Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Hukuman


__ADS_3

Veon masuk ke dalam kamarnya dengan raut wajah yang sangat kesal. Seharian ini dia mencoba untuk menghubungi Kania, tapi wanita itu sama sekali tidak menjawab panggilan telepon darinya. Wajah pria itu semakin merah padam menahan amarah saat mendapati Kania tidak ada di dalam kamar itu.


“Pergi kemana dia? Berani-beraninya dia pergi tanpa meminta izin dulu padaku!”


Veon lalu mengambil ponselnya dari saku celananya, dia lalu menghubungi ponsel Kania lagi. Tapi seperti yang tadi dia dapatkan, panggilan itu tidak dijawab oleh Kania, “aku baru bersikap lunak sedikit saja, dia sudah berani melawanku! Lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan padanya!” pria itu mengepalkan kedua telapak tangannya.


Veon hendak melangkahkan kakinya menuju pintu, tapi pintu itu tiba-tiba terbuka dari luar. Kania lalu muncul dari balik pintu itu, “dari mana saja kamu, hah!” serunya sambil mencengkram kedua lengan Kania saat wanita itu masuk ke dalam kamar itu.


Kania hanya diam, dia lalu menepis kedua tangan Veon dari lengannya. Wanita itu lalu berjalan menuju kamar mandi, dia lalu terkulai lemas tak berdaya, ‘apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus berpura-pura tidak tahu apa-apa?’


Melihat apa yang Kania lakukan padanya baru saja, mengacuhkannya, membuat pria itu semakin murka. Veon lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mandi, “buka pintunya!” teriaknya dengan sangat keras.


Tapi Kania sama sekali tidak menggubris teriakan pria itu. Kania lebih memilih untuk menyegarkan pikirannya dengan cara berendam air hangat dengan wewangian. Meskipun terlihat sangat konyol dalam situasi yang seperti itu, tapi hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Dia juga tidak berhak menuntut Veon untuk berkata jujur padanya, dan lebih mementingkan dirinya ketimbang Bella, karena sejak awal pria itu dan dirinya sama sekali tidak menginginkan pernikahan itu.


“Brengsek! Dia benar-benar sudah berani melawanku sekarang!”


Veon tetap berdiri di depan pintu kamar mandi dengan kedua lengan yang dilipat di depan dadanya. Amarahnya semakin memuncak, bahkan saat ini dia ingin sekali menghajar seseorang untuk melampiaskan amarahnya itu.


Kania yang sudah selesai berendam dan menyiram dirinya dalam kucuran air shower pun mulai membuka pintu kamar mandi itu secara perlahan. Wanita itu sangat terkejut saat melihat Veon masih tetap berdiri di depan pintu kamar mandi itu.


Kania mencoba untuk tetap tenang, dia menunjukkan senyum palsunya, “apa kamu ingin mandi?” tanyanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa hari ini.


Sorot mata tajam Veon mengarah dari ujung kaki sampai ujung rambut Kania, “kamu, sekarang sudah berani melawanku, hah!” serunya sambil mencengkram kedua lengan Kania.


“Apa maksud kamu? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?” Kania mencoba untuk tidak menangis, meskipun hatinya terasa amat sakit. Saat ini sikap Veon kembali seperti dulu lagi, kasar dan dingin.


Veon dengan sangat kasar menarik handuk yang melilit tubuh Kania, hingga membuat wanita itu sangat terkejut. Kania ingin mengambil handuk yang di lempar oleh Veon untuk menutupi tubuh polosnya, tapi dengan sigap pria itu menarik tangan wanita itu dan menghempaskannya ke atas ranjang.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” Kania terlihat sangat takut, sorot mata yang tajam itu terlihat sangat menakutkan. Wanita itu lalu menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya.


Veon menarik selimut itu dengan sangat kasar, hingga membuat tubuh polos wanita itu kembali terpampang jelas di depan kedua mata pria itu, “kamu bertanya apa yang ingin aku lakukan?” pria itu lalu naik ke atas ranjang dan menindih tubuh wanita itu, “aku akan memberikanmu hukuman yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup kamu!”


Veon lalu membenamkan bibirnya ke bibir tipis Kania, pria itu melakukannya dengan sangat kasar, hingga melukai bibir bawah wanita itu. Veon lalu melepaskan pakaiannya satu persatu, “sekarang kamu akan lihat hukuman apa yang pantas untuk kamu dapatkan!”


Kania menjerit kesakitan saat Veon menghujam bagian bawahnya dengan sangat kasar, “aku mohon hentikan, sakit!” teriaknya.


