
Veon menyuruh Zaki untuk mengganti semua pakaian yang berada di dalam lemari Kania. Dia tidak ingin lagi ada lingeri di dalam lemari wanita itu. Selama seharian Veon menghabiskan waktunya di dalam ruangannya. Selain memikirkan masalah tentang pernikahannya, pria itu juga sedang memikirkan masalah adiknya.
Dari Dimas maupun Zaki tidak mendapatkan apa-apa dari penyelidikan mereka. Alex maupun Chelsea selalu bisa menghindar, mereka tau jika saat ini dirinya tengah diawasi. Alex mengetahui itu karena akhir-akhir ini Chelsea selalu menghindar dan mencari alasan setiap dia memanggilnya.
“Brengsek! Aku tidak menyangka Veon akan mencurigai Chelsea secepat ini. Aku tidak akan tinggal diam!”
Alex terus mondar-mandir di dalam kamarnya, sudah satu jam lebih dia menunggu Chelsea tapi wanita itu tidak kunjung datang. Pria itu mengambil ponselnya dari atas meja, dia lalu menghubungi seseorang. Dalam percakapan mereka terlihat sangat serius, apa yang sedang direncanakan oleh Alex?
Alex keluar dari kamarnya, hanya ada satu cara untuk dirinya mendapatkan apa yang dia inginkan. Alex memang suka bergonta-ganti wanita, tapi semua wanita itu hanya akan berakhir dalam satu malam. Setelah itu Alex membuang para wanita itu seperti sampah. Tapi berbeda dengan Chelsea, karena bagi Alex, Chelsea adalah alat untuknya membalas dendam.
Kini Alex berdiri di depan pintu berukuran besar. Rumah itu tidak lain adalah rumah keluarga Sanjaya. Alex mengangkat salah satu tangannya untuk mengetuk pintu itu, terdengar dua kali ketukan di pintu itu.
Asisten rumah tangga Dion berjalan menuju pintu untuk membuka pintu, “maaf, anda mencari siapa ya?” tanyanya saat pintu terbuka dengan sepenuhnya.
“Chelsea nya ada, Bik?”
“Kalau boleh tau anda ini siapa?”
“Katakan Alex mencarinya.”
Asisten rumah tangga Dion menyuruh Alex untuk masuk dan mempersilahkan dia duduk. Sedangkan dirinya masuk ke dalam untuk memanggil majikannya.
“Siapa tadi bibik bilang? Alex!” seru Chelsea terkejut.
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya.
“Siapa itu Alex?” tanya Kania penasaran.
“Em...dia sahabat aku.” Chelsea lalu beranjak dari duduknya, “aku akan menemuinya. Tolong buatkan minuman ya, bik,” imbuhnya. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Dia melihat Alex yang sedang duduk di sofa sambil mengedarkan pandangannya kemana-mana.
“Untuk apa kamu datang ke sini? Kan sudah aku bilang, aku akan menemui kamu!” Chelsea duduk di depan Alex, meja berbentuk persegi panjang memberikan jarak di antara mereka.
__ADS_1
Alex menyilangkan salah satu kakinya, dengan kedua lengan yang bersedekap di dada, “aku hanya ingin bertemu denganmu, apa itu juga tidak boleh? Kita sudah lama tidak bertemu, apa kamu tidak merindukan aku?” tanyanya sambil menyungingkan senyumannya.
“Apa kamu tidak tau jika Kak Veon selalu mengawasi gerak-gerik aku?”
Alex beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati wanita itu. Pria itu lalu mendudukkan tubuhnya di samping wanita itu, dia condongkan wajahnya ke wajah gadis itu, “aku sangat merindukan kamu, aku sangat menginginkan kamu,” bisiknya.
Chelsea menelan ludah, dia lalu menjauhkan tubuhnya dari Alex, “jangan macam-macam di rumah aku,” ucapnya dengan tubuh gemetar.
Alex tersenyum sinis, “apa aku harus menemui keluarga kamu untuk meminta restu mereka? Aku dengar kakak kamu sudah menikah, berarti sekarang giliran kamu untuk menikah. Apa kamu tidak ingin aku mempertanggungjawabkan perbuatan aku selama ini?” tanyanya.
Kedua mata Chelsea membulat dengan sempurna, dia tidak percaya Alex akan mengatakan semua itu, “kamu serius dengan ucapan kamu? Bukankah kamu tidak ingin menikahiku?” tanyanya terkejut.
“Setelah aku pikir-pikir, tidak ada salahnya aku menikahi kamu. Selain aku sangat membutuhkan kamu untuk memenuhi kebutuhan aku, kamu juga bisa aku manfaatkan untuk hal lainnya. Kamu kan kaya raya, jadi itu tidak akan jadi masalah untuk kamu dong?” Alex menyentuh pipi Chelsea, dan dengan cepat gadis itu menepisnya.
“Aku tau kamu tidak akan memiliki pilihan lain lagi, kecuali kamu akan selama hidup seperti ini. Menjadi pemuas nafsuku, tanpa adanya status apapun!” Alex berkata dengan penuh penekanan.
