
Bella mengepalkan kedua tangannya setelah berbicara dengan seseorang yang dia minta untuk menyelidiki tentang siapa istri Veon, “jadi selama ini Zaki dan Kania membohongi aku! ternyata Kania adalah istrinya Veon!” serunya emosi.
“Kania, lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan untuk merebut Veon kembali, aku tidak akan pernah melepaskan apa yang seharusnya menjadi milikku!”
Bella yang sudah mempunyai rencana, dia akhirnya menghubungi Kania, tak lama panggilan itu mulai tersambung, “hallo, Kania,” sahutnya.
Kania sangat terkejut saat mendapatkan telepon dari Bella, “em...ada apa ya kamu menelponku?” tanyanya.
“Aku lagi bad mood nie, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan. Sudah lama aku tidak keliling Jakarta.”
“Maaf, tapi hari ini aku tidak bisa,” tolak Kania.
Sialan! Umpat Bella dalam hati, “aku mohon, teman aku di sini hanya kamu, jadi teman aku jalan-jalan ya, sekali ini saja,” pinta Bella.
Kania menghela nafas panjang, “baiklah, lalu kita ketemuan dimana?” tanyanya.
“Dimana rumah kamu? biar aku menjemputmu.”
“Em...tidak usah, kita ketemuan di restoran saja, nanti aku kirim alamatnya.”
“Baiklah, aku tunggu.” Bella lalu mengakhiri panggilan itu, “Kania, aku akan membuat kamu pergi meninggalkan Veon, karena dia hanya pantas bersamaku,” ucapnya dengan menyungingkan senyumannya.
Kania telah mengirimkan alamat restoran tempat dimana mereka akan bertemu. Bella sudah bersiap-siap untuk menemui Kania, dia bahkan sudah memesan taksi sejak tadi. Bella masuk ke dalam taksi dan menyuruh supir taksi itu untuk mengantarkannya ke restoran yang ingin dituju.
Karena ada keperluan mendadak, hari itu Zaki tidak mengawasi gerak-gerik Bella, karena Zaki sedang mengawasi gerak-gerik Alex yang sangat mencurigakan. Veon kemarin memergoki Alex mondar-mandir di depan rumahnya, itu sebabnya Veon meminta Zaki untuk mengawasi gerak-gerik Alex.
Alex saat ini sedang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya, sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Yang ditunggu Alex ternyata Betrand dan juga Vika, mereka lalu masuk ke dalam rumah Alex.
“Siapa mereka?” Zaki baru saja mengambil foto Alex saat bersama dengan Vika dan juga Betrand, “Chelsea pasti tau siapa mereka.”
Zaki lalu mengirimkan foto itu kepada Chelsea, tapi pesan yang dia kirim belum dibaca oleh Chelsea, “mungkin dia sedang bekerja, medingan aku lapor sama Tuan Veon dulu.” pria itu lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Alex.
***
“Terima kasih ya, kamu mau sudah mau menemani aku makan siang. Aku juga ingin membagi kebahagiaan aku sama kamu.”
“Kenapa kamu tidak meminta kekasih kamu untuk menemani kamu makan siang.”
Bella tersenyum, “dia sekarang sedang sibuk untuk mengurus perceraiannya dengan istrinya,” ucapnya.
Kania membulatkan kedua matanya, mulutnya menganga, “a—pa maksud kamu?” tanyanya terkejut.
“Sebenarnya kekasih aku itu sudah menikah, tapi dia menikahi wanita itu karena terpaksa, karena orang tuanya selalu mendesaknya untuk segera menikah. Jadi dia tidak ada pilihan lain untuk menikahi gadis itu. Tapi sekarang aku sudah kembali, dan dia ingin segera menikah denganku. Aku setuju menikah dengannya, tapi dengan syarat dia harus menceraikan istrinya itu,” ucapnya dengan tersenyum sinis.
Bella bisa melihat kegelisahan di wajah Kania, ‘kamu bukan tandingan aku Kania, kamu masih gadis bau kencur, berani-beraninya kamu mau mengambil Veon dari aku, aku tidak akan membiarkan itu terjadi,’ gumamnya dalam hati.
