
Sudah satu bulan Veon dan Kania tinggal di kediaman Sanjaya. Veon masih saja bersikap dingin kepada Kania. Dia bahkan kini sudah terbiasa berbagi ranjang dengan wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Seperti pagi ini, Veon merasakan berat di tubuhnya. Mau tidak mau pria itu pun akhirnya membuka kedua matanya.
Kedua mata Veon membulat dengan sempurna saat melihat salah satu kaki dan tangan Kania saat ini berada di atas tubuhnya, ‘apa dia selalu seperti ini kalau tidur?’ Veon lalu dengan kasar menyingkirkan kaki dan tangan Kania yang berada di atas tubuhnya.
Kania yang merasa tubuhnya terguncangpun akhirnya membuka kedua matanya karena terkejut, “gempa! Ada gempa!” teriaknya keras.
“Gempa dari hongkong!” teriak Veon, pria itu lalu bangun dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang. Dia tatap wajah Kania yang masih terlihat begitu panik.
“Apa kamu tidak merasakan sesuatu? Tapi aku merasakannya, tubuh aku tadi seperti ada yang mengguncangnya?” Kania seakan masih memikirkan apa yang baru saja dia rasakan.
Melihat tingkah kania yang masih terlihat bingung membuat kedua sudut bibir Veon membentuk sebuah senyuman kecil, sungguh menggemaskan, pikirnya. Veon lalu beranjak dari ranjang, dia ingin melakukan rutinitas paginya.
Sedangkan Kania masih tetap diam mematung di atas ranjang sambil menggaruk-garuk kepalanya, “tapi aku tadi benar-benar merasakan ada gempa, apa tadi aku sedang bermimpi?”
“Masa bodoh, aku mau tidur lagi.” Kania lalu menarik kembali selimutnya untuk menutupi tubuhnya, dia pun kembali memejamkan kedua matanya.
Veon yang sudah selesai mandi, akhirnya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Pria itu tampak tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk yang berada di lehernya. Dahi Veon mengernyit saat melihat Kania yang kembali memejamkan kedua matanya, “dasar tidak tau malu! Bisa-bisanya dia tidur lagi, dia tidak melihat apa sekarang jam berapa? Apa dia tidak malu tinggal di rumah mertua dengan kelakuan seperti itu?”
Veon melangkahkan kakinya menuju ranjang, dia lalu mencoba membangunkan Kania dengan menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu, “bangun bodoh!” teriaknya.
“Apa sih!” Kania lalu kembali membuka kedua matanya, seketika itu pula kedua mata Kania membulat dengan sempurna saat melihat Veon yang kini tengah berdiri di depannya dengan bertelanjang dada dan memperlihatkan perutnya yang sixpack. Kania menelan ludah, tubuhnya sangat bagus, pikirnya.
Veon yang melihat Kania terus menatap tubuhnya tanpa berkedip pun merasa sangat jengkel, dia lalu menjitak kening wanita itu, “buang jauh-jauh pikiran mesum kamu itu!” teriaknya.
__ADS_1
Kania mengerucutkan bibirnya sambil mengusap keningnya yang terasa sakit, dia lalu bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk sambil bersila, “siapa juga yang mempunyai pikiran mesum, aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuh kamu itu,” elaknya.
Mendengar apa yang dikatakan Kania membuat darah Veon semakin mendidih karena marah. Baru kali ini dia dipermalukan oleh wanita, apalagi wanita itu istrinya sendiri. Pria itu akhirnya naik ke atas ranjang, dia lalu mencondongkan tubuhnya ke arah wanita itu, “apa tadi kamu bilang, kamu tidak tertarik dengan tubuhku?” tanyanya dengan nada dingin, sorot matanya yang tajam terus menghujam ke kedua manik mata wanita itu.
Kania seakan mati kutu, dia bahkan tidak bergerak sama sekali, tubuhnya seakan membeku, karena tatapan mata Veon yang begitu tajam sungguh sangat menakutkan. Tapi Kania mencoba untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh tatapan kedua mata Veon, “memang aku tidak tertarik, kenapa, apa kamu tidak terima aku bilang seperti itu?”
Veon mengepalkan kedua tangannya, dia lalu mendorong tubuh Kania hingga tubuh wanita itu jatuh terlentang. Dengan cepat Veon menindih tubuh Kania, “aku ingin lihat, seberapa besar rasa tidak tertarik kamu sama tubuh aku.” Pria itu semakin menindih tubuh wanita itu, tapi tubuhnya masih tertahan oleh kedua tangan Kania yang saat ini menempel di dada bidang Veon untuk menahan agar tubuh pria itu tidak menempel sepenuhnya pada tubuhnya.
