
Setelah selesai bekerja, Veon pulang ke rumah kedua orangtuanya. Dia ingin mengajak Kania berbelanja semua kebutuhannya, dia tau Kania bahkan tidak membawa apa-apa saat pindah ke rumah orangtuanya.
“Setelah ini ikut denganku.” Veon yang baru saja selesai mandi kini tengah berdiri di depan cermin besar yang berada di kamarnya, dia mulai merapikan rambutnya.
“Kemana?” tanya Kania penasaran.
“Berbelanja, beli semua keperluan kamu!”
Kania menggelengkan kepalanya, “tidak perlu, lagian tidak ada yang ingin aku beli,” tolaknya.
Veon menatap Kania dengan tatapan dingin, “kamu masih berani membantahku setelah menikah denganku!” serunya yang membuat Kania terdiam.
Veon menyuruh Kania untuk bersiap-siap, sedangkan dirinya menunggu di dalam mobil yang di kendarai oleh supir pribadinya, sedangkan di samping supir pribadinya telah duduk dengan nyaman sang asisten pribadinya, yang tak lain adalah Zaki. Veon sudah tampak tidak sabar menunggu Kania yang sudah hampir satu jam tidak kunjung keluar.
“Sebenarnya apa yang dilakukan si bodoh itu! Apa dia...” Veon menghentikan ucapannya saat melihat Kania membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil, duduk di sampingnya.
“Kenapa kamu lama sekali, hah! Apa saja yang kamu lakukan!” seru Veon kesal.
Kania hanya diam, dia enggan menanggapi perkataan Veon padanya. Mobil pun mulai melaju keluar dari halaman rumah Veon.
Dalam perjalanan Veon tak henti-hentinya menatap penampilan Kania, hingga membuat Kania merasa tidak nyaman. Kania memilih untuk mengalihkan tatapannya keluar jendela. Veon mendengus kesal, berbagai macam umpatan keluar dari mulut Veon, tapi itu hanya Veon yang bisa mendengarnya, karena dia mengumpat di dalam hatinya.
Setelah sampai di mall, Veon menyuruh Kania untuk membeli apa saja yang dia butuhkan. Dia hanya mengikuti wanita itu dari belakang bersama dengan Zaki. Kania memanfaatkan situasi itu untuk membeli apapun yang menurutnya mahal dan bagus.
Veon yang melihat Kania memborong begitu banyak barang pun hanya menggelengkan kepalanya, ‘dasar! Tadi katanya tidak ingin apapun, tapi lihat sekarang, apapun dia ambil bahkan sampai tidak muat itu dua troli.’
Setelah selesai berbelanja, mereka memutuskan untuk makan siang di restoran. Zaki memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman.
“Zak, apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang Chelsea?”
Kania mengernyitkan dahinya, ‘tentang Chelsea, apa maksudnya?’
Aku tidak mungkin mengatakan semua yang Chelsea ceritakan padaku, pikirnya. Zaki lalu menggelengkan kepalanya, “belum tuan,” sahutnya berbohong.
“Em...sebenarnya ada apa dengan adik kamu itu?” Kania memberanikan diri untuk bertanya, dia juga ingin memastikan sesuatu yang mungkin ada hubungannya dengan Chelsea yang menangis waktu itu.
“Ini bukan urusan kamu! Dan tidak usah sok ikut campur dengan urusan orang lain!” seru Veon dengan nada penuh penekanan.
Kania langsung bungkam, dia bahkan sudah tidak lagi mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Wanita itu tetap diam sambil menikmati makanan yang berada di hadapannya. Tapi dia menajamkan pendengarannya untuk mendengar apa saja yang diobrolkan oleh Veon dan Zaki.
“Kamu awasi terus Chelsea, jangan sampai kamu lengah sedikitpun!” perintah Veon.
