
“Kamu dari mana?” tanya Veon saat melihat Chelsea baru masuk ke dalam rumah dengan jalan mengendap-endap. Jam dinding menunjukkan pukul 21.00 malam.
Chelsea yang terkejut saat mendengar suara kakaknya pun menghentikan langkahnya, dia lalu membalikkan tubunya menatap kakaknya yang sudah berdiri di belakangnya.
“Apa kamu masih belum kapok terkena tamparan Mama?” Veon melipat kedua lengannya di dada.
“Tapi ini kan masih jam 21.00 malam, Kak. Aku tadi habis dari rumah Vika,” ucapnya berbohong. Chelsea tidak ingin kakaknya tau kalau dirinya habis menemui Alex dan melayani nafsu bejat pria itu.
“Apa kakak bisa memegang kata-kata kamu?”
Chelsea menganggukkan kepalanya, dia lalu melangkahkan kakinya menuju tangga dan mulai menapakinya satu persatu.
Flash back
Saat Chelsea keluar dari restoran saat bersama dengan Vika tiba-tiba Alex menelfonnya dan memintanya untuk datang ke rumahnya. Awalnya Chelsea ingin menolak permintaan Alex, karena dia tau kalau Alex hanya ingin memintanya untuk melayani nafsu bejatnya. Tapi Alex memberikan pesan ancaman kalau dirinya akan menyebar luaskan video dirinya sangat tengah beradegan panas di atas ranjang bersama dengan Alex. Dan mau tidak mau Chelsea mendatangi rumah Alex, karena dia tidak ingin mencoreng nama baik keluarganya.
Flash off
Veon yang hendak merebahkan tubuhnya di atas ranjang, mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, “masuk,” sahutnya.
Pintu kamar itu dengan perlahan mulai terbuka, Chelsea muncul dari balik pintu itu, “apa aku menganggu kakak?” tanyanya.
“Masuklah.” Veon bangun dan turun dari ranjang, dia lalu melangkahkan kakinya menuju sofa.
“Kamu mau bicara apa?” tanya Veon sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
Chelsea duduk di samping kakaknya, “aku tadi mendengar dari Mama dan Papa, katanya kakak akan menikah,” ucapnya.
Veon membulatkan kedua matanya, “kapan kamu mendengar itu?” tanyanya terkejut.
“Tadi waktu aku mengambil minum di dapur, aku mendengar pembicaraan Papa dan Mama. Sepertinya Mama dan Papa akan menjodohkan kakak.”
__ADS_1
Veon mencengkeram erat kedua lengan Chelsea, “kamu tidak bercandakan?” tanyanya memastikan.
Chelsea merintih kesakitan, Veon lalu melepaskan cengkeraman tangannya, “untuk apa aku bercanda, makanya aku bertanya sama kakak, bukannya kakak tidak ingin menikah sebelum kakak berusia 30 tahun?” tanyanya.
Veon beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Chelsea mengernyitkan dahinya, “apa kakak benar-benar tidak tau?” gadis itu lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar kakaknya.
***
Saat ini Veon tengah berdiri di depan kedua orangtuanya yang nampak bingung melihat raut wajah putranya yang nampak begitu kesal.
“Ada apa sayang? Apa kamu sedang ada masalah?” tanya Vera cemas.
“Apa yang sedang Mama dan Papa rencanakan?” tanya Veon dengan sorot mata yang tajam.
Vera dan Dion mengernyitkan dahinya, “maksud kamu apa?” tanya Dion bingung.
“Apa benar Papa dan Mama ingin menjodohkan Veon?”
“Veon tidak mau di jodohkan,” tolak Veon langsung.
“Tapi hanya itu jalan satu-satunya agar kamu mau menikah. Papa hanya ingin melihat kamu menikah,” ucap Dion.
“Tapi tidak harus dengan perjodohan, Pa!” seru Veon.
“Lalu dengan cara apa lagi agar kamu mau menikah? Sedangkan selama ini kamu tidak pernah memperkenalkan teman wanita mu kepada Mama dan Papa,” ucap Dion.
“Beri Veon waktu, Veon akan membawa calon istri Veon untuk bertemu Mama dan Papa,” ucap Veon pelan.
