
Lewat beberapa hari setelah kejadian itu, Alex belum menghubungi Chelsea lagi. Gadis itu merasa sedikit lega, karena dirinya tidak harus melayani keinginan Alex yang sudah kelewat batas.
“Kenapa kamu melamun? Apa ada masalah?” tanya Vika penasaran. Saat ini Chelsea sedang berada di restoran bersama dengan Vika untuk makan siang.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang berpikir, bagaimana kalau aku akan mulai bekerja di kantor kakak,” ucapnya.
“Apa kamu gila! Jika kamu bekerja di kantor kakak kamu, maka kamu tidak akan bisa bebas pergi kemana pun yang kamu mau, karena kakak kamu pasti akan selalu mengawasi kamu.”
“Tapi aku tidak tau harus bekerja di mana lagi, kamu tau kan aku sama sekali tidak mempunyai pengalaman kerja. Kalau kamu mah enak, kerja di tempat mama kamu,” ucap Chelsea sambil mengerucutkan bibirnya.
“Apa kamu pikir aku senang bekerja di kantor Mama. Adanya aku muak, karena aku setiap hari harus melihat kemesraan Mama aku dengan kekasih barunya,” ucap Vika kesal.
“Apa Mama kamu masih belum berubah?” tanya Chelsea terkejut.
Vika menganggukkan kepalanya, “dia tidak akan pernah berubah!” serunya kesal.
Chelsea merasa kasihan melihat sahabatnya yang memiliki keluarga yang tidak lengkap, dia selalu kekurangan akan kasih sayang kedua orangtuanya. Seharusnya dirinya bersyukur karena masih banyak orang yang menyayanginya, tapi dia tidak menyadari itu, dirinya malah selalu mengabaikan ucapan mamanya yang selalu memberinya nasehat. Sampai dirinya kini terjerumus dalam pergaulan yang salah dan kini malah menghancurkan masa depannya.
Tidak ada lagi yang bisa dia banggakan dari dirinya, kesuciannya sudah di renggut, dia bahkan kini sudah menjadi wanita murahan yang bisa di pakai kapan saja oleh pria yang sudah merengut kesuciannya. Chelsea ingin sekali mengakhiri hidupnya, tapi dia takut mati.
“Jangan suka melamun, nanti kesambet baru tau rasa,” ledek Vika sambil menikmati makanan yang baru saja di antar oleh pelayan restoran itu.
“Vik, aku boleh bertanya sesuatu tidak sama kamu?”
“Apa?”
“Em...sudah berapa lama kamu kenal dengan Alex? Apa kamu tau tentang keluarganya?”
Vika menghentikan gerakan mengunyahnya, dia lalu menelan makanan yang berada di mulutnya, “apa sampai sekarang kamu belum tau semua tentang Alex?” tanyanya penasaran.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “setiap aku menanyakan tentang keluarganya, dia selalu mengalihkan pembicaraan,” ucapnya.
“Aku kenal lama sih tidak, sebelum kamu jadian sama Alex, aku kenal dia sekitar dua bulanan gitu. Soal keluarganya aku juga tidak tau, tapi kata Betrand dia sudah tidak mempunyai keluarga, ayahnya meninggal karena serangan jantung saat perusahaannya di ambil alih karena hutangnya yang menumpuk, lalu soal ibunya, aku tidak tau.” Vika lalu mengambil jus dari atas meja lalu meneguknya, “apa kamu ada masalah dengan Alex? Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Bukankah kamu bermalam di rumah Alex?” tanyanya penasaran.
“Tidak terjadi apa-apa.” Chelsea lalu beranjak dari duduknya, “maaf aku harus pergi, semua makanan ini biar aku yang bayar,” ucapnya lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Vika mengernyitkan dahinya, “apa ada sesuatu yang tidak aku tau?” gumamnya dalam hati.
***
Veon kini tengah menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Pemuda itu kini tengah memijit pelipisnya terasa sangat pening.
“Apa tuan sedang ada masalah?” tanya Zaki yang tak lain adalah asisten pribadi Veon.
Veon menghela nafas panjang, “kamu tau kan kalau aku sama sekali tidak tertarik dengan pernikahan? Tapi sudah satu bulan ini Papa dan Mama selalu meminta aku untuk secepatnya menikah,” ucapnya.
“Lalu apa yang akan tuan lakukan?”
Veon mengambil pena dari atas meja lalu melemparkannya ke arah Zaki, “kenapa kamu malah bertanya sama aku? Seharusnya kamu membantu aku untuk mencari solusinya, dasar bodoh!” serunya.
Zaki menundukkan wajahnya, “maaf, tuan,” ucapnya.
