
Vera terlihat tengah mondar-mandir di depan pintu rumahnya, dia tengah menunggu kepulangan putrinya yang sampai sekarang belum juga pulang ke rumah.
Veon yang hendak pergi keluar untuk menemui sahabatnya, melihat mamanya yang tengah gelisah, “Mama, kenapa Mama berada di luar?” tanyanya.
“Sayang, adik kamu sampai sekarang belum pulang. Mama sudah mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak diangkat oleh adik kamu. Mama takut terjadi apa-apa dengan adik kamu,” ucap Vera cemas.
“Memangnya Chelsea pergi ke mana, Ma?”
“Tadi katanya mau jalan-jalan dengan teman-temannya, Mama juga sudah memintanya untuk tidak pulang malam-malam, tapi ini sudah pukul 21.00 malam, tapi adik kamu belum pulang.”
Veon mengambil ponselnya dari dalam saku celananya, dia lalu menghubungi ponsel Chelsea. Seperti yang mamanya bilang tadi, Chelsea sama sekali tidak mengangkat telepon darinya, “lebih baik sekarang Mama masuk, biar Veon yang mencari Chelsea,” ucapnya.
“Anak itu kenapa menjadi seperti itu. Dia selalu saja tidak menuruti ucapan Mama, apa Mama ini orang tua yang buruk untuk kalian, hingga kalian sudah tidak mau mendengarkan kata-kata Mama lagi?” tanya Vera sedih.
Veon memeluk mamanya, “Mama adalah Mama terbaik yang pernah Veon miliki, mungkin Chelsea hanya salah bergaul, Ma. Tapi Mama tenang saja, dia tidak mungkin melakukan hal yang di luar batas,” ucapnya mencoba menenangkan mamanya.
“Kalau begitu bawa adik kamu pulang segera, Mama tidak tau apa yang akan terjadi dengan Papa kamu kalau Papa kamu tau adik kamu tidak berada di rumah.” Veon menganggukkan kepalanya, dia lalu mencium tangan mamanya dan melangkahkan kakinya menuju mobil.
“Aku harus mencari Chelsea ke mana, aku tidak tau nomor teman-temannya.” Veon terus melajukan mobilnya, dia tidak tahu ke mana dirinya harus mencari sang adik.
Veon merasakan getaran dari saku celananya, dia lalu mengambil ponselnya dari saku celananya dan mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelponnya, “halo,” sahutnya.
“Kamu jadi datang ke sini tidak? Kita sudah lama nungguin kamu tau!” seru Dimas yang tak lain adalah sahabat Veon.
“Sorry aku tidak bisa datang ke situ, aku harus mencari adikku.”
“Memangnya Chelsea ke mana?”
“Kalau aku tau, aku tidak akan pusing nyariin dia!” seru Veon kesal.
Dimas yang sedang berbicara dengan Veon tidak sengaja melihat Chelsea yang sedang dipapah oleh seorang pria, yang tak lain adalah Alek, “bukannya itu Chelsea,” ucapnya.
“Apa! Chelsea! Kamu tidak salah liat kan!” seru Veon sambil menepikan mobilnya.
“Aku yakin tadi itu Chelsea, tapi apa yang dia lakukan di club?”
__ADS_1
“Sekarang dia di mana?”
“Dia sedang bersama teman-temannya menuju pintu keluar, tapi kayaknya adik kamu sedang mabuk berat.”
“Apa! Brengsek!” umpat Veon geram.
“Kamu ngatain aku brengsek!”
“Bukan kamu bodoh, tapi adik aku. Bisa-bisanya dia minum-minum bersama dengan teman-temannya. Sekarang ikuti adik aku, jangan sampai kamu kehilangan jejak mereka!”
Dimas mengangguk mengerti, “ok,” ucapnya lalu mematikan teleponnya.
Dimas bergegas berjalan melewati kerumunan orang-orang yang tengah asyik berjoget sambil menikmati alunan musik yang begitu keras, ‘mereka ke mana ya, sial!’ umpatnya dalam hati. Dimas melihat mobil keluar dari parkiran, dia melihat Chelsea berada di dalam mobil itu.
Dimas bergegas menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya, dengan segera dia melajukan motornya untuk mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Chelsea. Tapi karena jarak mereka yang terlalu jauh membuat dia kehilangan jejak.
Dimas menghentikan motornya di pinggir jalan, “sial! Apa yang harus aku katakan sama Veon nanti!” umpatnya.
Dimas merasakan getaran di saku celananya, “ini pasti telefon dari Veon.” Dia lalu mengambil ponselnya dari saku celananya, “tu kan benar.” Dimas lalu menjawab panggilan itu, “halo,” sahutnya.
“kamu sekarang di mana? Apa kamu berhasil mengikuti Chelsea?”
