Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Mengikhlaskan


__ADS_3

Setelah mengetahui kehamilan Chelsea, Vera maupun Dion, meminta Chelsea dan Alex sementara untuk tinggal di rumah utama. Alex tidak menolak, tapi dia merasa sangat bahagia, dengan begitu akan ada banyak orang yang menjaga istrinya itu. Selain itu, Alex bisa merasakan kembali kasih kasih keluarga yang selama ini tidak pernah dia rasakan setelah kematian Papanya.


Veon menepuk bahu Alex, “apa yang sedang kamu pikirkan? Seharusnya kamu bahagia, karena akhirnya kamu bisa membuat adik aku hamil, anak kembar lagi.” Pria itu lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, “dulu Papa kamu pernah cerita sama aku, kalau dia juga mempunyai anak perempuan, yaitu kembaran kamu. Tapi sayang, di usianya yang masih sangat muda, dia harus kehilangan nyawanya dalam kecelakaan itu.”


Alex menepiskan senyumannya, “aku tidak menyangka, Papa akan menceritakan itu sama kamu.”


“Dulu, hubungan aku sama Papa kamu itu sangat baik. Tapi aku tidak menyangka, Papa kamu melakukan kecurangan yang membuat perusahaan aku mengalami kerugian yang sangat besar. Untuk menutup kerugian itu, Papa kamu berjanji akan menyerahkan perusahaannya. Tapi, aku tidak setuju, sampai akhirnya perusahaan Papa kamu berada di ambang kehancuran. Zaki meminta aku untuk menyelamatkan perusahaan Papa kamu dengan cara mengambil alih perusahaan Papa kamu, dan membangkitkannya lagi.”


“Aku tahu, aku sudah melihat rekaman cctv yang kamu berikan padaku waktu itu. Aku minta maaf, atas perlakukan buruk aku selama ini. Selama ini aku sudah salah menduga, aku pikir Papa terkena serangan jantung waktu itu karena Papa merasa terpukul karena kehilangan perusahaan yang telah dirintis dari nol. Aku juga sudah memanfaatkan Chelsea untuk membalas dendam kepada kamu,” ucap Alex sambil menundukkan kepalanya.


Veon beranjak dari duduknya, “aku sudah melupakan semua itu, aku hanya minta satu hal sama kamu, jangan pernah sia-siakan Chelsea lagi. Kamu pasti tahu, selama ini dia sudah cukup menderita.” Pria itu lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Alex sendirian.


Alex menghela nafas, “aku berjanji padamu, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan Chelsea lagi. Aku akan membahagiakan dia di sisa umurku.” Pria itu lalu beranjak dari duduknya, dia ingin menghampiri Chelsea yang saat ini tengah bermain bersama dengan Noel.


Noel tumbuh menjadi anak yang sangat tampan. Di usianya yang belum genap 3 tahun, anak itu sudah menarik perhatian semua orang. Kania sampai kewalahan saat mengajak Noel berbelanja, karena ketampanan anaknya itu menarik perhatian ibu-ibu yang melihatnya.


Alex memangku Noel, “Noel sedang main apa sih, kayaknya seru banget?”


“Noel sedang masang ini, Om. Kata Mama, Noel harus banyak belajar kayak gini biar pintar.” Noel kembali membungkukkan tubuhnya untuk memasang puzzle yang belum selesai.


Chelsea mengusap puncak kepala Noel, “keponakan Tante ini memang pintar. Untuk seumuran kamu, pazel itu sangat sulit, tapi kamu dengan sangat cepat menyelesaikannya.”


“Sebelum tidur, Papa selalu menyuruh Noel untuk menghafal huruf, Tante. Jadi Noel bisa memasang semua ini.” Noel memasang puzzel terakhir, “selesai.”


Alex menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sangat takjub melihat kepintaran Noel, padahal usianya masih sangat belia. Selain itu, Noel juga sudah sangat pandai berbicara, “kamu ini ya...pandai banget ngomongnya,” ucapnya gemas sambil mencubit kedua pipi gembul Noel.


“Kata Nenek, dulu Papa juga sangat pandai berbicara seperti Noel. Jadi, Noel sangat mirip sama Papa kan, Om?” tanyanya sambil menatap Alex.


Alex menganggukkan kepalanya, “ya...Noel sangat mirip seperti Papa Noel,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


Kania berjalan mendekati Alex, Chelsea dan juga Noel, “Chel, ada yang ingin bertemu denganmu.”


Alex menatap Zaki yang saat ini berdiri di samping Kania, “apa yang ingin kamu bicarakan dengan istri aku?” Alex sengaja menekankan kata istri, dia ingin Zaki menyadari, jika Chelsea akan selamanya menjadi miliknya.


Chelsea menyentuh lengan Alex, “izinkan aku untuk bicara sama Zaki, aku mohon.”


“Tapi...”


“Aku janji, tidak akan lama.”


