
Veon berteriak keras, dia memanggil nama Bella. Bella tau kenapa Veon mencarinya, tentu saja semua itu pasti ada hubungannya dengan Kania. Di dalam kamar Bella tersenyum puas, karena rencananya berhasil.
Bella terlihat sangat terkejut saat Veon membuka kamarnya dengan sangat kasar, sampai terdengar dentuman suara pintu yang membentur tembok. Tapi Bella berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, dia tidak ingin Veon mencurigainya sebagai dalang perginya sang istri tercinta.
“Sayang, kenapa kamu malam-malam kesini?” Bella lalu beranjak dari ranjang dan melangkahkan kakinya mendekati Veon, “apa kamu sangat merindukan aku?” tanyanya dengan senyuman di wajahnya.
Veon yang sudah di selimuti oleh amarah, mencengkram erat kedua lengan Bella hingga membuat wanita itu meringis kesakitan, “sekarang katakan padaku, apa yang kamu lakukan kepada Kania?” pria itu bertanya dengan suara yang keras.
Bella berpura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan Veon, “sayang, maksud kamu Kania adiknya Zaki?” tanyanya sambil menahan senyuman.
“Kamu pura-pura kan, kamu tidak tahu siapa Kania itu?”
“Maksud kamu apa? aku memang mengenal Kania, tapi dia adalah adiknya Zaki, karena itu yang dia katakan saat pertama kali aku bertemu dengan dia di kantor kamu. Memangnya apa yang terjadi?” Bella berpura-pura terlihat sangat mencemaskan Kania, padahal di dalam hatinya dia tertawa puas.
Veon semakin mempererat cengkramannya, “aku peringatkan sama kamu, kalau sampai kamu yang berada di balik semua ini, aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Aku akan membuat hidup kamu menderita!” teriaknya sambil menghempaskan tubuh Bella hingga dia tersungkur di lantai.
Bella mengepalkan kedua tangannya, “sebenarnya apa salah aku hingga kamu bersikap seperti ini padaku? Lalu apa hubungannya Kania sama kamu, bukankah dia adalah adiknya Zaki?” tanyanya penuh emosi.
Veon berjongkok di depan Bella, dia lalu mencengkram dagu wanita itu, “asal kamu tau ya, Kania itu adalah istri aku, dan aku tidak akan pernah melepaskan kamu, jika ternyata yang membuat Kania pergi dari rumah adalah kamu! Jika terjadi apa-apa dengan Kania, aku akan membunuhmu!” ancamnya.
“Kenapa kamu menyalahkan aku, memangnya kamu mempunyai bukti jika aku dalang dibalik kepergian istri kamu, hah! Sedangkan aku baru tau hari ini kalau Kania itu istri kamu, karena sejak awal yang aku tau Kania adalah adiknya Zaki, dan aku berteman dengannya.”
Veon menghela nafas dengan kasar, “brengsek!” umpatnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bella.
Bella tersenyum puas, “Kania, kamu memang bodoh. Kamu langsung pergi begitu saja sebelum kamu mencari tahu kebenarannya. Tapi aku justru akan mengucapkan terima kasih padamu, karena kamu dengan suka rela telah meninggalkan Veon, dengan begitu tidak akan ada yang menghalangi aku lagi untuk mendapatkan apa yang aku inginkan,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Veon mengajak Zaki untuk pergi dari rumah itu. Zaki bisa melihat betapa Veon terlihat sangat frustasi dengan kepergian Kania.
“Tuan, apa perlu kita melaporkan pada polisi?”
Veon menggelengkan kepalanya, “jangan, jika kita melaporkan ini pada polisi, maka semua orang akan tahu jika istriku pergi meninggalkan rumah, dan kamu pasti tau apa dampak buruknya dari semua itu. Perusahaan aku akan hancur, dan kesehatan Papa aku akan semakin memburuk. Mama akan menyalahkan aku untuk semua itu, dan aku tidak ingin semua itu terjadi,” ucapnya.
“Lalu kemana lagi kita akan mencari Nona Kania, jika Nona Bella tidak tau apa-apa tentang kepergian Nona Kania.”
Veon meraup wajahnya dengan gusar, “kita kerahkan semua orang untuk mencari tau dimana Kania, kalau perlu kita mencarinya ke seluruh penjuru Jakarta,” perintahnya.
Zaki mengangguk mengerti, ‘Kania, apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu akan benar-benar menyerah begitu saja, meninggalkan Tuan Veon dan melepaskannya untuk Bella?’ tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Semalaman penuh Zaki, Dimas dan juga Veon mencari keberadaan Kania. Veon bahkan meminta bantuan asisten rumah tangga keluarga Kania untuk memberitahu alamat semua sahabat Kania, tapi dari semua sahabat yang Veon tau, Kania tidak ada di rumah mereka.
Zaki dan Dimas bisa merasakan apa yang Veon rasakan saat ini, apalagi dengan kondisi Veon yang terlihat sangat frustasi dan kelelahan.
“Veon, sebaiknya kamu istirahat dulu, kalau kamu seperti ini terus, kamu bisa sakit,” bujuk Dimas.
Veon menggelengkan kepalanya, “tidak, Dim. Aku harus segera menemukan Kania, aku takut telah terjadi apa-apa dengan dia. Apalagi dia itu kan sangat bodoh, aku takut dia telah ditipu orang lain dan sekarang dia dalam bahaya,” ucapnya cemas.
