Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Kamu tidak tau siapa aku?


__ADS_3

Kania saat ini tengah mondar-mandir di dalam kamarnya, dia terlihat sangat panik dan cemas. Beberapa menit yang lalu, Kania mendapatkan panggilan telepon dari asisten rumah tangga Papanya. Wanita paruh baya itu mengatakan jika saat ini Papa gadis itu tengah jatuh sakit.


Kania teringat akan apa yang dikatakan Veon, kalau setelah dirinya menikah, dia bukan lagi milik Papanya, dia juga tidak boleh mendatangi Papanya tanpa seizinnya. Itu sebabnya gadis itu tidak langsung menemui Papa nya setelah mendengar kabar buruk itu.


Sudah berkali-kali, Kania menghubungi Veon, tapi tak ada jawaban dari panggilan itu. Kania terlihat semakin gelisah. Selain itu Zaki juga tidak mengangkat telpon darinya.


“Apa lebih baik aku ke kantornya sekarang? Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Papa.”


Kania akhirnya memutuskan untuk pergi menemui Veon di kantornya. Dia sudah tidak sanggup lagi menunggu kepulangan suaminya yang masih sangat lama. Kania berharap Veon akan mengizinkannya untuk menemui Papa nya.


Kania masuk ke dalam lift menuju ruangan lantai 4, dimana ruangan suaminya berada. Setelah pintu lift terbuka, dia lalu keluar dari dalam lift itu. Sekretaris Veon menghadang Kania saat dia ingin masuk ke dalam ruangan suaminya itu.


“Maaf Nona, Tuan Veon sedang meeting, jadi dia tidak ada di ruangannya.”


Kania mengernyitkan dahinya, tidak seperti biasanya dia dilarang untuk masuk ke ruangan suaminya sendiri, “saya akan menunggu suami saya di dalam,” ucapnya.


“Tapi Tuan Veon melarang siapapun untuk masuk ke dalam ruangannya.”


“Tapi saya ini istrinya, dan saya tidak peduli, saya akan tetap menunggunya di ruangannya!” seru Kania. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan itu, dengan perlahan dia mulai membuka pintu ruangan itu.


“Berani-beraninya dia melarang aku untuk masuk ke ruangan ini, memangnya dia siapa.” Kania lalu menutup pintu itu.


“Maaf, kamu ini siapa ya? Berani-beraninya kamu masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?” suara seorang wanita mulai terdengar di telinga Kania.


Kania membulatkan kedua matanya saat melihat wanita itu, ‘wanita ini, dia kan...”


“Hallo, apa kamu tuli? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan aku, kenapa kamu masuk ke ruangan pacar aku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?” tanya wanita itu lagi.


‘Apa? pacar?’ “Em...seharusnya aku yang bertanya sama kamu, siapa kamu?” tanya Kania dengan berjalan mendekati wanita itu.


Wanita itu menyunggingkan senyumannya, “kamu tidak tau siapa aku? padahal foto aku ada dimana-mana,” ucapnya menyombongkan diri.


“Mungkin foto kamu memang ada dimana-mana, tapi aku sama sekali tidak mengenalmu!”


Wanita itu tertawa, “di dunia ini masih ada ya, orang yang kuper kayak kamu,” ledeknya. Wanita itu lalu mengulurkan tangannya, “kenalkan, aku calon istrinya Veon, nama aku Bella Wang, model terkenal, apa kamu benar-benar tidak tahu itu?”


Hati Kania seakan tertusuk benda tajam, rasanya sangat sakit saat wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Veon, ‘apa ini akan menjadi akhir dari semuanya?’ gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Terdengar pintu terbuka, Zaki masuk ke dalam ruangan itu. Pria itu diperintahkan untuk membawa Bella menemui Veon yang sudah menunggunya di restoran dekat gedung kantor itu.


“Kania!” seru Zaki terkejut saat melihat Kania berada di ruangan itu.


“Zak, kamu tau siapa gadis ini? Apa kamu mengenalnya?” tanya Bella sambil mengernyitkan dahinya.


Kania menepiskan senyumannya, “kamu tadi sudah memperkenalkan diri kamu, sekarang giliran aku untuk memperkenalkan diri,” ucapnya.


‘Apa Kania akan bilang jika dia adalah istrinya Tuan Veon? Apa Kania mengenali wajah Bella?’ Zaki terlihat sangat panik.


“Siapa kamu? cepat katakan!”


“Aku Kania, aku adalah...” Kania menatap Zaki yang terlihat sangat panik dengan kedua mata yang membulat. Wanita itu lalu tersenyum, “aku adalah adiknya Zaki,” ucapnya.


“A...jadi kamu adiknya Zaki, pantas saja kamu bisa seenaknya masuk ke dalam ruangan calon suami aku,” ucap Bella sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


Kania lalu berjalan mendekati Zaki, “Kak, apa kamu ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan sama kakak?” tanyanya sambil menepiskan senyumannya.


Zaki menatap kedua mata Kania yang sudah mulai digenangi oleh cairan bening, “kamu tunggu aku di bawah, aku masih ada keperluan dengan Nona Bella,” ucapnya.