“Ais...brengsek!” Veon lalu membanting ponselnya, “dasar adik tidak tau diri!” Veon mengacak-acak rambutnya karena frustasi, “apa yang harus aku katakan sama Mama nanti?”.
Veon lalu melajukan mobilnya, dia akan tetap mencari adiknya sampai ketemu, karena dirinya tidak mungkin pulang dengan tangan kosong. Veon juga tidak ingin mengecewakan mamanya.
***
Chelsea yang mulai sadar mengerjapkan kedua matanya, meskipun kesadarannya belum sepenuhnya kembali, “aku dimana ini?” tanyanya karena dia terbangun di tempat yang asing.
Chelsea merasa ada yang aneh dengan dirinya, dia merasakan sakit di bagian bawahnya. Kedua mata gadis itu membulat dengan sempurna saat mendapati dirinya tanpa sehelai kain pun. Chelsea melihat ada lengan yang kini tengah memeluknya, dia memiringkan wajahnya untuk melihat siapa sosok yang tengah terbaring di sampingnya sambil memeluknya, “Alex!” teriaknya terkejut.
Alek yang mendengar teriakan Chlesea sontak langsung membuka kedua matanya, “sayang, ada apa, kenapa kamu berteriak?” tanyanya sambil mengusap-usap kedua matanya.
__ADS_1
“Kenapa aku ada disini? Apa yang sudah kamu lakukan sama aku!” seru Chelsea lalu bangun dan menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya. Chelsea menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang.
“Sayang, apa kamu lupa dengan apa yang kita lakukan tadi malam? Padahal semalam kamu sangat menikmatinya,” ucap Alex lalu bangun dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang. Alex mengusap pipi Chelsea dengan sangat lembut.
“Tidak! Tidak mungkin! Kita tidak mungkin melakukan itu kan!” kedua mata Chelsea kini mulai berkaca-kaca.
“Tapi sayangnya kita sudah melakukan itu, aku senang ternyata kamu masih Virgin. Apa kamu ingin mengulanginya lagi?” Alex berniat ingin mencium bibir mungil Chelsea, tapi gadis itu langsung mendorong tubuh Alex.
“Kenapa kamu melakukan ini sama aku, kenapa?” teriak Chelsea dengan air mata yang mulai mengalir dari kedua sudut matanya.
“Karena aku mencintai kamu sayang, aku ingin menjadikanmu milikku untuk selama-lamanya,” ucap Alex mencoba untuk menenangkan Chelsea.
“Tapi tidak kayak gini caranya, kalau sampai kedua orang tua aku tau, Kak Veon tau, mereka pasti akan sangat kecewa nanti, kamu jahat, Lex, kamu jahat!” seru Chelsea sambil memukul dada bidang Alex.
Alex mencengkeram erat kedua tangan Chelsea, “apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Aku sama sekali tidak memaksa kamu, tapi kamu sendiri yang menyerahkan diri kamu ke aku. Bahkan semalam kamu yang paling menikmatinya.” Alex mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah video kepada Chelsea.
Kedua mata Chelsea membulat dengan sempurna saat melihat rekaman video itu, “Lex, tolong hapus video itu, aku mohon,” pintanya.
“Aku tidak akan menghapus video ini, karena dengan video ini, kamu akan menuruti semua permintaan aku,” ucap Alex sambil menyunggingkan senyumannya.
“Maksud kamu apa?”
“Aku mau kamu menjadi partner sex aku, karena tubuh kamu sangat membuat aku puas.”
“Tidak! Aku tidak akan melakukan itu!” tolak Chelsea penuh emosi.
“Terserah, jika kamu tidak mau, maka video ini akan aku sebar luaskan,” ancam Alex sambil mencengkram dagu Chelsea.
Chelsea mengatupkan kedua tangannya, “jangan lakukan itu aku mohon,” pintanya dengan meneteskan air mata.
“Kalau kamu tidak mau video ini tersebar, kamu harus menuruti permintaan aku.”
Dengan berat hati Chelsea menganggukkan kepalanya, maafkan aku Ma, Pa, Kak Veon. Maafin aku, aku sudah mengecewakan kalian semua. Air mata itu terus mengalir membasahi kedua pipinya. Alex tidak memperdulikan air mata yang mengalir membasahi kedua pipi Chelsea, dia kini malah sedang menikmati kembali tubuh Chelsea yang masih polos tanpa sehelai kain pun.
“Tubuh kamu sungguh sangat nikmat sayang, kenapa tidak dari dulu saja aku menikmati tubuh indah kamu.” Alex kini tengah menciumi seluruh tubuh Chelsea tanpa melewatkan satu bagian pun.
__ADS_1
Chelsea merutuki dirinya sendiri saat lenguhan panjang keluar dari mulutnya, puncak kenikmatan pertama yang dia rasakan. Alex tersenyum puas saat Chelsea mendapatkan puncak kenikmatannya.
~oOo~