
Setelah dari kantor Veon, Kania menyuruh Eca untuk pergi ke rumah Zaki. Veon memberitahunya jika Zaki saat ini ada di rumah. Veon sebenarnya juga tidak tega melihat kondisi Zaki saat ini, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Selama ini Zaki tidak pernah mengecewakannya, jadi Veon memberikan Zaki waktu untuk menata hidupnya kembali.
Eca saat ini sudah sampai di depan rumah Zaki. Rumah yang tidak begitu besar, tapi terlihat sangat indah dengan berbagai tanaman bunga yang tumbuh di tepi rumahnya, “apa semua bunga ini Kak Chelsea yang menanamnya? Karena Kak Zaki tidak mungkin bisa menanam bunga sebagus ini.”
Eca lalu menggerakkan tangannya untuk menekan bel yang berada di samping pintu rumah Zaki. Dan tak berselang lama pintu itu mulai terbuka.
Zaki terlihat sangat terkejut saat melihat Eca berdiri di depan pintu rumahnya, “darimana kamu tahu rumah aku?” setahu Zaki, dia tidak pernah memberitahu Eca tentang alamat rumahnya.
“Apa aku boleh masuk?” Eca tidak akan memberitahu Zaki jika Kania yang telah memberitahunya alamat rumah Zaki.
“Maaf, aku sedang tidak ingin diganggu.” Zaki lalu ingin menutup pintu, tapi Eca menahannya dengan salah satu tangannya.
“Ca, pulanglah, aku ingin sendiri.”
Eca menggelengkan kepalanya, “apa kamu tidak kasihan sama aku, jauh-jauh aku datang kesini, tapi kamu malah mengusirku,” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
“Siapa yang menyuruh kamu datang, itu kan keinginan kamu sendiri.” Zaki lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Itu karena aku peduli sama kamu, aku tahu kamu tidak menyukai aku, tapi kita kan bisa menjadi teman.” Eca lalu mendudukkan tubuhnya di sofa tanpa disuruh oleh sang pemilik rumah.
Zaki tidak memperdulikan Eca, semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan Chelsea, dan saat ini dia sangat mengantuk, “kalau kamu mau tetap disini terserah, aku mau melanjutkan tidurku.” Pria itu lalu melangkah menuju kamarnya.
“Aku akan tetap menunggu disini sampai Kak Zaki bangun!” teriak Eca keras.
Zaki menutup pintu kamarnya, dia lalu melangkahkan kakinya menuju ranjang dan mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Zaki berniat untuk menghubungi Kania, dia tahu jika Kania lah yang memberitahukan alamatnya kepada Eca.
“Halo,” sahut Zaki saat panggilan itu mulai tersambung.
“Ada apa kamu menelponku?” Kania tahu jika Zaki menelponnya pasti ada hubungannya dengan Eca, karena menurut prediksinya, saat ini Eca sudah sampai di rumah Zaki.
“Apa kamu yang memberitahu Eca alamat rumah aku? apa kamu juga yang...”
“Zak, apa kamu membenci Eca?” Kania memotong ucapan Zaki.
“Aku tidak membencinya, aku hanya tidak ingin dia berharap lebih, kamu tahu kan kalau aku...”
“Kalau kamu sangat mencintai Chelsea, tapi kamu juga harus ingat, Chelsea sudah menikah, dia tidak mungkin bisa kembali bersama denganmu lagi.”
Zaki menghela nafas kasar, “aku tidak peduli, aku akan tetap menunggunya, karena aku yakin, dia akan kembali bersamaku.” Pria itu lalu mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Zaki lalu melempar ponselnya hingga ponsel itu hancur, “kenapa tidak ada yang bisa mengerti perasaan aku saat ini.” Pria itu lalu meraup wajahnya kasar, “Chel, kenapa kamu tega sama aku, kenapa?”
**
Eca melihat jam di pergelangan tangannya, dia tidak menyangka jika dirinya sudah lama berada di rumah Zaki. Gadis itu beranjak dari duduknya, dia lalu melangkah kan kakinya menuju dapur. Eca berniat untuk membuatkan makan malam untuk Zaki. Meskipun dia tidak pandai memasak seperti Kania, tetapi selama dia tinggal dengan Kania, dia sudah mulai belajar memasak.
