Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Penawaran


__ADS_3

Zaki sudah mengatur pertemuan Veon dengan koleganya yang bernama Pak Zaiz, ini berhubungan dengan rencana yang di usulkan oleh Zaki tentang masalah yang sedang Veon hadapi.


Veon dan Zaki kini tengah berada di sebuah restoran tempat Zaki mengatur pertemuan itu. Mereka melangkahkan kakinya berjalan mendekati pria paruh baya yang sudah datang lebih dulu. Pria paruh baya itu beranjak dari duduknya saat melihat Veon dan Zaki sudah berdiri di depannya.


Zaki menarik salah satu kursi yang berada di depan pria paruh baya itu. Veon lalu mendudukkan tubuhnya di kursi itu. Zaki tetap berdiri di samping majikannya itu. Veon menyuruh pria paruh baya itu untuk kembali duduk.


“Maaf kan saya, saya belum bisa mengganti rugi kerugian yang anda derita selama ini,” ucap Pak Zaiz sambil menundukkan kepalanya, kedua tangannya kini sedang meremas celana kain yang dia kenakan saat ini.


Veon melipat kedua lengannya di dada, menyilangkan salah satu kakinya, “saya akan memberi anda waktu lagi, tapi saya mempunyai satu syarat,” ucapnya.


Pak Zaiz mendongakkan wajahnya menatap Veon yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata yang tajam, “apa itu, tuan?” tanyanya.


“Saya akan memberi anda penawaran. Tapi sebelum itu, apa saya boleh datang ke rumah anda?” tanya Veon sambil tersenyum miring.


Pak Zaiz terlihat sangat senang karena Veon bersedia mengunjungi rumahnya, karena selama ini Veon tidak mau mendatangi rumah orang-orang yang sudah membuatnya rugi. Tapi dia akan menghancurkan orang itu tanpa ampun. Pria paruh baya itu pun menganggukkan kepalanya.


Veon menatap Zaki yang kini tengah berdiri di sampingnya. Pria itu mengangguk mengerti. Veon beranjak dari duduknya, dia lalu memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya, setelah itu dia lalu melangkah kakinya keluar dari restoran terlebih dahulu.


Zaki lalu menarik salah satu kursi yang berada di depan Pak Zaiz, dia lalu membicarakan tentang apa yang boleh dan tidak boleh pria paruh baya itu katakan dan lakukan di depan majikannya, jika dia masih sayang dengan perusahaannya. Pria paruh baya itu mengangguk mengerti. Zaki lalu beranjak dari duduknya, dia lalu melangkah keluar dari restoran dan di ikuti oleh pria paruh baya itu di belakangnya.


***


 


Pak Zaiz mempersilahkan Veon dan Zaki untuk masuk ke dalam rumahnya. Pria paruh baya itu memanggil putri satu-satunya untuk membuatkan minuman untuk tamu pentingnya. Biasanya dia menyuruh asisten rumah tangganya, tapi berhubung yang datang adalah penyelamat sekaligus orang yang akan membahayakan hidupnya, akhirnya dia meminta putrinya untuk melayani tamu pentingnya itu.


Veon mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan itu. Ruangan itu nampak begitu luas dan lumayan mewah, tapi kenapa pria itu sama sekali tidak bisa membayar kerugian yang Veon derita.


Zaki menyengol lengan Veon saat dia melihat seorang wanita muda yang mempunyai paras cantik tengah berjalan ke arah mereka sambil membawa nampan yang berisi minuman dan di ikuti wanita paruh baya yang membawa nampan berisi camilan.


Mereka meletakkan minuman dan camilan ke atas meja. Saat gadis itu hendak melangkahkan kakinya menjauh, tiba-tiba Veon berkata kepada Pak Zaiz, “siapa nama putri anda?” tanyanya.

__ADS_1


Pak Zaiz meminta putrinya untuk duduk di sampingnya, “namanya Kania, dia baru saja lulus sekolah menengah atas, dia baru mau masuk ke universitas,” ucapnya.


“Berapa usianya saat ini?” tanya Veon sambil menatap Kania yang sedari tadi menundukkan wajahnya.


“18 tahun.” Pak Zaiz mengernyitkan dahinya, dia begitu penasaran kenapa Veon malah menanyakan perihal tentang putrinya, bukan membicarakan hal yang seharusnya mereka bicarakan, “kenapa anda menanyakan soal putri saya?” tanyanya penasaran.


“Karena itu ada hubungannya dengan syarat yang tadi saya ajukan.” Veon melipat kedua lengannya di dada dan menyilangkan salah satu kakinya.


“Maksud anda?”


Veon menyuruh Zaki untuk menjelaskannya secara mendetail kepada Pak Zaiz tentang maksud kedatangannya ke rumah pria paruh baya itu.