“Aku mau bertanya sesuatu sama kamu, apa selama ini kamu pernah mencintai aku?”
“Kenapa kamu melakukan ini sama aku? apa salah aku sama kamu? Padahal selama ini aku benar-benar tulus mencintai kamu?” kedua mata Chelsea kini mulai menggenang.
Alex kembali membenarkan posisinya, dia melihat asisten rumah tangga Dion berjalan menuju ruang tamu sambil membawa nampan yang berisi minuman.
“Silahkan di minum,” ucapnya sambil meletakkan minuman di atas meja.
“Terima kasih, bik,” ucap Alex dengan senyuman di wajahnya. Wanita paruh baya itu menatap Chelsea yang sedang menatap ke arah lain. Wanita itu tidak ingin asisten rumah tangga keluarganya melihat nya dengan kondisi seperti itu. Wanita paruh baya itu pamit undur diri, walaupun merasa sangat penasaran, tapi dia memilih untuk tetap diam.
Alex mengambil minuman itu dari atas meja, dia lalu memberikan minuman itu kepada Chelsea, “minumlah dulu, agar suasana hati kamu sedikit tenang,” ucapnya.
“Lebih baik sekarang kamu pergi dari rumah aku, kalau tidak...” Chelsea menghentikan ucapannya saat melihat mamanya sedang berjalan ke arahnya, dia lalu menghapus air mata yang sempat menggenangi kedua sudut matanya.
“Sayang, kenapa tidak bilang sama Mama kalau ada teman kamu?” Vera duduk di sofa tunggal di dekat Chelsea duduk.
__ADS_1
Alex berdiri dan mencium tangan Vera, “maaf, tante, saya baru datang ke sini untuk memperkenalkan diri. Nama saya Alex, tante,” ucapnya.
Vera mengangguk dan kembali mempersilahkan Alex duduk, “sayang, kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu mempunyai teman setampan ini? Apa kalian mempunyai hubungan khusus atau sebatas teman?” tanyanya penasaran. Vera bertanya seperti itu karena ini pertama kalinya ada seorang laki-laki yang datang ke rumahnya untuk menemui putrinya. Biasanya hanya Vika yang sering berkunjung untuk menemui Chelsea.
“Hanya teman, Ma.” Chelsea menatap ke arah Alex dengan sorot mata yang tajam.
Alex hanya tersenyum, tapi dia tidak mungkin diam saja, karena ini adalah kesempatannya untuk memperkenalkan diri dengan sebenarnya, “saya dan Chelsea sebenarnya mempunyai hubungan tante, saya dan Chelsea sudah berpacaran selama dua tahun,” akunya.
Vera mengernyitkan dahinya, “dua tahun! Tapi kenapa Chelse tidak pernah memberi tahu tante?” tanyanya terkejut.
“Mungkin Chelsea masih marah sama saya, tante.” Alex tersenyum menatap ke arah Chelsea, “sebenarnya kedatangan saya ke sini, saya ingin...”
“Ma...bisa tinggalkan kami berdua, ada yang ingin Chelsea bicarakan sama Alex,” ucap Chelsea memotong ucapan Alex.
“Baiklah, Mama akan meninggalkan kalian. Dan untuk kamu Alex, seringlah main ke sini, karena pintu rumah ini selalu terbuka untuk sahabat-sahabat Chelsea.” Vera beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya menjauh.
Chelsea menarik tangan Alex dan keluar dari rumahnya, “sekarang kamu pergi dari rumah aku!” serunya.
“Kamu berani mengusir aku? apa kamu tidak takut dengan apa yang akan aku lakukan?” Alex menyunggingkan senyumannya.
Chelsea mengatupkan kedua telapak tangannya, “aku mohon lepaskan aku,” pintanya.
“Apa kamu sudah gila!” Alex mengacungkan jari telunjuknya di depan kedua mata gadis itu, “sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu, aku akan selamanya menikmati tubuh kamu itu, apa kamu tidak ingin aku menikahi kamu?” imbuhnya.
“Aku tidak mau menikah dengan pria brengsek seperti kamu! Kamu bahkan tidak pernah mencintai aku!”
“Kamu yakin?” Alex langsung tertawa sarkas, “sebenarnya tadi aku hanya membohongi kamu, bukan hanya kamu, aku juga tidak ingin menikah dengan kamu. Selama ini aku hanya ingin mempermainkan kamu, dan aku berhasil. Tapi meskipun begitu, aku tidak akan pernah melepaskan kamu, karena kartu AS mu ada di tangan aku,” ancamnya.
Alex lalu melangkahkan kakinya menuju mobil. Menikahi Chelsea, bahkan itu tidak pernah terpikirkan oleh pria itu. Karena sejak awal dia hanya memanfaatkan wanita itu hanya untuk menghancurkan Veon dan keluarganya. Dengan mendekati Chelsea, itu akan lebih mempermudahnya untuk membalaskan dendamnya selama ini.
~oOo~
__ADS_1