
Zaki melakukan tugas yang diberikan oleh Veon, yaitu mengawasi gerak-gerik Bella. Sejak pagi Zaki sudah standby di dekat rumah pribadi Veon. Dia memantau Bella dari kejauhan, karena dia tidak ingin Bella mengetahui jika dirinya saat ini sedang diawasi.
Tiba-tiba ponsel Zaki berbunyi, pria itu lalu mengambil ponselnya dari dalam dasbor mobilnya, “Chelsea.” Dia lalu menjawab panggilan itu, “hallo,” sahutnya.
“Hai, Zak, bagaimana kabar kamu?”
“Baik, tumben kamu menelpon aku lagi. Sudah hampir satu bulan kamu tidak menelponku.”
“Maaf, aku sibuk dengan pekerjaan aku. Bagaimana perkembangan hubungan Kak Veon dengan Kania? Waktu itu kamu bilang mereka sudah sampai tahap itu...lalu apa sekarang Kania sudah ada tanda-tanda?”
Zaki mengernyitkan dahinya, “tanda-tanda apa? kalau bicara yang jelas dong, jangan buat aku bingung,” omelnya.
“Maksud aku, apa Kania ada tanda-tanda hamil gitu, masa kayak gitu saja tidak tau,” omel Chelsea balik.
“Ya mana aku tau, memangnya aku cewek apa, mesti tau hal kayak gitu.”
“Kania masih sering curhat sama kamu kan? Apa saja yang dia katakan? Apa dia mulai jatuh cinta dengan kakak, mereka kan sudah sampai tahap itu?”
‘Em...apa aku harus memberitahu Chelsea ya, tapi kalau aku memberi tahu dia, nanti dia pasti akan berharap banyak, padahal sekarang hubungan mereka sedang dalam masalah, karena Bella,’ gumam Zaki dalam hati.
“Kenapa kamu diam saja? Apa ada hal yang tidak aku ketahui?” tanya Chelsea penasaran.
“Aku akan memberitahumu, tapi tidak sekarang.”
“Memangnya ada masalah apa? kenapa aku tidak boleh tau?” tanya Chelsea penasaran.
“Nanti aku telpon lagi, sekarang aku sedang ada pekerjaan penting.” Zaki lalu mengakhiri panggilan itu.
Zaki menghela nafas panjang, dia lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi pengemudi.
Sedangkan di dalam rumah, Bella menghubungi seseorang. Dia meminta orang itu untuk mencari tahu siapa istri Veon.
“Aku akan segera tahu siapa istri kamu, kita lihat saja, siapa yang akan berakhir lebih dulu dalam permainan ini.” Bella tersenyum licik.
***
Vera mengajak Kania untuk berbelanja, sudah lama dia tidak pergi berbelanja karena dia sibuk untuk mengurus suaminya yang sedang sakit. Meskipun begitu, Vera tidak pernah mengeluh, karena itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang istri.
“Kita mau kemana, Ma?”
“Mama ingin mengajak kamu ke suatu tempat, tempat dimana almarhum neneknya Veon dan Chelsea merintis usahanya,” ucap Vera sambil tersenyum.
__ADS_1
“Maksud Mama, Mamanya Mama?”
Vera menganggukkan kepalanya, “Nenek Veon meninggal 3 tahun yang lalu, dia adalah pahlawan dalam hidup Mama. Berkat dia, Mama bisa bertahan dalam menghadapi semua ujian dalam hidup Mama,” ucapnya.
“Apa cinta Mama dan Papa dulu juga banyak rintangannya? Lalu soal ibu kandung Kak Veon itu...”
Vera menepiskan senyumannya, “jika kita ingin mendapatkan cinta yang sejati, pasti akan banyak rintangannya sayang. Apalagi yang Mama alami waktu itu sungguh berat, pengkhianatan dari orang-orang yang sangat Mama sayangi dan Mama percayai, sampai Mama sudah tidak mempercayai apa itu cinta. Karena bagi Mama cinta hanyalah membawa penderitaan dan sakit hati, tapi berkat Veon dan kegigihan Papa kamu, Mama bisa lagi mempercayai lagi apa itu cinta,” ucapnya.
Kania baru mengetahui betapa berat hidup percintaan Mama mertuanya itu, bahkan apa yang dirinya alami ini belum apa-apa. Meskipun awalnya dia sangat membenci Veon, tapi akhirnya dia jatuh cinta padanya. Meskipun cintanya masih bertepuk sebelah tangan, tapi dengan perubahan sikap Veon selama ini, dia yakin suatu saat cintanya akan mulai terbalaskan.
Mobil yang Vera dan Kania tumpangi berhenti di sebuah butik, tempat dimana dulu Mila dengan segala usahanya membuka usaha butik itu.
“Ini butik Mama?” tanya Kania terkejut.
Vera menganggukkan kepalanya, dia lalu mengajak Kania untuk masuk ke dalam butik itu. Para karyawan yang bekerja di butik itu menyambut kedatangan Vera dan Kania.
“Apa Ibu Neti ada di dalam?” tanya Vera kepada salah satu karyawan butik itu.
“Beliau ada di dalam ruangannya, Bu,” ucap salah satu karyawan.
Vera mengangguk mengerti, “terima kasih, silahkan kembali bekerja,” ucapnya.
Vera lalu mengajak Kania masuk ke dalam ruang kerja yang dulu dipakai oleh Mamanya. Vera membuka pintu ruangan itu secara perlahan, “hai, Net?” sapanya lalu masuk ke dalam ruangan itu.
