
Pak Zaiz dan Kania kini sudah berada di rumah Zaki. Wanita itu mengernyitkan dahinya saat melihat rumah yang dia kira rumah Veon, katanya orang kaya, tapi kenapa rumahnya seperti ini, pikirnya sambil tersenyum sinis.
Zaki meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman untuk tamu penting tuan nya itu.
“Di mana Tuan Veon? Kenapa dia belum datang ke sini?” tanya Pak Zaiz heran. Jika ini rumahnya, lalu kenapa dia tidak ada di rumah, selain itu rumah itu tidak seperti yang ada di pikirannya.
“Tuan masih dalam perjalanan, sebentar lagi beliau akan sampai. Apa kalian ingin berubah pikiran?” tanya Zaki dengan sorot mata yang tajam.
Dengan cepat pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya, “mana saya berani mempermainkan Tuan Veon,” ucapnya sedikit ketakutan. Wajah Zaki lebih terlihat menyeramkan ketimbang wajah tuan nya.
“Anda masih sayang nyawa ternyata,” ucap Zaki sambil menyunggingkan senyumannya.
Terdengar suara pintu di ketuk, Zaki beranjak dari duduknya untuk membuka pintu, dia tau siapa yang datang ke rumahnya.
“Apa mereka sudah datang?” tanya Veon saat pintu terbuka dengan sepenuhnya, pemuda itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah asisten pribadinya itu.
Zaki mengikuti Veon dari belakang, “sudah dari tadi, tuan,” jawabnya.
Pak Zaiz dan Kania beranjak dari duduknya saat melihat Veon dan Zaki berjalan ke arahnya. Veon menatap Kania yang tengah menundukkan wajahnya, dia lalu mendudukkan tubuhnya di depan gadis itu. Sedangkan Zaki duduk di depan Pak Zaiz.
“Apa anda menerima tawaran saya?” tanya Veon sambil melipat kedua lengannya di dada.
“Saya menerima tawaran anda, tapi apa jaminan yang akan saya terima?” tanya pria paruh baya itu.
Veon tertawa sarkas, hingga membuat gadis yang duduk di depannya mendongakkan wajahnya sambil mengernyitkan dahinya, kenapa dia malahan tertawa seperti itu? Pikirnya.
“Zaki, apa kamu belum memberi tahu mereka?” tanya Veon dengan menatap ke arah pria paruh baya yang terlihat sedikit ketakutan.
“Sudah tuan, tapi belum semuanya.”
“Sekarang jelaskan sama mereka, apa yang akan mereka dapatkan dari penawaran ini.”
Zaki mengangguk mengerti, dia lalu mengambil dokumen yang sudah berada di atas meja sejak tadi. Zaki lalu memberikan dokumen itu kepada Pak Zaiz, “semuanya sudah tertulis di sini,” ucapnya
__ADS_1
Pria paruh itu menerima dokumen itu, dia lalu membaca isi dokumen itu. Kedua matanya seketika lalu membulat dengan sempurna saat membaca tulisan yang tercetak di dokumen itu, “tapi kenapa saya tidak boleh menemui putri saya?” tanyanya terkejut.
Kania yang mendengar ucapan papanya seketika juga membulatkan kedua matanya, “apa!” serunya.
“Bukannya anda sudah menukar putri anda untuk melunasi hutang-hutang anda, selain itu anda juga menerima sejumlah uang untuk membangun kembali usaha anda yang hampir gulung tikar itu,” ucap Zaki dengan sorot mata yang tajam.
“Tapi ini tidak adil, hanya aku yang Papa miliki, tapi kenapa anda melarang Papa untuk menemui aku!” seru Kania tidak terima dengan isi dokumen itu.
“Aku tidak akan memaksa jika Papa kamu menolaknya, tapi perjanjian itu otomatis akan batal,” ucap Veon santai.
Pak Zaiz sejenak terdiam, dia melihat dengan seksama nominal yang akan dia dapatkan. Dengan uang itu dia bisa membangun kembali usahanya yang sudah hampir bangkrut, dengan sangat berat hati pria paruh baya itu akhirnya menganggukkan kepalanya tanda dia menyetujui isi surat perjanjian itu.
Kania mengepalkan kedua tangannya, dia menatap wajah Veon yang kini tengah menyungingkan senyumannya. Zaki memberikan pena kepada pria paruh baya itu untuk menanda tangani surat perjanjian itu. Pria paruh baya itu pun menandatangi surat perjanjian itu.
Kania yang kini tengah menahan tangisannya hanya bisa diam membisu, dia tidak mungkin membangkang dengan keputusan yang sudah papanya ambil.
