Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Check up


__ADS_3

Kania dan Eca sudah pindah ke rumah Rega, meskipun rumah itu tak sebesar rumah Kania maupun Veon, tapi rumah itu terlihat asri. Di depan rumah Rega terdapat berbagai macam buah-buahan, seperti mangga, rambutan dan juga jambu air.


Kania bisa memakan mangga muda sepuasnya, tidak perlu mengeluarkan uang untuk membelinya. Selama tinggal di rumah itu, Rega sering berkunjung ke rumah itu, apalagi rumah orang tua Rega tidak jauh dari rumah itu.


Setiap mengunjungi Kania, Rega selalu membawa makanan ringan untuk sekedar camilan, atau teman minum teh. Kania sebenarnya tidak suka merepotkan pria itu, tapi pria itu tetap bersikukuh akan membawakan apa saja untuk wanita itu.


Tapi setiap makanan yang dibawa Rega, biasanya Kania meminta Eca untuk menghabiskannya. Bukan karena dia tidak mau memakannya, tapi makanan yang dibawa Rega terlalu banyak. Jadi yang diuntungkan di sini adalah Eca, dia bisa makan enak tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.


Hari terus berganti, tak terasa saat ini kandungan Kania sudah memasuki bulan ke tiga. Dengan tubuh Kania yang mungil, perubahan bentuk tubuh dan perut Kania sudah sedikit terlihat, tapi tidak terlalu menonjol. Morning sick yang Kania alami pun sudah mulai berkurang, nafsu makannya di pagi hari mulai kembali normal.


Hari ini adalah jadwal Kania untuk check up kandungan. Biasanya Eca yang menemaninya, tapi saat ini Eca sedang tidak enak badan. Terpaksa Kania pergi dengan Rega, karena pria itu menawarkan diri untuk mengantar Kania ke rumah sakit.


Jarak rumah sakit dari rumah yang Kania tempati cukup jauh, mereka butuh waktu dua jam lebih untuk sampai di rumah sakit. Ini pertama kalinya Kania pergi check up kandungan bersama dengan Rega. Dalam perjalanan Kania nampak diam saja sambil melihat keluar jendela.


“Kania, apa aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?” Rega mencoba untuk memecah keheningan di antara mereka.


“Hem...” Kania menjawab hanya dengan deheman.


“Kenapa kamu tidak menghubungi suami kamu, dan memberitahu dia kalau kamu sedang hamil? Apa kamu tidak ingin di dampingi oleh suami kamu kalau sedang check up kandungan seperti ini?” Rega bertanya dengan sangat hati-hati, dia takut apa yang dia katakan akan menyinggung perasaan Kania.


“Menghubungi dia juga percuma, Mas. Dia juga tidak menginginkan anak ini.” Kania mengusap perutnya yang sudah mulai ada perubahan bentuknya, “dia belum siap mempunyai anak, selain itu mungkin sekarang dia sedang bersenang-senang dengan istri barunya,” imbuhnya dengan menahan rasa sakit di hatinya.


“Apa kamu yakin suami kamu akan menceraikan kamu? Apa kamu mendengar itu sendiri dari mulut suami kamu?” sebenarnya Rega enggan untuk menanyakan semua itu, karena baginya, jika Kania bercerai dengan suaminya, itu akan menjadi kesempatan dia untuk mendapatkan Kania dan menjadikan dia miliknya seutuhnya.


Kania menggelengkan kepalanya, “meskipun aku tidak mendengarnya langsung dari mulutnya, tapi aku mendengar itu dari calon istrinya, wanita yang sangat dia cintai. Bahkan dia juga sudah meminta asisten pribadinya untuk mengurus semuanya, itu sudah cukup membuatku yakin,” ucapnya.


“Seandainya, suami kamu saat ini sedang kebingungan mencari keberadaan kamu, apa yang akan kamu lakukan?”


Kania menatap Rega yang tengah menatap lurus ke depan, “itu tidak akan mungkin terjadi, aku bahkan tidak seberharga itu untuknya, hingga dia harus mencari keberadaan aku. Aku ini hanyalah wanita yang sudah dia beli, setelah dia bosan sama aku, maka dia akan membuangku begitu saja,” ucapnya.