“Dimana Veon?” tanya Bella sambil melangkahkan kakinya mendekati Zaki.


“Tuan Veon menunggu anda di restoran dekat gedung ini. Saya akan mengantar anda ke sana.”


“Ok...ayo.”


Zaki dan Bella lalu keluar dari ruangan itu, Zaki terkejut saat melihat Kania masih berada di depan pintu itu, ‘apa Kania mendengar semuanya?’ gumamnya dalam hati.


“Kamu masih disini?” tanya Bella saat melihat Kania masih berdiri di dekat pintu itu.


“Aku baru mau pergi,” ucap Kania sambil mengulas senyum getir.


Zaki bisa melihat jika Kania baru saja menangis, kedua matanya yang memerah, dan sisa air mata di kedua sudut wanita itu membuktikan semuanya. Zaki lalu menarik tangan Kania saat dia ingin melangkah pergi, “kamu ikut aku saja, setelah mengantar Nona Bella, baru kita bicara,” ucapnya.


“Benar kata Zaki, kamu ikut kami saja, sepertinya kita bisa menjadi teman,” ucap Bella dengan senyuman di wajahnya.


Kania tidak punya pilihan lain selain ikut dengan Zaki dan Bella. Kania sangat terkejut saat Bella menggandeng lengan tangannya, begitu juga dengan Zaki.

__ADS_1


“Berapa usia kamu?” tanya Bella sambil berjalan beriringan dengan Kania.


“19 tahun.” Kania menjawab dengan singkat.


“Wah...kamu masih sangat muda ya, kalau usiaku sudah 27 tahun. Dan saat ini aku akan segera menikah dengan pria yang sangat aku cintai sejak dulu. Aku dan Veon sudah saling mengenal sejak kecil, dan kita pernah berjanji untuk menikah suatu hari nanti. Tapi aku pergi untuk mengejar mimpiku, dan sekarang aku kembali untuk menagih janji itu,” ucap Bella dengan senyuman di wajahnya.


Kania hanya diam, dia sama sekali tidak bisa berkomentar. Tubuhnya terasa begitu lemas, dadanya sesak, jantungnya seakan berhenti berdetak. Disaat dirinya mulai mau menerima Veon sebagai suaminya, disaat dirinya juga sudah menjatuhkan hatinya untuk pria itu, disaat Veon mulai menunjukkan perhatiannya, kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa masa lalu pria itu harus muncul di saat dirinya mengharapkan cinta pria itu?


Zaki bisa merasakan apa yang Kania rasakan, ingin rasanya dia memberitahu Bella siapa Kania itu sebenarnya, tapi dia sama sekali tidak mempunyai hak untuk mengatakan semua itu. Veon lah yang lebih berhak untuk menjelaskan semuanya. Jika Veon memang sudah mulai mencintai Kania, maka dia akan lebih memilih Kania daripada Bella. Tapi jika ternyata Veon masih sangat mencintai Bella, lalu apa yang akan terjadi dengan Kania?


Setelah sampai di tempat tujuan, Bella ingin mengajak Kania untuk menemui Veon, tapi Kania menolak ajak kan itu, dia lebih memilih untuk menunggu di dalam mobil.


“Ayolah, aku ingin kamu melihat betapa dia sangat mencintaiku,” bujuk Bella lagi.


‘Apa mencintai? apa pria itu tau bagaimana cara mencintai?’ gumam Kania dalam hati.


“Nona Bella, sebaiknya anda segera menemui Tuan Veon, karena Tuan Veon sudah menunggu anda nona sejak tadi,” ucap Zaki.


Bella menganggukkan kepalanya, “besok apa kita bisa bertemu lagi? Sepertinya kamu bisa menjadi teman aku,” ucapnya.


Kania menatap Zaki, dia lalu menganggukkan kepalanya, ‘apa aku benar-benar akan berteman dengan kekasih suamiku sendiri?’ gumamnya dalam hati.


“Baiklah, aku pergi dulu.” Bella lalu membuka pintu mobil itu dan keluar dari mobil itu.


Kania dan Zaki saling bertatapan, Zaki bisa melihat kesedihan di wajah wanita itu, “apa kamu tidak apa-apa?” tanyanya cemas.


“Zak, bisa kamu mengantar aku ke rumah Papa aku? aku ingin sekali menemui Papa,” pinta Kania dengan senyuman palsunya.


“Kania, maafkan aku, aku...”


“Zak, aku tidak ingin membahas ini sekarang, karena aku sangat mengkhawatirkan Papa aku.” Kania lalu menatap keluar jendela, ‘bagaimana aku bisa baik-baik saja, rasanya begitu menyakitkan’ gumamnya dalam hati.


Kania mencoba untuk menahan air mata yang sudah memenuhi kedua sudut matanya. Dia mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri, untuk tetap kuat. Sejak awal pernikahan yang dia jalani adalah palsu, tidak ada cinta dalam pernikahan itu. Walaupun saat ini dia sudah mulai mencintai pria itu, tapi pria itu tidak mempunyai perasaan apapun padanya.


~oOo~


__ADS_1


__ADS_2