
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Alex langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Pria itu sekarang sedang di rumah sendirian, karena Chelsea sedang berapa di rumah kedua orang tuanya. Setelah pertengkaran mereka di acara pernikahan Vika dan Betrand malam itu, Alex dan Chelsea belum saling bicara.
Chelsea bukan sengaja ingin menghindar dari Alex, tapi saat ini Kania sedang membutuhkan bantuan Chelsea. Wanita itu ingin mengajak Alex ke rumahnya, tapi Alex menolak, dengan alasan banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan selama Betrand mengambil cuti. Padahal, itu hanya alasan Alex saja, karena di rumah mertuanya nanti pasti hanya akan membahas soal anak. Selain itu, komunikasi Chelsea dan Alex juga renggang.
Alex bersandar pada kursi kerjanya, dia tatap langit-langit ruangan kerjanya itu, “biasanya kalau libur begini, aku dan Chelsea selalu pergi untuk berjalan-jalan, tapi sekarang, kenapa semua menjadi seperti ini?”
“Apa aku terlalu cemburu berlebihan? Padahal aku tahu, diantara Chelsea dan Zaki sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi, Zaki masih memendam perasaannya untuk Chelsea. Jika Chelsea mengetahui keadaan aku yang sebenarnya, apa mungkin dia akan kembali bersama dengan Zaki dan meninggalkan aku?” Alex meraup wajahnya gusar, “aku butuh pelampiasan untuk meluapkan semua masalahku ini, tapi apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin pergi minum-minum lagi.”
Alex lalu beranjak dari duduknya, pria itu teringat dengan satu sahabatnya yang sudah lama tidak dia temui. Alex pun berniat untuk menemui sahabatnya itu, dia lalu keluar dari ruang kerjanya, “apa dia masih mengingatku ya, sudah hampir 3 tahun aku tidak menemuinya. Dia adalah sahabat seperjuangan aku dulu.”
Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena rumah sahabatnya itu tidaklah dekat, tapi dia tinggal di Kota Semarang, tempat Alex menuntut ilmu waktu duduk di bangku SMA. Dalam perjalanan menuju rumah sahabatnya itu, Alex berhenti di pusat oleh-oleh, dia tidak mungkin datang dengan tangan kosong.
Setelah menempuh perjalanan panjang dan sangat melelahkan, akhirnya Alex sampai di tempat tujuan. Alex menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah sederhana, setelah itu Alex keluar dari dalam mobil sambil membawa dua paper bag yang berisi makanan yang tadi dia beli.
Alex mengetuk pintu rumah itu, tak berselang lama pintu itu pun terbuka. Munculah seorang wanita cantik dari balik pintu itu.
“Hai,” sapa Alex sambil tersenyum.
“Alex!” seru wanita itu terkejut, “sayang, kemarilah, ada Alex disini!” serunya lagi memanggil seseorang.
“Kamu tidak berubah ya, selalu saja berteriak-teriak, bikin telingaku sakit!”
Wanita itu tersenyum, “aku kira kamu sudah lupa tempat ini,” sindirnya.
“Mana mungkin aku lupa, di tempat ini lah aku menghabiskan masa mudaku. Apa kamu tidak akan menyuruh aku masuk?”
“Maaf...maaf, ayo masuk lah.” Wanita itu lalu masuk ke dalam rumah dan di ikuti oleh Alex, “duduklah, aku panggilan si bodoh itu dulu,” imbuhnya.
Alex tertawa, “tega kamu ya, masa suami sendiri kamu panggil si bodoh.”
“Kamu kenal betul bagaimana tingkah sahabatmu itu, sampai sekarang dia tidak pernah berubah, kerjaannya hanya bikin aku darah tinggi!” wanita itu lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Alex.
Tak berselang lama, wanita itu kembali dengan seorang pria dan seorang anak kecil berusia 1 tahun.
“Aku pikir kamu sudah mati,” ucap pria itu lalu duduk di sofa depan Alex.
“Kalau aku sudah mati, aku tidak akan ada dihadapan kamu saat ini.” Alex menatap seorang anak kecil yang duduk di pangkuan sahabatnya itu, “itu anak kalian?” tanyanya kemudian.
Pria itu mengusap puncak kepala putranya, “ya...setelah menunggu lama, akhirnya kami dikaruniai seorang anak.”
“Maksud kamu apa? apa kalian bermasalah?”
“Aku yang bermasalah, bukan Hera. Aku hampir putus asa, dua tahun aku berjuang tapi sama sekali tidak ada hasilnya. Aku bahkan menyuruh Hera untuk menceraikan aku, dan menikah dengan pria lain. Tapi, Hera terus mendukungku, hingga akhirnya dia hamil, dan lahirlah jagoan kecil ku ini,” imbuhnya sambil mengecup puncak kepala putranya.
“Jo, sebenarnya yang kamu alami juga aku alami saat ini,” aku Alex, yang sontak membuat Hera dan Josep membulatkan kedua matanya, “dokter mendiagnosis aku mandul,” imbuhnya.