Zaki mengambil dokumen itu, dia lalu mengambil cek dari saku celananya dan memberikannya kepada pria paruh baya itu, “sekarang urusan kita sudah selesai, anda bisa pergi dari sini,” usirnya.
Pak Zaiz melepaskan genggaman tangan putrinya, “maafkan Papa sayang, bekerjalah dengan baik dan turuti semua perintah majikan kamu,” ucapnya lalu melangkah pergi.
Pria paruh baya itu terus melangkah dan tidak memperdulikan teriakan dan tangisan gadis itu. Zaki sebenarnya tidak tega melihat Kania menangis, tapi apalah daya dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Veon beranjak dari duduknya, dia lalu memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya, “kamu urus dia, bawa dia ke rumah pribadi aku,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menjauh.
Kania mengernyitkan dahinya, “kamu mau membawa aku ke mana? Bukankah ini rumah kamu!” teriaknya.
Zaki membulatkan kedua matanya saat mendengar Kania berani berteriak kepada tuan nya. Veon menghentikan langkahnya, dia lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap gadis itu, “aku akan menjual mu, kenapa? Apa kamu ingin protes?” tanyanya sambil berjalan mendekati gadis itu.
“Kenapa kamu ingin menjual ku, bukannya kamu ingin menjadikan aku pelayan kamu?” Kania berbicara dengan nada tinggi.
“Tolong jaga ucapan kamu!” seru Zaki dengan sorot mata yang tajam.
Veon tertawa sarkas, baru pertama kali ini ada seorang wanita yang berani berbicara keras kepadanya, “bukankah lebih menguntungkan jika aku menjualmu? Memang apa yang bisa kamu lakukan untuk ku?” tanyanya sambil mencengkeram dagu gadis itu.
__ADS_1
Tubuh Kania mulai gemetar, dia ketakutan saat sorot mata tajam itu menatapnya dengan jarak yang begitu dekat, “a—aku akan berusaha menjadi pelayan yang patuh, tapi aku mohon jangan jual aku,” pintanya.
Veon melepaskan cengkeraman tangannya dari dagu gadis itu, “ok...aku akan lihat, seberapa patuhnya kamu. Sekarang bawa koper kamu dan ikuti aku, asal kamu tau, ini bukan rumah aku,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya.
Kania mengernyitkan dahinya, “lalu ini rumah siapa?” tanyanya.
“Ini rumah ku, lebih baik kamu menjaga sikap kamu jika sedang bersama tuan Veon, kalau kamu masih sayang sama nyawa kamu,” ucap Zaki dengan sorot mata yang tajam.
“Kenapa dia terlihat lebih kejam dari pada tuan nya,” gerutu Kania. Wanita itu lalu menarik kopernya dan mulai mengikuti Veon yang sudah terlebih dulu berjalan keluar rumah. Zaki mengikuti mereka dari belakang.
***
Kania terkagum-kagum melihat rumah mewah yang baru saja dia masuki, kedua matanya mengedar keseluruh penjuru ruangan itu.
“Zaki, antar dia ke kamarnya,” pinta Veon sebelum dirinya menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
“Baik, tuan.”
Zaki meminta Kania untuk mengikutinya, pria itu membawa wanita itu ke sebuah kamar yang terlihat nampak mewah. Kania mengernyitkan dahinya, kenapa kamar aku sebagus ini, bukannya aku hanya pelayan di rumah ini? Pikirnya.
Zaki yang sudah tau apa makna dari raut wajah wanita itu pun mulai berucap sebelum wanita itu bertanya kepadanya, “jangan banyak bertanya, ingat kamu hanya perlu menuruti perintah tuan Veon,” ucapnya mengingatkan.
“Apa kamu juga akan tinggal di rumah ini?” tanya Kania memberanikan diri.
“Tidak, hanya kamu dan tuan Veon yang tinggal di sini.”
Kedua mata Kania membulat dengan sempurna, “apa! Hanya kami berdua yang tinggal di rumah sebesar ini!” serunya terkejut. Kania mulai sedikit merasa takut, dia takut jika tiba-tiba pria itu akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
Zaki menjitak kening Kania, hingga membuat gadis itu meringis kesakitan, ‘buang pikiran kotor dari pikiran kamu, karena tuan Veon tidak mungkin tertarik dengan gadis kecil seperti kamu,” ledek Zaki lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Kania mengernyitkan dahinya, ‘apa dia mempunyai mata bathin ya, kenapa dia selalu bisa membaca pikiran aku?’ gumamnya dalam hati.
~oOo~
__ADS_1