Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Merestui


__ADS_3

Setelah kedatangan Alex ke rumahnya, Chelsea dipanggil oleh Papa dan juga Mamanya. Mereka ingin berbicara serius dengan Chelsea, karena keputusan tidak bisa mereka putuskan begitu saja. Perlu banyak pertimbangan untuk mereka memutuskan, karena Chelsea adalah putri mereka satu-satunya.


Dion dan Vera ingin Chelsea menikah dengan pria baik-baik, yang benar-benar mencintainya dan akan bisa membahagiakannya. Vera memang sudah menerima lamaran Alex, tapi tidak dengan Dion, dia ingin melihat seberapa seriusnya Alex untuk bisa mendapatkan Chelsea.


Saat ini Chelsea sedang duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya, dia sekarang bagaikan berada di dalam sidang, dimana dirinya didakwa sebagai tersangka utama.


“Papa ingin bertemu dengan Alex, apa dia memang pantas untuk putri Papa ini atau tidak.”


“Pa, bukankah Papa ingin Chelsea menikah? Lalu kenapa di saat Chelsea ingin menikah, Papa malah melarang?”


“Sayang, maksud Papa kamu bukan seperti itu. Papa hanya ingin mencarikan lelaki yang baik yang pantas untuk putri Mama yang cantik.”


“Ma, bukankah Mama sudah melihat sendiri, kalau Alex benar-benar serius. Chelsea sudah berhubungan lama dengan Alex, jadi Chelsea tau semua sifat Alex. Selama ini dia baik sama Chelsea, dia tidak pernah menyakiti hati Chelsea, dia selalu mengerti dan mendukung apapun yang Chelsea inginkan selama ini.”


Chelsea berbicara seperti itu sambil membayangkan wajah Zaki, semua kebaikan yang Chelsea katakan adalah kebaikan yang ada di diri Zaki, bukan Alex. Tapi Chelsea harus membujuk kedua orang tuanya agar mereka mau merestui hubungannya dengan Alex, karena sebelum Zaki kembali ke Jakarta, dia harus segera pergi dari rumah itu.


“Papa akan memutuskan setelah Papa bertemu dengan Alex, setelah pembicaraan ini, Papa ingin kamu menghubungi Alex, minta dia untuk datang kesini besok.”


Chelsea menganggukkan kepalanya, dia lalu beranjak dari duduknya, “kalau begitu Chelsea mau ke kamar dulu.” wanita itu lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar kedua orang tuanya.


***


“Chel, apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini? Bukankah pria yang bernama Alex itu, pria yang sama yang sudah menyakiti kamu?” saat ini Kania sedang bersama dengan Chelsea, mereka duduk di teras belakang.


Setelah mendengar tentang Chelsea yang sudah dilamar oleh Alex, Kania memutuskan untuk mengajaknya bicara empat mata, bagaimanapun dia harus tau apa yang sebenarnya terjadi, hingga membuat Chelsea memutuskan untuk terburu-buru menikah.


Chelsea menganggukkan kepalanya, “Alex sudah berubah, dia bukan Alex yang dulu lagi. Aku ingin memberinya kesempatan kedua.”


“Lalu bagaimana dengan Zaki, bukankah kalian saling mencintai?”


“Cinta...apa aku pantas untuk mendapatkan cinta dari pria sebaik Zaki?” Chelsea lalu menghela nafas panjang, “Kania, jika aku membiarkan cinta itu semakin tumbuh, aku akan menjadi orang yang sangat egois. Alex yang telah merenggut kesucian aku, lalu kenapa Zaki yang harus bertanggung jawab?”


“Memang benar, yang seharusnya bertanggung jawab itu Alex, tapi...Alex bukan pria yang pantas untuk kamu, apa dia akan benar-benar bisa berubah?”


“Kalau soal itu aku juga belum yakin, makanya aku ingin membuktikannya. Setelah aku menikah dengannya, aku ingin melihat, bagaimana dia akan memperlakukan aku. Jika dia masih memperlakukan aku dengan kasar, itu menjadi resiko aku, karena ini adalah jalan hidup yang aku ambil.”