Tapi Veon tidak memperdulikan teriakan kesakitan Kania, dia malah semakin mempercepat tempo gerakannya, “apa setelah ini kamu akan berani melawanku lagi?” pria itu bahkan tidak menghentikan gerakannya meskipun kedua sudut mata Kania mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Entah kenapa kali ini Veon melakukan lebih lama dari biasanya, tubuh Kania sudah sangat lemah, dia bahkan sudah tidak mempunyai daya lagi untuk berteriak. Hanya air mata yang mewakili rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sudah lebih dari satu jam Veon menghujam tubuh bawah Kania, tapi dia belum juga mencapai puncaknya.


“Veon, hentikan, aku sudah tidak sanggup lagi.” Kania memohon dengan suara yang terendah. Dia bahkan sudah tidak sanggup untuk mencengkram kedua lengan kekar itu.


“Malam ini aku tak akan melepaskan kamu, jangan harap kamu akan bisa tidur nyenyak malam ini.” Hentakkan kuat itu akhirnya membuat tubuh Veon melemas, dia menindih tubuh Kania.


Dengan nafas yang menggebu-gebu, Veon menatap tajam kedua mata Kania yang memerah karena terus menangis, “apa itu terasa sakit? Aku akan melakukannya lebih kasar lagi dari ini!” ancamnya.


Kania sudah tidak mempunyai daya lagi untuk berdebat dengan pria itu, dengan nafasnya yang memburu, dan rasa sakit di sekujur tubuhnya, wanita itu memejamkan kedua matanya.


Veon mengubah posisinya menjadi terbaring di samping Kania, dia lalu memiringkan tubuhnya agar dia bisa menatap lekat wajah wanita itu, ‘apa ini yang kamu inginkan? Setelah perhatian yang aku berikan selama ini, apa ini balasan yang aku dapatkan? Kamu mengacuhkan aku, berani melawanku!’ gumamnya dalam hati.


Kania dengan nafasnya yang sudah mulai teratur, mencoba membuka kedua matanya. Dia melihat kedua mata Veon yang saat ini menatapnya dengan sangat tajam, “apa kamu sudah merasa puas, memperlakukan aku seperti ini?” tanyanya dengan kedua mata sendunya.


Veon mencengkram dagu Kania, “aku tidak akan pernah merasa puas sebelum melihat kamu semakin tersiksa! Apa yang tadi aku lakukan belum seberapa, kamu akan kembali merasakan sakit untuk ronde berikutnya!” ancamnya.


“Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Apa salah aku sama kamu, apa?”


“Apa kamu sama sekali tidak tau letak kesalahan kamu?” Veon kini mulai mengecapi leher jenjang Kania, “aku akan memberitahu kamu apa kesalahan kamu satu persatu,” kini ciuman itu semakin liar hingga membuat tubuh Kania mengeliat.


Veon mulai menggerakan salah satu tangannya untuk menyusuri setiap inci tubuh Kania, “yang pertama, kamu sudah berani mengacuhkan panggilan telepon dariku!” tangan itu mulai bermain di bagian bawah tubuh Kania, hingga membuat wanita itu mendesah penuh nikmat.


Veon menyungingkan senyumannya, “lihatlah, meskipun tubuhmu begitu kesakitan, tapi tubuhmu sama sekali tidak bisa menolak sentuhan-sentuhan tanganku, dasar munafik!” serunya.


Veon bersiap-siap untuk kembali menghujam tubuh wanita itu, bahkan ini lebih kasar dari yang pertama, “apa kamu pikir aku akan begitu saja percaya dengan ucapanmu? Bukankah tadi kamu datang ke kantorku? Lalu kenapa kamu pergi sebelum bertemu denganku? Apa kamu mempunyai janji dengan pria lain?” pria itu semakin mempercepat gerakannya hingga membuat tubuh wanita itu berguncang hebat.


Kedua mata Kania membulat dengan sempurna, ‘kenapa dia bisa tau kalau aku datang ke kantornya? Apa dia juga tau kalau aku bertemu dengan Bella?’ rasa sakit yang Kania rasakan bahkan lebih sakit dari yang pertama, “aku pergi karena aku harus segera menjenguk Papa ku, dia sedang sakit, jadi aku sangat mengkhawatirkannya, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya sama Papaku.” Kania semakin merintih menahan sakit di bagian bawahnya.


Setelah mendengar apa yang Kania katakan, Veon memperlambat tempo gerakannya, “apa yang kamu katakan itu bisa aku percaya?” tanyanya dengan nafas yang memburu.


Kania menganggukkan kepalanya dengan pelan, “aku tidak akan pernah berani untuk membohongi kamu, apalagi mengkhianatimu, karena kamu sudah membeliku, dan aku sudah tidak mempunyai hak atas hidupku lagi,” ucapnya pelan.


