Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Hanya tinggal angan


__ADS_3

“Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud kamu, wanita? Siapa yang kamu maksud?”


Kania hanya diam, untuk apa dirinya mencampuri urusan orang lain, toh dirinya juga tidak mengenal wanita itu.


“Tanya saja pada diri kamu sendiri, kamu tau siapa yang aku maksud.” Kania lagi beranjak turun dari ranjang, “aw...” pekiknya saat kakinya mulai dilangkahkan.


Veon beranjak turun dari ranjang, “apa kamu ingin luka kamu semakin parah, hah!” bentaknya sambil memegang kedua pundak Kania.


“Aku tidak butuh bantuan kamu!” Kania lalu menurunkan kedua tangan veon dari bahunya, dia lalu dengan langkah yang tertatih berjalan menuju sofa.


Veon hanya diam sambil melihat apa yang Kania lakukan. Tiba-tiba lampu kamar itu kembali menyala. Veon lalu memadamkan lilin yang tadi dia letakkan dia atas meja.


‘Kenapa dia tidur di sofa? Apa sebegitu tidak inginnya dia tidur seranjang denganku?’ gumam Veon dalam hati.


Kania tidur di sofa sambil membelakangi Veon. Untung sofa itu sangat besar dan lebar, sehingga Kania tidak begitu susah untuk bergerak. Veon tetap tidak bergeming dari tempatnya, dia terus menatap ke arah Kania. Dengan perlahan pria itu melangkahkan kakinya mendekat wanita itu.


“Kamu yakin ingin tidur disini?” tanyanya dengan nada dingin.


“Kamu tidak perlu peduli aku mau tidur di mana.”


“Jika itu mau kamu, aku tidak akan melarang kamu, tapi...”


Mendengar kata tapi yang keluar dari mulut Veon, membuat Kania mengubah posisinya menjadi menghadap Veon. Wanita itu menatap tajam ke arah pria itu.


“Tapi jangan harap kamu bisa tidur di ranjang itu lagi setelah kamu memutuskan untuk tidur di sofa itu. Dan jika Mama tau kamu tidur di sofa, aku hanya tinggal bilang jika itu keinginan kamu, dan bukan aku yang menyuruhmu.” Veon berbicara dengan melipat kedua lengannya di dada.


Kania membulatkan kedua matanya, dia lalu mengubah posisinya menjadi duduk, “apa sekarang kamu mengancamku?” tanyanya.


“Aku tidak mengancammu, tapi aku hanya memberimu dua pilihan. Kamu lebih memilih tidur di sofa itu untuk selamanya atau kembali tidur bersama denganku di ranjang.”


Kania tertawa, “apa sekarang kamu tidak bisa tidur jika tidak ada aku?” tanyanya.


Veon menelan ludah, ‘mana mungkin aku seperti itu.’ “walaupun kamu tidur di sofa, aku masih bisa tidur dengan nyenyak. Aku tidak peduli kamu mau tidur di mana, terserah!” serunya lalu kembali berjalan menuju ranjang.


Kania tersenyum, ‘lihatlah dia, apa sekarang dia tidak bisa tidur tanpa aku?’


Veon duduk di tepi ranjang, “yakin kamu tidak ingin tidur di ranjang ini lagi?” tanyanya dengan nada dingin.


“Jika kamu memohon sama aku, maka aku akan pertimbangkan untuk tidur di ranjang itu lagi.”


Veon mencebikkan bibir, “untuk apa aku memohon sama kamu, jika kamu tidak ingin tidur di sini lagi juga tidak apa-apa, aku bisa tidur di ranjang ini dengan leluasa.” Pria itu lalu merebahkan tubuhnya di ranjang itu, “sekarang ranjang ini sepenuhnya milikku,” ucapnya sambil tidur terlentang.

__ADS_1


“Apa-apaan dia, apa dia akan benar-benar menguasai ranjang itu?” Kania menggelengkan kepalanya, “tidak! Tidak! Aku tidak mau selamanya tidur di sofa.”


Kania pun beranjak dari duduknya, dengan tertatih dia akhirnya melangkahkan kakinya menuju ranjang, “minggir, aku mau tidur!” serunya sambil menggeser tubuh Veon yang memenuhi ranjang itu.


Tapi tubuh Veon tidak bergeming dan tetap pada posisinya, “bukannya kamu ingin tidur di sofa, lalu kenapa kamu kembali ingin tidur di sini?” tanyanya dengan menyunggingkan senyumannya.


“Aku sangat mengantuk, aku tidak ingin berdebat denganmu.”