“Lalu...bagaimana dengan kakakmu? Dia harus tahu tentang pernikahan kamu dengan Alex, bagaimanapun dia adalah kakak kamu.”

__ADS_1


Chelsea tersenyum, “kamu tidak perlu mencemaskan itu, aku akan memberitahu kakak, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku harap kamu jangan memberitahu kakak soal pernikahan aku, karena aku yang akan memberitahu dia.”


“Tapi...”


“Aku mohon, aku janji akan memberitahu kakak. Setelah aku memberitahu kakak, kamu boleh bertanya sama kakak, kalau aku memang tidak bohong.”


Kania menghela nafas panjang, “baiklah, tapi kamu harus benar-benar memberitahu kakak kamu, karena aku tidak mau, kakak kamu itu marah sama aku dan juga kamu. Kamu pasti sudah tau betapa menyeramkannya kakak kamu itu kalau sedang marah.”


Chelsea tertawa, “aku kira kakak tidak akan pernah bisa marah sama kamu, tapi...apa kamu benar-benar takut saat kakak marah?”


“Tentu saja, kakak kamu itu kalau sedang marah, sungguh sangat menyiksaku.” Kania bisa mengingat dengan jelas bagaimana perlakukan Veon saat terakhir kali dia marah. Pria itu tidak melepaskan Kania dan menyiksanya sepanjang malam, hingga tubuhnya sama sekali tidak bertenaga.


Chelsea membulatkan kedua matanya, “kakak aku menyiksa kamu! Memangnya apa yang kakak lakukan sama kamu? Kenapa kamu diam saja saat kakak menyiksamu?”


Kania menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “em...itu...itu...aku lupa,” ucapnya sambil menyengir kuda. Tidak mungkin Kania akan menceritakan apa yang dilakukan Veon padanya saat dia marah, bisa malu dia di depan Chelsea, bukannya mendapatkan dukungan, dia malah akan ditertawakan.


***


 


Keesokan harinya, setelah Alex mendapatkan kabar dari Chelsea, tentang kedua orang tuanya yang ingin bertemu lagi dengannya, sungguh membuat Alex merasa was-was. Pria itu takut lamarannya akan ditolak, dan dia tidak akan bisa menikah dengan wanita pujaan hatinya.


Saat ini Alex sudah berada di rumah Chelsea, dia sedang duduk berhadapan dengan kedua orang tua Chelsea. Ini pertama kalinya Alex bertemu dengan Dion, dan ternyata Papanya Chelsea tidak seperti yang Alex bayangkan.


Alex mengira, Dion itu pria yang penyakitan dan lemah, tapi ternyata...meskipun kondisi Dion tidak begitu baik, tapi dia tetap menunjukkan kewibawaannya sebagai seorang Ayah. Dia tidak ingin orang luar melihatnya lemah, karena cukup keluarganya saja yang melihat kelemahannya.


Dion menatap Alex dengan sorot mata yang tajam, dia ingin melihat keseriusan dari wajah itu, “apa kamu benar-benar ingin menikahi Chelsea? Lalu apa yang akan kamu berikan untuk dia? Apa kamu bisa menjamin Chelsea akan hidup bahagia bersamamu?”


“Saya janji, Om. Saya sangat mencintai Chelsea, saya ingin membuat Chelsea bahagia, hanya itu keinginan saya sekarang, yaitu membuat Chelsea bahagia, meskipun nyawa saya taruhannya.” Alex tersenyum menatap Chelsea yang saat ini tengah duduk di sampingnya.


“Jika kamu memang serius ingin menikah dengan Chelsea, lalu kenapa kamu hanya datang sendirian ke rumah ini? Bukankah kamu seharusnya datang bersama dengan orang tua kamu jika kamu memang ingin serius dengan Chelsea?”


Chelsea menatap Alex yang tengah menundukkan kepalanya, ini kali pertama dia melihat Alex terlihat sedih seperti itu, “Pa...Alex itu...”


“Maafkan saya, Om. Sejak dulu itu memang keinginan saya, kedua orang tua saya akan mendampingi saya saat saya melamar seorang gadis untuk saya jadikan istri.” Alex lalu mendongakkan wajahnya, dia lalu menepiskan senyumannya, “mungkin benar kata orang, saya bukanlah seorang anak yang baik, yang tidak bisa membuat orang tuanya bangga, hingga mereka pergi meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Saya minta maaf, karena saya tidak bisa membawa kedua orang tua saya untuk datang ke rumah ini, tapi saya benar-benar serius saat saya ingin menjadikan Chelsea sebagai istri saya.”


