
Veon kini tengah duduk di kursi kerjanya sambil bersandar ke sandaran kursi itu. Zaki masih tetap berdiri di depan meja kerja Veon.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan?” Veon memainkan pena yang berada di tangannya.
“Maafkan saya, tuan. Karena rencana dari saya, tuan semakin dalam masalah.” Zaki menundukkan kepalanya. Andai dia tidak memberikan usul itu, mungkin tuan nya itu tidak akan mengalami masalah yang serumit ini. Niatnya ingin menghindari pernikahan, tapi dirinya sekarang malah ada di ambang pernikahan yang sama tidak dia inginkan.
“Kenapa kamu meminta maaf. Justru aku ingin berterima kasih sama kamu. Berkat usul dari kamu, aku tidak perlu menikah dengan wanita pilihan Papa. Jika aku menikah dengan Kania, maka aku bisa melakukan apapun yang aku mau.”
Zaki tidak mengerti apa yang dimaksud oleh tuan nya itu, melakukan apapun yang aku mau, apa maksudnya? Pikirnya. Tapi Zaki tidak berani mempertanyakan maksud Veon.
Veon beranjak dari duduknya, dia lalu memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku. Pria itu lalu berjalan mendekati Zaki, “aku akan menikahinya,” ucapnya.
Zaki mengernyitkan dahinya, “apa tuan yakin?” tanyanya tidak percaya dengan keputusan yang pria itu ambil. Bukankah dia tidak ingin menikah, tapi kenapa sekarang dia berubah pikiran secepat ini?
“Persiapkan semuanya. Kamu hubungi orang itu, bilang aku ingin bertemu dengannya sekarang juga.” Zaki mengangguk mengerti, dia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi orang yang di maksud oleh tuan nya itu, tentu saja orang itu adalah papanya Kania.
***
Kania kini tengah berada di ruang tengah bersama dengan kedua orang tua Veon dan juga Chelsea. Gadis itu terlihat sangat gugup, apa yang akan mereka tanyakan? Lalu aku harus menjawab apa nanti? Kenapa aku berada di situasi seperti ini? Pikirnya. Gadis itu terus meremas jemari-jemari tangannya yang sudah mengeluarkan keringat dingin.
Chelsea yang sejak tadi mengamati gerak-gerik Kania hanya mampu mengernyitkan dahinya. Tapi jika saat ini dia hanya berdua saja dengan gadis itu, maka dia akan memberondong begitu banyak pertanyaan kepada gadis itu.
“Apa kamu yakin ingin menikah dengan Veon?” tanya Dion mulai membuka suara. Dia bukannya tidak menyukai Kania, tapi melihat usia Kania saat ini, dia takut. Dia takut akan menghancurkan masa depan gadis itu karena di usianya saat ini seharusnya dia belajar dan mengejar mimpi-mimpinya, bukan malah menikah dan mengurus rumah tangganya.
Kania tidak menjawab, tapi dia hanya menganggukkan kepalanya. Gadis itu masih terlihat sangat canggung berada di tempat yang asing dan berada bersama dengan orang-orang yang sama sekali tidak dia kenal.
“Apa kami begitu menakutkan, hingga kamu se’gelisah itu?” tanya Vera yang sejak tadi melihat Kania terus menerus meremas jemari-jemari tangannya.
Kania menepiskan senyumannya sambil menggeleng, “t—tidak, tante,” ucapnya gugup.
__ADS_1
“Kalau boleh tante tau, kamu sekarang tinggal bersama dengan siapa?”
“Kania hanya tinggal dengan Papa karena Mama sudah lama meninggal.”
Vera nampak terkejut, “maafkan, tante. Tante tidak tau kalau mama kamu sudah tidak bersama kamu,” ucapnya.
“Tidak apa-apa, tante. Meskipun Mama sudah tidak ada tapi Papa selalu mencurahkan kasih sayangnya untuk Kania,” ucap Kania sambil menepiskan senyumannya.
“Kenapa kamu ingin menikah, padahal usia kamu masih sangat muda. Usia kamu saja lebih muda dari adiknya Veon, apa kamu tidak ingin meneruskan sekolah kamu?” tanya Dion penuh selidik. Dia ingin menggali lebih jauh informasi tentang gadis itu. Dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah nantinya.
Aku tidak ingin menikah, ini semua ulah anak anda hingga aku berada di situasi seperti sekarang ini, jika bukan karena pria jahat itu, mungkin sekarang aku sudah melanjutkan pendidikan aku. Jika Kania mempunyai keberanian, maka dia akan mengatakan semua yang ada di pikirannya itu. Tapi dia sudah berjanji kepada Veon kalau dirinya akan menuruti apapun yang pria itu katakan.
“Kenapa kamu diam? Apa Veon memaksa kamu untuk menikah dengannya hanya untuk menghindari perjodohan yang kami rencanakan?” tanya Dion penasaran.