Mendengar apa yang Kania katakan membuat Veon menyesali perbuatannya, dia lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Kania, “kenapa kamu beranggapan seperti itu?” tanyanya sambil menatap langit-langit kamarnya.


“Karena itu adalah kenyataannya. Kamu sudah membeliku, Papaku sudah menjualku untuk menebus hutang-hutangnya, lalu apa yang bisa aku lakukan? Bahkan pernikahan ini hanyalah palsu. Tak ada cinta diantara kita berdua, semua yang kita lakukan ini hanya hubungan untuk mencari kepuasan semata.”


Veon mengepalkan kedua tangannya, ‘apa dia selama ini beranggapan seperti itu tentang pernikahan ini? Setelah apa yang aku tunjukkan selama ini, dia masih menganggap dirinya hanyalah penebus hutang?’ gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Kania menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya, “aku juga tidak tau sampai kapan kamu akan terus mempertahankan aku, jika kamu sudah bosan dengan tubuh ini, mungkin kamu akan membuang ku dan aku harus siap untuk semua itu,” ucapnya dengan rasa sakit di hatinya.


Veon memiringkan wajahnya menatap Kania, “apa kamu pikir aku pria yang sebrengsek itu?” tanyanya sambil menatap kedua mata Kania secara bergantian.


“Aku juga tidak tau kamu tipe pria seperti apa, karena apa yang kamu tunjukkan selalu berubah-ubah. Kemarin kamu bersikap manis padaku, dan sekarang kamu bersikap sekasar ini padaku. Kamu bahkan tidak peduli dengan rasa sakit yang aku rasakan.” Air mata itu kembali keluar dari kedua sudut mata Kania.


Veon merengkuh tubuh Kania yang sudah tak berdaya, dia lalu mendekapnya dengan sangat erat, “maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, untuk sesaat aku tidak mampu mengendalikan amarahku. Aku marah, karena kamu sama sekali tidak menjawab panggilan telepon dariku. Apa kamu tau, seharian ini aku terus menghubungimu, aku sangat mengkhawatirkan kamu,” ucapnya dengan nada lembut.


Kania mendongakkan wajahnya, “apa kamu benar-benar mengkhawatirkan aku?” tanyanya tidak percaya.


Veon mengangguk pelan, dia lalu mengecup kening Kania, “aku seperti orang gila yang terus menerus menelponmu tapi kamu sama sekali tidak mengangkatnya. Aku tau kamu berbohong, ponsel kamu tidak mati kan? Tapi kamu sengaja ingin menghindar dari ku?”


“Maafkan aku, ponsel aku sebenarnya aku nada silent. Aku melakukan itu karena aku ingin fokus merawat Papa, dan aku tidak ingin siapapun mengganggu termasuk kamu,” ucap Kania berbohong.


“Kenapa kamu tidak ingin aku mengganggumu?”


Kania menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Veon, “bukankah kamu tidak suka kalau aku pergi menemui Papa, itu sebabnya aku tidak ingin berdebat denganmu. Maafkan aku,” ucapnya pelan.


Veon menarik selimut yang dipakai Kania untuk menutup tubuh polosnya, dia lalu kembali mendekap tubuh mungil itu, “mulai sekarang jangan pernah melakukan itu lagi, jika kamu ingin menemui Papa kamu, kamu tinggal bilang padaku, maka aku akan mengantarkanmu kesana,” ucapnya.


“Apa sekarang kamu tidak akan melarang aku untuk bertemu dengan Papa?” tanya Kania masih tidak percaya.


Veon menyikap rambut yang menutupi wajah cantik Kania, “aku tidak akan melarang kamu, tapi kamu hanya boleh menemuinya sesekali saja, aku tidak mengizinkan kamu untuk menemuinya setiap hari,” ucapnya.


Kania tersenyum, “terima kasih, itu bahkan lebih dari cukup,” ucapnya.


“Tidurlah, maafkan aku karena telah bersikap kasar tadi.”


Kania hanya tersenyum, tapi rasa sakit di hatinya belum hilang sepenuhnya, “apa yang kamu lakukan hari ini di kantor?” tanyanya. Wanita itu ingin menguji apakah pria itu akan jujur kepadanya.


“Ya tentu saja bekerja, memangnya kamu pikir aku sedang bermain-main,” ucap Veon sambil menjitak kening Kania hingga membuat wanita itu meringis menahan sakit.


“Apa terjadi sesuatu di kantor? Atau apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?”


Veon menggelengkan kepalanya, “lebih baik sekarang kamu tidur, aku juga sangat mengantuk,” ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan. ‘maafkan aku Kania, aku tidak bisa cerita sama kamu sekarang, tapi jika saatnya sudah tepat, aku akan menceritakan semuanya.’


~oOo~

__ADS_1




__ADS_2