Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Mas Rega


__ADS_3

Sudah satu minggu Kania pergi dari rumah, selama itu pula di bekerja di sebuah restoran tempat sahabatnya bekerja. Apapun akan Kania lakukan untuk dia bertahan hidup, apalagi dia pergi dari rumah dengan tidak membawa apa-apa. Bahkan kartu ATM yang waktu itu Veon berikan padanya pun dia tinggalkan di rumah dan dia hanya membawa beberapa uang lembar seratus ribuan. Mungkin itu hanya cukup untuk biaya hidupnya selama satu bulan.


“Kania, lebih baik kamu istirahat dulu, wajah kamu pucat gitu.” Eca lalu membantu Kania untuk duduk.


Kania menggelengkan kepalanya, “kalau aku istirahat lebih awal, aku tidak enak dengan sahabat kamu itu, dia sudah memberikan aku pekerjaan ini, selain itu aku juga tidak ingin membuat kamu susah,” ucapnya.


Tiba-tiba Kania merasakan mual di perutnya, dia beranjak dari duduknya dan bergegas menuju kamar mandi yang berada di belakang. Eca mengikuti Kania menuju kamar mandi, gadis itu sangat mencemaskan sahabatnya itu. Apalagi akhir-akhir ini Kania sama sekali tidak nafsu makan.


“Kania, kamu tidak apa-apa kan? Apa kita pergi ke rumah sakit saja?”


Kania yang sudah membasuh mukanya pun membuka pintu kamar mandi itu dan keluar dari kamar mandi itu, “aku tidak apa-apa kok, mungkin maag aku kumat, apalagi akhir-akhir aku makannya tidak teratur,” ucapnya.


“Lebih baik kamu izin dulu saja ya, muka kamu pucat gitu, biar nanti aku bantu bilang sama Mas Rega,” bujuk Eca.


Kania menggelengkan kepalanya, “aku baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu se-cemas itu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Eca lupa jika sahabatnya itu sangat keras kepala, di bujuk seperti apapun dia tetap akan pada pendiriannya. Tapi bukan Eca namanya kalau dia akan diam saja melihat sahabatnya menderita seperti itu, apalagi setelah mendengar cerita Kania tentang permasalahan rumah tangganya.


Saat Kania sedang bekerja untuk melayani pelanggan, Eca diam-diam menemui Rega. Rega adalah pemilik restoran itu, sekaligus sahabat Eca.


“Ada apa, Ca? apa kamu mau kasbon lagi,” sindir Rega saat melihat Eca masuk ke dalam ruangan kerjanya. Rega sudah hafal betul dengan gelagat Eca, karena setiap gadis itu menemuinya di ruangannya, dia hanya ingin meminta kasbon.


“Ih, Mas Rega ini menyindir aku ya?” Eca mengerucutkan bibirnya.


Rega tersenyum, “tapi kan setiap kamu datang kesini biasanya mau kasbon, jadi aku tidak salah dong,” ucapnya.


“Iya sih, tapi kali ini aku tidak ingin kasbon, tapi aku mau minta tolong sama Mas Rega.”


Rega mengernyitkan dahinya, “minta tolong untuk apa ya? Apa kamu ingin aku menerima sahabat kamu yang lain lagi?” tanyanya.


Eca menggelengkan kepalanya, “tapi aku ingin Mas Rega membujuk Kania untuk memeriksakan diri ke rumah sakit, sepertinya Kania sedang tidak enak badan,” pintanya.


“Kenapa kamu meminta tolong sama aku, bukankah kamu sahabatnya?” tanya Rega heran.


“Kania itu sangat keras kepala, Mas. Tapi kalau Mas Rega yang menyuruhnya, siapa tau dia akan menurut.”


Rega seakan tengah berpikir, “tapi kalau sahabat kamu itu menolak bagaimana? Apalagi aku kan juga tidak begitu mengenalnya,” ucapnya cemas.


“Kania tidak akan menolak perintah bos nya, mau di pecat apa,” ucap Eca dengan senyuman di wajahnya.


“Dasar! Tapi aku akan mencobanya.”


Eca dan Rega pun keluar dari ruangan itu. Eca membiarkan Rega untuk menghampiri Kania yang sedang duduk sendirian di belakang setelah mengantarkan pesanan pelanggan.


“Kania, apa kamu baik-baik saja? Wajah kamu pucat gitu?” Rega berdiri di depan Kania.


Kania yang melihat Rega berdiri di depannya pun sontak langsung beranjak dari duduknya, “maafkan saya, Pak,” ucapnya gugup.


Rega tersenyum melihat tingkah Kania yang terlihat begitu ketakutan, “kenapa kamu minta maaf? Aku kan tadi hanya bertanya, apa kamu baik-baik saja, wajah kamu pucat gitu?” tanyanya lagi.


