
Kania membuka kedua matanya dengan perlahan. Ini adalah hari pertama dirinya bekerja sebagai pelayan di rumah itu. Wanita muda itu segera beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi, dia ingin melakukan ritual paginya.
Sebenarnya Kania bingung harus memulai pekerjaannya dari mana, karena dirinya sebelumnya belum pernah melakukan pekerjaan rumah. Setelah selesai berganti pakaian, Kania membuka pintu kamarnya, dia menatap ke kiri dan ke kanan. Setelah berasa aman dia keluar dari kamar.
“Kenapa aku malah seperti maling gini sih,” gerutunya.
“Hem...hem...”
Kania tersentak saat mendengar suara deheman seseorang, wanita itu lalu menghentikan langkahnya. Dia lalu menengok ke arah sumber suara, lebih tepatnya sumber suara itu berada tepat di belakangnya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Zaki sambil melipat kedua lengannya di dada.
Kenapa dia pagi-pagi sudah berada di sini? “Em...aku ingin memulai pekerjaan aku, tapi...apa yang harus aku kerjakan di rumah ini?” tanya Kania bingung.
“Kamu tidak perlu mengerjakan apa pun di rumah ini, karena di sini sudah ada pelayan yang mengerjakan semuanya.”
Kania mengernyitkan dahinya, dia tidak paham maksud perkataan Zaki, bukannya aku tinggal di sini sebagai pelayan, tapi kenapa aku di larang untuk melakukan apa pun? Pikirnya.
“Jangan senang dulu, walau kamu tidak bekerja sebagai pelayan, tapi kamu tetap harus melakukan sesuatu, bahkan pekerjaan kamu ini lebih sulit dari pekerjaan sebagai pelayan.”
Kania menelan ludah, apa dia benar-benar akan menjual ku? Wanita itu menggelengkan kepalanya, “aku tidak mau!” teriaknya.
Zaki mengernyitkan dahinya, dia menatap wanita itu dengan sangat tajam, “kamu tidak mempunyai hak untuk menolak! Ingat, tuan Veon sudah membeli mu!” serunya.
“Jangan jual aku, aku akan melakukan apa pun, tapi aku mohon...jangan jual aku,” pinta Kania sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
Veon yang sedang menuruni anak tangga tertawa terbahak-bahak, dia tidak mengira wanita itu masih memikirkan apa yang dia katakan kemarin, “kenapa kamu begitu takut aku akan menjual mu?” tanyanya sambil berjalan mendekat. Zaki sedikit membungkukkan tubuhnya saat Veon sudah tepat berada di depannya, pria itu lalu sedikit menjauh dari Veon dan Kania.
“Saya mohon jangan menjual ku, saya akan melakukan apa pun,” pinta Kania lagi.
Veon memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, dia lalu berjalan mengitari gadis itu, “kalau aku menjual mu mungkin aku akan untung besar, apa lagi kamu masih sangat muda. Pasti banyak pria hidung belang di luar sana yang menginginkan kamu,” ucapnya lalu menghentikan langkahnya tepat di depan wanita itu.
Kania terduduk lemas di lantai, Veon mengernyitkan dahinya, apa aku sudah keterlaluan ya? Pikirnya.
“Jangan jual saya, saya tidak ingin melakukan pekerjaan seperti itu, saya takut...saya mohon, jangan jual saya.” Suara wanita itu terdengar sangat lirih dan memelas, hingga membuat Veon tidak tega melihatnya.
Veon menghela nafas panjang, dia lalu meminta Zaki untuk mengurus semuanya. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju meja makan.
Zaki berdiri di depan Kania, “bangunlah,” pintanya.
__ADS_1
Kania menggelengkan kepalanya, “aku tidak akan bangun sebelum kamu berjanji tidak akan menjual ku,” ucapnya dengan wajah yang masih tertunduk.
“Kamu mau bangun sendiri atau aku akan menyuruh orang untuk membangunkan kamu dan menyeret mu dengan paksa!” ancam Zaki, ternyata ancaman pria itu berhasil membuat gadis itu berdiri tepat di depan matanya.
“Apa salah aku, kenapa nasib ku sesial ini?” gumam Kania dalam hati.
“Sekarang kamu ikut aku.” Zaki melangkahkan kakinya menuju meja makan, tempat di mana Veon tengah menikmati sarapan paginya.
Kania menelan ludah, dia mengusap perutnya yang terasa lapar. Hidangan yang tertata rapi di atas meja makan terlihat begitu mengiurkan, gadis itu tidak menyadari jika sejak tadi Veon mengamatinya.
“Apa kamu lapar?” tanya Veon sambil melipat kedua lengannya di dada.
“Iya...aku sangat lapar.” Kania secepat mungkin langsung menutup mulutnya.
“Duduk dan makanlah,” ucap Veon lalu kembali menikmati makanannya.
Tapi wanita itu masih tidak bergerak, dia masih diam mematung.
“Apa kamu tadi tidak mendengar tuan Veon menyuruhmu apa!” seru Zaki.
“Tapi...apa aku beneran boleh makan satu meja dengan Tuan Veon?” tanya Kania takut.
Veon menghentikan gerakan mengunyahnya, dia lalu mendongakkan wajahnya menatap wanita itu, “kamu tadi memanggil ku apa?” tanyanya.
“Duduklah, kalau kamu tidak mau duduk juga tidak apa-apa, tapi jangan harap kamu bisa menikmati semua makanan ini,” ucap Veon dengan nada dingin.
Kania lalu menarik salah satu kursi lalu dia duduki, “apa dia marah aku memanggilnya tuan? Tapi dia kan majikan aku, jadi ya wajarlah aku memanggilnya tuan,” gumamnya dalam hati.
