Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Kenapa kamu menangis?


__ADS_3

Veon sedang sibuk berkutat dengan Laptopnya, dia sama sekali tidak menyadari jika Kania ternyata sudah bangun dari tidurnya.


Kania saat ini tengah menajamkan tatapannya ke arah Veon, ‘apa sejak tadi dia berada di sana? Kenapa dia tidak membangunkan aku untuk makan malam?’


Kania menatap ke jam yang menempel pada dinding kamarnya, ‘astaga! Apa aku sudah tidur selama itu?’ wanita itu lalu mengusap perutnya yang terasa lapar. Dia lalu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu.


‘Lihatlah dia, dia bahkan sama sekali tidak peduli sama aku. apa aku sanggup memperlakukan dia dengan baik seperti apa yang zaki minta, sedangkan dia saja tidak peduli sama aku,’ gumam Kania dalam hati sebelum dirinya membuka pintu kamar itu dana keluar dari kamar itu.


Kania memanaskan makanan yang tadi dia masak, dia bisa saja menyuruh asisten rumah tangganya untuk menyiapkan makan malam untuknya, tapi dia tidak ingin merepotkan orang lain. Setelah beberapa menit makanan sudah kembali terhidang di atas meja makan.


Kania pun mulai menyantap makanan yang dia masak sendiri, “setelah apa yang aku lakukan untuk dia, dia sama sekali tidak menghargai usaha aku,” keluhnya sambil terus memasukkan satu suapan ke mulutnya.


Wanita itu tidak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang tengah menatap tajam ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Veon. Pria itu mendengar suara pintu terbuka, dan dia melihat Kania keluar dari kamar. Diam-diam Veon mengikuti Kania sampai di dapur, tapi dia tidak ikut masuk ke dalam dapur dan hanya berdiri sambil bersandar di dinding.


Saat Kania ingin meletakkan piring dan gelas kotor ke dalam wastafel, tiba-tiba lampu padam. Seketika wanita itu pun menjerit, “apa yang harus aku lakukan, aku takut gelap. Kenapa pakai acara mati lampu segala sih!”


Kania berjalan sambil meraba-raba, “Papa, Kania takut, Pa...”


Terdengar suara benda terjatuh, Kania tidak sengaja menjatuhkan gelas yang berada di atas meja makan. Wanita itu pun menjerit kesakitan karena tidak sengaja menginjak pecahan kaca gelas itu.


“Kenapa hidup aku sesial ini sih!” rutuknya.


Kania sangat terkejut saat tiba-tiba ada sosok yang berdiri tepat di depannya, hanya ada cahaya lilin yang dibawa orang itu dan Kania tidak bisa melihat wajah itu dengan jelas, apalagi keadaan kedua matanya yang sudah dipenuhi cairan bening semakin menambah buram penglihatannya.


Sosok itu adalah Veon, “apa kamu tidak apa-apa?” tanyanya.


“Em...” hanya deheman yang keluar dari mulut Kania saat dia tau veon lah yang tengah berdiri di depannya.


Veon mengarahkan lilin itu ke bawah, dia melihat begitu banyak pecahan kaca. Pria itu juga melihat ada bercak darah di lantai, “jangan sok kuat, jika kamu sebenarnya tengah kesakitan,” sindirnya saat dia melihat kaki Kania yang mengeluarkan darah.


Kania tidak mau berdebat dengan Veon dalam keadaan seperti itu, “kamu kenapa ada di sini?” tanyanya.


“Kenapa memangnya, apa aku tidak boleh ke dapur, ini kan rumah aku!” suara Veon tetap saja terdengar begitu dingin.


“Kalau begitu urus saja urusanmu sendiri, aku akan pergi dari sini.” Kania pun mulai melangkahkan kakinya, tapi rasanya begitu sakit saat kaki itu dia tapakkan ke lantai, “aw...” pekiknya.


Veon dengan sigap langsung menopang tubuh Kania yang hampir saja terjatuh, “apa begitu sulit untuk meminta bantuan aku!” serunya.


Kania mencoba melepaskan cengkraman tangan Veon dari pinggangnya, “aku tidak butuh bantuan kamu!” serunya yang tak kalah dingin.

__ADS_1


Veon mengepalkan tangannya, ‘wanita ini tidak akan pernah mau menyadari akan kelemahannya, dasar!’ umpatnya dalam hati.


Kania pun mencoba berjalan dengan perlahan-lahan, dia merutuki dirinya sendiri, ‘kenapa tadi aku tidak membawa ponsel sih! Kaki aku sakit sekali,’ rintihnya dalam hati.


Kania membulatkan kedua matanya saat tiba-tiba Veon membopong tubuhnya, “apa yang kamu lakukan! Turunkan aku!” teriaknya terkejut.


“Mau sampai kapan kamu jalan seperti itu, apa aku harus menunggu kamu, aku juga sangat lelah!”


“Apa aku menyuruh kamu untuk menungguku, tidak kan!”


Veon tidak menggubris apapun yang keluar dari mulut Kania, dia tetap membopong tubuh Kania sampai di dalam kamar. Pria itu lalu mendudukkan Kania di tepi ranjang, dia lalu meletakkan lilin di atas meja dan mengambil kotak P3K dari dalam laci meja dekat ranjang.


“Apa yang mau kamu lakukan?” Kania terkejut saat Veon mengangkat kakinya dan meletakkannya di atas paha pria itu.


“Kamu bisa diam tidak!” bentak Veon dan seketika membuat mulut Kania bungkam.