“Aku tidak akan mengizinkan kamu untuk tidur di ranjang ini.” Veon lalu merentangkan kedua kaki dan tangannya hingga memenuhi ranjang itu.


“Sebenarnya apa mau kamu, bukankah kamu tadi menyuruhku untuk tidur di ranjang, tapi kenapa sekarang kamu melarangku?” tanya Kania kesal.


“Aku tidak menyuruhmu, aku hanya memberimu...”


“Pilihankan? Maka aku memilih untuk tidur di ranjang sama kamu,” ucap Kania memotong ucapan Veon.


“Memohonlah padaku, katakan kamu tidak bisa tidur tanpa aku.”


Kania membulatkan kedua matanya, “tidak!” tolaknya langsung.


“Kalau begitu kembalilah tidur di sofa.” Veon lalu memejamkan kedua matanya tanpa mengubah posisinya.


‘Brengsek! Sebenarnya apa sih maunya, apa dia ingin mengerjai aku lagi? Tapi jika aku tidak melakukan apa yang dia minta, aku tidak akan bisa tidur di ranjang itu lagi,’ gumam Kania dalam hati.


Veon tersenyum, “kenapa kamu begitu ingin tidur di ranjang ini?” tanyanya sambil membuka kedua matanya, dia tatap wajah Kania yang masih menunduk.


“Karena...aku...aku tidak bisa tidur jika tidak ada kamu.” Kania berbicara dengan mengepalkan kedua tangannya.


Veon tertawa puas, “baiklah, naiklah.” Pria itu lalu menggeser tubuhnya dan membiarkan Kania tidur di sampingnya, “jangan tidur sambil memunggungiku!” serunya saat melihat Kania ingin memunggunginya.


Kania pun akhirnya tidur sambil menghadap ke arah Veon. Wanita itu memang memejamkan kedua matanya, tapi dia sama sekali tidak bisa tidur, ‘apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku menuruti apa yang dia minta, bukankah aku sedang marah dengannya?’


Kania membuka kedua matanya secara perlahan, kedua mata itu pun bertemu tatap dengan kedua mata Veon, “k—kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanyanya gugup. Wanita itu tidak bisa mengartikan tatapan mata Veon yang terlihat begitu tajam dan dingin.


“Kamu sendiri kenapa belum tidur, bukannya tadi kamu bilang kamu sudah mengantuk?” Veon berbicara dengan nada biasa.


“Aku tidak bisa tidur.”


“Kenapa? Apa kamu ingin aku peluk?” goda Veon dengan menyunggingkan senyuman.


Kedua mata Kania membulat, “awas saja kalau kamu berani memelukku!” ancamnya.

__ADS_1


“Kenapa aku harus takut dengan ancaman kamu.” Veon meletakkan tangannya di pinggang Kania, hingga membuat wanita itu semakin membulatkan kedua matanya, “aku berhak atas diri kamu, apa kamu lupa jika aku ini suamimu,” imbuhnya dengan senyuman sinisnya.


Tubuh Kania seakan membeku saat Veon menarik tubuhnya untuk semakin mendekat, “t—tapi selama ini kamu tidak pernah menganggap aku sebagai istri kamu,” ucapnya gugup. Saat ini jantungnya berdetak dengan sangat cepat, hatinya semakin berdesir.


“Memangnya kenapa? Itu tidak akan mengubah apapun, kita sudah menikah, dan aku berhak atas dirimu.” Tatapan mata Veon kini dia arahkan ke bibir tipis Kania, setelah ciuman mereka waktu itu, entah kenapa Veon ingin kembali merasakan bibir tipis itu.


“Jika malam ini aku menginginkan kamu, maka kamu tidak berhak untuk menolaknya.” Veon menatap kedua mata Kania secara bergantian, “karena kewajiban seorang istri adalah melayani suaminya,” imbuhnya.


Kania menelan ludah, “tapi kamu tidak mencintaiku, dan kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu,” ucapnya takut, tubuhnya pun mulai gemetar. Dia belum siap jika Veon menginginkan dirinya malam ini.


“Untuk melakukan itu aku tidak butuh cinta, karena sekarang kamu adalah istriku yang SAH.” Veon sudah tidak bisa menahan dirinya untuk membenamkan bibirnya ke bibir tipis itu, rasanya bibir itu bagaikan makanan terlezat yang sangat ingin dia cicipi kelezatannya.


Kania membulatkan kedua matanya saat Veon benar-benar membenamkan bibirnya di bibir tipisnya. Tubuh Kania membeku, dia seakan tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dia sama sekali tidak bisa menolaknya, ‘apa malam ini aku akan benar-benar menyerahkan milikku yang paling berharga?’