“Kedatangan beliau ke sini sebenarnya beliau ingin melihat putri anda. Beliau ingin memberi penawaran yang sangat menarik kepada anda.”


“Maksud anda apa?” tanya Pak Zaiz yang semakin terlihat bingung.


“Tuan akan menghapuskan semua hutang-hutang anda, tapi dengan syarat anda harus menyerahkan putri anda untuk menjadi pelayan di rumah beliau.”


Veon menyunggingkan senyumannya, “kalau kamu tidak mau, maka kamu dan keluarga kamu harus bersiap-siap untuk kehilangan semua yang kalian miliki. Apa kamu tidak tau berapa banyak hutang Papa kamu kepada ku?” ucapnya.


Pak Zaiz nampak tengah menundukkan kepalanya. Kania memegang tangan papanya. “Pa, Kania tidak mau, Pa. Jangan jadikan Kania sebagai alat penebus hutang-hutang Papa,” pintanya dengan wajah memelas.


Veon menatap Zaki untuk mengurus semuanya, dia tidak ingin duduk berlama-lama di rumah itu. Veon beranjak dari duduknya saat Zaki mulai menganggukkan kepalanya. Veon bahkan tidak meminum minuman yang sudah susah payah wanita itu buat.


Veon memasukan kedua telapak tangannya ke saku celananya, dia lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.


“Bagaimana? Apa anda menerima tawaran Tuan saya?”


Pak Zaiz masih terdiam sambil menundukkan wajahnya, sedangkan gadis yang duduk di sampingnya sudah berderai air mata, dia merutuki nasib buruk yang kini tengah menimpanya.


“Anda harus ingat, tuan paling tidak suka menunggu. Jika anda tidak segera mengambil keputusan maka anda akan menyesal seumur hidup anda,” ancam Zaki sambil melipat kedua lengannya di dada.

__ADS_1


Pak Zaiz kini mulai mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah putri semata wayangnya. Kania menggelengkan kepalanya sambil menahan isak tangisnya, “maaf kan Papa, sayang. Tapi hanya ini jalan satu-satunya. Papa mohon kamu mau berkorban demi Papa,” ucapnya.


“Tidak, Pa! tidak! Kania tidak mau, Pa!” teriak Kania histeris.


Zaki sebenarnya tidak tega melihat gadis itu yang terisak dalam tangisannya, tapi ini adalah tugasnya, dia tidak akan memakai perasaannya saat menjalan kan tugas-tugasnya.


“Apa saya boleh meminta waktu lagi untuk membujuk putri saya?” pinta Pak Zaiz.


“Anda tau kan kalau tuan saya paling tidak suka menunggu!”


“Beri saya waktu satu hari, besok saya yang akan mengantarkan saya ke rumah Bos anda,” pinta Pak Zaiz sambil mengatupkan kedua tangannya.


Zaki nampak tengah berfikir, tuan tidak akan menolak jika aku memberinya waktu satu hari untuk berpikir, toh ini juga untuk membereskan masalah dia, pikirnya. Zaki akhirnya mengangguk setuju, “anda jangan ke rumah majikan saya, karena dia sudah tidak tinggal di rumah itu lagi,” ucapnya berbohong. Jika sampai pria paruh baya itu mendatangi rumah keluarga Veon maka semuanya akan kacau.


“Lalu saya akan mengantarkan putri saya ke mana?”


“Setelah anda mengambil keputusan, anda segera hubungi saya. Saya akan memberi tahu tempat di mana anda harus membawa putri anda.” Zaki lalu beranjak dari duduknya, “jangan pernah mempermainkan tuan saya, jika anda masih sayang dengan nyawa anda,” ancamnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.


Zaki berjalan menuju mobil, tempat di mana Veon sudah menunggu di dalam mobil. Zaki membuka pintu depan mobil, dia lalu mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang.


“Bagaimana? Apa dia setuju?” Veon menatap keluar jendela.


“Maaf, tuan. Dia meminta waktu satu hari untuk membujuk putrinya, dan saya memberikannya,” ucap Zaki sambil menundukkan wajahnya.


Veon hanya diam sambil menghela nafas panjang. Zaki meminta supir untuk melajukan mobilnya, “tapi melihat ekspresi wajah Pak Zaiz, dia sepertinya setuju. Hanya tinggal membujuk putrinya agar mau berkorban untuk papanya dan juga perusahaan keluarganya,” ucapnya.


“Kamu urus semuanya, aku mau semuanya beres.” Zaki menganggukkan kepalanya, dia tau apa yang akan di lakukan Bos nya jika Pak Zaiz sampai menolak tawarannya.


Veon menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi penumpang, dia lalu mulai memejamkan kedua matanya. Zaki sesekali mengamati wajah Bos nya dari kaca spion di depannya, “tuan pasti sangat tertekan dengan permintaan kedua orangtuanya,” gumamnya dalam hati.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2