“T—tapi kenapa kamu melakukan semua itu? Apa kamu tidak kasihan dengan istrinya itu, jika yang kamu katakan semua itu benar, wanita itu tidak salah apa-apa, dia hanya korban.”
__ADS_1
Bella tertawa, “untuk apa aku merasa kasihan pada wanita yang sudah merebut Veon dari aku? mereka bahkan menikah karena terpaksa, Veon pun tidak mencintainya, yang dia cintai adalah aku,” ucapnya.
‘Apa? jadi Veon sekarang sedang memikirkan perceraian kita, dia benar-benar akan meninggalkan aku?’ gumam Kania dalam hati.
Hati Kania seakan tertusuk benda tajam, sayatan nya terasa begitu sakit dan menyiksa. Wanita itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan, hanya Zaki yang bisa dia andalkan saat ini.
“Em...maaf, aku mau ke toilet sebentar.” Kania lalu beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Bella.
Bella tersenyum puas melihat raut kegelisahan di wajah Kania, “dengan ini, aku yakin Kania akan segera meninggalkan Veon,” ucapnya dengan menyungingkan senyumannya.
Kania masuk ke dalam salah satu toilet wanita, dia mendudukkan tubuhnya di closet. Wanita itu lalu mengambil ponselnya dari dalam tas selempang yang dia bawa, dia lalu menghubungi Zaki, “hallo, Zak,” sahutnya saat panggilan itu sudah tersambung.
“Ada apa kamu menelponku?”
“Sekarang kamu ada dimana? Apa kamu sedang bersama dengan suami aku?”
“Aku sedang mengurus sesuatu yang penting, ini sangat mendesak, Tuan Veon meminta aku untuk segera mengurusnya.”
Kania membulatkan kedua matanya, ‘jadi dia sudah meminta Zaki untuk mengurus semua itu? Tapi kenapa Zaki tidak memberitahu aku?’ gumamnya dalam hati.
“Kalau kamu mau bicara sama suami kamu, kenapa kamu tidak menelponnya?”
“Baiklah, aku akan menghubungi dia, maaf sudah mengganggu kamu.” Kania lalu mengakhiri panggilan itu.
Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya mengalir membasahi kedua pipinya, “jika itu keinginan kamu, aku akan pergi dari hidup kamu. Aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa di mata kamu, tapi kenapa kamu tega melakukan ini sama aku, kenapa?” teriaknya keras.
Kania menghapus air matanya, dia lalu beranjak dari duduknya, “aku tau semua ini pasti akan terjadi, tapi aku tidak sanggup untuk melihat wajahnya. Rasa sakit ini akan semakin terasa sakit, jadi lebih baik, aku segera pergi dari hidupnya,” ucapnya.
“Karena aku sedang bahagia, semua makanan ini aku yang traktir,” ucap Bella sambil menikmati makanannya.
Kania menepiskan senyumannya, “apa kamu benar-benar sangat bahagia telah menghancurkan rumah tangga orang lain?” tanyanya sambil mengaduk-aduk makanannya, entah mengapa selera makannya tiba-tiba hilang.
“Bukan aku yang menghancurkan rumah tangga dia, tapi dia yang telah mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku hanya mengambil milikku, itu saja,” ucap Bella dengan santainya.
Kania meletakkan sendok yang dipegang ke atas piring, dia lalu beranjak dari duduknya, “terima kasih untuk makan siangnya, tapi aku masih ada urusan penting, maaf, aku harus pergi,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Bella.
Bella menatap kepergian Kania, dia terlihat sangat puas, rencananya berhasil. Dia yakin Kania akan benar-benar pergi dari kehidupan Veon.
Kania menatap keluar jendela, saat ini dia berada di dalam taksi. Tapi dia tidak tahu kemana arah tujuannya.
“Nona, kemana tujuan anda?” tanya supir taksi itu.
“Jalan saja terus saja, Pak.”
“Kita sudah satu jam mengelilingi kota Jakarta, tapi anda belum tahu kemana tujuan anda.”
Kania pun menyebutkan alamat sahabatnya, sahabat saat dia masih sekolah dulu. dalam perjalanan menuju rumah sahabatnya itu, Kania tidak henti-hentinya menangis, bahkan saat ini kedua matanya terlihat sangat sembab dan memerah.