__ADS_1
“Lex, kamu serius!” Josep masih tidak percaya sahabatnya akan mengalami hal serupa dengan dirinya.
“Hem...dan itu sungguh sangat membuatku frustasi.”
“Lex, sejak kapan kamu menikah, kenapa kamu tidak memberitahu kami?” Hera menatap tajam ke arah Alex.
Alex menyengir kuda, “maaf, lagi pula pernikahan aku hanya sederhana saja, dan hanya pihak keluarga saja yang hadir.” Pria itu lalu mengambil paper bag yang ada di sampingnya, “maaf, hanya ini yang aku bawa untuk kalian,” ucapnya sambil memberikan paper bag itu kepada Hera.
“Kamu tidak perlu membawa apa-apa.” Hera lalu mengambil paper bag itu, “kalau masih ada lagi juga tidak apa-apa,” imbuhnya.
“Dasar! Dari dulu tidak pernah berubah kamu.” Alex lalu menatap anak yang di pangku Josep, “boleh aku mengendongnya?” tanyanya kemudian.
Josep lalu menatap anaknya, “sayang, kenalin, itu teman Ayah, namanya Om Alex. Apa Rino mau main sama Om Alex? Om Alex punya banyak mainan,” ucapnya dan sontak membuat Alex membulatkan kedua matanya. Tidak yang Ibunya, Ayahnya sama saja matrenya, pikir Alex dalam hati.
“Namanya Rino ya.” Alex lalu berdiri, setelah itu dia berjongkok di depan Josep, “Rino sayang, mau maen sama Om Alex, nanti Om Alex akan membelikan banyak mainan untuk Rino,” rayunya.
Rino menatap Ayahnya, setelah itu dia kembali menatap Alex, anak kecil itu lalu menganggukkan kepalanya.
“Jo, Her, apa kalian mengajarkan anak kalian untuk matre seperti kalian?” ledek Alex sambil mengambil Rino dari pangkuan Ayahnya.
“Kami tidak matre tahu, tapi kami hanya memanfaatkan apa yang ada di depan mata, itu saja. Kalau kamu tidak menawarkan sesuatu sama kami, kami juga tidak akan memintanya. Dari semua teman-teman kita dulu, hanya kamu yang terlahir dari keluarga kaya,” ucap Hera lalu melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu, dia berniat untuk membuatkan minuman dan menaruh makanan yang dibeli Alex ke dalam toples dan juga piring.
Alex mencium kedua pipi gembul Rino, “Jo, apa aku juga akan bisa mempunyai anak seperti kamu?”
“Asal kamu berusaha, maka semuanya akan dimudahkan oleh Yang Di Atas.”
“Dari dulu kamu memang seperti itu, bukankah dulu aku pernah memperingatkan kamu, suatu saat kamu pasti akan mendapatkan teguran keras dari perbuatan kamu itu.” Hera yang baru saja datang ikut berkomentar, “makanya jangan suka main celap celup ke semua lubang, jadi sekarang kamu merasakan akibatnya,” sindirnya. Wanita itu lalu menaruh nampan yang berisi minuman dan camilan ke atas meja, setelah itu dia duduk di samping suaminya.
Josep tertawa mendengar apa yang istrinya katakan, “memangnya teh celup sayang, main celap celup aja,” ucapnya sambil terus tertawa.
“Ya...siapa tahu barangnya Alex memang kayak teh celup, entah sudah berapa banyak wanita yang dia cobain, dari SMA sampai sekarang, sudah berapa tahun itu?” Hera sebenarnya tidak suka dengan sifat sahabatnya itu, tapi dia juga tidak bisa ikut campur terlalu dalam, karena itu adalah urusan pribadi Alex.
“Aku kasihan sama istri kamu, apa dia tahu sifat kamu yang sering bergonta-ganti pasangan?” tanyanya kemudian.
Anggukkan kepala dari Alex, membuat kedua mata Josep dan Hera membulat seketika, “wah...apa istri kamu mau menerima semua masa lalumu?” tanya Hera tidak percaya.
“Kalau kamu tahu semua tentang cerita aku dan istri aku, mungkin kalian akan mengutukku untuk tidak mempunyai anak seumur hidupku,” ucap Alex lalu mendudukkan tubuhnya di sofa sambil memangku Rino.
“Aku dulu hanya memanfaatkan Chelsea untuk membalas dendam kepada kakaknya, aku bahkan mencampakkan dia setelah merenggut kesuciannya. Aku juga menghinanya dan juga kakaknya,” aku Alex.
“Gila kamu! Aku tidak menyangka kamu akan menjadi pria brengsek seperti itu!” seru Hera geram.
“Lex, mungkin apa yang kamu alami saat ini memang karma yang pantas untuk kamu dapatkan!” seru Josep yang juga sangat geram dengan tingkah sahabatnya itu.