“Pa, Alex sudah tidak mempunyai siapa-siapa, kedua orang tuanya sudah meninggal, dan dia juga tidak mempunyai sanak saudara.” Chelsea menjelaskan kepada kedua orang tuanya tentang keluarga Alex.

__ADS_1


“Maafkan, Om. Om tidak tahu kalau ternyata...”


Alex menepiskan senyumannya, “tidak apa-apa, Om. Saya tau kenapa Om sampai sedetail itu ingin mengetahui kehidupan saya, tapi saya berjanji sama Om, saya akan benar-benar membuat Chelsea bahagia. Jika suatu saya dengan tidak sengaja sudah menyakiti Chelsea, maka Chelsea berhak untuk meninggalkan saya.”


Mendengar apa yang Alex katakan, membuat Chelsea membulatkan kedua matanya. Jika Alex benar-benar tulus mengatakan semua itu, maka itu akan menjadi jalan baru untuknya, untuk bisa lepas dari Alex untuk selama-lamanya.


Vera menyentuh lengan suaminya, dia lalu menganggukkan kepalanya. Dion menghela nafas panjang, dia juga ingin melihat putri satu-satunya itu menikah, “baiklah, Om akan menerima lamaran kamu, tapi Om pegang janji kamu itu, jika sampai kamu menyakiti hati Chelsea, maka Om akan mengambilnya kembali.”


Alex menganggukkan kepalanya, “terima kasih, Om.”


“Pa, lalu soal pernikahan itu, Chelsea ingin dilakukan secepatnya.”


“Tunggu kakak kamu pulang dulu, baru kita akan membicarakannya lagi.”


Chelsea menggelengkan kepalanya, “Chelsea ingin menikah besok, jika tidak, maka Chelsea akan kawin lari dengan Alex?”


Alex membulatkan kedua matanya, “sayang, apa yang kamu katakan? Bagaimana bisa kamu...”


“Apa kamu tidak mau? Kalau begitu lupakan saja soal pernikahan itu!”


“Pa, biarkan Chelsea dan Alex menikah besok, Mama yang akan bicara dengan Veon. Mama yakin dia akan mengerti.”


Chelsea menggelengkan kepalanya, “tidak, Ma. Chelsea yang akan bicara dengan Kak Veon. Mama kan tau, Kak Veon hanya mau mendengarkan Chelsea, selain itu ada yang ingin Chelsea katakan sama kakak.”


Vera menganggukkan kepalanya, “Mama tau, kenapa kamu memilih besok untuk menikah, karena besok adalah hari ulang tahun kamu.”


Chelsea sendiri saja lupa jika besok adalah hari ulang tahunnya, dan itu juga bisa dia manfaatkan untuk membujuk Papanya agar mau mengabulkan permintaanya, “Mama benar, Chelsea sengaja memilih tanggal itu, karena Chelsea akan mengingat tanggal bersejarah itu. Tanggal dimana Chelsea lahir ke dunia ini, dan juga menjalani kehidupan baru bersama dengan suami Chelsea.”


Dion menghela nafas panjang, dia tidak mempunyai pilihan selain mengabulkan permintaan putrinya itu, “baiklah, tapi Papa tidak bisa memberikan pernikahan yang mewah untuk kamu, karena tidak ada waktu untuk mempersiapkan semuanya.”


“Terima kasih, Pa. ini adalah kado terindah dari Papa dan Mama untuk Chelsea. Selain itu Chelsea memang ingin menikah dengan sederhana, cukup keluarga saja yang tahu.”


“Papa akan mengurus semuanya, tapi setelah kakak kamu pulang dari luar kota, Papa ingin membuat pesta besar-besaran untuk merayakan pernikahan kamu.”


Chelsea menganggukkan kepalanya, “Chelsea terserah sama Papa, jika itu bisa membuat semua orang bahagia.”


~oOo~

__ADS_1




__ADS_2