“Sekarang pikirkan apa yang harus aku lakukan, karena Papa selalu mengancam dengan kesehatannya. Aku juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan Papa aku.”
Zaki nampak tengah berpikir, “bagaimana kalau tuan menikah secara kontrak saja,” usulnya.
“Aku tidak mau menikah, apa pun itu namanya, mau menikah kontrak atau menikah sungguhan,” tolak Veon secara terang-terangan.
Veon mengernyitkan dahinya, “maksud kamu pria tua yang mempunyai hutang banyak pada perusahaan ini?” tanyanya.
Zaki menganggukkan kepalanya, “bukannya Pak Zaiz mempunyai anak perempuan yang masih sangat muda,” ucapnya.
“Lalu, apa hubungannya gadis itu dengan aku?” tanya Veon sambil melipat kedua lengannya di dada.
“Bagaimana kalau kita memberi tawaran kepadanya, tawaran dengan imbalan anak gadis nya,” usul Zaki tapi itu malah membuat Veon semakin mengernyitkan dahinya.
Zaki yang melihat ekspresi wajah tuan nya yang masih terlihat belum paham, akhirnya menceritakannya secara mendetail hingga tidak ada satu pun rencananya yang dia lewatkan.
Veon akhirnya mengangguk mengerti, “tapi jika rencana kamu itu gagal bagaimana? Toh akhirnya aku harus menikah dengan gadis itu juga,” ucapnya kemudian.
Zaki mengaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal dengan menyengir kuda.
__ADS_1
“Tapi tidak ada salahnya juga di coba, Mama dan Papa pasti tidak akan setuju aku menikah dengan gadis yang masih sangat muda.” Veon lalu beranjak dari duduknya, dia berjalan mendekati Zaki dan menepuk bahunya, “kamu atur pertemuan aku dengan orang itu,” titahnya.
“Siap, tuan,” ucap Zaki dengan penuh semangat.
Veon memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya, “jika ide kamu berhasil, kamu akan mendapatkan bonus dua kali lipat,” ucapnya.
Zaki terlihat sangat bahagia, “terima kasih, tuan,” ucapnya.
“Sekarang kamu urus semua berkas-berkas itu...” Veon menatap berkas-berkas yang berada di atas meja kerjanya, “aku ada urusan penting di luar, batalkan juga semua meeting hari ini,” titahnya.
“Baik, tuan.”
Veon melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya. Zaki berjalan menuju meja kerja Veon. Pria itu melihat bingkai foto yang terpasang di atas meja kerja majikannya, “siapa wanita ini?” tanyanya penasaran.
“Jika tuan nanti melihat anak gadis Pak Zaiz, aku yakin dia akan langsung tertarik. Meskipun usianya masih 18 tahun, tapi bodynya sangat mengiurkan, selain itu wajahnya sangat cantik. Wanita ini bahkan kalah cantik dari gadis itu.” Zaki lalu mengambil berkas-berkas dari atas meja Veon dan membawanya keluar.
***
Veon kini tengah berada di sebuah cafe bersama dengan Dimas, “apa kamu sudah mendapatkan apa yang aku minta?” tanyanya.
Dimas mengambil memorie card dari dalam dompetnya, “ini yang kamu minta,” ucapnya sambil memberikan memorie card itu kepada Veon.
“Apa kamu sudah melihat rekaman cctv ini?”
Dimas mengangguk, “tapi tidak ada yang aku kenal di antara mereka selain adik kamu,” ucapnya.
“Aku sebenarnya sudah curiga ini dari lama. Chelsea mulai membangkang akhir-akhir ini, ternyata dia berteman dengan orang yang salah.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
“Kamu bisa membantu aku kan?” Dimas mengangguk, “aku ingin kamu awasi gerak-gerik adik aku. Kemana pun dia pergi, kamu harus selalu mengabari aku,” pinta Veon.
“Ok...tapi kenapa kamu sampai sebegitunya dengan adik kamu itu? Padahal adik kamu itu sudah dewasa?” tanya Dimas penasaran.
“Karena waktu Chelsea pulang pagi itu, aku melihat ada tanda merah di lehernya. Aku hanya ingin memastikan dia tidak melakukan hal yang akan mencoreng nama baik keluarga. Kamu tau kan jika itu sampai terjadi, apa yang akan terjadi dengan Papa aku?”
__ADS_1
Dimas mengangguk mengerti, dia akan melakukan segalanya demi sahabatnya itu. Dimas berhutang budi kepada Veon, hanya dengan ini dia bisa membalas kebaikkan sahabatnya itu selama ini.
~oOo~