“Saya baik-baik saja, Pak.”


“Tapi aku lihat kamu tidak baik-baik saja, lebih baik sekarang kamu ikut aku,” ajak Rega.


“Ikut, Bapak? Kemana ya?” tanya Kania terkejut.


Rega menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “em...jangan panggil aku bapak gitu dong, kesannya aku sudah tua saja. Kamu panggil aku sama seperti Eca saja, lagian kamu kan sahabatnya Eca,” pintanya.

__ADS_1


“Tapi kan, Bapak adalah bos saya.”


“Iya, tapi kalau kamu memanggil aku seperti itu kesannya aku sudah tua gitu, padahal kan aku masih muda, ganteng lagi,” ucap Rega dengan menggerakkan kedua alisnya naik turun.


Kania tersenyum, “ba...maksud saya Mas Rega bisa saja,” ucapnya.


“Nah...gitu dong, itu kan lebih enak di dengar,” ucap Rega dengan senyuman di wajahnya.


“Em...memangnya Mas Rega ingin mengajak aku kemana?” tanya Kania penasaran.


“Ke rumah sakit, aku tidak ingin orang-orang mengira aku ini bos yang kejam, membiarkan pegawainya yang sedang sakit untuk bekerja.”


“Tapi aku baik-baik saja kok.”


“Jangan sok kuat, kalau sakit bilang sakit, kamu harus menyayangi diri kamu sendiri.”


Kania pun akhirnya menerima tawaran Rega. Setelah berganti pakaian Kania menghampiri Eca yang sejak tadi mengekorinya, “ini semua pasti ulah kamu, iya kan?” tanyanya.


Eca menyengir kuda, “aku melakukan semua itu karena aku khawatir sama kamu, Mas Rega itu baik kok, dia tidak akan membiarkan karyawannya sakit,” ucapnya.


“Dasar!”


Kania lalu melangkahkan kakinya menghampiri Rega yang sudah menunggunya di luar restoran. Setelah itu mereka melangkahkan kakinya menuju mobil, sesampainya di mobil, Rega membukakan pintu penumpang depan untuk Kania.


“Terima kasih,” ucap Kania lalu masuk ke dalam mobil.


Rega lalu membuka pintu pengemudi dan masuk ke dalam mobil, dia lalu melajukan mobilnya meninggalkan restoran.


***


 


“Selamat ya, Pak. Istri anda sekarang sedang mengandung, usia kandungannya saat ini sudah 4 minggu,” ucap dokter itu.


Kania dan Rega membulatkan kedua matanya. Terutama Kania, dia tidak percaya jika saat dirinya tengah hamil, “dokter pasti salah, aku tidak mungkin hamil,” ucapnya tidak percaya.


“Mana mungkin saya salah, anda sekarang sedang mengandung 4 minggu. Kalau anda sering merasakan mual di pagi hari, itu biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil di trisemester pertama, jadi anda tidak perlu cemas.” Dokter itu lalu menatap Rega, “saya harap anda sebagai suaminya harus menjaga dan memperhatikan pola makan istri anda, karena saya lihat sepertinya istri anda ini kondisinya sangat lemah,” imbuhnya.


Kania masih tidak percaya jika dirinya saat ini sedang mengandung, ‘apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa Veon mau menerima anak ini? Sekarang dia pasti sedang bersenang-senang dengan Bella? Tuhan...kenapa semuanya menjadi seperti ini?’ gumamnya dalam hati.


Rega yang melihat Kania melamun pun akhirnya mengiyakan apa yang dokter katakan. Setelah itu Rega mengajak Kania keluar dari ruang pemeriksaan itu. Dalam perjalanan menuju rumah Eca, tidak ada percakapan diantara mereka berdua, mereka sama-sama masih shock.


Rega mengira Kania masih lajang, apalagi melihat usianya yang masih sangat muda. Tapi kenyataan di depan matanya, wanita itu kini tengah mengandung 4 minggu. Dalam pikiran Rega, siapa ayah dari anak itu?


Sesampainya di rumah Eca, Kania mengucapkan terima kasih kepada Rega karena telah mengantarkannya ke rumah sakit.


“Kania apa aku boleh bertanya sesuatu?”


Kania tau apa yang ingin ditanyakan Rega, tapi dia masih sangat shock dan belum siap untuk menceritakan semuanya, “maaf, Mas. Aku ingin sendiri, apa Mas Rega bisa meninggalkan aku sendirian?” pintanya.


Rega menganggukkan kepalanya, dia juga tidak bisa memaksa Kania untuk menceritakan masalah pribadinya. Pria itu pun pamit undur diri, dia lalu melangkahkan kakinya menuju mobil dan masuk ke dalam mobil, dia melihat Kania sudah masuk ke dalam rumah.


“Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi? Apa Kania sudah menikah? Atau jangan-jangan pacarnya yang sudah menghamilinya terus meninggalkannya?” Rega lalu menyalakan mesin mobilnya, “lebih baik aku tanyakan pada Eca, aku tidak ingin berprasangka buruk kepada Kania, karena aku lihat Kania itu gadis baik-baik.” Pria itu lalu melajukan mobilnya.


Sesampainya di restoran, Rega menyuruh Eca untuk ke ruangannya. Dia ingin tau semua tentang Kania, seorang gadis yang sudah mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


Eca mengetuk pintu ruangan Rega, setelah mendapatkan sahutan dari dalam, gadis itu membuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


“Duduklah,” pinta Rega.


Eca menarik salah satu kursi di depan meja kerja Rega, dia lalu mendudukkan tubuhnya di sana,” ada apa, Mas? Kania baik-baik saja kan?” tanyanya cemas.


“Sebelum aku memberitahu kamu tentang keadaan Kania, kamu harus menjawab pertanyaan aku.”


Eca mengernyitkan dahinya, “soal apa itu?” tanyanya penasaran.


“Siapa Kania, apa statusnya? Apa dia sudah menikah atau belum?”


“Kenapa Mas Rega menanyakan itu? Bukankah Mas Rega tidak mempermasalahkan siapa Kania itu? Karena Mas Rega tau, Kania itu gadis baik-baik?” tanya Eca penasaran.


“Aku memang tidak mempermasalahkan itu, tapi sekarang itu sangat penting, lebih baik kamu jawab saja dengan jujur,” ucap Rega dengan nada dan raut wajah serius.


Eca menghela nafas panjang, dia pun mulai menceritakan semua tentang Kania kepada Rega. Semua yang dia tau dari Kania, tidak ada yang dia tutup-tutupi.


Rega terlihat sangat terkejut, dia tidak mengira, di usia Kania yang masih sangat muda, dia harus mengalami semua penderitaan itu. Apa yang dia dengar membuat dirinya semakin ingin melindungi Kania.


“Apa suaminya tau kalau Kania berada disini?”


Eca menggelengkan kepalanya, “yang aku dengar dari Kania, suaminya saat ini sedang mengurus perceraian mereka. Dia ingin menikah dengan mantan kekasihnya,” ucapnya.


“Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?”


“Aku juga tidak tau sih, tapi Kania taunya seperti itu.” Eca menatap wajah Rega dengan seksama, “sebenarnya Kania kenapa? Apa dia baik-baik saja?” tanyanya kemudian.


Rega menghela nafas panjang, “Kania sekarang sedang mengandung, usia kandungannya sudah 4 minggu,” ucapnya.


Eca membulatkan kedua matanya, “apa? mengandung? Lalu sekarang bagaimana keadaan Kania, dia pasti sekarang sangat shock,” ucapnya cemas.


Rega menganggukkan kepalanya, “dia terlihat sangat shock, aku minta sama kamu, tolong perhatikan pola makan dia, aku akan setiap hari akan mengirimkan makanan yang sehat untuk Kania,” ucapnya.


Eca tersenyum, dia lalu memicingkan kedua matanya, “kenapa Mas Rega sangat peduli dengan Kania? Atau jangan-jangan Mas Rega tertarik ya dengan Kania?” tebaknya.


“Aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan akhir-akhir ini. Sejak bertemu dengan Kania, wajahnya selalu muncul di pikiran aku.”


“Tapi Kania sudah menikah, dia sekarang juga tengah hamil. Apa Mas Rega akan tetap menyukainya?”


Rega tersenyum, “aku juga tidak tau pada siapa aku akan jatuh cinta, tapi aku tetap akan menjaga Kania. Kalau soal status Kania, bukankah dia akan segera bercerai dengan suaminya? Jadi itu tidak akan jadi masalah,” ucapnya.


“Lalu dengan anak yang Kania kandung?”


“Jika Kania mengizinkan, aku bersedia untuk menjadi ayahnya.”


***


 


Kania terduduk lemas di lantai, dia menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, tangisannya masih terisak.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Anak ini tidak salah apa-apa, tapi kenapa dia harus hadir saat Veon ingin menggugat cerai aku?”


Kania lalu menghapus air matanya, “tapi bagaimanapun juga anak ini tidak salah apa-apa, aku akan membesarkannya sendirian. Selain itu dia juga tidak tau kalau aku sekarang sedang mengandung.” Wanita itu lalu mengusap perutnya yang masih rata, “sayang, Mama berjanji akan menjaga kamu sampai kamu lahir ke dunia ini, meskipun Papa kamu tidak ingin menerima kehadiran kamu, Mama akan merawat mu sendirian,” ucapnya.


~oOo~


Mas Rega

__ADS_1



__ADS_2