
Eca sangat terkejut saat melihat Kania pulang ke rumah bersama dengan Papanya. Eca pernah melihat Papa Kania saat Papa Kania datang ke sekolah mereka dulu. Kania menyuruh Papanya untuk duduk di sofa ruang tamu.
“Sayang, ini rumah siapa?” Pak Zaiz mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Rumah itu terasa begitu nyaman, udara terasa lebih sejuk.
“Ini rumah Mas Rega, Pa. Selama ini Kania tinggal disini.”
“Sekarang ceritakan semuanya sama Papa, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan suami kamu?” Dalam perjalanan ke rumah itu, Kania belum menceritakan kepada Papanya kenapa dia bisa berada di tempat terpencil seperti itu.
“Kania akan menceritakan semuanya, tapi Kania harap Papa tidak akan membenci suami Kania, karena ini semua bukan salah dia,” pinta Kania.
“Papa akan memutuskan setelah mendengar keseluruhan ceritanya, dan kenapa kamu malah memilih untuk tinggal disini daripada di rumah suami kamu yang mewah itu.”
“Kania ingin jujur sama Papa, sebenarnya selama ini pernikahan Kania ini hanyalah sandiwara. Veon tidak pernah mencintai Kania dan Kania juga sadar diri, jika Kania ini bukanlah siapa-siapa untuknya.”
Pak Zaiz membulatkan kedua matanya, “apa maksud kamu sayang, bukankah selama ini pernikahan kalian baik-baik saja? Bahkan saat kamu dan suami kamu menginap di rumah waktu itu, Papa bisa melihat betapa kalian sangat bahagia,” ucapnya terkejut.
“Kania memang sangat bahagia, Pa, bisa bersama dengan suami Kania, tapi Kania tidak bisa memahami perasaan suami Kania yang sebenarnya. Apa dia juga menganggap Kania sebagai istrinya atau tidak,” ucap Kania sambil menundukkan wajahnya.
“Sayang, percaya sama Papa, Veon itu sangat mencintai kamu, Papa bisa melihat itu dari cara dia menatap kamu dan memperlakukanmu dengan lembut.”
‘Jika dia mencintai Kania, dia tidak akan menyembunyikan apapun dari Kania, Pa. Apalagi membiarkan Bella tinggal di rumahnya,’ gumam Kania dalam hati.
Kania memutuskan untuk tidak menceritakan soal Bella kepada Papanya. Dia tidak ingin Papanya semakin membenci suaminya, cukup dirinya saja yang mengetahui keburukan suaminya itu.
“Sayang, ayo sekarang kita pulang, mungkin sekarang suami kamu sedang kebingungan mencari kamu,” bujuk Pak Zaiz.
Kania menggelengkan kepalanya, “suatu hari nanti Kania akan pulang, Pa. tapi tidak untuk saat ini. Kania masih ingin sendiri, merenungi semuanya sebelum Kania mengambil keputusan untuk masa depan Kania,” ucapnya.
“Tapi Papa merasa tidak tenang kalau kamu tinggal di rumah ini? Apalagi tempat ini sangat jauh dari Jakarta,” ucap Pak Zaiz cemas.
Pria paruh baya itu sebenarnya masih merasa penasaran kenapa putrinya sampai mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah suaminya. Selain itu selama dua bulan ini, Veon juga tidak memberitahu dia tentang kepergian Kania.
Pria paruh baya itu akan menanyakan itu langsung kepada Veon, sekaligus dia ingin mengecek kebenaran tentang apa yang putrinya katakan. Jika Veon memang sangat mencintai Kania, dia akan mengetahuinya setelah melihatnya keadaan Veon nanti.
“Pa, Kania harap Papa akan bisa menjaga rahasia, jangan katakan sama dia kalau Kania berada disini. Kania belum siap untuk bertemu dengannya,” pinta Kania.
“Sayang, bukankah lebih baik kamu menyelesaikan masalah kalian bersama-sama, kalau kamu bersikap seperti ini, bukankah itu akan semakin memperbesar masalah. Apalagi mengingat sifat suami kamu yang sangat keras dan tegas itu, Papa hanya takut, dia akan menjadi murka nanti, sayang.”