Sesampainya di tempat tujuan, Kania keluar dari taksi itu. Wanita itu lalu melangkahkan kakinya menuju rumah sahabatnya itu. Kania menggerakkan salah satu tangannya untuk menekan tombol di dekat pintu itu. Tak berselang lama pintu itu pun terbuka.
__ADS_1
“Kania!” seru seorang gadis yang terlihat sangat terkejut saat melihat Kania berdiri di depan pintunya.
“Boleh aku masuk?”
Gadis itu menganggukkan kepalanya, dia lalu mengajak Kania untuk duduk di sofa ruang tamu. Gadis itu mengernyitkan dahinya saat melihat kedua mata Kania yang memerah dan sembab.
“Kania, apa kamu baru habis menangis?” tanyanya penasaran.
Kania lalu memeluk sahabatnya itu, dia kembali menumpahkan air matanya dalam dekapan sahabatnya itu. Sahabat Kania yang bernama Eca itu semakin di buat penasaran dengan Kania yang menangis sambil memeluknya.
“Kania, ceritakan semuanya sama aku, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Papa kamu memarahi kamu lagi?”
Ya..Eca belum mengetahui jika Kania sudah menikah, karena saat dia menikah, dia tidak mengundang sahabat-sahabatnya.
Kania melepaskan pelukannya, dia lalu menghapus air matanya, “Ca, apa aku boleh menginap disini? Kamu masih tinggal sendirian kan?” tanyanya.
Eca menganggukkan kepalanya, “aku akan senang jika kamu mau tidur disini, tapi aku harus tau kenapa kamu mau tidur disini, sedangkan rumah kamu lebih bagus dari rumah aku?” tanyanya penasaran.
“Aku di usir sama Papa, aku tidak mau tinggal sama Papa lagi,” ucap Kania berbohong.
Eca menggenggam tangan Kania, “jika kamu memang ingin tinggal disini, juga tidak apa-apa, tapi ya seperti ini kondisi rumah aku,” ucapnya dengan menepiskan senyumannya.
“Apa Mama kamu masih jarang pulang ke rumah?”
Eca menundukkan wajahnya, “Mama aku sudah meninggal 3 bulan yang lalu karena kecelakaan, sekarang aku benar-benar tinggal sendirian untuk selamanya,” ucapnya dengan menitihkan air mata.
Kania terlihat sangat terkejut, dia lalu memeluk sahabatnya itu, “maafkan aku, aku tidak tau kalau tante sudah tidak ada,” ucapnya sedih.
Eca menghapus air matanya, “aku memang sengaja tidak memberitahu kamu, karena kamu tau kan bagaimana sikap Mama ke aku, tapi meskipun begitu dia tetap Mama aku,” ucapnya.
‘Ca, maaf. Aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu, tapi jika waktunya sudah tepat, aku akan menceritakan semuanya sama kamu,’ gumamnya dalam hati.
“Apaa kamu sudah makan? Wajah kamu pucat gitu?”
Kania menggelengkan kepalanya, “aku sedang tidak nafsu makan,” ucapnya.
“Kalau begitu kamu harus istirahat, sepertinya kamu sedang banyak pikiran. Jika kamu ingin membagi masalah kamu, aku akan mendengarkannya, siapa tau itu bisa mengurangi beban pikiran kamu,” ucap Eca dengan senyuman di wajahnya.
“Jika waktunya sudah tepat, aku akan menceritakan semuanya, tapi tidak sekarang.”
Eca menganggukkan kepalanya, “aku siap kapan saja mendengarkan keluh kesah kamu,” ucapnya.
Eca lalu mengajak Kania ke dalam kamar, “ini kamar aku, kamu bisa tidur disini, nanti aku biar tidur di kamar Mama,” ucapnya.
“Maaf ya, aku sudah merepotkan kamu,” ucap Kania merasa tidak enak hati.
“Tenang saja kali, aku sudah banyak berhutang budi sama kamu, jadi sekarang giliran aku untuk membantu kamu.”
Kania tersenyum, “terima kasih,” ucapnya lalu memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1
~oOo~