“A—pa yang kamu lakukan?” saat ini jantung Kania berdetak lebih cepat dari biasanya, hatinya berdesir semakin kuat, ada dengan jantungku, kenapa jantungku seperti ini?
“Kenapa, apa kamu takut? Bukankah kamu tidak tertarik dengan tubuh ku? Lalu apa yang akan kamu lakukan jika aku saat ini sangat menginginkan kamu?” goda Veon dengan menyunggingkan senyumannya.
“A—pa maksud kamu?” Kania terlihat begitu takut, dia tau apa maksud dari kata-kata Veon. Tapi jika pria itu benar-benar menginginkannya, apa Kania sudah siap untuk melakukannya?
Kania memalingkan wajahnya, dia tidak berani menatap kedua mata Veon yang terus menatapnya dengan sorot mata yang tajam, “aku mohon, jangan lakukan itu sama aku,” pintanya.
Veon tertawa sarkas, “apa sekarang kamu takut? Tapi...” pria itu lalu membelai pipi wanita itu dengan jemari-jemari tangannya, “jika aku menginginkan itu, bukankah itu adalah hak aku, karena aku suami kamu, dan kamu sekarang adalah istriku,” godanya.
Kania merasakan detak jantungnya terus berpacu dengan cepat, tubuhnya gemetar saat jemari-jemari tangan Veon membelai pipinya dengan lembut. Bahkan saat ini jemari-jemari itu beralih ke arah leher jenjang Kania. Kania menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat bibirnya hampir saja mengeluarkan lenguhan kecil.
Veon yang melihat ekspresi Kania pun menyunggingkan senyumannya, “lihatlah, belum apa-apa kamu sudah begitu terangsang.” Pria itu lalu menarik dagu Kania agar wanita itu menatapnya, kini kedua mata itu saling bertemu tatap, “tapi sayang, bukan kamu yang tidak tertarik dengan tubuh aku, tapi justru aku yang tidak tertarik sama tubuh kamu!” serunya penuh penekanan.
Veon lalu bangun dan beranjak turun dari ranjang. Pria itu lalu mengambil pakaian dari dalam lemari dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Kania memukul pelan mulutnya yang sudah mempermalukannya karena telah mengeluarkan lenguhan yang sama sekali tidak diduga. Tapi wanita itu tidak bisa memungkiri jika saat ini ada gejolak yang mengalir di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Veon yang sudah selesai berpakaian keluar dari kamar mandi, “meskipun aku tidak memperlakukan kamu sebagai istriku, tapi kamu tetaplah menantu di rumah ini.” Pria itu lalu berdiri di depan cermin besar yang berada di kamarnya, dia lalu memasang dasi yang sejak tadi dia bawa, “jadi bersikaplah seperti layaknya seorang menantu, jangan pernah mempermalukan aku di depan keluargaku,” imbuhnya.
Kania hanya mampu menganggukkan kepalanya.
“Aku tidak butuh anggukkan kepala kamu, tapi aku butuh bukti!”
“Iya, Tuan Veon, saya akan melakukan apapun yang Tuan Veon perintahkan,” ucap Kania sambil memutar kedua bola matanya dan mengerucutkan bibirnya seakan tengah meledek pria yang sedang berdiri di depan cermin itu.
Veon menggertakan gigi-giginya, dia paling tidak suka jika Kania memanggilnya tuan, “kamu tadi memanggil aku apa?” tanyanya dengan sorot mata yang tajam.
Apalagi coba salah aku, kenapa dia selalu menatapku dengan tatapan seperti itu? “tuan,” ucap Kania tanpa rasa bersalah.
Veon berjalan mendekati wanita itu, “kenapa kamu memanggilku tuan, apa aku ini majikan kamu?” tanyanya.
“Sejak awalkan kamu memang majikan aku, walau sekarang sudah menjadi suami aku sih, tapi kitakan menikah karena—”
Kania menghentikan ucapannya saat Veon mencengkram erat kedua lengannya, “sakit, lepas!” serunya.
“Aku bukan majikan kamu lagi. Dan ingatlah satu hal ini, aku paling tidak suka kamu memanggil aku dengan sebutan tuan!” serunya lalu melepaskan cengkraman tangannya, dia lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
“Aku anggap sebagai majikan tidak boleh, lalu aku harus menganggap dia apa coba, apa aku harus memperlakukan dia seperti suami aku, sedangkan dia tidak pernah memperlakukan aku seperti istrinya, bahkan selalu bersikap kasar dan dingin padaku” gerutu Kania. Wanita itu lalu beranjak turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia ingin melakukan rutinitas paginya. Setelah itu dia akan mulai bersandiwara untuk menjadi seorang menantu dan istri yang baik.
~oOo~
__ADS_1