
“Lalu...” Alex menatap kedua mata Chelsea, “lalu apa maksud kamu?” tanyanya lagi.
“A—ku...”
Alex mengecup bibir Chelsea, “aku a...pa sayang?” pria itu terus menggoda istrinya.
“Lex, kenapa kamu mempermainkan aku seperti ini?” Chelsea mengerucutkan bibirnya.
Alex kembali mengecup bibir tipis itu, tapi sedikit lebih lama, dia sangat senang menggoda Chelsea, “mempermaikan kamu? Memangnya apa yang aku lakukan?” tanyanya lagi dengan senyuman di wajahnya.
Chelsea mendengus kesal, dia pun membalikkan tubuhnya dan membelakangi Alex, ‘sebel...sebel...sebel! kenapa sih dia menjadi tidak peka seperti itu? biasanya tanpa aku minta dia selalu melakukannya, tapi sekarang, apa aku yang harus memintanya, kan tidak mungkin, malu dong,’ gerutunya dalam hati.
Alex tersenyum, dia lalu memeluk Chelsea dari belakang. Dengan perlahan Alex mengecup ceruk leher Chelsea dan meninggalkan tanda merah di ceruk leher itu. Tubuh Chelsea seketika langsung membeku, apalagi saat tangan Alex mulai menyusup masuk ke dalam balik piyama yang dia pakai.
Tubuh Chelsea mulai menggeliat, desahan kenikmatan mulai keluar dari mulutnya, dan itu membuat gejolak di dalam tubuh Alex semakin menggebu.
“Sayang, apa aku boleh melakukannya sekarang? Apa aku boleh melanggar janji yang sudah kita sepakati?” bisik Alex di telinga Chelsea.
Chelsea menelan ludah, nafas hangat yang keluar dari lubang hidung Alex menyentuh pori-pori kulitnya, membuat tubuhnya mulai memanas. Wanita itu pun membalikkan tubuhnya menghadap Alex, dia melihat tatapan kedua mata Alex sudah dipenuhi oleh nafsu.
“Apa aku boleh melanggar janji yang sudah kita sepakati? Entah kenapa malam ini aku tidak bisa menahan diriku, tapi jika kamu tidak menginginkannya aku tidak akan melakukannya, aku akan mencoba untuk...”
Chelsea mengecup bibir Alex, dia lalu menganggukkan kepalanya. Kedua mata Alex membulat dengan sempurna, dia tidak menyangka Chelsea akan mengizinkannya untuk mengingkari janjinya.
“Apa kamu serius, sayang?” tanya Alex memastikan, dia tidak ingin itu hanyalah ilusi belaka.
“Aku serius. Mulai sekarang aku akan menjalankan semua kewajiban aku sebagai istri kamu, kamu berhak atas diriku dan juga tubuh ini, begitu juga sebaliknya, aku ingin kamu menjadi suami yang seutuhnya untukku, tubuh dan hati kamu hanya milikku.”
“Apa itu artinya kesepakatan diantara kita sudah berakhir?” Chelsea menganggukkan kepalanya.
Alex memeluk tubuh Chelsea dengan sangat erat dan memberikan ciuman bertubi-tubi pada bibir tipis itu, “terima kasih sayang, terima kasih karena telah mau menerimaku menjadi suami kamu yang seutuhnya. Aku janji, aku akan membuatmu bahagia, aku tidak akan pernah membiarkan kamu bersedih. Hati dan tubuh ini hanya milikmu, seutuhnya...selamanya.”
__ADS_1
Chelsea menganggukkan kepalanya, “maafkan aku, selama ini sikap aku ke kamu sudah sangat keterlaluan.”
Alex menggelengkan kepalanya, “itu bukan salah kamu, jadi kamu tidak perlu meminta maaf. Aku memang pantas mendapatkan semua itu.” pria itu lalu menyikap anak rambut yang Chelsea yang menutupi wajah cantik itu, “jadi sekarang aku boleh melakukannya?”
Chelsea menganggukkan kepalanya, “kenapa kamu masih terus menanyakan itu? apa perlu aku membuktikannya supaya kamu percaya?”
Alex mengecup kening Chelsea, “aku tidak akan mengizinkan kamu melakukannya, karena aku ingin kamu menikmatinya saja, aku akan membuatmu tidak akan pernah melupakan kejadian malam ini.”
Alex pun kini mulai menyatukan kembali bibirnya ke bibir tipis itu, mulai mengecapi dan merasakan rasa manis bibir tipis itu. Chelsea mulai melingkarkan kedua lengannya di leher Alex, saat pria itu mulai menindihnya, tangannya pun mulai melepaskan kancing piyama wanita itu satu persatu.
Alex benar-benar merasa dirinya seakan tengah dipenuhi oleh hasrat yang selama ini dia pendam dalam-dalam. Setiap melihat tubuh Chelsea, dia selalu ingin menyentuh, mengecup dan mencium bau harum vanila tubuh gadis itu. Tapi dia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk melakukan semua itu, dan memilih untuk memendamnya dalam-dalam.
Tapi malam ini, semua hasrat itu akan segera terlampiaskan. Desahan-desahan kenikmatan kini mulai terdengar di kamar itu, Alex dengan begitu agresif mengecupi setiap jengkal tubuh Chelsea, hingga membuat tubuh wanita itu menegang merasakan sensasi yang luar biasa. Rasa nikmat yang benar-benar dia rasakan dengan kesadaran penuh, dan menerima semua perlakukan Alex pada tubuhnya.