“Papa tenang saja, Kania akan segera menyelesaikan masalah Kania, tapi tidak untuk saat ini.”
Pria paruh baya itu memperhatikan putrinya dengan seksama, “sayang, apa berat badan kamu bertambah, Papa perhatikan tubuh kamu semakin berisi?” tanyanya curiga.
“Em...itu karena Kania...”
Terdengar suara pintu diketuk, Kania beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu. Rega berdiri di depan pintu dengan senyuman di wajahnya, dia juga membawa beberapa paper bag berisi berbagai macam makanan. Rega tau kalau Kania tadi belum sempat makan siang.
__ADS_1
Kania menyuruh Rega untuk masuk, pria itu lalu menyapa kembali Papanya Kania, “Mas Rega tidak perlu repot-repot bawa makanan, aku kan bisa pesan go food,” ucapnya.
“Dari pada kamu terus menolak rejeki, mendingan kamu siapin gih makanannya, aku juga lapar ini, belum sempat makan siang.” Rega mendorong pelan tubuh Kania dan memintanya untuk menyiapkan makan siang.
Rega duduk di depan Papanya Kania, “Om pasti sangat mengkhawatirkan Kania, tapi Om tenang saja, saya akan menjaga Kania dan calon anaknya dengan baik,” ucapnya.
Pak Zaiz membulatkan kedua matanya, “apa kamu bilang? Calon anak? Itu berarti Kania sekarang sedang...”
“Jadi Kania belum memberitahu Om, kalau dia sedang mengandung?” tanya Rega terkejut.
Pak Zaiz menggelengkan kepalanya, “berapa usia kandungan dia sekarang?” tanyanya serius.
“Tiga bulan, Om.”
Pria paruh baya itu lalu beranjak dari duduknya, “saya harus pergi, tolong jaga anak dan calon cucu saya. Bilang sama Kania, saya masih ada urusan penting,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.
Pria paruh baya itu tidak bisa tinggal diam melihat hidup putrinya menderita, apalagi ada calon cucunya yang sama sekali tidak berdosa dan harus ikut menderita hanya karena kesalahannya, “maafkan Papa sayang, ini semua salah Papa. Seandainya dulu Papa tidak menjadikan kamu sebagai alat untuk menebus hutang-hutang Papa, maka hidup kamu tidak akan menderita seperti ini. Tapi tenang saja, Papa akan membawa kebahagiaan kamu.”
“Kita langsung ke kantor menantu saya,” titahnya kepada supir pribadinya.
“Tapi Pak, bukannya kita masih harus menghadiri meeting penting siang ini?” tanya wanita muda yang berstatus sekretaris pribadi Pak Zaiz.
“Batalkan semuanya, ada hal yang lebih penting daripada meeting itu.”
Pria paruh baya itu tampak bimbang, “bagaimana kalau kamu saja yang mewakili saya untuk hadir dalam meeting itu, saya yakin kamu sanggup melakukannya,” usulnya.
“Tapi, Pak...saya...”
“Kita ke restoran dulu, setelah itu baru balik ke Jakarta.”
“Baik, Tuan.”
Pak Zaiz menepuk bahu sekretarisnya, “saya percayakan semua pada kamu, saya yakin kamu bisa,” ucapnya memberi semangat.
***
Veon terkejut saat melihat mertuanya mendatangi kantornya. Veon sudah mulai menerima kenyataan jika pria paruh baya yang saat ini tengah duduk di depan meja kerjanya adalah mertuanya.
“Untuk apa Papa datang ke kantor Veon?” tanyanya penasaran.
“Papa hanya ingin mengetahui kabar Kania, sudah dua bulan lebih dia tidak mengunjungi Papa.” Pria paruh baya itu sengaja memancing reaksi Veon. Dia akan berkata jujur tentang kepergian Kania atau malah akan menyembunyikan kebenaran itu.
Veon membulatkan kedua matanya, dia bingung harus menjawab apa, tapi pria itu terpaksa untuk berbohong, “Papa tenang saja, Kania baik-baik saja,” ucapnya dengan menepiskan senyumannya.
__ADS_1
“Apa kamu yakin? Tidak ada yang sedang kamu sembunyikan dari Papa kan?” tanyanya serius.