__ADS_1


***


 


Kania merasa sangat bahagia, keadaan calon anaknya yang berada di rahimnya dalam keadaan baik-baik saja. Rega yang melihat layar monitor yang memperlihatkan janin yang berada di perut Kania, merasa begitu takjub. Ini adalah pengalaman pertamanya melihat hal seperti itu. Rega pun mulai berandai-andai, jika yang tengah di lihatnya itu adalah calon anaknya, betapa bahagianya dirinya.


“Anak bapak dan ibu baik-baik saja, untuk mengetahui jenis kelaminannya, anda harus menunggu sampai usia kandungan anda memasuki usia 6-7 bulan. Tapi ada juga saat usia kandungan 5 bulan, jenis kelamin bisa terlihat, tapi tidak semua seperti itu,” ucap Dokter.


Saat Dokter mengira jika Rega adalah suami Kania, Kania ingin mengatakan jika Rega bukanlah suaminya, tapi tentu saja Rega melarangnya, karena yang terpenting adalah kondisi calon anak Kania dalam keadaan sehat. Rega bahkan rela berpura-pura menjadi ayah dari anak itu.


“Mas Rega sebenarnya tidak perlu melakukan semua itu, karena dalam buku itu sudah jelas tertulis nama ayah dari anak aku adalah Veon Rendra Sanjaya, bukan Rega.” Mereka saat ini sedang berada di dalam mobil, mereka dalam perjalanan menuju rumah.


“Tidak apa-apa, lagian kan dokter itu tidak tau kalau nama aku Rega, dokter itu juga tidak tau wajah suami kamu yang asli seperti apa. kamu jangan salah paham dulu, aku melakukan semua itu juga tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin check up kamu ini berjalan lancar, itu saja,” ucap Rega dengan menepiskan senyumannya.


Hening...suasana kembali hening, tidak ada percakapan lagi antara Rega dan Kania. Rega sedang fokus dengan jalanan di depannya, sedangkan Kania sedang menatap foto hasil USG anaknya. Terlihat senyuman merekah dari kedua sudut bibir Kania, dia tidak menyangka dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Menjadi orang tua tunggal untuk anaknya, bahkan di usia yang masih sangat muda.


“Mas Rega, kalau di pikir-pikir takdir aku ini lucu ya,” ucap Kania sambil menatap foto hasil USG.


“Aku menikah dengan usia ku yang masih sangat muda, dan sekarang aku harus menjadi orang tua tunggal untuk anakku, bahkan usiaku baru 19 tahun. Mas Rega pasti juga berpikir, kok ada ya orang yang bernasib seperti aku ini. Mas Rega pasti juga sangat kasihan sama aku, makanya Mae Rega melakukan semua ini.” Kania mulai menundukkan wajahnya, kedua sudut matanya mulai dipenuhi cairan bening.


“Aku tidak pernah berpikiran sedangkal itu. Aku memang sempat merasa kasihan dengan takdir yang menimpa kamu, tapi apa yang aku lakukan sama kamu itu tulus, bukan karena rasa kasihan. Aku malah salut sama kamu, dengan cobaan hidup seperti ini, kamu tetap tegar dan kuat. Aku sama sekali belum pernah mendengar kamu mengeluh atas apa yang menimpamu saat ini.” Rega mengusap puncak kepala Kania, “kita mampir ke restoran dulu ya, ada sesuatu yang mau aku ambil,” imbuhnya. Kania hanya menganggukkan kepalanya.


Sesampainya di restoran, Kania dan Rega keluar dari mobil. Rega menyuruh Kania untuk menunggu di salah satu meja di restoran itu, sekalian menikmati makan siang, karena sudah waktunya untuk makan siang.


“Aku akan pesankan makanan untuk kamu, nanti setelah makanannya datang, kamu makan saja duluan, aku masih harus mengurus sesuatu di ruangan aku,” pinta Rega.


Kania menganggukkan kepalanya, “jika Mas Rega sibuk, nanti aku bisa pulang sendirian kok, lagian kan rumahnya dekat dari sini,” ucapnya.


