
Sesampainya di rumah utama, Alex dan Chelsea lalu membawa Kania yang sedang merintih menahan sakit ke dalam mobil. Chelsea meminta Mamanya untuk tetap tenang, dia berjanji akan mengabari jika Kania sudah melahirkan. Vera meminta maaf, karena dirinya tidak bisa menemani mereka, karena dia harus menjaga Dion.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Chelsea terus mengusap keringat yang terus bercucuran di dahi Kania, “Kania, bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit.”
“Chel, sakit!” pekik Kania sambil menahan rasa sakit yang seakan mengoyak bagian perutnya.
“Bertahanlah, demi anak kamu, bukankah kamu juga sudah tidak sabar ingin melihatnya lahir ke dunia?”
“Tapi ini benar-benar sakit...ah...” Kania terus meracau, rasa sakit yang dia rasakan saat ini sama sekali tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Chelsea dan Alex tidak tahu harus berbuat apa, ini pertama kalinya mereka mengalami semua itu. Chelsea meminta Alex untuk mempercepat laju kecepatan mobilnya.
“Apa kamu sudah menghubungi kakak kamu?” Kania sudah merasa sedikit tenang, meskipun masih terasa sakit, tapi dia masih bisa menahannya.
“Aku sudah menghubungi Kak Veon, aku memintanya untuk langsung menuju rumah sakit, jika dia sudah sampai di Jakarta.”
Mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit, dokter yang biasa memeriksa Kania sudah menunggu kedatangan mereka, karena setelah keberangkatan Chelsea, Alex dan Kania ke rumah sakit, Vera langsung menghubungi pihak rumah sakit. Kebetulan, pemilik rumah sakit itu adalah sahabat Dion, Rio.
Kania pun langsung dibawa ke ruang persalinan, tapi Kania tidak ingin melahirkan sebelum Veon datang, hingga membuat dokter yang menangani kania kebingungan. Dokter itu pun keluar dari ruang bersalin untuk menemui Chelsea dan juga Alex.
“Bagaimana keadaan kakak ipar saya, dok?” Chelsea terlihat sangat panik.
“Pasien tidak mau melakukan persalinan, sebelum suaminya datang, apa anda sudah menghubungi suaminya.”
Veon dan Zaki yang sudah sampai di rumah sakit, segera menuju ruang persalinan. Mereka melihat Chelsea dan Alex yang sedang berbicara dengan dokter.
“Chel, bagaimana keadaan Kania?” Voen bertanya dengan nafas yang memburu, karena dia terus berlari dari parkiran sampai di depan ruang bersalin.
“Untung kakak segera datang, Kania dari tadi sedang menunggu kakak.”
Setelah kedatangan Veon dan Zaki, dokter itu lalu mempersilahkan Veon untuk masuk ke dalam ruang persalinan. Veon melihat Kania yang tengah merintih menahan sakit.
“Sayang, maafkan aku, maafkan aku terlambat datang.” Veon terus mengecup kening Kania berkali-kali, dia tidak peduli dengan peluh yang terus mengalir di dahi istrinya itu.
“Sayang, sakit...ini sakit sekali.” Air mata mulai mengalir dari kedua sudut mata Kania.
“Dok, tolong selamatkan istri dan anak saya, berapapun biayanya tidak akan menjadi masalah.” Veon tidak peduli, yang dia pedulikan adalah keselamatan anak dan istrinya.
__ADS_1
“Bapak tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik untuk bisa menyelamatkan anak dan istri anda.”
Dokter itu pun memberikan arahan kepada Kania, menyuruhnya untuk mengambil nafas secara perlahan dan mengeluarkannya secara perlahan pula. Kania mengikuti istruksi yang di suruh dokter itu. Veon tidak henti-hentinya memberikan semangat kepada Kania, dia terus menggenggam tangan wanita itu dan mengecup keningnya.
“Sayang, berjuang lah, demi anak kita, buah hati kita yang selama ini sudah kita tunggu-tunggu kehadirannya.”
Setelah satu jam berjuang, mempertaruhkan nyawanya, akhirnya Kania bisa melahirkan buah hatinya. Tangisan bayi mungil itu menggema di seluruh ruangan. Veon tidak henti-hentinya mengucap kata syukur, dan terus mengecup kening Kania.
“Terima kasih sayang, terima kasih atas perjuanganmu selama ini. Kamu telah memberikan hadiah terindah dalam hidupku.” Veon pun sudah tak sanggup menahan air mata yang sejak tadi memenuhi kedua sudut matanya.
Ternyata perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya sangatlah sulit dan butuh perjuangan keras. Tapi selama ini dia sangat membenci wanita yang sudah melahirkannya dan mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkannya.
“Sayang, kenapa kamu menangis?” Kania menghapus air mata Veon yang saat itu tengah membungkuk sambil menatap kedua matanya.
“Ini adalah air mata kebahagiaan, ternyata perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya begitu sangat sulit, mereka bahkan mempertaruhkan nyawa mereka, tapi selama aku hidup, aku sangat membenci wanita yang sudah melahirkan aku, dan memberikan aku kehidupan sampai sekarang ini.”
“Sayang, jangan lagi kamu mengungkit masa lalu itu, sekarang kita harus menjaga dan membesarkan anak kita dengan penuh kasih sayang.” Meskipun tubuhnya terasa begitu lemah, Kania tetap memberikan semangat untuk suaminya.
“Bapak, Ibu, selamat, anak anda berdua terlahir dengan sehat dan sempurna. Anak anda juga begitu tampan seperti Ayahnya.” Dokter itu pun memberikan bayi yang masih merah itu kepada Veon.
