Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Penyesalan


__ADS_3

Veon yang sudah pulang ke rumah sangat terkejut saat tidak menemukan Kania di kamarnya, “dimana dia?” pria itu lalu keluar dari kamarnya, dia ingin bertanya kepada Mamanya tentang keberadaan Kania.


Veon melangkahkan kakinya mendekati mamanya yang sedang asyik menonton acara televisi kesukaannya, “Ma, apa Mama tau dimana Kania?” tanyanya.


Vera menggelengkan kepalanya, “tadi siang dia minta izin untuk bertemu dengan temannya, apa dia belum pulang?” tanyanya cemas.


“Mungkin Kania mampir ke rumah Papanya, Ma. Veon akan mencoba untuk menghubunginya.”


Veon lalu melangkahkan kakinya menjauh. Pria itu terlihat sangat cemas, dia lalu mencoba menghubungi Kania, tapi nomor Kania ternyata tidak dapat dihubungi, “apa yang harus aku lakukan? Apa terjadi sesuatu dengannya?”


Veon melangkahkan kakinya keluar dari rumah, dia berniat untuk pergi ke rumah Kania, dia berharap Kania berada di rumah orang tuanya. Sesampainya di rumah Kania, Veon memencet tombol di samping pintu itu. Dan tak berselang lama pintu itu mulai terbuka, dan yang membuka pintu itu adalah asisten rumah tangga keluarga Kania.


“Den Veon, tumben Den Veon datang kesini sendirian? Apa Non Kania tidak ikut?” tanya wanita paruh baya itu.


Veon membulatkan kedua matanya, “jadi Kania tidak ada disini, Bik?” tanyanya terkejut.


Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, “Non Kania memang tidak ada di sini, apa Den Veon sedang mencari Non Kania?” tanyanya cemas.


Veon menganggukkan kepalanya, “Bik, jika nanti Kania datang ke rumah ini, tolong segera hubungi saya,” ucapnya.


“Baik, Den.”


“Kalau begitu saya pamit dulu.” Veon lalu melangkahkan kakinya menuju mobilnya, dia lalu masuk ke dalam mobil, “Kania, kemana kamu pergi? Jangan membuat aku khawatir?” pria itu meremas rambutnya dengan sangat kuat.


“Oh ya, Zaki, dia pasti tau sesuatu.” Veon lalu melajukan mobilnya menuju rumah Zaki.


Dalam perjalanan menuju rumah Zaki, Veon terus berusaha untuk menghubungi nomor ponsel Kania, tapi sampai detik ini pun, nomor itu masih sulit untuk di hubungi. Sesampainya di rumah Zaki, Veon langsung menerobos masuk ke rumah Zaki.


“Zak, kamu dimana?” teriak Veon keras karena dia tidak mendapati Zaki di kamarnya.


Zaki keluar dari arah dapur, “tuan, kenapa malam-malam anda datang ke rumah saya?” tanya nya terkejut.


“Apa kamu tau dimana Kania?”


Zaki mengernyitkan dahinya, “bukankah Nona Kania ada di rumah?” tanyanya balik.

__ADS_1


Veon menggelengkan kepalanya, “Kania tidak ada di rumah, aku juga sudah mencari di rumah orang tuanya, tapi dia juga tidak ada di sana. Apa kamu mengetahui sesuatu?” tanyanya.


Zaki teringat jika tadi siang Kania menelfonnya, “tadi siang Nona Kania menelpon saya, dia bertanya soal anda. Dan saya sudah menyuruh Nona Kania untuk menghubungi anda, apa Nona Kania tidak menghubungi anda, Tuan?” tanyanya.


“Dia tidak menghubungi aku, aku sudah berkali-kali menghubunginya, tapi nomornya sulit untuk di hubungi.” Veon melangkahkan kakinya menuju sofa, dia lalu mendudukkan tubuhnya di sofa itu, “aku takut terjadi sesuatu dengannya,” ucapnya cemas.


Zaki mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal, “apa anda sudah mencari di seluruh rumah, Tuan?” tanyanya.


“Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi dia tidak ada di rumah.” Veon meraup wajahnya gusar, “Zak, apa kamu mengetahui sesuatu yang tidak aku tau?” tanyanya kemudian.


‘Maaf Kania, aku harus memberitahu suami kamu, kalau kamu sudah tau tentang Bella,’ gumam Zaki dalam hati.


“Zak, apa ada yang kamu rahasiakan dari aku?” tanya Veon curiga saat melihat kebungkaman Zaki.


“Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini dari Tuan, tapi Nona Kania meminta saya untuk merahasiakan semua itu.”


Veon mengernyitkan dahinya, “rahasia! Apa itu?” tanyanya penasaran.


“Sebenarnya Nona Kania sudah mengetahui semuanya, tentang hubungan anda dengan Nona Bella.”


Zaki menganggukkan kepalanya, “Nona Kania sudah tau sejak Nona Bella pertama kali datang ke kantor, Tuan,” ucapnya.