“Tidak, aku akan mengantar kamu pulang, kamu cukup tunggu aku disini, pokoknya jangan pergi kemana-mana,” perintah Rega lalu pergi meninggalkan Kania.

__ADS_1


Sambil menunggu makanannya datang, Kania mengambil ponselnya dari dalam tas selempang yang dia bawa. Wanita itu lalu menghubungi Eca, dan menanyakan kepada sahabatnya itu mau dibelikan makanan apa untuk makan siang, karena di rumah tidak ada makanan.


Saat Kania sedang mengobrol di telepon dengan Eca, tiba-tiba dia seperti melihat seseorang yang sangat dikenalnya, bahkan sosok itu sangat di rindukannya, ‘Papa.’ Kania beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya menghampiri sosok yang dikira Papanya itu.


Pria paruh baya yang saat ini sedang melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu dan di dampingi oleh sekretaris pribadinya. Langkah pria paruh baya itu tiba-tiba terhenti saat dia samar-samar mendengar teriakan seseorang yang suaranya sangat familiar di telinga nya.


Pria paruh baya itu mulai mencari sumber suara yang memanggilnya itu, “Kania!” serunya terkejut saat melihat Kania tengah berlari ke arahnya.


Kania memeluk Papanya dengan sangat erat, dia tidak menyangka akan bertemu Papanya di tempat itu, “Kania sangat merindukan Papa,” ucapnya di sela isak tangisnya.


Pak Zaiz mengernyitkan dahinya saat mendengar suara isak tangis anaknya, “sayang, kenapa kamu menangis? Lalu untuk apa kamu berada disini? Tempat ini sangat jauh dari Jakarta, lalu dimana suami kamu sekarang?” begitu banyak pertanyaan yang keluar dari pria paruh baya itu.


Kania melepaskan pelukannya, dia lalu menghapus air matanya, jadi benar dugaannya, Veon tidak memberitahu Papanya tentang kepergiannya, karena rasa rindunya, dia sampai melupakan jika dirinya tengah bersembunyi dari Veon dan orang-orang yang dikenalnya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, yang harus Kania lakukan sekarang adalah memberitahu Papanya yang sebenarnya, dan memintanya untuk merahasiakan keberadaannya.


Rega yang hendak mengecek apa Kania sudah memakan makanan yang dia pesan pun terlihat sangat terkejut, saat melihat Kania sedang berbicara dengan orang asing. Pria itu lalu bergegas menghampiri Kania, “Kania, apa yang kamu lakukan disini? Bukankah aku sudah memintamu untuk menunggu?” pria itu menatap ke arah pria paruh baya yang saat ini tengah berdiri di depan Kania, “kalau boleh saya tahu, siapa anda?” tanyanya kemudian.


Kania menyentuh lengan Rega, hingga pria itu beralih menatapnya, “Mas, dia ini adalah Papa aku,” ucapnya.


Rega membulatkan kedua matanya, “apa? Papa kamu?” tanyanya terkejut, dan itu pun mendapat anggukan kepala dari Kania.


“Maaf, kalau boleh saya tau, anda ini siapanya Kania?” tanya Pak Zaiz balik.


Rega mengulurkan tangannya, “saya adalah Rega, pemilik restoran ini sekaligus sahabat Kania,” ucapnya.


Pak Zaiz menjabat tangan Rega, “apa saya boleh bicara sebentar dengan putri saya?” tanyanya.


Rega menganggukkan kepalanya, “Kania, lebih baik kamu ajak Papa kamu kerumah, nanti aku akan menyusulmu setelah urusanku selesai,” ucapnya.


“Baik, Mas.” Kania lalu mengajak Papanya untuk keluar dari restoran itu, sebelum pergi, Pak Zaiz dan Rega kembali berjabat tangan.

__ADS_1


Rega tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan Papanya Kania, pria itu sebenarnya juga merasa cemas, dia takut Kania akan dibawa pergi oleh Papanya. Apa dia akan siap berpisah dengan Kania secepat ini?


~oOo~


__ADS_2