Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Alvaro Noel Sanjaya


__ADS_3

Siang itu Zaki membawa Vera dan juga Dion ke rumah sakit untuk menjenguk Kania dan juga cucu mereka. Saat Zaki memberitahu mereka tentang kelahiran cucu pertama mereka, Vera dan Dion terlihat sangat bahagia. Dion yang saat itu sedang tidak enak badan, bahkan seakan melupakan dengan rasa sakit yang dia rasakan.


Keinginannya selama ini untuk mendapatkan seorang pewaris, penerus keluarga Sanjaya akhirnya terwujud. Apalagi saat dia mendengar jika cucu pertamanya adalah laki-laki, itu membuatnya semakin ingin terus hidup, agar dia bisa melihat pertumbuhan cucunya.


“Sayang.” Vera lalu memeluk Kania yang baru saja selesai menyusui anaknya, “maafkan Mama ya sayang, karena Mama tidak bisa menemani kamu di saat kamu sangat membutuhkan dukungan.”


Kania tersenyum, “Ma, Mama sudah banyak membantu Kania saat di rumah, sebelum Chelsea dan Alex datang, jika tidak ada Mama, Kania tidak akan sanggup melewati semua itu.”


Vera tersenyum, dia lalu menatap cucu pertamanya yang saat ini tengah terlelap dalam pangkuan Kania, “cucu Mama ini sangat tampan, dia sama seperti Papanya,” ucapnya sambil mengusap pipi gembul cucunya.


“Ya kan Veon Papanya, Ma. Sudah tentu mirip Veon lah, tampan dan juga gagah perkasa,” ucap Veon dengan percaya diri.


“Apa Mama boleh menggendongnya?” Kania mengangguk kan kepalanya, Vera lalu mengambil bayi mungil itu dari pangkuan Kania, dia lalu mengecup kening dan kedua pipi gembul cucunya itu, “halo sayang, ini Nenek sayang, selamat datang ke dunia. Terima kasih kamu sudah mau hadir di keluarga kami,” imbuhnya.


Dion yang sedang mengobrol dengan Alex pun melangkahkan kakinya mendekati Vera, Veon dan juga Kania, “Ma, mana cucu Papa? Papa ingin melihat cucu Papa yang ganteng.”


Vera memperlihatkan bayi mungil itu kepada Dion, “lihatlah, Pa. cucu kita ini ternyata sama persis dengan Veon waktu masih bayi. Foto-foto Veon saat masih bayi pun masih Mama simpan.”


Dion mengecup kening cucunya, “benar kata Mama, cucu kita ini memang sangat mirip dengan Papanya.”


Alex dan Chelsea pun melangkahkan kakinya untuk mendekati keluarganya yang terlihat sangat bahagia.


“Sayang, kapan kamu akan menyusul kakak kamu?” tanya Vera sambil menatap Chelsea.


Alex memeluk Chelsea dari belakang, “doakan saja, Ma. Ini sedang dalam proses,” ucapnya hingga membuat wajah Chelsea merona.


“Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu sayang,” ucap Vera dengan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


“Apa Mama dan Papa bahagia? Keinginan Mama dan Papa sudah terkabul.”


Vera dan Dion tersenyum dan mengangguk bersamaan, “tentu Mama dan Papa sangat bahagia, akhirnya pewaris keluarga Sanjaya telah lahir ke dunia,” ucap Dion.


“Apa Papa akan berusaha untuk tetap bertahan dan terus berjuang untuk melawan penyakit Papa?” suara Chelsea mulai bergetar, dia tahu betul, yang memicu penyakit Papanya semakin parah adalah keras kepala kakaknya yang belum juga mau menikah dan memberikan cucu untuk keluarga Sanjaya.


Alex membalikkan tubuh Chelsea hingga menghadapnya, dia lalu menghapus air mata Chelsea yang sudah memenuhi kedua sudut matanya, “jangan menangis di hari kebahagiaan kakak kamu dan juga keluarga kamu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Chelsea menganggukkan kepalanya, “maafkan aku,” ucapnya lirih.


Dion menghela nafas panjang, dia lalu menatap wajah tampan cucunya, “sayang, kakek berjanji sama kamu, kakek akan terus berjuang untuk melawan penyakit kakek, karena kakek ingin melihatmu tubuh besar,” ucapnya lalu mengecup kening cucunya.


Chelsea, Veon dan Vera, begitu bahagia mendengar ucapan yang diucapkan Dion.