Alex menghela nafas, dia akhirnya menganggukkan kepalanya. Chelsea lalu berdiri, dia mengajak Zaki untuk berbicara di taman yang berada di samping rumahnya.


Kania mendudukkan tubuhnya di depan Alex, dia lalu mengambil Noel dari pangkuan Alex, “kamu tidak perlu khawatir, Zaki dan Chelsea sudah sama-sama mengikhlaskan semuanya. Biarkan mereka untuk menyelesaikan masalah diantara mereka.”


“Tapi, aku belum bisa sepenuhnya percaya sama Zaki. Aku bisa melihat, masih ada cinta untuk Chelsea di tatapan matanya.”


“Meskipun begitu, dia tidak ada niat untuk merebut Chelsea dari kamu. Aku sudah memberitahu Zaki tentang kehamilan Chelsea.”


“Apa yang ingin kamu bicarakan sama aku?” Chelsea mendudukkan tubuhnya di bangku taman.


Zaki juga mendudukkan tubuhnya di bangku taman, tapi dia memilih untuk duduk di depan Chelsea, “aku sudah mendengar dari Kania, kalau saat ini kamu tengah hamil. Aku hanya ingin mengucapkan selamat.”


Zaki lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku taman itu, “saat suami kamu bilang dia mempunyai kekurangan, aku pikir dia mandul. Tapi ternyata aku salah, buktinya saat ini kamu sedang mengandung anaknya.”


“Alex itu tidak mandul, karena sebelumnya aku dan Alex pernah memeriksakan diri ke dokter, dan hasilnya tidak ada masalah, dari aku maupun Alex. Selama ini aku berpikir, akulah yang mandul, tapi Alex selalu memberikan aku semangat. Mungkin Tuhan memang belum memberikan kami kepercayaan untuk mempunyai anak. Tapi aku bersyukur, setelah 3 tahun aku menunggu, akhirnya Tuhan memberikan kepercayaan kepada aku dan Alex untuk menjaga amanahnya.”


Chelsea lalu mengusap perutnya yang masih rata, “aku akan menjaga kedua anak aku dengan sangat baik, tak akan aku biarkan terjadi apa-apa dengan kedua anak aku,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Zaki tersenyum saat melihat senyuman manis merekah dari kedua sudut bibir Chelsea, “aku senang melihatmu sebahagia ini.”

__ADS_1


Chelsea mendongakkan wajahnya menatap Zaki, “Zak, aku ingin kamu juga bisa bahagia seperti aku saat ini. Aku juga ingin kamu membuka hati kamu untuk wanita lain. Aku minta maaf, karena aku tidak bisa menepati janji aku dulu.”


Zaki tersenyum, “kamu tenang saja, aku sudah benar-benar mengikhlaskan kamu. Aku sudah melihat, Alex sudah banyak berubah. Dia sepertinya sangat takut kehilangan kamu, sepertinya dia sudah mulai menyadari, kalau selama ini dia telah salah menyia-nyiakan kamu.”


“Aku sudah melupakan semua itu, aku tidak ingin hidup dalam masa lalu. Bagiku, masa lalu itu untuk di lupakan, bukan untuk di ingat.”


Zaki menghela nafas, dia lalu menatap langit yang terlihat begitu indah, “tapi tidak untuk aku, karena aku akan terus mengingat semua kenangan indah kita. Dari waktu kita pertama kali jadian, sampai sekarang. Semua kenangan itu akan selalu aku simpan dalam hatiku, dan juga disini...” ucapnya sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya.


“Zak...”


Zaki beranjak dari duduknya, “terima kasih, karena kamu sudah mau meluangkan waktu kamu untuk bicara sama aku.” dia lalu melihat jam di pergelangan tangannya, “aku harus segera pergi, aku tidak mau sampai ketinggalan pesawat.”


Chelsea mengernyitkan dahinya, “apa kamu mau pergi?”


Zaki menganggukkan kepalanya, “aku mengambil cuti, aku ingin menjernihkan pikiranku.”


“Kamu akan pergi kemana? Bukankah kamu sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi?”


“Aku ingin berlibur, siapa tahu nanti aku pulang bawa calon istri,” ucap Zaki dengan senyuman di wajahnya.


Chelsea tersenyum, “dasar! Aku akan tunggu, wanita seperti apa yang akan kamu kenalkan sama aku untuk menjadi calon istri kamu.”


“Yang pasti kecantikannya sama seperti kamu, aku ingin dia sama sepertimu.” Zaki lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Chelsea yang hanya diam, saat mendengar apa yang Zaki katakan.


“Maafkan aku, Zak. Maafkan aku.” Chelsea menatap Zaki yang semakin menjauh, “aku berharap, kamu bisa mendapatkan wanita seperti yang kamu inginkan.”


~oOo~


Mungkin seperti ini tatapan Zaki saat menatap Chelsea 😁😁

__ADS_1



__ADS_2