Kania menggelengkan kepalanya, “tidak kok, Om. Kak Veon tidak pernah memaksa Kania untuk menikah dengannya. Kania tau usia Kania dan Kak Veon terpaut cukup jauh, tapi Kania akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Kak Veon,” ucapnya sambil menampakkan senyuman yang dia paksakan. Saat ini dirinya merutuki apa yang baru saja dia katakan, istri yang baik, itu bahkan tidak pernah dia pikirkan. Menikah muda, itu bagaikan mimpi buruk baginya.
Vera menyentuh lengan suaminya, dia lalu menganggukkan kepalanya. Dion menghela nafas berat, dia hanya ingin melihat putranya menikah. Tapi jika gadis yang kini tengah duduk di depannya adalah pilihan putranya, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali merestui mereka.
“Kita akan menjadi saudara, meskipun kamu lebih muda dari aku, aku akan memanggilmu kakak ipar, karena kamu adalah calon istri Kak Veon,” ucap Chelsea dengan senyuman di wajahnya.
Kania tersenyum, “panggil aku Kania saja, itu lebih nyaman buat aku,” ucapnya.
***
Zaki, Veon dan Pak Zaiz kini tengah berada di sebuah restoran. Setelah mendapatkan telpon dari Zaki, pria paruh baya itu bergegas menuju restoran yang sudah Zaki tentukan.
“Apa anda tau kenapa saya memanggil anda kesini?” tanya Veon sambil melipat kedua lengannya di dada.
“Apa ini ada hubungannya dengan putri saya? Apa dia melakukan kesalahan kepada anda?” melihat raut wajah Veon, membuat pria paruh baya itu begitu cemas. Dia takut putrinya melakukan hal yang menyinggung pria itu.
__ADS_1
“Kania memang sudah anda tukar dengan uang yang saya berikan kepada anda. Dengan begitu hidup mati Kania ada di tangan saya, tapi...” Veon menghentikan ucapannya, membuat pria paruh baya itu semakin bingung dan penasaran.
Pak Zaiz mengatupkan kedua tangannya, dia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan putrinya dari hukuman yang akan diterima putrinya atas kesalahannya, “saya mohon, maafkan putri saya, dia masih sangat muda, dia tidak tahu apa-apa tentang hidup,” ucapnya.
Veon tertawa, “saya tidak akan menghukum Kania, tapi dengan satu syarat,” ucapnya.
“Apapun akan saya lakukan,” ucap pria paruh baya itu.
Zaki hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Bos nya telah mengerjai pria yang bahkan hampir seumuran dengan papanya sendiri. Dasar si Bos, bisa-bisanya dia mengerjai calon mertuanya sendiri. Pikirnya.
“Saya hanya ingin anda menjadi wali nikah untuk Kania.”
Pria paruh baya itu membulatkan kedua matanya dengan sempurna, mulutnya menganga. Menikah! Kania akan menikah! Dengan siapa? “wali nikah? Siapa yang akan menikah dengan Kania? Kenapa Kania tidak memberi tahu saya?” tanyanya terkejut.
“Anda cukup menjawab apa anda bersedia menjadi wali nikah untuk Kania? Karena anda adalah papanya Kania.”
“T—tapi, kenapa ini begitu mendadak. Kania masih sangat muda, dia tidak tau tentang pernikahan, mengurus rumah, dia...” pria paruh baya itu menghentikan ucapannya saat Veon menatapnya dengan tajam. Mau tidak mau pria paruh baya itu akhirnya menganggukkan kepalanya, “tapi, apa saya boleh tau dengan siapa putri saya akan menikah? Bagaimanapun saya berhak tahu,” imbuhnya.
“Kania akan menikah dengan saya.”
Pak Zaiz kembali membulatkan kedua matanya dengan sempurna, dia masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Dia bahkan mencubit lengannya, karena dia ingin membuktikan jika semua ini bukan mimpi.
Zaki yang melihat tingkah Pak Zaiz akhirnya membuka suara, “anda tidak sedang bermimpi, putri anda akan menikah dengan tuan Veon. Jadi anda hanya perlu menjaga sikap anda, jangan membicarakan hal apapun yang berkaitan tentang perjanjian itu,” ucapnya.
Pria paruh baya itu mengangguk mengerti, terlihat jelas raut kebahagiaan di wajahnya. Dia tidak menyangka putrinya akan menikah dengan orang yang begitu di segani, di takuti dalam dunia perbisnisan. Pak Zaiz juga bersyukur, karena dengan begitu putrinya tidak akan hidup dalam kesusahan.
Tapi dia tidak tau jika pernikahan itu akan menjadi malapetaka untuk Kania, karena dia harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal. Bahkan tidak dia cintai, dan pria itu juga tidak mencintai. Akan menjadi seperti apa pernikahan mereka nantinya?
~oOo~
__ADS_1