Zaki masih tetap berdiri di samping Veon, dia belum pernah makan satu meja bersama dengan Veon terkecuali jika Veon yang memintanya.
“Aku tidak akan menjual mu, tapi aku ingin kamu melakukan satu pekerjaan untuk aku.” Veon mengambil gelas di atas meja yang berisi air putih, dengan perlahan dia mulai meneguknya.
Kania menelan makanan yang berada di mulutnya, “pekerjaan apa itu? Apa saya harus membersihkan seluruh rumah ini?” tanyanya.
Veon menggelengkan kepalanya, “aku ingin kamu bersandiwara di depan kedua orang tua aku,” ucapnya.
Kania mengernyitkan dahinya, “sandiwara apa?” tanyanya bingung.
Veon meminta Zaki untuk menjelaskannya kepada gadis itu.
__ADS_1
“Kamu harus bersandiwara menjadi kekasih tuan Veon,” ucap Zaki.
Tiba-tiba Kania terbatuk karena tersedak makanan yang belum sepenuhnya dia telan, “Apa!” seru Kania terkejut. Kenapa aku harus berpura-pura menjadi kekasihnya, apa dia tidak mempunyai kekasih? kalau di lihat-lihat dia sudah cukup umur. Pikirnya.
“Kenapa kamu se-terkejut itu? Apa kamu tidak mau? Atau kamu lebih memilih aku menjual mu!” seru Veon dengan sorot mata yang tajam.
“Em...bukan seperti itu, tapi untuk apa saya harus berpura-pura menjadi kekasih tuan, apa tuan belum mempunyai kekasih?” tanya Kania penasaran. Mana mungkin pria setampan dia belum mempunyai kekasih, pikirnya.
“Itu bukan urusan kamu, kamu hanya cukup mengikuti kata-kata aku saja. Jangan pernah mengatakan hal yang tidak-tidak di depan kedua orang tua aku, kamu cukup menutup mulut kamu,” ucap Veon.
Kania belum bisa memahami maksud perkataan Veon, sandiwara seperti apa yang harus dia lakukan, lalu dia harus diam di depan kedua orangtuanya, maksudnya apa ini? “saya belum paham maksud dari kata-kata tuan,” ucapnya.
Veon sebenarnya enggan mengatakan semua itu kepada Kania, tapi jika dia ingin meminta bantuan gadis itu, dia harus menceritakan masalah apa yang tengah dia hadapi saat ini.
Veon menghela nafas, “aku meminta kamu untuk menjadi kekasih aku, karena kedua orang tua aku memaksa aku untuk menikah,” ucapnya.
“Tuan tinggal turuti saja permintaan kedua orang tua tuan itu, apa susahnya,” ucap Kania yang sontak membuat Zaki dan Veon menatapnya dengan tajam.
Kania menyengir kuda, dia lalu mengatupkan kedua tangannya dan meminta maaf atas kelancangan mulutnya.
“Aku tidak mau menikah sebelum aku berusia 30 tahun, itu sebabnya aku meminta bantuan kamu. Dengan aku memperkenalkan kamu sebagai calon istri aku, maka kedua orang tua aku pasti akan menolak kamu.”
“Kenapa bisa seperti itu? Apa saya terlihat jelek ya!” Kania terus saja memotong ucapan veon, membuat pria itu menatapnya dengan tajam sambil melipat kedua lengannya di dada.
“Karena Mama dan Papa tidak akan mengizinkan aku untuk menikah dengan gadis muda seperti kamu ini, karena kamu tidak cocok untuk menjadi istri aku. Setelah itu aku akan bilang sama Mama dan Papa, aku tidak akan menikah jika tidak dengan mu. Maka dengan begitu Mama dan Papa tidak akan memaksa aku untuk menikah lagi,” jelas Veon.
“Tapi jika nanti kedua orang tua tuan tidak melarang tuan tapi malah menyetujuinya bagaimana? Saya tidak mau menikah dengan tuan,” ucap Kania sambil memalingkan wajahnya.
Veon tersenyum sinis, baru kali ini ada wanita yang sama sekali tidak tertarik dengan ketampanannya, “kamu tenang saja, itu tidak akan terjadi,” ucapnya lalu beranjak dari duduknya dan melangkah menjauh.
Zaki berjalan mendekati Kania, “apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan! Kamu sudah menyinggung perasaan tuan Veon!” serunya.
“Tapi kan aku hanya menyampaikan hal yang bisa saja terjadi, jika kata-kata aku benar, dan kedua orang tua Tuan Veon mengizinkan dia untuk menikah dengan ku bagaimana? Masa aku harus menikah dengannya, aku tidak mau!” tolak Kania sambil melipat kedua lengannya di dada.
Zaki mencengkeram erat lengan Kania, “jika itu sampai benar-benar terjadi, kamu harus mau menikah dengan tuan Veon, karena apa...karena kamu sudah di beli oleh tuan Veon. Secara tidak langsung kamu adalah milik tuan Veon, ingat itu.” Zaki lalu melepaskan cengkeraman tangannya, dia lalu melangkah pergi.
Kania masih diam mematung sambil menyentuh lengannya yang memerah, ‘apa aku harus menikah dengannya? Kenapa nasib aku sesial ini? Kenapa?’ Kania mengepalkan kedua tangannya, dia terlihat sangat kesal.
Hidupnya hancur dalam sekejap, dia harus merelakan semua mimpi-mimpinya untuk menebus hutang-hutang keluarganya, dan apa sekarang dia juga harus menjual harga dirinya dan melepas masa lajangnya di usianya yang masih 18 tahun, bahkan dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal dan tidak dia cintai.
__ADS_1
~oOo~