Dengan tangan yang gemetar, dia pun dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, mulai menggendong putra pertamanya, “terima kasih ya Tuhan, Engkau telah menyelamatkan anak dan juga istri hamba. Engkau telah mempercayakan kami untuk merawat buah hati kami.”
Setelah itu Veon mendekatkan buah hatinya kepada Kania, “sayang, lihatlah, anak kita begitu tampan, dia sangat mirip denganku.”
Kania mengusap lembut pipi gembul putranya, “sayang, kenapa semuanya mirip denganmu, tidak ada satupun bagian wajahnya yang mirip denganku. Aku yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan lebih, tapi anak kita lebih memilih untuk mirip denganmu.” Wanita itu berpura-pura kesal, padahal dalam hatinya dia begitu sangat bersyukur, karena anaknya mewarisi wajah tampan Ayahnya.
Veon terkekeh geli mendengar kecemburuan istrinya, “sayang, dia kan cowok, jadi sudah semestinya dia mirip denganku. Kalau anak kita cewek, itu baru mirip denganmu, cantik dan juga menggemaskan,” godanya.
Kania tersenyum, “sayang, boleh aku menciumnya?”
“Jangankan mencium, menggendongnya pun aku akan mengizinkannya, tapi sekarang kamu hanya boleh menciumnya.” Veon pun lalu mendekatkan buah hatinya, Kania pun mengecup kening dan kedua pipi gembul putra tampannya.
Veon dan Kania terlihat begitu bahagia, mereka sangat bersyukur, persalinan anak pertama mereka berjalan dengan lancar. Veon pun memberikan kembali buah hatinya kepada dokter untuk dibersihkan dan menjalani beberapa pemeriksaan menurut prosedur rumah sakit.
Veon pun keluar dari ruang persalinan saat Kania sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Chelsea, Alex, dan Zaki yang melihat Veon keluar dari ruang persalinan pun bergegas menghampirinya. Mereka memang sudah mendengar suara tangis anak Veon dan Kania, tapi mereka belum mendengar tentang keadaan Kania dan juga buah hatinya.
“Kakak, bagaimana keadaan Kania dan juga keponakan aku?”
__ADS_1
Veon tersenyum, dia lalu memeluk Chelsea dengan sangat erat, “terima kasih, terima kasih karena kamu sudah membawa Kania ke rumah sakit tepat waktu.”
“Itu sudah jadi tugas aku, Kak.” Chelsea lalu melepaskan pelukan kakaknya, “bagaimana keadaan mereka berdua?” tanyanya lagi.
“Kania baik-baik saja, jagoan kecilku juga baik-baik saja, dia sangat tampan, sangat mirip denganku,” ucap Veon dengan senyuman di wajahnya.
“Jadi keponakan aku cowok?” Veon menganggukkan kepalanya, “Kak, aku sudah tidak sabar ingin melihat dan menggendongnya.”
“Bersabarlah, mereka sedang menjalani beberapa pemeriksaan. Nanti kamu boleh menggedongnya sampai puas.”
Alex mengulurkan tangannya, “selamat ya, semoga anak kamu menjadi anak yang soleh.”
Veon tidak menjabat tangan Alex, tapi malah memeluk adik iparnya itu, “terima kasih sudah mengantar istriku ke rumah sakit, tepat waktu, terima kasih.”
Alex begitu terkejut saat Veon memeluknya, ini pertama kalinya Veon memeluknya dan mengucapkan terima kasih padanya. Begitu juga dengan Chelsea dan juga Zaki.
Veon melepaskan pelukannya, dia lalu tersenyum dan menepuk bahu Alex. Zaki pun mengucapkan selamat atas kelahiran buah hati Veon dan Kania. Mereka pun langsung menuju ruang perawatan tempat Kania dan anaknya dirawat.
Veon tidak henti-hentinya mengecup punggung tangan Kania dan mengucapkan terima kasih, hingga membuat Alex, Chelsea dan juga Zaki begitu terharu.
Alex memeluk Chelsea dari belakang, saat wanita itu tengah menggendong keponakan nya, “sayang, kapan kita akan memiliki anak juga? Aku sudah tidak sabar melihat perut kamu yang mulai membuncit.”
Zaki yang berada tidak jauh dari Alex dan Chelsea, mendengar dengan jelas apa yang Alex katakan, ‘Chel, apa kamu sudah menerima Alex sepenuhnya? Apa aku benar-benar sudah kehilangan kamu? Jika itu pilihanmu, aku akan menerima semuanya, terima kasih kamu sudah hadir di dalam hidupku dan menemani hari-hariku selama ini,’ gumamnya dalam hati.
“Kita akan segera memilikinya, aku juga sudah tidak sabar ingin mendengar tangis anak kita nanti yang memenuhi rumah kita.” Chelsea memiringkan wajahnya dan mengecup kilas bibir Alex.
“Aku mau memakanmu saat ini juga,” godanya.
“Dasar! Apa kamu tidak malu mengatakan itu?”
“Kenapa aku harus malu, aku akan berbicara dengan istriku yang cantik.”
Veon melangkah kan kakinya menghampiri Zaki, “Zak, tolong kamu beritahu kan kabar gembira ini sama Mama dan Papa ku. Katakan kalau Kania dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja, sekarang Mama dan Papa pasti sangat mencemaskan Kania dan anakku.” Zaki mengangguk kan kepalanya, dia pun lalu pamit undur diri.
Chelsea menatap Zaki, dia lupa jika masih ada Zaki di ruangan itu, ‘maafkan aku, Zak. Tapi ini jalan yang aku pilih. Aku baru menyadari, jika aku sudah mulai mencintai Alex, aku tidak ingin kehilangan Alex lagi, maafkan aku. semoga kamu bisa segera mendapatkan penganti diriku,’ gumamnya dalam hati.
~oOo~
__ADS_1