“Maaf ya, aku sudah meminta kamu untuk mengurus butik ini sendirian,” ucap Vera.
Neti mengajak Vera dan Kania untuk duduk di sofa. Neti lalu menyuruh salah satu karyawannya untuk membuatkan minuman.
“Tidak apa-apa lagi, lagian aku sudah berjanji sama almarhumah Mama kamu untuk membantu kamu mengurus butik ini.” Neti lalu menatap ke arah Kania, “gadis ini siapa? Apa kamu mempunyai anak lagi?” tanyanya penasaran.
“Dia Kania, dia istrinya Veon. Bukannya waktu itu aku sudah mengundang kamu, tapi kamu tidak datang,” ucap Vera.
Kania lalu menyapa dan memperkenalkan dirinya kepada Neti.
“Maaf, waktu itu anak aku masuk rumah sakit, jadi aku tidak bisa datang. Aku tidak menyangka istri Veon akan semuda ini, kalau boleh tante tau, berapa umur kamu sayang?” tanya Neti penasaran.
“19 tahun tante,” jawab Kania sopan.
Neti membulatkan kedua matanya, “apa? 19 tahun? Jadi jarak usia kamu dengan Veon...”
“9 tahun, tante,” ucap Kania lagi.
Neti menggelengkan kepalanya, “Ver, anak kamu memang sangat beruntung bisa mendapatkan istri yang masih sangat muda dan cantik seperti Kania,” pujinya.
__ADS_1
Kania menepiskan senyumannya, “terima kasih atas pujiannya, tante. Tapi justru Kania yang beruntung mendapatkan suami yang baik dan pengertian seperti Kak Veon,” ucapnya.
Vera mengusap lengan Kania, “Veon memang beruntung mempunyai istri sebaik dan secantik kamu sayang. Apalagi kamu bisa bertahan dengan sikap dinginnya selama ini,” ucapnya.
“Apa Veon sifatnya masih dingin dan keras kepala?” tanya Neti penasaran.
Vera menganggukkan kepalanya, “mungkin selama ini aku telah gagal dalam mendidiknya. Padahal dulu Veon itu adalah anak yang berhati hangat, dia tidak pernah mengecewakan kedua orang tuanya.” Wanita itu lalu menghela nafas panjang, “tapi setelah kematian neneknya dan sikap Dion yang keras padanya, membuatnya berubah menjadi seperti ini,” ucapnya sedih.
Kania menggenggam tangan mama mertuanya, “Mama tenang saja, sekarang Kak Veon sedikit demi sedikit sudah mulai berubah, dia sudah tidak lagi bersikap dingin. Kania janji, Kania akan mengembalikan sifat Kak Veon seperti dulu lagi,” ucapnya.
Vera tersenyum, “hanya kamu harapan Mama satu-satunya sayang,” ucapnya sambil mengusap lengan Kania dengan sangat lembut.
***
Kania baru saja selesai mandi, dia lalu mendudukkan tubuhnya di atas sofa, “capek juga seharian pergi jalan-jalan sama Mama. Aku sampai lupa membuatkan bekal makan siang untuk Veon, tapi untungnya dia tadi ada meeting di luar sama clientnya di restoran.” Wanita itu lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, “kenapa tadi aku berjanji sama Mama untuk merubah sifat Veon sih, bagaimana aku bisa merubah sifatnya, sedangkan sikapnya selama ini saja masih berubah-ubah kayak bunglon. Kadang bersikap manis, kadang bersikap kasar, dan sekarang dia mulai menyimpan rahasia dari aku,” ucapnya.
Kania melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, “kenapa dia sampai sekarang belum pulang, apa dia lembur lagi, walaupun aku tau itu hanya alasan dia saja.”
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Kania melihat Veon masuk ke dalam kamar, “kamu sudah pulang,” ucapnya lalu beranjak dari duduknya.
Veon tersenyum, “apa kamu sedang menungguku?” tanyanya sambil berjalan mendekat.
Kania menggelengkan kepalanya, “aku tidak menunggumu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Veon menarik tubuh Kania agar semakin dekat dengannya, “kamu sudah pintar berbohong ya gadis kecil ku,” godanya.
Kania melepaskan diri dari dekapan Veon, “lebih baik kamu mandi dulu, aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Tapi Veon menarik tangan Kania dan mendudukkannya di sofa, “nanti saja, aku mau istirahat sebentar,” ucapnya lalu membaringkan kepalanya ke pangkuan Kania.
Kania membulatkan kedua matanya, ini pertama kalinya Veon bersikap seperti itu padanya, entah kenapa tubuh Kania membeku seketika.
Veon memiringkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya ke bagian perut Kania dan memeluknya dengan sangat erat, “izinkan aku untuk tidur sebentar saja,” ucapnya.
Kania memberanikan diri untuk mengusap rambut Veon dengan lembut, “apa di kantor pekerjaan begitu banyak, hingga kamu capek seperti ini?” tanyanya.
‘Jika aku jujur sama kamu, apa kamu akan meninggalkan aku? tapi aku belum siap untuk kehilangan kamu. Aku berjanji akan mengurus Bella secepatnya, aku tidak akan membiarkan dia mengganggumu,’ gumam Veon dalam hati.
“Em...baiklah, tidurlah, aku akan membangunkan kamu nanti,” ucap Kania setelah tidak mendapatkan jawaban dari Veon.
~oOo~
__ADS_1