
Keluarga Veon menyambut kedatangan Kania dengan tangan terbuka. Chelsea juga terlihat sangat bahagia, karena dirinya kini mempunyai kakak ipar yang bisa diajak curhat nantinya.
Vera menyuruh Kania dan Veon untuk beristirahat. Kania mengikuti kemanapun kaki Veon melangkah.
“Kenapa kamu terus mengikuti aku?” Veon yang merasa terus di ikuti tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Kalau aku tidak mengikuti kamu, terus aku harus mengikuti siapa? Mama kamu menyuruh aku untuk beristirahat.”
Veon kembali menampakkan wajah dinginnya, dia lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga satu persatu. Dia lalu membuka pintu kamarnya. Kania mengikuti Veon dan masuk ke dalam kamar pria itu. Ini kedua kalinya gadis itu masuk ke dalam kamar Veon.
“Kamu bisa tidur di sini, tapi jangan coba-coba kamu menyentuh apapun tanpa seizin aku.” Veon memang paling tidak suka barang berharga miliknya disentuh oleh orang lain. Tapi apakah Kania suatu saat akan menjadi seseorang yang sangat berharga untuk Veon? Waktulah yang akan menentukan semuanya.
Kania menundukkan wajahnya, “em...aku ingin mengganti gaun ini, tapi aku tidak membawa baju saat kemari,” ucapnya.
Veon menunjuk lemari yang berukuran cukup besar, “semua yang kamu butuhkan ada di dalam lemari itu. Mama sudah menyiapkan semuanya,” ucapnya.
“Ada satu lagi.”
Veon menghela nafas, “apalagi, aku bukan pelayan yang harus mengurusi semua keperluan kamu,” ucapnya dingin.
Kania terlihat sangat kesal mendengar ucapan Veon, dia lalu menggelengkan kepalanya, “tidak jadi,” ucapnya.
“Terserah! Kalau kamu perlu sesuatu kamu panggil saja pelayan, jangan melakukan apa-apa sendiri. Aku tidak mau Mama dan Papa curiga. Di dalam rumah ini kita harus terus bersandiwara.” Veon mencengkeram dagu Kania, “kalau sampai sandiwara ini terbongkar, kamu dan keluarga kamu akan menerima akibatnya,” ancamnya lalu melepaskan cengkraman tangannya.
Veon lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, dia lalu menutup pintu kamar dengan sangat keras hingga terdengar dentuman pintu itu.
Kania menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dia menumpahkan semua air mata yang sejak tadi sudah memenuhi kedua sudut matanya, “apa dia harus bersikap seperti itu sama aku? apa salah aku sama dia, dia yang membawa aku ke dalam masalah ini, tapi kenapa sekarang seakan-akan aku yang bersalah di sini.”
Kania menghapus air matanya saat mendengar suara pintu diketuk. Dia lalu mencoba untuk berdiri, “masuk,” sahutnya.
__ADS_1
Seorang pelayan membuka pintu itu dan masuk ke dalam kamar Kania, “maaf Nona, saya di suruh Tuan Veon untuk mengantarkan makanan ini untuk Nona,” ucap pelayan itu.
Bagaimana dia tau kalau aku sedang kelaparan? Aku pikir dia tidak perduli dengan ku, tapi ternyata dia memperdulikan aku. pikirnya. “terima kasih, bik. Maaf sudah merepotkan bibik,” ucap Kania sambil mengambil alih nampan itu.
“Ini sudah tugas saya, Nona. Kalau begitu saya pamit undur diri.” Pelayan itu lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dia lalu menutup pintu itu.
Kania meletakkan nampan yang berisi makanan dan segelas air putih itu ke atas meja. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian, dia terkejut saat melihat isi lemari pakaian itu. Karena disana hanya ada lingerie sebagai gaun tidurnya.
Kania mengambil salah satu lingeri yang berwarna merah maron, “apa-apaan ini, apa ini layak disebut baju tidur? Bahannya saja setipis ini, masa aku harus memakai ini?” gerutunya.
Kania melihat semua isi pakaiannya, “kalau aku tidak memakai ini, lalu apa yang harus aku pakai? Disini hanya ada pakaian ini, masa aku harus memakai celana jeans untuk tidur?”
Mau tidak mau akhirnya Kania memakai lingerie itu, karena hanya itu yang bisa digunakan sekarang. Dia tidak mungkin akan tidur dengan menggunakan celana jeans, karena itu tidak akan membuatnya nyaman.