“Aw...sakit!” Kania memekik kesakitan sambil mencengkram kedua bahu Veon, tapi Veon tidak peduli dengan apa yang dilakukan Kania, meskipun cengkraman gadis itu begitu terasa sakit di kedua bahunya.


Setelah selesai membersihkan luka di kaki Kania, Veon lalu memberikan obat pada luka itu, setelah itu menutup luka itu dengan perban.


“Em...terima kasih.” Kania berucap saat Veon sudah beranjak berdiri dan memasukkan kembali kotak P3K itu ke dalam laci meja.


“Apa pergelangan tangan kamu masih sakit?”


“Mama yang memberitahu aku,” ucap Veon pelan.


‘Jadi dia tau kalau itu masakan aku, tapi kenapa dia sejak tadi diam saja. Apa dia sejak awal memang sengaja ingin mengerjai aku?’ gumam Kania dalam hati.


“Kenapa kamu membohongi aku? kenapa saat di kantor kamu bilang itu masakan Mama?” kini suara Veon kembali dingin, dia bahkan melipat kedua lengannya di dada.


“Karena kalau aku mengatakan itu makanan aku yang membuatnya, kamu pasti akan menolaknya. Bukankah kamu tidak suka dengan masakan aku? itu sebabnya aku berbohong jika itu masakan Mama.”


Veon menyunggingkan senyumannya, “apa kamu begitu berharap aku memakan masakan kamu dan memuji masakan kamu, hingga kamu sampai rela berbohong seperti itu?” sindirnya.


“Aku tidak butuh pujian dari kamu, aku juga tidak sudi masakan aku di makan sama kamu! Aku menyesal sudah membuatkan makan malam itu untuk kamu!” Kania lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana, ‘bodoh! Bodoh! Bodoh! Bisa-bisanya aku berharap dia akan menghargai usaha aku!”


Kania sudah tidak sanggup lagi menahan air mata yang sejak tadi sudah memenuhi kedua sudut matanya. Cairan bening itu mengalir membasahi kedua pipinya, bahkan membasahi bantal yang saat ini tengah dia pakai untuk alas kepalanya.


Veon menatap ke arah Kania yang tidur sambil memunggunginya, ‘berani-beraninya dia memunggungi ku seperti itu!’ umpatnya dalam hati.

__ADS_1


Veon lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Kania, dia merasakan getaran dari tubuh wanita itu, ‘apa dia sedang menangis? Apa sikap aku sudah keterlaluan?’


“Hai...” Veon menyentuh pundak Kania, dan dengan cepat Kania menepis tangan itu, “apa kamu menangis?” tanyanya kemudian.


Kania hanya diam, dia ingin menahan isak tangisnya, tapi rasa sakit yang dia rasakan saat ini bahkan lebih sakit dari rasa sakit di kakinya.


Veon yang merasa di acuhkan oleh Kania pun akhirnya memaksa Kania untuk menghadapnya. Pria itu terkejut saat melihat kedua mata Kania yang sembab dan memerah, bahkan cairan bening itu masih keluar dari kedua sudut mata Kania.


“Kenapa kamu menangis?”


Kania menatap tajam ke arah kedua mata Veon, “kenapa kamu sangat membenciku? Kenapa?” suaranya semakin meninggi di sela isak tangisnya.


“Apa aku butuh alasan untuk membencimu?”


Kania mengubah posisinya menjadi duduk bersila, Veon pun juga mengubah posisinya menjadi bersandar pada sandaran ranjang dengan kedua lengan yang dia lipat di dada.


“Aku sudah tidak sanggup hidup seperti ini, sampai kapan kamu akan terus menyiksaku?” Suara Kania semakin melemah saat isak tangisnya semakin pecah.


“Kapan aku menyiksamu? Bukankah selama ini aku tidak melarang kamu untuk melakukan apapun yang kamu mau? Aku juga tidak pernah melakukan kekerasan apapun sama kamu, jadi kenapa kamu bilang aku menyiksamu?” tanya Veon sambil mengernyitkan dahinya.


“Kamu!” Kania mengacungkan jari telunjuknya ke arah Veon, “sudah menyiksa bathin ku?” ucapnya dengan kedua mata sendunya.


“Diantara kita tidak ada perasaan apa-apa, lalu bagaimana bisa aku menyiksa bathin kamu?”


Kania sudah lelah, seharian ini dia sudah berperang dengan hati dan pikirannya, dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk berdebat dengan pria yang mengaku dirinya pintar tapi ternyata bodoh.


“Mulai sekarang aku tidak akan peduli lagi sama kamu, aku tidak sanggup melakukan apa yang Zaki minta sama aku, aku tidak sanggup.” Kania ingin kembali merebahkan tubuhnya, tapi Veon mencegahnya dengan mencengkram kedua bahunya.


“Apa yang Zaki minta sama kamu? Apa?” tanyanya dengan sorot mata yang tajam.


Kania tersenyum sinis, “apa kamu yakin ingin mengetahuinya?” tanyanya.


“Katakan!” seru Veon keras, cengkraman tangannya semakin kuat hingga membuat Kania meringis menahan sakit.


“Kenapa kamu diam? Aku bilang katakan! Apa yang Zaki minta sama kamu?”


Kania menepis kedua tangan Veon dari kedua bahunya, “apa kamu memang selalu sekasar ini dengan wanita! Apa kamu juga bersikap seperti ini dengan wanita itu?” tanyanya keras.


Veon membulatkan kedua matanya, “jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, wanita! Siapa yang kamu maksud?” tanyanya dengan dahi mengerut.

__ADS_1


~oOo~


 


__ADS_2