Kania tidak sanggup untuk memejamkan kedua matanya, bahkan saat ini Veon dengan sangat rakus mengecapi dan menikmati bibirnya. Nafas nya seakan sesak, tapi dia tidak berani untuk mengakhiri ciuman panas itu.


Kini Veon mulai menindih tubuh Kania, ciuman itu pun mulai beralih ke leher jenjang Kania, bahkan Kania bisa merasakan hembusan nafas hangat yang keluar dari lubang hidung pria itu yang menyentuh pori-pori kulitnya. Kania sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mendesah, tapi usahanya sia-sia saat tangan Veon mulai bergerilya memasuki kaos yang dia pakai.


“Jangan lakukan itu, aku mohon.” Kania merasa sangat takut, takut dirinya tidak akan sanggup untuk mengendalikan gejolak dalam dirinya yang saat ini mulai menggebu-gebu dan meminta lebih dari itu.


Veon mendongakkan wajahnya, “aku akan tetap melakukannya, aku tidak peduli meskipun kamu tidak menginginkannya,” ucapnya dengan menyungingkan senyumannya.


Kania semakin dia buat melayang oleh apa yang Veon lakukan pada tubuhnya, bahkan kaos yang dia pakai kini sudah lolos dari tubuhnya. Veon membulatkan kedua matanya saat melihat dua aset berharga Kania kini tepat berada di depan kedua matanya meskipun masih tertutup oleh penutupnya. Tapi penutup itu seakan tidak muat untuk menampung dua aset itu yang sudah membusung dan menyembul.


“Lihatlah, tubuhmu bahkan tidak menolak sentuhan-sentuhan tanganku.” Veon menatap kedua mata Kania yang terpenjam, “apa kamu yakin ingin aku menghentikan ini? Sedangkan tubuhmu menginginkan lebih dari ini,” imbuhnya.


Veon kini mulai melucuti semua pakaian yang Kania kenakan saat itu, begitu juga dengan pakaian yang dia pakai. Kania tidak menolak dan juga menerima perlakuannya, tapi Veon yang sudah di selimuti oleh nafsu tidak memperdulikan semua itu.


Desahan-desahan kenikmatan itu mulai terdengar dari bibir tipis itu, lenguhan panjang pun telah lolos dari mulut Kania. Kania bahkan merutuki dirinya sendiri, kenapa dia sama sekali tidak bisa menolak keinginan Veon, tapi malah menikmatinya, padahal dia tau jika pria itu sama sekali tidak pernah mencintainya.


Kania mencengkram erat lengan Veon hingga meninggalkan goresan-goresan bekas kuku-kukunya di lengan pria itu saat Veon mencoba melakukan penyatuan pertama mereka. Rasa sakit dan nyeri seakan mengoyak bagian tubuhnya membuatnya meneteskan air mata dan merintih kesakitan.


Veon tidak memperdulikan teriakan kesakitan Kania, dia terus mempercepat tempo gerakannya. Bahkan keringat kini mulai mengucur deras membasahi kedua tubuh polos itu. Veon merasa seperti terbakar di sekujur tubuhnya, mendidih dan rasanya ingin meledak, seiring cengkraman tangan Kania yang semakin kuat dia rasakan.


Veon mengerang tertahan, melepaskan gairah yang mendesak untuk ditumpahkan, sesaat tubuhnya lemas dan kemudian tumbang di samping Kania. Nafasnya terlihat masih menggebu-gebu, keringatnya masih bercucuran membasahi tubuhnya.


Kania menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, dia pun mulai menangis terisak, “apa sekarang kamu puas sudah melakukan ini sama aku?” air mata itu terus mengalir membasahi kedua pipinya. Tapi Veon hanya diam dengan kedua mata yang masih terpejam, mengatur nafasnya yang masih memburu.


Kini hal yang paling berharga dalam dirinya telah di renggut dengan paksa oleh suaminya sendiri. Pengalaman pertama yang dia bayangkan akan terasa begitu indah, kini hanya tinggal angan, karena Veon melakukan itu dengan sangat kasar, dia bahkan tidak memperdulikan dirinya yang tengah merintih menahan sakit saat penyatuan itu terjadi.


Kania mengubah posisinya menjadi memunggungi Veon, dia juga tidak mungkin menyesali semua itu karena semua itu sudah terjadi, dan itu juga kewajibannya sebagai seorang istri. Kania mulai menghapus air matanya, dengan perlahan dia mulai memejamkan kedua matanya, tubuhnya sangat lelah setelah pergulatan panas itu yang sangat menguras seluruh tenaganya.

__ADS_1


~oOo~


 


__ADS_2