
Dion dan Vera menyuruh Veon untuk datang ke rumah, ada sesuatu hal yang ingin mereka bicarakan, tentu saja itu menyangkut pernikahan putra mereka.
Zaki menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah kedua orang tua Veon. Veon membuka pintu dan keluar dari mobil, “kamu tunggu aku, aku tidak akan lama,” ucapnya lalu menutup pintu. Zaki menganggukkan kepalanya.
Veon berjalan menuju pintu utama, dia lalu membuka pintu itu dan masuk ke dalam rumah. Zaki keluar dari mobil, dia lebih memilih menunggu sambil duduk di bangku taman yang berada di samping rumah Veon.
“Kenapa Tuan Veon lebih memilih tinggal sendiri? Padahal rumahnya begitu besar dan luas.”
Sejak pertama kali Zaki bekerja sebagai asisten pribadi Veon, dia sudah merasa begitu penasaran, karena dia lebih memilih tinggal seorang diri, padahal dia belum menikah. Tapi sampai sekarang dia tidak tahu apa alasannya.
Saat Zaki sedang asyik melihat pemandangan di depannya, dia tidak sengaja melihat Chelsea yang baru saja keluar dari mobil. Dia nampak sedang berdebat dengan seorang pria, pria itu tak lain dan tak bukan adalah Alex.
Tapi sayangnya Zaki tidak bisa melihat dengan jelas wajah Alex, dia juga tidak bisa mendengar apa yang mereka perdebatkan. Chelsea masuk melewati pintu gerbang rumahnya sambil berlari, dia buru-buru menghapus air matanya saat menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Zaki beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati gadis itu, “ada apa? Kenapa kamu menangis?” tanyanya.
“Bukan urusan kamu!” Chelsea menjawab dengan nada ketus, dia lalu pergi meninggalkan Zaki.
Zaki mengernyitkan dahinya, “apa pria itu tadi pacarnya? Apa mereka sedang bertengkar?” dia lalu menaikkan kedua bahunya, “bukan urusan aku juga,” ucapnya lalu kembali menuju bangku tempat semula dia duduk.
***
“Papa dan Mama sudah memutuskan untuk menerima pilihan kamu.” Setelah dibujuk oleh Vera, akhirnya Dion mau menerima Kania sebagai calon menantunya.
Veon tidak terkejut, karena mana mungkin kedua orangtuanya akan menolak wanita pilihannya, karena mereka begitu ingin melihatnya menikah, “lalu apa rencana Papa?” tanyanya.
“Papa dan Mama ingin bertemu dengan orang tua Kania, sekalian ingin melamar dia secara langsung untuk kamu.”
“Papa tidak perlu melakukan itu, karena Veon sudah melamar Kania kepada orangtuanya. Mama dan Papa pasti sudah tau kalau Kania hanya tinggal bersama dengan Papa nya. Kemarin Veon sudah melamar Kania langsung, dan Papa nya menyetujuinya.”
“Baiklah kalau begitu, kapan kamu akan siap untuk melangsungkan pernikahan kalian?” tanya Dion. Dia tidak menyangka kalau putranya sudah mempersiapkan semuanya, tapi ada yang membuatkan merasa curiga. Kenapa putranya tiba-tiba berubah pikiran hanya dalam hitungan hari?
“Terserah Papa, lebih cepat lebih baik.”
“Bagaimana kalau satu minggu dari sekarang?” usul Vera.
__ADS_1
“OK...Veon setuju.” Dia lalu beranjak dari duduknya, “maaf, Ma, Pa. Veon tidak bisa lama-lama, karena Veon ada meeting penting hari ini,” ucapnya.
“Sayang, apa kamu tidak bisa menginap di sini malam ini?” Vera berharap Veon tidak akan menolak permintaannya.
“Maaf, Ma. Veon tidak bisa, karena besok Veon harus melakukan perjalanan keluar kota, selain itu malam ini Veon juga ada jamuan makan malam dengan client,” tolak Veon. Tentu saja itu hanya alasan Veon untuk menolak permintaan mamanya, bukan karena dia tidak mau, tapi sekarang ada seseorang yang tinggal di rumahnya. Dia takut gadis itu akan memanfaatkan situasi untuk melarikan diri. Meskipun itu tidak akan pernah terjadi, karena Veon sudah memperketat penjagaan rumahnya.
Vera merasa sangat kecewa, tapi dia juga tidak akan memaksa putranya untuk tetap tinggal. Dia tau tanggung jawab yang dia emban sebagai CEO perusahaan sangatlah berat. Vera hanya mampu mengangguk mengerti dengan penolakan putranya.
Veon mencium tangan kedua orangtuanya sebelum melangkah pergi. Zaki yang melihat Veon keluar dari rumahnya, bergegas melangkahkan kakinya menuju mobil.
