
Saat ini Kania sedang berbelanja bersama dengan Zaki, itupun atas izin Veon, karena pria itu ada meeting penting yang tidak bisa dia tinggalkan untuk menemaninya istrinya berbelanja. Kania mengajak Zaki ke mall terbesar di Jakarta, ada banyak barang yang ingin dia beli.
Zaki hanya menggelengkan kepalanya melihat Kania berbelanja begitu banyak camilan, “apa kamu mau membuka toko di rumah, kenapa kamu membeli begitu banyak camilan?” tanyanya penasaran.
Kania mengambil snack kentang goreng dari dalam rak, “untuk stock di rumah, aku kalau tengah malam sering merasa lapar,” ucapnya lalu meletakkan beberapa snack kentang goreng ke dalam troli.
“Habis ini kamu mau kemana lagi?” Zaki melihat jam di pergelangan tangan nya, “kita sudah disini selama dua jam,” ucapnya.
“Habis ini kita cari hadiah untuk Bos kamu itu.”
“Memangnya ada yang spesial hari ini?” tanya Zaki penasaran.
“Tadi Mama memberitahu aku kalau besok dia berulang tahun. Aku hanya ingin memberi hadiah untuknya.”
‘Astaga kenapa aku bisa lupa?’ gumam Zaki dalam hati.
Kania dan Zaki keluar dari supermarket itu dan beralih menuju toko khusus jam tangan. Zaki tersenyum, ternyata pilihannya bagus juga, pikirnya.
Kania menunjukkan jam tangan yang dia pilih kepada Zaki, “bagus tidak?” tanyanya meminta pendapat Zaki.
Zaki menganggukkan kepalanya, “bagus juga selera kamu,” pujinya.
“Em...apa dia akan menyukainya?” tanya Kania sambil menatap jam tangan yang dia pegang.
“Tuan Veon pasti menyukainya, selain itu ini adalah hadiah pertama yang kamu berikan untuknya.”
“Semoga saja,” ucap Kania sambil menepiskan senyumannya.
Setelah selesai membelikan hadiah untuk Veon, Zaki dan Kania pergi ke restoran yang berada di mall itu. Kania dan Zaki sangat terkejut saat melihat Bella juga berada di dalam restoran itu.
“Kania!” panggil Bella keras.
“Zak...” Kania menatap Zaki, “apa yang harus kita lakukan?” tanyanya kemudian.
“Kita temui dia, kalau kita menghindar, dia akan curiga.”
Kania menganggukkan kepalanya. Mereka lalu melangkahkan kakinya menuju meja tempat Bella duduk sendirian.
“Hai,” sapa Kania, “apa kamu sendirian?” tanyanya kemudian.
Bella menganggukkan kepalanya, “pacar aku sedang sibuk, jadi dia tidak bisa menemani aku makan siang, sedang apa kamu disini?” tanyanya.
“Kami ingin makan siang,” sahut Zaki.
“Kalau begitu gabung saja disini, aku tidak mau makan sendirian,” ucap Bella.
Kania dan Zaki akhirnya bergabung dengan Bella. Zaki memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman untuknya dan juga Kania.
Bella menatap wajah Kania dan Zaki secara bergantian, “apa kalian benar-benar saudara, tapi kenapa wajah kalian sama sekali tidak mirip?” tanyanya penasaran.
“Em...Kak Zaki adalah kakak sepupu aku,” ucap Kania spontan.
“Kania, aku punya kabar gembira buat kamu.” Ucapan Bella membuat Kania mengernyitkan dahinya, “aku akan menetap di Jakarta, aku akan tinggal bersama dengan Veon untuk selamanya,” imbuhnya, dan itu membuat kedua mata Zaki dan Kania membulatkan kedua matanya.
“Meskipun aku dan Veon tidak akan segera menikah, tapi aku akan tetap memintanya untuk menikahi aku, karena dulu dia pernah berjanji di depan kedua orang tuaku untuk menikahi aku,” ucap Bella lagi.
Mendengar apa yang Bella katakan membuat hati Kania seperti tergores benda tajam, lukanya begitu dalam dan sangat menyakitkan. Tapi dia tetap berusaha untuk tersenyum, menyembunyikan kesedihannya dibalik senyum palsunya itu.
__ADS_1
“Kania...” Bella menggenggam tangan Kania, “disini aku tidak mengenal siapa-siapa selain Veon dan Zaki, aku tidak mempunyai teman cewek, apa kamu mau menjadi temanku?” tanyanya kemudian.
