
Alex yang baru saja pulang dari kantor, merasa sangat lelah. Apalagi akhir-akhir pekerjaannya sangat menumpuk. Untung ada Betrand yang saat ini bekerja di kantornya, Alex merasa sedikit terbantu. Pria itu lalu membuka pintu kamarnya, hari ini Chelsea tidak menyambut kepulangan Alex seperti biasanya.
Alex melihat Chelsea sedang duduk termenung di tepi ranjang, dia pun melangkahkan kakinya mendekati wanita itu, “sayang, aku pulang,” ucapnya.
Chelsea tersadar dari lamunannya, “ah...maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu sudah pulang,” ucapnya.
Alex tersenyum, dia lalu mendudukkan tubuhnya di samping Chelsea, “ada apa, apa yang sedang kamu pikirkan, hingga suami pulang pun tidak kamu sambut.”
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk tidak menyambutmu. Lebih baik sekarang kamu mandi, aku akan menyiapkan makan malam untuk kamu.” Chelsea lalu beranjak dari duduknya.
Tapi Alex menarik tangan Chelsea dan mendudukkannya di pangkuannya, “cerita dulu sama aku, apa yang tadi sedang kamu pikirkan?” tanyanya kekeh.
“Lex, kenapa aku sampai sekarang belum juga hamil? Apa aku memang tidak akan pernah bisa hamil?” ucap Chelsea sambil menundukkan wajahnya.
“Kenapa kamu berpikiran seperti itu? kitakan belum lama menikah, dan itu masih di batas wajar. Diluar sana masih banyak wanita yang hamil setelah beberapa tahun menikah. Aku juga tidak menuntut kamu untuk segera hamil, kita nikmati saja dulu kebersamaan kita. Setelah kita mempunyai anak nanti, mungkin kita akan sibuk untuk mengurus anak-anak kita, dan kita tidak ada lagi waktu berduaan,” ucap Alex dengan senyuman di wajahnya.
Chelsea mendongakkan wajahnya, dia tatap kedua mata Alex secara bergantian, “tapi aku ingin sekali mempunyai anak, melihat Noel tumbuh begitu cepat, aku semakin ingin mempunyai anak, mereka pasti akan sangat lucu-lucu.”
Alex mengecup kening Chelsea, “lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mewujudkan keinginan kamu itu? apa perlu kita membuatnya sekarang juga, aku sudah siap ini,” godanya.
Chelsea mencubit perut Alex hingga membuat pria itu meringis kesakitan, “sana mandi dulu, bau tahu,” ledeknya lalu turun dari pangkuan Alex.
Alex tersenyum, “jadi setelah aku mandi, kita akan melakukannya? Atau kalau tidak, bagaimana kalau kamu temani aku mandi, sekalian kita bisa membuat dedek bayi,” godanya lagi.
“Dasar kamu ya, dari dulu mesum kamu itu tidak hilang juga.” Chelsea lalu melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian, “cepetan mandi, kamu mau nunggu apa lagi?” tanyanya saat melihat Alex masih duduk di tepi ranjang.
Alex beranjak dari duduknya, lalu dengan satu gerakkan, Alex berhasil menggendong Chelsea dan membawanya menuju kamar mandi. Alex tidak akan melewatkan kesempatan itu, jika Chelsea yang menginginkannya terlebih dulu. Pria itu bahkan tidak mempedulikan dengan tubuhnya yang merasa kelelahan.
**
Chelsea dan Alex keluar dari kamar mandi bersamaan, mereka sedang mengeringkan rambutnya. Seperti biasa, Chelsea keluar dari kamar mandi dengan wajah yang cemberut, sedangkan Alex dengan senyuman melebar di kedua sudut bibirnya.
Setelah selesai berpakaian, Alex meminta Chelsea untuk duduk di tepi ranjang, dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa mengendalikan dirinya, dan melakukan itu sampai berkali-kali kepada Chelsea, bahkan tidak membiarkan Chelsea untuk beristirahat. Bibir Chelsea sampai membiru, karena terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Hampir dua jam mereka berada di dalam kamar mandi, hingga membuat tubuh Chelsea seakan membeku karena kedinginan.
__ADS_1
“Kamu duduk disini saja, biar aku meminta Bibi untuk menyiapkan makan malam untuk kita,” ucap Alex sambil mengecup kening Chelsea.
Chelsea bahkan sudah tidak mempunyai tenaga untuk berdebat dengan Alex, dia hanya mampu menganggukkan kepalanya. Setelah pergulatan panas itu, perutnya kembali merasa lapar, tenaga telah terkuras habis.
Alex pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dia ingin meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan makan malam untuknya dan juga Chelsea.
“Nanti tolong diantar di kamar ya, Bi. Maaf sudah merepotkan Bibi.”
“Tidak merepotkan kok, Tuan. Ini kan memang sudah tugas Bibi.”
“Kalau begitu, saya ke kamar dulu ya, Bi.” Wanita paruh baya itu pun menganggukkan kepalanya.