“Sekarang antar aku ke rumah Dimas.” Veon membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil.
Zaki pun masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya.
“Pernikahan aku sudah ditentukan, seminggu lagi.” Veon menatap keluar jendela.
“Apa tuan menyetujuinya?” Zaki masih fokus menatap ke depan.
“Aku bisa apa, karena Kania adalah wanita yang aku pilih sendiri.”
“Karena aku juga membutuhkan bantuan kamu, nanti kamu juga akan tau.”
Zaki menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Dimas. Mereka lalu keluar dari mobil. Ternyata Dimas sudah menunggu kedatangan mereka. Dimas menyuruh mereka untuk masuk.
“Bagaimana dengan penyelidikan yang aku minta?” Veon menyuruh Zaki untuk duduk di sofa tunggal yang tak jauh dari tempatnya duduk.
“Chelsea sering pergi dengan seorang pria.” Dimas memberikan bukti foto-foto yang sempat dia ambil.
Veon mengernyitkan dahinya, “siapa pria ini? Apa kamu sudah menyelidiki siapa pria ini?” tanyanya sambil melihat foto yang tadi Dimas berikan.
“Setelah aku selidiki, pria itu bernama Alex. Dia anak yatim piatu, dia ternyata kekasih adik kamu.”
Zaki yang sejak tadi menyimak, jadi teringat dengan kejadian saat dia melihat Chelsea yang bertengkar dengan seorang pria, “maaf, tuan. Tadi saat di rumah tuan, saya melihat Nona Chelsea bertengkar dengan seorang pria, dan Nona Chelsea masuk ke dalam rumah dalam keadaan menangis,” ucapnya.
“Apa pria ini yang kamu maksud?” tanya Veon sambil menunjukkan foto yang tadi diberikan oleh Dimas.
__ADS_1
“Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas,” ucap Zaki.
“Zak, aku ingin kamu memantau gerak-gerik Chelsea, dan kamu Dimas, kamu selidiki siapa pria ini,” titah Veon. Zaki dan Dimas mengangguk mengerti.
“Em...tapi bagaimana dengan Nona Kania?” tanya Zaki cemas. Karena selama ini yang mengurus soal Kania adalah dirinya.
Dimas mengernyitkan dahinya, “siapa itu Kania? Apa dia pacar kamu? Tapi setahuku, kamu tidak mempunyai pacar?” tanyanya penasaran.
“Dia memang bukan pacar aku, tapi dia calon istri aku,” aku Veon yang sontak membuat kedua mata Dimas membulat dengan sempurna.
“Apa aku tidak salah mendengar, seorang Veon mau menikah? Pacaran saja kamu tidak pernah,” ledek Dimas sambil tertawa.
“Bukannya itu lebih baik. Pacaran hanya akan membuat dosa,” sindir Veon. Veon dan Dimas sudah lama berteman. Tentunya dia tau semua sifat Dimas yang sering bergonta-ganti pasangan.
Dimas berdecak, “hidup itu harus dinikmati, bukan begitu, Zak?” tanyanya.
Zaki menggelengkan kepalanya, “tapi tidak harus melakukan sex bebas juga kan?” sindirnya sambil tersenyum.
“Kalian berdua sama-sama munafik.”
Mendapatkan tugas untuk mengawasi Chelsea itu adalah tugas terberat dalam hidup Zaki, karena dia harus terus melihat wajah wanita itu. Dia harus menahan perasaannya yang selama ini hanya dia rasakan untuk wanita itu.
Sudah bertahun-tahun Zaki mencoba untuk melupakan Chelsea, tapi semua usahanya sia-sia. Alasan kenapa Zaki meninggalkan Chelsea waktu itu, karena dia merasa tidak pantas untuk gadis itu. Dia tau jika Chelsea berasal dari keluarga kaya dan terpandang, sedangkan dirinya bukanlah siapa-siapa.
“Mulai sekarang kamu aku tugas kan untuk menemani kemanapun Chelsea pergi.”
“Tapi, tuan...”
Veon mengernyitkan dahinya atas penolakan Zaki, “kenapa? Apa kamu tidak ingin bekerja dengan aku lagi?” ancamnya.
Zaki menggelengkan kepalanya dengan cepat, “maaf, tuan. Saya akan melakukannya,” ucapnya. Apa yang harus aku lakukan? Pikirnya.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, mereka akhirnya pergi dari rumah Dimas. Dalam perjalanan Zaki tengah memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan saat mengawasi Chelsea. Tapi pria itu juga sangat penasaran dengan pria yang dimaksud oleh Dimas. Jadi kekasih Chelsea namanya Alex, aku akan menyelidiki siapa pria itu, pikirnya.
~oOo~
__ADS_1