Zaki menganggukkan kepalanya, ‘tanpa tuan minta, aku tetap akan mengawasi Chelsea. Aku ingin tau siapa pria brengsek itu. Kalau aku sampai tau siapa dia, aku tidak akan pernah melepaskannya.’
__ADS_1
***
Chelsea memaafkan situasi dengan kepergian Zaki dan kakaknya. Dia mengambil tas selempangnya lalu dia pakai ke tubuhnya. Wanita itu lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Vera yang melihat putrinya sudah rapi pun merasa penasaran, “sayang, kamu mau kemana?” tanyanya.
“Chelsea ada janji sama teman, Ma.” Wanita itu lalu mencium tangan mamanya, “Chelsea pergi dulu ya, Ma. Sudah telat nie,” imbuhnya lalu melangkahkan kakinya menjauh.
“Jangan pulang malam-malam!” teriak Vera saat melihat putrinya sudah berada di ambang pintu.
Chelsea hanya mengangkat tangannya lalu melambaikannya, dia lalu melangkahkan kakinya menuju mobil. Sudah sejak pagi Alex terus menelfonnya, ancaman selalu wanita itu terima jika dia tidak segera datang ke rumah pria itu.
Sesampainya di rumah Alex, Chelsea melihat pintu rumah Alex sedikit terbuka. Dia lalu memutuskan untuk langsung masuk ke rumah itu.
“Dimana Alex?” Chelsea mengedarkan pandangannya, tapi dia tetap tidak menemukan sosok yang dia cari, “apa dia di kamar?” wanita itu lalu melangkah menuju tangga, dia menapaki tangga itu satu persatu.
Chelsea mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu kamar Alex. Setelah beberapa menit, sama sekali tidak ada sahutan dari dalam.
“Alex, apa kamu di dalam?” Chelsea terus menggedor pintu itu.
Terdengar pintu terbuka, “Kamu sudah datang,” ucap Alex lalu membuka pintu kamar itu lebar-lebar.
“Mereka...” Alex merangkul pinggang kedua wanita itu, “wanita-wanitaku, kenapa, apa kamu cemburu?” tanyanya dengan senyuman sinisnya.
Chelsea tidak menjawab, dia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauh. Tapi tentu saja Alex tidak akan membiarkan wanita itu pergi begitu saja.
“Tunggu!” teriak Alex keras.
Tapi Chelsea tidak menggubris teriakan Alex.
“Sekali lagi kamu melangkah, maka aku akan memberitahu keluarga kamu tentang semuanya,” ancam Alex. Dan ancaman itu mampu membuat Chelsea menghentikan langkahnya.
Alex berjalan mendekati Chelsea, dia lalu memeluk wanita itu dari belakang, “apa kamu akan pergi begitu saja? Apa kamu tidak ingin bermain denganku dulu? aku sangat merindukan kamu,” ucapnya sambil menopangkan dagunya ke bahu wanita itu.
“Alex, lepas!” seru Chelsea sambil menyingkirkan kedua tangan Alex dari tubuhnya.
Alex membalikkan tubuh Chelsea, wanita itu menatap Alex dengan tatapan penuh emosi, “kamu brengsek, Alex!” teriaknya.
“Apa sekarang kamu cemburu, karena aku bersama dengan wanita lain?”
“Cemburu! Aku...!” sambil menunjuk dirinya sendiri, Chelsea lalu menggelengkan kepalanya, “aku jijik melihatnya. Jadi ini kelakuan kamu selama ini? Apa wanita begitu rendah di mata kamu?”
__ADS_1
Alex melingkarkan kedua tangannya ke pinggang wanita itu, lalu menariknya hingga tubuh mereka melekat dan tidak ada jeda sedikitpun, “mereka hanyalah mainanku. Tapi kalau denganmu, aku benar-benar serius. Kamu tenang saja, aku hanyalah milikmu,” ucapnya.