“Maksud Papa apa?”
“Papa ingin bertemu dengan Kania sekarang juga.” Pria paruh baya itu lalu beranjak dari duduknya, “Papa harap kamu tidak menghalangi Papa untuk bertemu dengan putri Papa, selain itu Papa juga ingin bertemu dengan kedua orang tua kamu,” imbuhnya.
“Pa, tunggu!” teriak Veon saat mertuanya hendak membuka pintu ruangannya, “Kania tidak ada di rumah sekarang,” imbuhnya.
Pak Zaiz membalikkan tubuhnya, “lalu dimana Kania sekarang?” tanyanya.
Veon menggelengkan kepalanya, “Veon tidak tau, Kania pergi meninggalkan rumah. Veon sudah berusaha mencarinya kemana-mana, tapi tidak menemukannya,” ucapnya sambil menundukkan wajahnya.
Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya menuju meja kerja Veon, dia lalu kembali mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang berada di depan meja kerja Veon, “kenapa kamu mencari Kania, bukankah kamu hanya menganggap dia sebagai pelayanmu?”
“Apa yang Papa katakan?”
Pak Zaiz mengeluarkan dokumen perjanjian antara dirinya dan Veon saat Veon memberinya penawaran waktu itu, “apa kamu melupakan dokumen perjanjian ini?” tanyanya sambil meletakkan dokumen itu ke atas meja.
Veon mengambil dokumen itu lalu merobeknya dan membuangnya, “aku tidak pernah menganggap Kania sebagai pelayan, Kania adalah istriku sekarang, dia sangat berarti untukku. Selama dua bulan ini aku terus mencarinya, berharap akan segera menemukannya dan membawanya kembali.”
Pak Zaiz menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, “apa itu berarti kamu sangat mencintai Kania?” tanyanya.
Veon menganggukkan kepalanya, dia tidak akan lagi menyembunyikan perasaannya lagi, dan mengakui semuanya, “aku tidak bisa hidup tanpa Kania, selama ini aku terus bertahan dengan harapan Kania akan kembali lagi bersamaku.”
“Apa kamu benar-benar ingin bertemu dengannya?” Veon menganggukkan kepalanya, “kalau begitu Papa akan memberitahu kamu dimana Kania berada,” imbuhnya.
Veon membulatkan kedua matanya, “maksud Papa apa? apa Papa tau dimana Kania sekarang?” tanyanya terkejut.
“Papa akan memberitahu dimana Kania, tapi dengan satu syarat.”
“Apa Papa ingin mempermainkan aku?”
Pak Zaiz menggelengkan kepalanya, “Papa hanya meminta satu hal sama kamu, jangan pernah kamu menyakiti hati Kania lagi, jika sampai kamu melakukan itu, Papa akan mengambilnya kembali,” ancamnya.
“Aku janji, aku akan membahagiakan Kania, sekarang katakan, dimana Kania sekarang?”
Pak Zaiz memberitahu Veon dimana Kania berada sekarang, tapi dia tidak memberitahu tentang kehamilan Kania. Dia ingin Kania sendiri yang akan memberitahukan kabar gembira itu kepada Veon. Veon terlihat sangat bahagia, setelah lama menanti akhirnya dia mengetahui dimana Kania berada.
Veon menghubungi Zaki dan menyuruhnya untuk bersiap-siap, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istri tercintanya. Zaki yang mendengar kabar itu pun juga tidak kalah bahagianya seperti Veon. Mereka pun berangkat menuju tempat dimana Kania bersembunyi selama ini, Veon bahkan tidak peduli jika waktu itu sudah hampir tengah malam.
Yang terpenting baginya adalah segera bertemu dengan istri tercintanya yang sangat dia rindukan selama ini, “sayang, tunggu aku, aku akan segera membawa kamu pulang, dan tak akan aku biarkan kamu pergi lagi meninggalkan aku.”
Zaki yang mendengar ucapan Veon pun tersenyum lebar, akhirnya Veon bisa menemukan kembali kebahagiaannya, senyuman itu kembali terlihat setelah sekian lama menghilang, ‘Chelsea pasti akan senang mendengar kabar gembira ini,’ gumamnya dalam hati.
~oOo~
__ADS_1