“Aku tahu, itu sebabnya aku mendapatkan hukuman seperti ini sekarang. Tapi, aku sudah berubah, demi bisa mendapatkan Chelsea lagi, aku merubah semua sifat burukku. Aku bukan Alex yang dulu lagi, sekarang aku dan Chelsea sudah kembali bersatu, kami bahagia dengan pernikahan kami, tapi hanya satu yang belum kami miliki.” Alex lalu mencium pipi gembul Rino, “seorang anak. Chelsea sangat ingin mempunyai anak, tapi aku belum bisa memberikan itu untuknya,” ucapnya sedih.
__ADS_1
“Apa istri kamu tahu, kalau kamu mandul?” tanya Hera sambil menatap haru keadaan Alex saat ini.
Bagi Hera, meskipun Alex sangat buruk sifatnya, tetapi dia sangat royal dengan sahabat-sahabatnya. Bahkan Alex lah yang membayar uang sekolah Hera, saat wanita itu sama sekali tidak mempunyai uang untuk membayar biaya sekolahnya.
Alex menggelengkan kepalanya, “aku sengaja menyembunyikan ini darinya, karena aku takut. Aku takut Chelsea akan pergi meninggalkan aku jika dia tahu aku tidak akan pernah bisa membuatnya hamil.”
Josep dan Hera saling menatap, Hera lalu beranjak dari duduknya dan mengambil Rino dari pangkuan Alex, “aku akan meninggalkan kalian berdua,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menjauh.
“Lex, jika kamu mau, kamu bisa melakukan terapi di tempat dulu aku melakukan terapi, tapi itu juga membutuhkan waktu yang lama.”
Alex menggelengkan kepalanya, “terima kasih, tapi jika aku melakukan terapi disini, maka aku tidak akan bisa bertemu dengan Chelsea. Aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan aku.”
“Kamu bicarakan saja dulu dengan istri kamu, siapa tahu dia bisa menerima kondisi kamu.”
Alex kembali menggelengkan kepalanya, “bagaimana bisa aku melakukan itu, aku takut kehilangan dia lagi, cukup sekali saja aku kehilangan dia, dan aku tidak mau sampai itu terjadi lagi.”
“Keras kepala kamu dari dulu memang tidak pernah bisa hilang, terserah kamu, aku juga tidak bisa membantu masalah kamu itu. hanya itu solusi yang bisa aku berikan,” ucap Josep menyerah, sahabatnya itu memang sangat keras kepala dari dulu.
“Aku kesini, karena aku teringat dengan kalian, sudah lama kita tidak bertemu. Apa kamu mau ikut denganku, aku akan mengenalkan kamu dengan istriku? Dia sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Mona.”
“Ternyata kamu masih ingat dengan mantan pacar kamu itu ya. Bukankah dia juga yang merenggut pengalaman pertama kamu, dan menjadikan kamu menjadi pria brengsek. Karena dia mengkhianati kamu dengan sahabat kamu sendiri.”
Alex tersenyum, “kamu masih ingat itu, aku saja sudah lupa. Ternyata dikhianati seseorang bisa merubah sikap seseorang ya,” ucapnya.
“Tidak semua orang seperti itu, tapi kamu sudah terlanjur cinta mati sama Mona, jadi sakit hati yang kamu rasakan sudah mendarah daging.”
Alex menyandarkan tubuhnya di sofa, “Mona, apa kabar dia sekarang? Apa dia sudah menikah dengan pria pilihannya itu?”
“Yang aku dengar, dia hamil di luar nikah, tapi pacarnya tidak mau bertanggung jawab.”
Alex tertawa, “jadi dia juga menerima karma sama seperti ku ya, itu memang pantas dia dapatkan. Aku tidak menyesal karena dia telah mengkhianati aku, karena aku lah orang pertama yang merenggut kesuciannya,” ucapnya.
Josep hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sahabatnya itu memang sudah gila, pikirnya.
“Lex, kamu serius ingin mengajak aku ke rumah kamu?” tanya Josep dengan nada serius.
“Kenapa? apa kamu benar-benar ingin ke rumahku?”
“Sebenarnya aku ingin sekali mengajak Hera jalan-jalan. Selama kami menikah, aku belum pernah mengajak dia jalan-jalan keluar kota, kalau kamu tidak keberatan, apa boleh aku menginap di rumah kamu beberapa hari? Aku ingin mengajak Hera keliling kota Jakarta.”
Alex tersenyum, dia lalu menganggukkan kepalanya, “kalau begitu kamu berkemas sekarang, sekarang juga aku akan membawa kamu, Hera dan Rino ke Jakarta. Chelsea pasti akan senang berkenalan dengan kalian,” ucapnya.
Josep menganggukkan kepalanya, “terima kasih, kamu memang selalu menjadi malaikat untuk aku dan Hera,” ucapnya.
“Kalian adalah sahabat terbaik aku, kalian yang tahu siapa itu Alex dulu,” ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
~oOo~