***
Kania berdiri di depan jendela kamarnya, dia menatap ke arah langit yang malam ini ditaburi bintang-bintang yang berkilauan, “apa sekarang dia sangat mencemaskan aku? atau dia sedang bersenang-senang dengan Bella, karena sekarang sudah tidak lagi yang akan menghalangi mereka untuk kembali bersama.”
Eca membuka pintu kamar Kania dengan membawa nampan yang berisi makanan dan juga secangkir teh hangat, gadis itu lalu meletakkan nampan itu di atas meja.
Eca lalu melangkahkan kakinya mendekati Kania, “Kania, kamu harus makan, aku lihat kondisi kamu begitu lemah, aku tidak ingin sampai kamu sakit,” ucapnya cemas.
Kania menggelengkan kepalanya, “aku tidak mempunyai selera makan,” tolaknya.
“Tapi meskipun begitu, kamu harus tetap makan walaupun hanya sedikit, aku mohon,” pinta Eca.
“Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? Aku yakin itu tidak ada hubungannya dengan Papa kamu, karena aku tau kalau selama ini Papa kamu itu sangat menyayangi kamu.”
Kania menelan makanan di dalam mulutnya dengan susah payah, dia lalu meletakkan kembali piring itu ke atas meja, hanya beberapa suap makanan yang Kania makan.
“Jika kamu tidak ingin cerita sama aku juga tidak apa-apa, tapi asal kamu tau, aku akan selalu membantumu.” Eca mengambil secangkir teh hangat itu lalu dia berikan kepada Kania.
Kania mengambil cangkir teh itu dari tangan Eca, lalu meneguknya secara perlahan, “kamu benar, Ca. Papa aku tidak mungkin mengusir aku, dia tidak pernah memarahi aku,” ucapnya lalu meletakkan kembali secangkir teh hangat itu ke atas meja.
“Lalu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu pergi dari rumah?”
Kania menghela nafas panjang, “aku pergi dari rumah suamiku,” ucapnya lirih.
Eca membulatkan kedua matanya, “apa kamu bilang? Suami!” serunya terkejut.
Kania menganggukkan kepalanya, “aku sudah menikah, Ca. Usia pernikahan aku sudah 7 bulan,” akunya.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu menikah?”
“Aku memang sengaja tidak memberitahu kamu dan yang lainnya, karena pernikahan itu hanyalah sandiwara. Aku terpaksa menikah dengannya, semua itu demi membayar hutang-hutang Papa aku padanya.”
Kedua mata Eca semakin membulat dengan sempurna, dia tidak mengira masalah dalam hidup sahabatnya itu seberat dan serumit itu, “apa kamu bahagia dengan pernikahan kamu itu? Apa kamu mencintai suami kamu?” tanyanya penasaran.
Kania tersenyum, “awalnya aku tidak percaya, pernikahan yang sangat tidak aku inginkan sejak awal, justru membuat aku jatuh cinta pada pria dingin dan kasar itu. Ya...aku tak akan memungkiri, jika aku bahagia dengan pernikahan ini, meskipun terkadang aku harus menahan rasa sakit di hati aku,” ucapnya.
“Maksud kamu apa?”
“Awalnya rumah tangga aku baik-baik saja, tetapi setelah kemunculan mantan kekasihnya, semuanya menjadi hancur. Dan sekarang mungkin dia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya itu,” ucap Kania sambil menundukkan wajahnya.
“Jadi suami kamu berselingkuh?”
“Aku tidak tahu, apa itu bisa di namakan seperti itu, karena sejak awal dia tidak mencintai aku, dia juga tidak menginginkan pernikahan ini. Wanita itu adalah cinta pertamanya, dan dulu sangat ingin dia nikahi.”
Eca menarik Kania kedalam pelukannya, “Kania, maafkan aku, tapi kamu tenang saja, kamu bisa tinggal disini selama kamu mau, aku akan selalu ada buat kamu,” ucapnya.
Kania tersenyum, “terima kasih, kamu memang sahabat terbaik aku,” ucapnya.
“Tapi kania, jika suami kamu mencari kamu disini bagaimana?”
Kania menggelengkan kepalanya, “dia tidak akan pernah mencari aku di tempat terpencil seperti ini. Apalagi tempat ini sangat jauh dari Jakarta, dia tidak akan mengira aku ada disini,” ucapnya.
“Lalu bagaimana dengan Papa kamu, dia pasti akan sangat mencemaskan kamu?”
“Aku juga tidak tau, tapi semoga saja Papa baik-baik saja, selain itu Papa juga tidak tahu dimana rumah kamu.”
Eca menepuk bahu Kania, “aku yakin kamu pasti kuat menjalani semua cobaan ini. Mungkin suatu saat segala cobaan ini akan membuahkan hasil yang sangat membahagiakan buat kamu,” ucapnya.
Kania menepiskan senyumannya, “semoga saja, mulai sekarang aku harus mulai melupakannya, aku ingin membuka lembaran hidup aku yang baru,” ucapnya.
“Apa kamu mau bekerja di tempat kerjaku? Walau gajinya kecil, tapi lumayanlah bisa buat memenuhi kebutuhan sehari-hari kamu.”
Kania menganggukkan kepalanya, “terima kasih untuk semua bantuan kamu, aku mungkin tidak akan sanggup untuk membalas kebaikan kamu ini,” ucapnya.
“Kamu ini bicara apa, selama ini kamu sudah banyak membantuku, apalagi berkat kamu, aku bisa mengikuti ujian sekolah, dan bisa menyelesaikan pendidikan aku.”
__ADS_1
~oOo~