“Em...aku...aku...”
Bella mengernyitkan dahinya melihat Kania yang begitu ragu mengabulkan permintaannya, “apa kamu tidak mau menjadi temanku?” tanyanya lagi.
“Aku mau kok, mulai sekarang kita adalah teman,” ucap Kania sambil menepiskan senyumannya.
Zaki membulatkan kedua matanya, ‘apa yang dia katakan? Bagaimana bisa dia berteman dengan Bella?’ gumamnya dalam hati.
Tak berselang lama pelayan datang sambil membawa makanan dan minuman yang Zaki pesan. Pelayan itu menata makanan dan minuman itu di atas meja. Setelah pelayan itu pergi, mereka mulai menyantap hidangan yang sudah tertata rapi di meja itu.
“Kania, aku mau mengenalkan kamu sama pacar aku, Veon pasti senang melihat aku mempunyai teman secantik kamu,” ucap Bella dengan senyuman di wajahnya.
Kania yang baru mengunyah makanan pun mulai terbatuk-batuk karena tersedak makanan. Zaki memberikan segelas air putih kepada Kania, “kamu tidak apa-apa?” tanyanya cemas.
Kania mengambil gelas yang berisi air putih itu dari tangan Zaki, lalu meneguknya, “aku tidak apa-apa,” ucapnya.
“Kamu kenapa? Apa kata-kata aku mengejutkan kamu?” tanya Bella heran.
“Em...aku mau ke toilet sebentar.” Kania lalu beranjak dari duduknya.
“Biar aku antar,” tawar Zaki, tapi di tolak langsung sama Kania.
Kania melangkahkan kakinya menuju toilet yang berada di dalam restoran itu. Dalam perjalanan menuju toilet, air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya mengalir membasahi kedua pipinya. Kania menyandarkan tubuhnya ke tembok, dia lalu menghapus air matanya, setelah itu dia melanjutkan langkahnya menuju toilet.
Di dalam toilet, Kania berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam toilet itu, dia tatap wajahnya yang terlihat sangat kusut, “Kania, kenapa hidup kamu semenderita ini? Apa kamu benar-benar sanggup melewati semua ini?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Kania menghela nafas panjang, dia lalu membasuh mukanya dengan air, lalu mengusapnya dengan tisu. Wanita itu meyakinkan dirinya sendiri, jika dirinya pasti akan sanggup melewati semua ini. Setelah selesai dengan urusannya, dia lalu keluar dari toilet itu.
“Sekarang aku akan mengantarkan kamu pulang.”
“Lalu bagaimana dengan Bella?”
“Kenapa kamu masih memperdulikan dia? Apa kamu merasa nyaman saat bersamanya?” tanya Zaki dengan suara sedikit meninggi.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Bukankah tadi kamu bilang kalau kita menghindar dia akan curiga, lalu apa yang akan dia pikirkan kalau aku menolak permintaannya?”
“Kamu tidak perlu mencemaskannya, dia baru saja pulang, tadi dia mendapatkan telepon dari seseorang, setelah itu dia pamit pulang,” jelas Zaki.
“Apa yang menelfonnya Veon?” Kania menatap kedua mata Zaki secara bergantian, “jadi benar tadi yang menelponnya Veon,” ucapnya sedih.
“Sekarang kita pulang.”
***
Bella segera keluar dari taksi setelah sampai di rumah pribadi Veon, dia melihat mobil Veon terparkir di halaman rumah. Wanita itu lalu bergegas menuju pintu dan membuka pintu itu, “sayang, kamu datang?” tanyanya sambil memeluk tubuh Veon dari belakang.
“Bella, lepas.”
Bella melepaskan pelukannya, “apa kamu sudah makan? Atau kita makan siang di luar saja?” tanyanya.
“Aku kesini hanya untuk mengatakan sama kamu kalau aku tidak bisa menikah denganmu, kamu pasti sudah tau apa alasannya.”
Bella menggelengkan kepalanya, “aku tidak perduli, aku akan tetap menunggu kamu. Bukankah kamu sudah berjanji di depan kedua orang tuaku untuk menikahi ku?” wanita itu memeluk tubuh Veon, “sekarang aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain kamu, apa kamu juga akan meninggalkan aku seperti Mama dan Papa yang sudah meninggalkan aku?” tanyanya sambil mempererat pelukannya.