Kedua mata Vera dan Dion membulat dengan sempurna, dia tidak menyangka putranya akan merubah keputusannya secepat ini.
“Tapi...apa pun pilihan Veon, Mama dan Papa harus menyetujuinya, jika Mama dan Papa menolaknya, maka Veon tidak akan pernah menikah,” imbuh Veon dengan nada serius.
__ADS_1
“Kamu tenang saja, Mama dan Papa akan menyetujui siapa pun gadis itu, karena yang terpenting bagi kami, kamu mau menikah,” ucap Vera dengan senyuman di wajahnya.
Veon mengerucutkan bibirnya, dia lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar kedua orangtuanya. Veon masuk ke dalam kamar lalu menguncinya, dia lalu mengambil ponselnya dari atas meja. Pria itu ingin menghubungi asisten pribadinya untuk membicarakan rencana yang di usulkan oleh asisten pribadinya itu.
“Bagaimana?” tanyanya saat panggilan itu sudah tersambung.
“Pak Zaiz sudah setuju, dia ingin mengajak ketemuan besok siang.”
“Bagus, kamu atur saja semuanya, seperti biasa, bawa dia ke rumah kamu, nanti kita bicarakan rencana selanjutnya.”
“Baik, tuan. Tapi kenapa tuan menelfon saya, apa kedua orang tua tuan terus mendesak tuan untuk segera menikah?” tanya Zaki penasaran.
“Kamu tidak perlu tau!” Veon lalu mengakhiri panggilan. Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja, dia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Veon menatap langit-langit kamarnya, “semoga semuanya berjalan seperti rencana Zaki, dengan begitu Mama dan Papa tidak akan memaksa aku untuk menikah lagi,” ucapnya sambil tersenyum puas.
Sedangkan di tempat lain ada seorang wanita yang tengah menangis di dalam kamarnya, tentu saja wanita itu adalah Kania. Seorang wanita muda yang harus menjadi tumbal untuk membayar hutang-hutang keluarganya.
“Kenapa Papa tega melakukan ini sama aku? Kenapa!” teriak gadis itu. Suara isak tangis memenuhi ruangan kamar itu.
“Bekerja sebagai seorang pelayan, aku bahkan harus mengubur semua mimpi-mimpi aku selama ini. Bahkan wajah pria itu tidak bisa di percaya, sorot matanya yang begitu tajam. Sifat dinginnya, dan ke angkuhannya, apa aku akan sanggup bertahan bekerja di rumah pria itu? Apa lagi sebagai pelayannya, aku pun harus tinggal di rumahnya.”
Kania tampak tengah mondar-mandir di dalam kamarnya sambil meremas jemari-jemari tangannya yang nampak begitu mungil, “apa lebih baik aku kabur saja ya? Tapi kalau aku kabur, apa yang akan terjadi sama Papa? Apa pria itu akan membunuh Papa?” wanita itu teringat akan ancaman Zaki, bahkan ancaman itu masih terngiang jelas di telingannya.
Kania menggelengkan kepalanya, “tidak! Aku tidak akan pernah melarikan diri, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Papa. Hanya Papa yang aku miliki di dunia ini, aku rela merelakan semuanya untuk membuat Papa bahagia, meskipun aku harus menjadi pelayan pria itu seumur hidup aku,” ucapnya mantap.
Kania berjalan menuju ranjangnya, dia lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Gadis itu menatap koper yang berada tepat di depan lemari pakaiannya. Koper itu berisi semua pakaiannya yang telah dia kemas beberapa waktu yang lalu saat dirinya menyetujui permintaan papanya.
Kania menghela nafas panjang, “selamat tinggal mimpi-mimpi indah ku, selamat datang mimpi-mimpi buruk ku,” ucapnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Gadis itu sama sekali tidak bisa memulai tidurnya, entah mengapa dia selalu terbayang wajah pria yang telah merengut kebebasannya dengan paksa, “walau aku bekerja sebagai pelayannya, aku tidak akan diam saja kalau dia mau berbuat macam-macam sama aku. Aku akan tetap mempertahan kan harga diri ku,” ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
~oOo~