADS_1
Mengingat pasien yang mereka tangani ini merupakan menantu dari keluarga BRAMANTYO pemilik rumah sakit ini, mereka tidak ingin mengambil resiko apapun sehingga beberapa dokter ahli turun tangan sendiri untuk menangani keadaan nyonya muda mereka.
" Pak, Bu kalian bisa tunggu disini! Biarkan dokter yang menangani anak bapak dan ibu" ucap suster itu saat mereka memasuki ruang IGD dan melihat keluarga pasien yang ingin ikut masuk.
Bu Dewi yang mendengar perkataan itu pun hanya bisa menangis dan memeluk suaminya, sedang Kevin Hanya bisa diam berdiri di depan ruangan IGD
" Bu sudah, jangan menangis lagi sekarang yang harus kita lakukan berdo'a semoga Desi tidak kenapa-kenapa"
" Tapi yah.."
" Bu, ingat Allah tidak akan memberikan hambanya cobaan diambang batas kemampuannya menghadapi cobaan itu" sahut ayah Arman lagi bijak, membuat Bu Dewi pun mengucap istighfar karena terlalu larut dalam ketakutannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Next Sampai sini dulu ya gays π₯°ππ
Jangan lupa Like dan Votenya βΊοΈππ