__ADS_1
Veon melepas pelukan Bella, “tapi aku tetap tidak bisa menikahi kamu,” ucapnya.
“Kalau begitu, mendingan aku mati saja. Untuk apa aku hidup di dunia ini, bila aku tidak bisa hidup bersama denganmu,” ucap Bella dengan tubuh yang terkulai lemas di lantai.
Veon memegang kedua bahu Bella, “apa yang kamu katakan? Apa kamu sudah gila?” tanyanya dengan nada tinggi.
Bella mulai menitihkan air mata, “aku tidak ingin hidup lagi, yang membuat aku bertahan sampai sekarang itu kamu, tapi sekarang kamu bahkan sudah tidak menginginkan aku lagi, lalu apa gunanya aku tetap hidup,” ucapnya di sela isak tangisnya.
Veon memeluk tubuh Bella, “maafkan aku,” ucapnya.
“Jangan tinggalkan aku, aku tidak sanggup jika harus kehilangan kamu juga.” Bella memeluk erat tubuh Veon.
Veon menghela nafas panjang, ‘kenapa malah semakin rumit seperti ini? Aku tidak bisa meninggalkan Kania, aku juga tidak bisa meninggalkan Bella dalam kondisi seperti ini. Bella orangnya sangat nekat, aku takut dia akan benar-benar mengakhiri hidupnya, dan aku tidak ingin itu sampai terjadi,’ gumamnya dalam hati.
Veon lalu membantu Bella berdiri, dia lalu mengajak wanita itu untuk duduk di sofa.
“Veon, jangan pergi, temani aku disini. Aku kesepian di sini sendirian,” ucap Bella sambil menghapus air matanya.
“Tapi disinikan ada bibik yang akan membantu mengurus semua keperluan kamu.”
Bella menggelengkan kepalanya, “aku maunya kamu yang menemani aku, aku mohon,” pintanya dengan kedua mata sendunya.
“Tapi aku...”
Veon membulatkan kedua matanya saat Bella mencium bibirnya, “Bella, kamu...” pemuda itu mendorong tubuh wanita itu pelan.
“Aku sangat merindukkan kamu, aku ingin kita kembali seperti dulu lagi. Sekarang kamu tinggal pilih, melihat aku mati, atau kamu tinggalkan istri kamu itu.”
“Apa maksud kamu? Kamu tau kan kedua pilihan itu sangat sulit untuk aku pilih!” seru Veon.
“Tapi kamu harus memilih antara aku atau istri kamu!”
Veon mengacak-acak rambutnya karena frustasi, “kenapa kamu harus kembali ke kehidupan aku, kenapa?” teriaknya keras.
“Karena aku tidak mau melakukan kesalahan itu lagi, aku tau sudah terlambat, tapi aku yakin kamu masih sangat mencintai aku.” Bella lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher Veon, “aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, melakukan semua hal bersama-sama, kita bahkan hampir...”
Veon menutup mulut Bella dengan jari telunjuknya, “itu tidak pernah terjadi, saat itu aku sedang dalam pengaruh alkohol,” ucapnya.
Bella tersenyum, “justru itu yang membuat aku semakin mencintai kamu, kamu tidak mudah terbujuk oleh hawa nafsu.” Wanita itu lalu membelai lembut pipi pria itu, “tapi saat ini, jika kamu menginginkannya, aku akan memberikannya,” ucapnya dengan nada menggoda.
Veon menurunkan kedua tangan Bella dari lehernya, “jangan pernah melakukan itu lagi, karena aku tidak menyukainya,” ucapnya dengan sorot mata yang tajam.
***
“Apa? tapi kenapa?” tanya Kania yang saat ini sedang berbicara ditelpon dengan Veon.
“Aku harus mengerjakan sesuatu dengan Zaki, itu sebabnya aku lembur di kantor. Sebaiknya kamu tidak usah menungguku.”
‘Apa kamu ingin bersama dengan Bella? Apa kamu benar-benar sangat mencintainya, hingga kamu berbohong seperti ini?’ gumam Kania dalam hati.
“Aku hanya ingin memberitahu kamu itu, aku tutup dulu telponnya.” Veon lalu mengakhiri panggilannya.
Kania mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, “aku tidak mempunyai hak untuk melarangmu, tapi kenapa kamu tega menyakiti hati aku? kenapa? Apa kamu sama sekali tidak bisa melihat ketulusan cintaku?”
~oOo~
__ADS_1