Kania berdiri di depan cermin besar sambil menatap dirinya yang memakai lingerie, “apa aku sudah gila, sampai aku harus memakai pakaian ini? Dia pasti berpikir aku akan menggodanya.” Lingerie itu memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya, untuk menatap dirinya di cermin saja dia sangat malu. Apa dia berani menunjukkan wajahnya di depan pria itu dengan pakaian itu?
Kania lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah selesai membersihkan diri akhirnya Kania mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana jeans, dia tidak mau kalau sampai Veon berpikiran dirinya ingin menggodanya saat dirinya memakai lingerie itu. Kania tidak mau ambil pusing, dia lebih baik mengisi perutnya yang sudah merasa lapar sejak tadi. wanita itu terlihat begitu menikmati makanannya.
***
“Tuan, kenapa anda di sini?” tanya Zaki saat melihat Veon yang tengah duduk di ayunan taman samping rumah.
“Aku ingin mendinginkan pikiran aku.”
Zaki yang hendak masuk ke dalam rumah akhirnya mengurungkan niatnya, dia lalu berdiri di samping ayunan tempat Veon duduk.
“Zak, sekarang apa yang harus aku lakukan? Kalau aku tinggal di sini, maka semuanya akan kacau.”
__ADS_1
“Tapi jika tuan menolak permintaan papa tuan, mereka pasti akan curiga. Hanya ini jalan satu-satunya tuan. Kita hanya bisa berharap, tuan besar akan segera pulih.”
Veon lalu beranjak dari duduknya, “ini sudah malam, tidurlah. Besok pagi kamu temani aku untuk mengurus sesuatu,” ucapnya.
Zaki mengangguk, “baik, tuan,” ucapnya.
Veon melangkahkan kakinya menuju pintu utama dan di ikuti oleh Zaki di belakangnya. Selama Veon dan Kania tinggal di rumah itu, Zaki juga akan tinggal di rumah itu, tentu saja itu atas perintah Veon. Veon begitu mempercayakan semuanya kepada Zaki. Zaki adalah tangan kanan yang selalu Veon andalkan.
Setelah berganti pakaian, Veon ingin merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tapi dia mengurungkan niatnya. Ini pertama kalinya dia berbagi ranjang dengan orang lain. Apa aku harus tidur satu ranjang dengannya? Tapi jika aku tidak tidur di ranjang, lalu aku harus tidur dimana? Veon kini sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.
Veon menggelengkan kepalanya, “aku tidak mau tidur di sofa, bisa-bisa badan aku nanti sakit semua. Selain itu jika sampai ada orang yang melihat aku tidur di sofa, nanti bisa kacau semuanya,” gerutunya.
Mau tidak mau akhirnya Veon memutuskan untuk tidur satu ranjang dengan Kania. Tapi pria itu mengernyitkan dahinya saat melihat Kania tidur menggunakan celana jeans, “apa dia nyaman menggunakan pakaian seperti itu saat tidur?” pria itu akhirnya membangunkan wanita itu.
“Bangun!” serunya sambil menggoyangkan tubuh Kania.
Kania yang merasa ada yang mengusik tidurnya, dengan terpaksa harus membuka kedua matanya, “ada apa? Kenapa kamu mengganggu tidurku?”
Veon melipat kedua lengannya di dada, “kenapa kamu tidur dengan pakaian seperti itu?” tanyanya dengan tatapan dingin.
“Apa ada yang salah dengan pakaian ini?” Kania melihat penampilannya dari atas sampai bawah, “tidak ada yang salah,” imbuhnya.
“Aku tidak suka melihatmu memakai pakaian itu saat tidur. Jika kamu masih ingin tidur di ranjang ini, kamu harus mengganti pakaian kamu!”
“Tapi...”
Veon tidak ingin mendengar penolakan keluar dari mulut Kania dan menyuruhnya untuk turun dari ranjang, wanita itu terpaksa harus turun dari ranjang itu.
“Jangan naik ke atas ranjang sebelum kamu mengganti pakaian kamu!” seru Veon lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Kania terlihat sangat bingung, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan. Tidak mungkin kan jika dirinya mengganti pakaiannya dengan lingerie yang sangat tipis itu. Itu bahkan lebih membuatnya tidak nyaman.
~oOo~