Eca membuka pintu lemari pendingin, dia ingin tahu bahan apa saja yang bisa dia masak, “apa Zaki selama ini tidak pernah memasak? Kenapa di dalam sini tidak ada apa-apa,” gerutunya.
Eca lalu melihat apa ada nasi di dalam rice cooker, ternyata nasinya masih ada banyak. Gadis itu berencana untuk membuat nasi goreng. Untung di dalam lemari pendingin tadi masih ada telur dan juga bumbu lainnya.
Setelah satu jam, akhirnya nasi goreng spesial buatan Eca sudah siap dihidangkan. Eca menaruh nasi goreng itu ke dalam dua piring, dan meletakkan di atas meja makan.
“Lebih baik aku membangunkan Kak Zaki dulu, lagipula dia sudah tidur terlalu lama.” Eca melangkahkan kakinya menuju kamar Zaki, dia lalu mengetuk pintu kamar Zaki setelah sampai di depan pintu kamar itu.
Setelah beberapa kali ketukan, akhirnya pintu itu terbuka, Zaki dengan tampang ciri khas baru bangun tidur menatap Eca dengan malas, “kenapa kamu masih disini?”
“Lebih baik sekarang kakak mandi, setelah itu makan malam, aku sudah membuatkan makan malam untuk kakak.”
“Ca, apa yang sebenarnya kamu inginkan!”
“Aku hanya ingin berteman dengan kakak, aku janji, aku tidak akan mengganggu kakak, jadi lebih baik kakak sekarang mandi.” Eca lalu mendorong tubuh Zaki kembali ke dalam kamar dan menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam kamar mandi. Walaupun malas, Zaki tetap melangkah menuju kamar mandi.
“Kak, meskipun aku tidak bisa menggantikan posisi Kak Chelsea di hati kakak, tapi aku tetap ingin berada di samping kakak, meskipun hanya menjadi teman.” Eca lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Zaki.
Eca mendudukkan Zaki di salah satu kursi meja makan, setelah itu dia memberikan nasi goreng spesial buatannya, “semoga kakak suka,” ucapnya sambil menaruh nasi goreng itu di depan Zaki.
“Ca, aku ingin ini yang terakhir kamu melakukan semua ini, apapun usaha kamu, aku tidak akan mengubah pendirianku.”
Eca mendudukkan tubuhnya di depan Zaki, “kakak jangan salah paham dulu, aku sudah menerima dengan ikhlas keputusan kakak, aku hanya ingin menjadi teman kakak saja. Bukankah kakak selama ini menganggap aku sebagai adik? Maka tetap perlakukan aku seperti itu, aku akan tetap menunggu sampai kakak benar-benar mau menerima aku,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
“Terserah kamu!” Zaki lalu mulai memakan nasi goreng buatan Eca, biasanya Zaki hanya membeli makanan di warung untuk dia makan, tapi sekarang Eca dengan tulus membuatkan makanan untuknya. Zaki akan menghargai niat baik Eca, tapi dia tetap tidak akan membuka hatinya untuk gadis itu.
***
Alex sejak tadi mondar-mandir di ruang tamu, dia sedang menunggu Chelsea yang sampai sekarang belum pulang ke rumah, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.
“Sebenarnya apa yang dilakukan Chelsea di luar sana? Kenapa dia setiap hari selalu pulang malam?”
Alex melihat pintu terbuka, dan Chelsea muncul dari balik pintu itu. Chelsea terkejut saat melihat Alex tengah berdiri sambil menatapnya, ‘tumben jam segini dia sudah pulang, biasanya dia kan lembur terus. Sekarang apa yang harus aku katakan, agar membuat Alex marah?’ gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Chelsea menutup pintu, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati Alex, “tumben kamu sudah ada di rumah? Biasanya kamu selalu lembur.”
Alex mencoba untuk menahan diri, dia tidak ingin terpancing emosi karena kelakukan Chelsea, “sayang, kamu darimana saja, ini kan sudah malam, aku takut kamu kenapa-napa di jalan.” Pria itu lalu memeluk istrinya, “lain kali kasih tahu aku kamu dimana, aku akan menjemputmu,” imbuhnya lalu melepaskan pelukannya.