Disaat mereka sedang asyik menikmati dan memberikan kenikmatan satu sama lain, tiba-tiba ponsel Chelsea berbunyi. Tapi Alex maupun Chelsea sama sekali tidak menghiraukannya, mereka sedang asyik dengan pergumulan panas mereka. Tapi ponsel itu kembali berbunyi, hingga membuat Alex menghentikan aktivitasnya dan mengambil ponsel itu dari atas meja.
Alex melihat nama Mama tertera dalam layar pipih itu, “sayang, ini dari Mama.” Pria itu lalu memberikan ponsel itu kepada Chelsea.
Chelsea mengubah posisinya menjadi duduk, dia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, “halo, Ma,” sahutnya saat panggilan itu mulai tersambung.
Chelsea mendengar suara Mamanya yang terdengar begitu panik, “Ma, katakan sekarang, sebenarnya ada apa, kenapa suara Mama terdengar sangat panik seperti itu.” Chelsea bahkan tidak menghiraukan Alex yang sejak tadi terus menciumi ceruk lehernya.
“Kania, dia sepertinya mau melahirkan, sekarang kakak kamu dan Zaki sedang ada di luar kota. Mama sudah menghubungi kakak kamu, tapi dia tidak mungkin bisa sampai di rumah secepat itu. Apa kamu dan suami kamu bisa datang ke rumah sekarang? Kania begitu kesakitan, Mama tidak tahu harus berbuat apa. Papa kamu sedang sakit, Eca sedang pergi ke desanya untuk mengurus sesuatu, apa kamu bisa datang kesini, Mama mohon.”
“Mama tidak usah panik, sekarang juga Chelsea sama Alex akan segera kesana. Mama jaga Kania.” Chelsea lalu mengakhiri panggilan itu.
Alex mengambil ponsel itu dari tangan Chelsea, dia melihat wajah Chelsea yang terlihat begitu panik, “sayang, ada apa, apa terjadi sesuatu dengan kesehatan Papa?”
Chelsea menggelengkan kepalanya, dia sebenarnya tidak tega memberitahu Alex, dan membuat pria itu harus menahan diri lagi, “Lex, maafkan aku, tapi sepertinya kita harus menundanya lagi.”
Alex mengernyitkan dahinya, “menunda apa maksud kamu?”
__ADS_1
“Kita tidak bisa melakukan ini malam ini, karena Mama meminta kita untuk segera ke rumah utama. Kania sepertinya akan segera melahirkan, Kak Voen dan Zaki sedang ada di perjalanan tapi mereka belum tentu bisa sampai di rumah secepat itu.”
Alex membulatkan kedua matanya, “apa? Kania akan segera melahirkan? Lalu apa yang kamu tunggu, kita kesana sekarang.” Pria itu lalu beranjak dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian. Dia mengambilkan pakaian hangat untuk Chelsea dan juga dirinya sendiri.
“Lex, kamu tidak marah kan? Kamu tidak berpikiran kalau aku hanya mencari-cari alasan kan?”
Alex tersenyum, dia lalu memberikan pakaian yang dia ambil kepada Chelsea, “mana mungkin aku berpikiran seperti itu.” pria itu lalu mengecup kening Chelsea, “jangankan menahannya untuk malam ini, aku bahkan selama ini bisa menahannya lebih dari dua bulan.”
“Terima kasih, setelah urusan Kania selesai, aku janji akan melakukan kewajiban aku sebagai istri kamu.”
“Kita bicarakan itu nanti, sekarang Kania lebih penting.” Alex pun telah selesai memakai pakaiannya, “kamu bersiap-siaplah, aku akan menunggu di bawah.” Pria itu lalu mengecup kening istrinya, setelah itu membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Chelsea pun segera memakai pakaian yang diambilkan oleh Alex. Setelah selesai berpakaian, dia bergegas turun dari ranjang. Dia lalu mengambil tas selempangnya, dia masukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya itu. wanita itu pun bergegas keluar dari kamar dan menghampiri Alex yang sudah menunggunya di bawah.
Alex sedang berbicara dengan asisten rumah tangganya dan memberitahu wanita paruh baya itu, jika dirinya dan Chelsea akan pergi ke rumah orang tua Chelsea, setelah itu mereka pun bergegas keluar dari rumah. Dalam perjalanan menuju rumah utama, Alex bisa melihat dengan jelas kekhawatiran di wajah Chelsea.
Alex pun menggenggam tangan Chelsea dengan tangan salah satu tangannya, “jangan cemas, Kania pasti baik-baik saja.”
“Kenapa Kak Veon harus pergi disaat-saat seperti ini? Seharusnya kakak tahu kalau Kania akan segera melahirkan, tetapi kenapa dia harus pergi keluar kota? Zaki dan Eca juga, kenapa mereka sama sekali tidak bisa diandalkan!”
“Kemarin waktu aku datang ke kantor kakak kamu, aku sempat mendengar kalau salah satu kolega kakak kamu mengeluhkan tentang kinerja perusahaan kakak kamu, mungkin kakak kamu harus turun langsung untuk membereskan kekacauan itu.”
Alex mengecup punggung tangan Chelsea, “jangan menyalahkan kakak kamu, saat ini pasti dia juga sangat cemas seperti kamu saat ini.”
Chelsea menganggukkan kepalanya, “terima kasih ya, Lex, jika tidak ada kamu, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan.”
“Itulah gunanya seorang suami,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
~oOo~
__ADS_1