“Pa,” panggil Chelsea dan Veon bersamaan, “kami sayang sama Papa.” Chelsea dan Veon pun langsung memeluk Papanya, mereka saling meluapkan kebahagiaan yang tengah mereka rasakan saat ini.


**


“Kania belum tahu, Ma, Kania belum sempat menyiapkan nama, tapi tidak tahu kalau Kak Veon.”


Veon mengambil putranya dari gendongan Mamanya, “Veon sudah menyiapkan nama untuk anak Veon, namanya Alvaro Noel Sanjaya, yang artinya anak laki-laki yang memberikan kebahagian serta terang di hari kelahirannya.”


“Sayang, namanya sangat bagus, aku akan memanggil anak kita Noel. Noel ku yang tampan,” ucap Kania sambil mengusap pipi gembul putranya.


“Semoga anak kalian akan menjadi anak yang soleh, dan berbakti kepada kedua orang tuanya,”doa Dion.


“Terima kasih, Pa, atas doanya,” ucap Kania dan Veon secara bersamaan.

__ADS_1


“Veon, maafkan sikap Papa selama ini yang sudah terlalu kerasa sama kamu. Papa melakukan semua itu juga demi kamu sayang. Papa tidak ingin anak Papa tumbuh menjadi anak yang lemah,” ucap Dion sambil menatap Veon.


Veon menyerahkan putranya kepada Kania, dia lalu melangkahkan kakinya untuk memeluk Papanya. Veon sampai lupa, kapan terakhir kali dia memeluk Papanya itu. Sejak perseteruan antara Dion dan Veon, Veon sudah tidak pernah memeluk Papanya. Bukan karena dia sudah tidak menyayangi Papanya, tapi dia hanya tidak ingin Papa nya mengajaknya untuk berdebat.


"Maafin Veon juga, Pa. Selama ini Veon sudah membuat Papa dan Mama sedih."


"Papa berharap kamu bisa menjadi kepala rumah tangga dan sosok Ayah yang lebih baik dari Papa." Veon pun mengangguk kan kepalanya.


Mereka mendengar suara pintu terketuk sebelum pintu itu terbuka. Kania menarik kedua sudut bibirnya, saat melihat siapa yang muncul dari balik pintu itu. Papa Kania dan juga asisten rumah tangga Kania yang sudah merawat Kania selama ini.


“Papa, Bibi,” sapa Kania dengan senyuman di wajahnya.


Mereka pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar perawatan Kania. Kania tidak menyangka asisten rumah tangganya juga ikut menjenguknya. Mereka lalu menyapa keluarga Veon.


“Papa yang mengajak Bibi kesini, saat Papa memberitahu Bibi kalau kamu sudah melahirkan, Bibi menangis haru, dia ingin sekali bertemu denganmu dan melihat anak mu sayang,” jelas Pak Zaiz.


“Terima kasih ya, Bi. Terima kasih sudah mau menjenguk Kania dan juga anak Kania,” ucap Kania dengan senyuman di wajahnya.


“Bibi ikut bahagia, Non. Akhirnya Non Kania sudah menjadi seorang Ibu.” Wanita paruh baya itu begitu terharu, hingga dia tidak sanggup menahan air matanya yang sejak tadi sudah memenuhi kedua sudut matanya.


Kania meminta asisten keluarganya untuk mendekat. Wanita paruh baya itu pun mendekat, “Bi, lihatlah, anak Kania sangat tampan, dia sangat mirip dengan Papanya. Kami memberinya nama Alvaro Noel Sanjaya, kami akan memanggilnya Noel.”


“Non...” wanita paruh baya itu semakin terisak, “selamat ya, Non. Semoga Non dan keluarga kecil Non, selalu dilimpahi kebahagiaan,” imbuhnya.


Kania tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “terima kasih, Bi, atas doanya.”


Veon pun mengajak Papa dan Papa mertuanya untuk duduk di sofa. Setelah itu mereka saling mengobrol satu sama lain. Alex dan Zaki pun juga ikut bergabung bersama dengan mereka. Sedangkan para wanita, sedang mengelilingi Kania, mengajaknya untuk mengobrol.

__ADS_1


Kania bisa melihat dengan jelas, raut wajah kebahagiaan dari semua orang yang berada di ruangan itu, ‘terima kasih Ya Allah, terima kasih atas anugerah terindah yang telah Engkau berikan kepada keluarga hamba,’ doanya dalam hati.


~oOo~


__ADS_2