Chelsea membulatkan kedua matanya melihat sikap Alex yang tetap tenang, “aku pergi dengan Vika, aku tidak sadar jika waktu sudah malam, kalau begitu aku mau mandi dulu.” wanita itu lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Alex.
Alex berniat untuk menyiapkan makan malam untuk Chelsea, karena dia tahu jika Chelsea belum makan malam. Pria itu membawa nampan yang berisi makanan dan juga segelas teh hangat, dia lalu masuk ke dalam kamar.
Chelsea yang sudah selesai mandi keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Alex yang melihat tubuh Chelsea yang hanya terbalut dengan handuk, hanya mampu menelan ludah. Dia sudah berjanji tidak akan menyentuh Chelsea hingga dia benar-benar sudah siap untuk melakukannya.
Chelsea memang sengaja ingin menguji seberapa kuat Alex menahan diri saat melihatnya seperti itu. Wanita itu melangkahkan kakinya mendekati Alex yang tengah berdiri mematung sambil menatapnya dalam.
“Lex, kamu kenapa?” tanya Chelsea sambil menepuk bahu Alex.
Alex mengerjapkan kedua matanya, “em...a—aku membawakan makan malam untukmu, aku tahu kamu belum makan,” ucapnya gugup.
Chelsea tersenyum, dia lalu mendudukkan tubuhnya di sofa, dia bahkan masih menggunakan handuk yang melilit tubuhnya, “aku mau kamu suapi aku makan,” pintanya.
Alex mencoba untuk menenangkan detak jantungnya yang terus berdegup kencang, dia juga mencoba menahan gejolak yang sudah mulai menguasai dirinya. Pria itu lalu mendudukkan tubuhnya di samping istrinya.
Alex menyuapi Chelsea dengan telaten, “apa yang kamu lakukan dengan Vika seharian ini?” tanyanya untuk mengalihkan pikiran liarnya saat melihat kulit mulus bahu Chelsea yang terpampang jelas di depan kedua matanya.
“Cuma nongkrong sama teman-teman Vika, aku tadi juga bertemu dengan wanita yang dulu pernah kamu bawa pulang ke rumah ini, dia sedang jalan dengan Om-Om.” Chelsea sengaja menekan ucapannya, dia ingin melihat apa reaksi Alex setelah mendengar ucapannya.
Alex hanya menepiskan senyumannya, dia tidak memperdulikan ucapan Chelsea, dia tahu jika Chelsea hanya ingin memancingnya, “apa kamu tidak merasa kedinginan?”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku merasa sangat gerah, aku bahkan ingin tidur dengan hanya menggunakan dalaman saja, apa kamu merasa keberatan?”
Alex menelan ludah, apa dia akan sanggup menahan diri saat melihat Chelsea tidur hanya dengan menggunakan pakaian dalamnya? “Chel, apa kamu ingin mengujiku?”
Chelsea menganggukkan kepalanya, “aku ingin melihat, apa Alex yang sudah terbiasa dengan sek bebasnya, akan sanggup menahan diri saat melihat tubuhku, meskipun kamu sudah pernah merasakannya.”
Alex hanya tersenyum, meskipun saat ini dia sangat sulit untuk menahan dirinya, tapi demi membuktikan pada Chelsea jika dirinya sudah berubah, dia akan mencoba untuk terus bertahan. Alex beranjak dari duduknya, dia berniat untuk membawa keluar sisa-sisa makanan Chelsea.
Setelah Alex keluar dari kamar, Chelsea merutuki dirinya sendiri, “kenapa tadi aku harus berbicara seperti itu? Sekarang apa yang harus aku lakukan, masa aku benar-benar akan tidur dengan pakaian dalam saja, gila apa! bisa-bisa aku jatuh sakit nanti.”
Mau tidak mau Chelsea harus melakukan apa yang sudah dia katakan, dia tidak ingin Alex beranggapan jika dirinya tadi hanya mengertaknya saja. Setelah selesai memakai pakaian dalamnya, Chelsea langsung naik keatas ranjang, dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Alex sudah mempersiapkan dirinya, dia tidak ingin kalah dengan rencana Chelsea, bagaimanapun dia sudah berjuang sejauh ini. Pria itu lalu membuka pintu kamarnya, dia melihat Chelsea sudah terbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
“Alex, kamu harus bisa bertahan.” Alex mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri.
~oOo~