Alex pun kembali menuju kamarnya, dia benar-benar merasa sangat bersalah. Sejak penyatuan mereka di Bali waktu itu, Alex tidak pernah bisa menahan diri saat melihat kemolekan tubuh Chelsea.
“Sayang, maaf ya, aku janji tidak akan melakukan seperti itu lagi, aku akan mencoba untuk mengendalikan diri.”
“Bukan masalah itu, tapi kan tadi kita ada di kamar mandi, aku kan jadi kedinginan seperti ini, kalau aku sampai sakit bagaimana? Aku sendirikan yang repot,” ucap Chelsea sambil mengerucutkan bibirnya.
“Jika kamu sakit, aku akan menjadi dokter, obat sekaligus pelayan kamu. Aku akan siaga 24 jam,” ucap Alex sambil menggenggam tangan Chelsea lalu mengecupnya.
Terdengar suara pintu diketuk, “itu makanannya sudah datang,” ucap Alex lalu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu.
Alex membuka pintu kamarnya, “terima kasih ya, Bi,” ucapnya sambil menerima nampan yang diberikan oleh wanita paruh baya itu.
Alex lalu menutup pintu itu setelah asisten rumah tangganya pergi menjauh dari kamarnya. pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju ranjang, dan meletakkan nampan itu di meja yang terletak di tepi ranjang itu.
Alex lalu mengambil salah satu piring yang berisi makanan itu, setelah itu dia mendudukkan tubuhnya di samping Chelsea, “sekarang kamu makan, biar aku yang suapin,” ucapnya lalu mengambil satu sendok makanan dan dia sodorkan di depan mulut Chelsea.
“Aku bisa makan sendiri.”
Alex menggelengkan kepalanya, “aku tahu, tapi aku ingin memanjakan kamu malam ini,” ucapnya.
“Tapi, apa kamu tidak makan?”
__ADS_1
“Aku bisa nanti, sekarang kamu makan dulu, cepat buka mulut kamu, apa kamu tega melihat tangan aku menggantung terus seperti ini?” sindirnya.
Chelsea tersenyum, dia lalu membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Alex. Sesuap demi sesuap, akhirnya makanan itu habis. Alex pun mulai makanan makanannya, dan tidak butuh waktu lama, makanan itu pun habis tidak tersisa. Alex dan Chelsea seakan mendapatkan tenaga baru. Alex dan Chelsea menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
Alex lalu merangkul bahu Chelsea dan menopangkan kepala wanita itu ke bahunya, “ada apa? kenapa wajah kamu masih sedih seperti itu?”
“Lex, apa kamu besok mempunyai waktu?”
“Memangnya kenapa? apa kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Alex sambil mengecup puncak kepala Chelsea.
“Aku ingin mengajak kamu untuk berkonsultasi ke dokter kandungan. Aku ingin check kesehatan aku, dan juga kamu, apa kamu mau?”
“Em...gimana ya, bukannya aku tidak mau, tapi besok aku sangat sibuk. Pagi aku dan siang aku ada meeting penting dengan Client, belum lagi urusan kerja sama dengan kakak kamu.”
“Lalu kamu bisanya kapan?”
Alex lalu menggenggam tangan Chelsea, “apa semua itu sangat penting untuk kita lakukan? Apa kamu tidak yakin dengan kondisi tubuh kamu sendiri?”
“Bukan seperti itu, aku hanya ingin tahu, apa kendala yang membuat aku sampai sekarang belum juga hamil.”
“Tapi, jodoh, anak itu hanya Tuhan yang tahu sayang, kapan kita akan mendapatkannya. Selama ini kita juga sudah berusaha, kita harus bersabar menunggu.”
“Apa itu artinya kamu tidak mau menemaniku?” tanya Chelsea dengan raut wajah sedih.
Alex menghela nafas, sepertinya dia telah salah bicara, “bukan seperti itu, aku bukannya tidak mau, tapi akhir-akhir ini pekerjaan aku sangat menumpuk. Bagaimana kalau kamu minta di temani Vika, sekalian Vika suruh juga untuk tes, dia akan sebentar lagi akan menikah dengan Betrand. Nanti jika aku sudah ada waktu, aku akan pergi ke dokter untuk melakukan check kesehatan juga.”
Chelsea sebenarnya ingin pergi bersama dengan Alex, tapi dia tahu, jika suaminya itu sedang pusing memikirkan pekerjaannya yang menumpuk. Wanita itu pun akhirnya menganggukkan kepalanya, “kalau begitu besok aku akan pergi bersama dengan Vika, tapi kamu harus janji juga akan menyempatkan diri untuk check up juga.”
Alex menganggukkan kepalanya, “jika aku akan check up, aku akan mengajak Betrand juga.”
Alex pun lalu menyuruh Chelsea untuk tidur, dia juga merasa sangat lelah dan mengantuk, “selamat malam sayang, semoga mimpi indah,” ucapnya sambil mengecup kening Chelsea.
Chelsea tidur sambil memeluk tubuh Alex, tubuh suaminya itu selalu memberinya rasa nyaman saat tidur, dan tidurnya menjadi nyenyak.
__ADS_1
~oOo~