Veon beranjak dari duduknya, dia lalu mencengkram kerah baju Zaki, “kenapa kamu tidak memberitahuku semua itu? Kenapa?” teriaknya keras.


“Karena Nona Kania meminta saya untuk tidak memberitahu anda, dia ingin anda mengatakan semua itu langsung padanya.”


Veon menghempaskan tubuh Zaki, “aku tidak mengira kamu berani menyimpan semua itu dari aku, apa kamu berniat untuk membohongi aku, hah!” teriaknya keras.


Zaki menggelengkan kepalanya, “saya tidak berani, Tuan, saya minta maaf,” ucapnya sambil menundukkan wajahnya.


“Apa Kania mengatakan sesuatu sama kamu?”


“Nona Kania tau jika selama ini Tuan sering menemui Nona Bella, dia juga tau kalau Nona Bella tinggal di rumah pribadi anda.”


Veon mengacak-acak rambutnya karena frustasi, dia tidak menyangka semuanya akan terbongkar dengan cara seperti itu, “aku sebenarnya ingin menceritakan semuanya kepada Kania bila waktunya sudah tepat, tapi ternyata dia sudah tau dengan cara seperti itu,” ucapnya lirih.

__ADS_1


“Tuan, apa tuan tau jika selama ini Nona Kania sudah jatuh cinta kepada anda?”


Veon tersenyum tipis, “aku sudah tau, tapi aku hanya diam saja, karena aku ingin dia mengatakan langsung padaku,” ucapnya.


“Tuan, Nona Kania pernah bertanya kepada saya, apa anda juga mencintainya? Apa anda akan mengubah pernikahan sandiwara ini menjadi pernikahan yang sesungguhnya?”


“Apa dia bodoh? Kenapa dia menanyakan itu sama kamu? Apa dia tidak menyadari dengan semua perhatian aku selama ini padanya? Jika aku tidak mencintainya, lalu untuk apa aku menidurinya, untuk apa aku memperlakukan dia dengan lembut?”


“Tapi, Tuan. Nona Kania tidak tahu kalau anda tidak mengatakan langsung padanya, apalagi sikap tuan yang sering berubah-ubah padanya. Seorang wanita itu butuh kepastian, bukan hanya dari hubungan fisik saja, tapi anda juga harus mengatakan padanya jika anda mencintainya.”


Veon menghela nafas panjang, “kamu tau kan, Zak. Aku sudah tidak percaya dengan yang namanya cinta, sebab itu lah aku tidak mengatakan kepada Kania kalau aku mencintainya, karena aku takut akan menyakitinya. Walaupun begitu, aku juga tidak mempunyai niatan untuk meninggalkan dia, karena aku sudah merasa nyaman saat bersamanya,” akunya.


“Tuan, saya yakin, Nona Kania akan baik-baik saja.”


Veon meraup wajahnya dengan gusar, “tapi aku belum merasa tenang sebelum menemukannya. Cari dia Zak, tolong cari dia,” pintanya dengan suara terberat.


Zaki baru pertama kali ini melihat Veon begitu terpuruk seperti itu, bahkan sekarang penampilannya terlihat sangat kacau. Dasi yang tidak terpakai dengan rapi, rambut yang acak-acakkan, bahkan kancing jas nya tidak terkancing semua.


“Apa anda sudah menanyai Nona Bella? Siapa tau dia mengetahui sesuatu?”


Veon mengernyitkan dahinya, “mana mungkin Bella tau soal Kania, mereka kan belum pernah bertemu satu sama lain?” tanyanya bingung.


Zaki menggelengkan kepalanya, “anda salah, Tuan. Nona Kania sudah dua kali bertemu dengan Nona Bella, Nona Bella bahkan menawarkan pertemanan dengan Nona Kania. Bahkan Nona Kania dengan sangat terpaksa mau menerima pertemanan yang Nona Bella tawarkan,” jelasnya.


“Apa? apa yang telah dia lakukan? Bagaimana bisa dia berteman dengan Bella jika dia sudah mengetahui semuanya?”


“Karena Nona Kania itu mempunyai hati yang baik, dia merasa tidak enak hati jika menolak permintaan Nona Bella.”


Veon beranjak dari duduknya, “sekarang antar aku ke rumah pribadi aku untuk menemui Bella. Aku ingin menanyakan keberadaan Kania, siapa tau dia mengetahui sesuatu,” pintanya.


Zaki menganggukkan kepalanya, mereka lalu keluar dari rumah. Veon memberikan kunci mobilnya kepada Zaki. Zaki mulai melajukan mobil itu. Dalam perjalanan Veon tidak henti-hentinya memanggil nama Kania.


‘Tuan, saya sudah memperingatkan tuan untuk segera memberitahu Kania, tapi sekarang penyesalan anda sudah sangat terlambat. Jika Kania memang pergi meninggalkan anda, lalu apa yang akan anda lakukan?’ gumam Zaki dalam hati.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2