Alex lalu mendaratkan ciuman di bibir Chelsea, wanita itu mendorong tubuh Alex dengan kuat, hingga membuat pria itu jatuh tersungkur.
“Jangan harap aku akan melakukan apapun yang kamu mau!” teriak Chelsea keras.
Alex tertawa sarkas, dia lalu mencoba untuk berdiri. Pria itu mencengkeram erat tangan wanita itu lalu menariknya menuju kamarnya. Alex menyuruh kedua wanita itu untuk menutup dan mengunci pintu kamar itu. Salah satu wanita itu pun menuruti perintah Alex.
“Alex, apa yang kamu lakukan! Apa kamu sudah gila!” teriak Chelsea keras.
Chelsea terus meronta saat Alex berusaha untuk membuka kancing bajunya satu persatu, “Alex, aku mohon, jangan lakukan ini sama aku. Aku mohon.” Wanita itu terus berteriak, dan meronta, tapi Alex sama sekali tidak mengindahkan teriakan Chelsea.
“Sayang, aku sangat merindukan kehangatan tubuhmu.” Alex mulai menindih tubuh Chelsea, tangannya bahkan mulai bergerilya kemana-mana. Bibirnya mulai mengeksplor setiap inci bibir wanita itu.
Air mata terus mengalir dari kedua sudut mata wanita itu, ‘kakak, tolong aku. Zaki, aku mohon tolong aku.’ Chelsea hanya mampu berteriak di dalam hatinya.
Alex menatap kedua mata Chelsea yang sudah memerah karena terus menerus menangis, ‘sial!’ umpatnya dalam hati. Pria itu lalu mengurungkan niatnya, dia lalu menghempaskan tubuhnya di samping Chelsea.
Alex menggenggam tangan Chelsea dengan sangat erat, “aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari kamar ini. Aku ingin kamu menyaksikan bagaimana mereka begitu pandai dalam memuaskan aku,” ucapnya dengan senyuman menyeringai.
“Aku tidak sudi melihat semua itu, lepas!” tapi Alex justru semakin mencengkeram erat lengan wanita itu.
Air mata mengalir dengan derasnya dari kedua sudut mata Chelsea, “Alex aku mohon, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku mohon, apa salah aku sama kamu, kenapa kamu melakukan ini sama aku? padahal dulu kamu sangat baik sama aku, kenapa!” teriaknya di sela isak tangisnya.
Alex hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan wanita itu, dia lalu melepas cengkraman tangannya, dan menyuruh Chelsea untuk keluar dari kamarnya. Wanita itu bangun lalu beranjak dari ranjang, dia merapikan kembali pakaiannya yang terlihat sangat berantakan karena ulah Alex.
“Apa yang kalian tunggu! Cepat lakukan!” teriak Alex dengan nada keras.
Kedua wanita itu pun dengan senang hati melakukan apa yang diperintahkan oleh Alex. Kedua wanita itu bahkan tidak canggung-canggung melepas handuk yang melilit tubuh mereka di depan Chelsea.
“Kamu memang brengsek Alex, aku menyesal karena pernah mencintai kamu!” Chelsea menghapus air matanya, dia kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu, dia buka kunci itu dan menurunkan handle pintu itu hingga pintu itu terbuka.
Dia lalu keluar dari kamar itu, Chelsea terkulai lemas di depan pintu kamar Alex, “aku tidak menyangka akan melihat semua ini, aku tidak menyangka Alex akan melakukan semua ini. Dasar brengsek kamu Alex, brengsek!”
Desahan-desahan nikmat yang berasal dari kamar Alex pun bisa didengar Chelsea dengan sangat jelas. Wanita itu menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya sebelum dia memutuskan untuk berdiri dan melangkahkan kakinya menjauh dari kamar itu.
‘Aku tidak akan pernah meminta kamu untuk menikahi aku, lebih baik aku mati daripada aku harus menikah dengan pria brengsek seperti kamu!’
~oOo~
__ADS_1