
" Jadi ibu benar-benar pernah menjadi.." Radit tidak sanggup meneruskan kalimatnya apa yang ia dengar sungguh hal itu membuatnya sangat syok,tapi Radit berusaha untuk mengembalikan kesadarannya ia harus bisa bersikap dewasa dalam menanggapi hal ini.karena Radit paham betul ibunya adalah seorang wanita yang sangat baik yang begitu menyayangi mereka dan apa yang terjadi di masa lalu itu juga bukan keinginan ibunya tapi inilah takdir kita tidak dapat mengubahnya! Radit kemudian memutuskan masuk kedalam kamarnya ia tidak jadi pergi.
"Apa ibu tahu, walaupun ibu hidup dilingkungan yang bebas dan kotor seperti rumah bordil itu tapi ayah bangga karena sampai saat kita menikah ayah adalah orang pertama yang mendapatkan ibu, jadi apapun alasan mengapa ibu bisa masuk rumah bordil dan bekerja di sana bagi ayah itu juga bukan keinginan ibu tapi ini sudah jalan hidup yang digariskan oleh Allah pada kehidupan kita masing-masing! Sekarang ayo kita istirahat ini sudah sangat larut tidak baik untuk kesehatan ibu." ucap Arman menutup percakapan keduanya.
***
Pagi hari tepat pukul 06:00
Desi yang baru selesai membersihkan diri segera keluar dari kamar mandi dan menuju keruang ganti untuk bersiap-siap,hari ini ia akan memulai rencananya.
Selesai berganti baju dengan pakaian kerjanya,Desi lalu berjalan menuju nakas disamping tempat tidurnya guna mengambil ponselnya yang semalam ia matikan daya sehingga tak ada yang bisa menghubunginya, Desi kemudian mencari kontak seseorang setelah menemukannya Desi dengan segera menghubungi orang tersebut.
*Assalamualaikum And*ucapnya setelah telponnya tersambung
*walaikumsalam! ada apa*
*Hm, itu apa kamu punya waktu hari ini maksudku apa kamu tidak sibuk * tanyanya
*sibuk sih,tapi kalau untuk kamu aku usahain tidak sibuk-sibuk amatlah ya*Sahutnya dengan candaan
* Kalau begitu bisakah kita bertemu,aku ingin mengatakan sesuatu"
Orang tersebut terlihat terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawabnya
* Baiklah dimana kita akan bertemu*
*di cafe xx, sekalian makan siang bersama, bagaimana?*
* Ok,nanti aku akan kesana*
*terimakasih And, kalau gitu aku tutup telponnya dulu*Balasnya senang
* Ok*
***
Setelah selesai bersiap Desi segera turun kelantai bawah, ia sedari tadi menunggu Raka naik kekamar mereka tapi pria itu tidak menampakkan batang hidungnya juga, membuat Desi akhirnya memutuskan untuk turun ia berpikir mungkin hari ini Raka tidak pergi kekantor.
__ADS_1
Dengan segera Desi berjalan keruang makan disana ia bisa melihat sudah ada Jessi dan Raka yang duduk dikursi masing-masing, Desi kemudian duduk dikursi yang masih kosong.
" Sayang ayo kita sarapan mbak Desi sudah datang juga" ucap Jessi yang masih bisa didengar oleh Desi.
Ternyata mereka berdua belum sarapan karena menunggu kedatangannya.
" Hem"sahut Raka dengan gumamnya
" Mas kamu hari ini tidak kekantor" tanya Desi mencoba membuka percakapan dengan sang suami
" Tidak, mas Raka akan menemani ku kerumah sakit hari ini! Untuk mengecek perkembangan bayi kami mbak, soalnya aku agak merasa susah jika tidak ada mas Raka mana kehamilan ku juga sudah sangat besar jadi untuk beraktivitas pun jadi muda kelelahan mbak" bukannya Raka yang menjawab tapi malah madunya itu.
Membuat Desi hanya mengangguk paham mengingat usia kandungan madunya itu sudah masuk 8 bulan mungkin satu bulan lagi akan melahirkan. setelah itu Desi mengambil sarapan untuknya dan juga suaminya itu karena ia melihat piring milik suaminya itu masih kosong.saat ia sudah mengisi piring milik suaminya dan juga dirinya Desi yang ingin duduk kembali di kursinya dikagetkan dengan Tingkah laku Jessi yang sangat menyebalkan menurutnya.
" Mbak kenapa tidak sekalian mbak ambilin aku sarapan juga" tanyanya dengan kesal
"Kamu punya tangan kan, kamu itu sedang hamil bukan sekarat jadi untuk apa aku membantu mu dalam hal seperti ini! dan satu yang harus kamu ingat Jes, Aku bukan pembantu dirumah ini,asal kamu tahu saja aku adalah nyonya dirumah ini Jessi dan kamu disini hanyalah tamu jadi bersikap baiklah jika tidak aku bisa menendang mu dari sini" sahut Desi penuh penekanan,Jessi yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya dibawah meja berani sekali wanita itu berbicara hal seperti itu padahal ada Raka diantara mereka.
" Sayang apa kamu dengar ucapan mbak Desi hiks, aku hanya bertanya kenapa dia juga tidak membantuku mengambil sarapan tapi dia malah membentakku dan mengatakan status ku dirumah kalian" ucapnya dengan air mata menetes.
Tapi bukannya mendapatkan pembelaan justru dirinya semakin terpojok mendengar suara sang suami
Membuat Jessi hanya bisa menunduk karena merasa malu, bahkan Raka tidak membelanya sama sekali tapi pria itu malah membenarkan ucapan istri pertamanya.
***
Selesai sarapan pagi bersama, Desi pun bangkit dari duduknya dan pamit kepada suaminya untuk kembali masuk kantor biar bagaimanapun sudah satu bulan lebih ia tidak masuk kerja dan mengambil cuti dengan alasan kesehatannya sedan terganggu.tapi hari ini ia sudah memutuskan untuk kembali menjalani hari-harinya seperti biasa ia tidak akan membiarkan pelakor menang darinya.
Ya pelakor kata yang ia sematkan untuk Jessi yang mau saja dinikahkan dengan pria yang sudah beristri jadi menurut Desi Sebutan yang pantas untuk wanita itu hanya satu yaitu pelakor.
" Mas aku mau pamit"
" Kamu mau kemana"
" Aku mau kekantor, sudah lama aku tidak masuk kerja! Rasanya tidak enak juga hanya berada dirumah terus" sahutnya
" Baiklah, hati-hati dijalan" balas Raka, senyum pun terbit di bibir Desi mendengar jawaban suaminya
__ADS_1
" Ia mas" sambil mencium punggung tangan suaminya
Lalu berjalan keluar dari rumah, diikuti oleh tatapan mata Raka.
***
Setelah keluar dari rumah Desi langsung menyuruh sopir pribadinya untuk mengantarkannya ke perusahaan Dinata group.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next Sampai sini dulu ya gays π₯°π
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Votenya βΊοΈππ