Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Kenapa aku? kenapa bukan Tuan Veon?


__ADS_3

Zaki seakan tengah berfikir, dia teringat akan pesan Chelsea yang memintanya untuk mempersatukan kakaknya dengan Kania. Pria itu lalu menatap ke arah Veon, ‘kenapa tuan Veon terlihat sangat kesal seperti itu? Apa jangan-jangan dia cemburu melihat istrinya bersikap seperti ini sama aku?’ gumamnya dalam hati.


“Zak, kenapa kamu diam saja, apa kamu tidak ingin berteman dengan ku?” tanya Kania lagi.


“Em...bagaimana ya, saya harus meminta persetujuan Tuan Veon terlebih dahulu,” ucap Zaki berpura-pura takut, sebenarnya dia hanya ingin memancing Veon untuk mengatakan sesuatu.


“Untuk apa kamu meminta izin sama dia, apa kamu lupa kalau aku ini hanyalah pelayan untuk nya? Bukankah kamu sendiri yang bilang sama aku, meskipun aku sudah menikah dengan majikan kamu itu, status aku tetap sebagai pelayannya,” ucap Kania mengingatkan kembali tentang perjanjian awal diantara mereka.


“Zak, apa yang dikatakan wanita itu memang benar, sejak awal dia hanyalah pelayan. Jadi kamu tidak perlu memperlakukan dia sebagai majikan kamu!” Veon mengatakan itu dengan mengepalkan kedua tangannya, entah kenapa dia merasa sangat kesal saat Kania mengatakan jika dirinya hanyalah pelayan untuknya.


“Baik tuan.” Zaki lalu mengulurkan tangannya, “mulai hari ini kita adalah teman, kita sama-sama bekerja sebagai pelayan di rumah tuan Veon,” ucapnya.


Kania dengan senang hati menjabat uluran tangan Zaki, “jangan panggil aku Nona lagi, panggil aku Kania,” ucapnya.


“Baiklah...Ka..ni...a.” Zaki sengaja menyebut nama Kania seperti itu, dia ingin tau bagaimana ekspresi wajah Veon, ‘lihatlah wajahnya sekarang, bilang saja kalau anda cemburu tuan, kenapa harus gengsi seperti itu,’ gumamnya dalam hati.


“Tapi aku tidak mungkin memanggilmu Zaki, karena kamu jauh lebih tua dari aku, bagaimana kalau aku memanggilmu kakak? Sejak dulu aku ingin sekali mempunyai seorang kakak,” pinta Kania penuh harap.


Veon tertawa terbahak-bahak, “apa kamu sekarang sedang berkhayal? Mana mungkin Zaki mau menjadi kakak wanita bodoh seperti kamu ini,” ucapnya mengejek.


“Memangnya apa salahnya dengan itu? Kamu boleh menghinaku sepuas hati kamu, tapi aku yakin Zaki tidak akan pernah menolak keinginan aku.” nada suara Kania mulai bergetar, hatinya terasa sakit mendengar hinaan yang Veon lontar kan kepadanya.


Zaki tersenyum, “baiklah, kamu boleh memanggilku kakak, aku sebenarnya juga ingin mempunyai seorang adik perempuan, tapi sayang aku hanyalah anak tunggal,” ucapnya sambil tertawa.


Veon membulatkan kedua matanya, dia tidak percaya Zaki akan mengabulkan permintaan konyol Kania, ‘apa yang Zaki lakukan? Apa dia sengaja melakukan itu untuk mempermalukan aku?’ gumamnya dalam hati.


Kania yang di bantu oleh Zaki mulai membersihkan sisa-sisa makanan yang tadi dia bawa, “kalau begitu aku pulang dulu, lain kali jika aku mencoba resep baru, kamu adalah orang pertama yang akan mencicipinya,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.


Zaki mengernyitkan dahinya, “kenapa aku? kenapa bukan Tuan Veon?” tanyanya terkejut.


“Karena hanya kamu yang menghargai masakan aku, lalu untuk apa aku memberikan masakan aku kepada orang yang sama sekali tidak bisa menghargai niat baik orang lain,” sindir Kania sambil melirik ke arah Veon.


Zaki menahan tawanya, sepasang suami istri itu sungguh terlihat lucu saat saling sindir menyindir, tapi Zaki tahu, jika sebenarnya sudah tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya, hanya saja mereka belum menyadari itu.


“Aku akan mengantar kamu pulang,” tawar Zaki dan mendapat anggukkan dari Kania.


“Maaf, Tuan. Saya akan mengantar adik saya ini pulang ke rumah, apa Tuan ingin minta dibelikan sesuatu, karena saya tau Tuan belum makan dari tadi.” Zaki sengaja menekankan kata adik saya saat berbicara dengan Veon, agar Veon menyadari akan kesalahannya.

__ADS_1


Veon berdecak sebal, “aku tidak butuh apapun, lebih baik kamu segera membawa pergi adik kamu itu!” serunya kesal.


Zaki mencoba menahan tawanya, “baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu.” pria itu lalu mengajak Kania keluar dari ruangan itu.


“Brengsek! Apa yang sudah dilakukan wanita bodoh itu, apa dia sengaja ingin mempermainkan aku!” Veon menyapu bersih semua benda yang berada di atas meja kerjanya, “kakak! Dia ingin memiliki seorang kakak katanya!” pria itu lalu tertawa, “sungguh konyol!”


Veon mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya, “aku juga tidak menyangka Zaki akan melakukan ini sama aku, berani-beraninya dia menganggap istri aku sebagai adik perempuan, apa dia sudah bosan bekerja denganku!”


Veon meluapkan semua kekesalannya yang dia tahan sejak tadi, bahkan dirinya tidak menyangka akan dipermalukan oleh istri dan juga asisten pribadinya. Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari perut Veon, “ais...sial! mana perut aku lapar sekali.”


Veon jadi teringat akan ekspresi wajah Zaki saat menikmati makanan buatan Kania, “apa makanan itu seenak itu hingga Zaki begitu menikmatinya?”


Tiba-tiba Veon mendengar suara dering ponselnya, pria itu mengambil ponselnya yang terlempar jauh saat dia menyapu bersih meja kerjanya. Dia lalu melihat siapa yang menelponnya, “Zaki, untuk apa dia menelponku?” Veon lalu menjawab panggilan itu, “ada apa?” tanyanya.


“Apa tuan ingin dibelikan sesuatu?”


“Kamu sekarang dimana?”


“Saya sedang dalam perjalanan ke kantor,” ucap Zaki berbohong, padahal dirinya saat ini sedang ada di dapur bersama dengan Kania.


Zaki mencoba menahan tawanya, ‘makanya jadi orang jangan sok nolak makanan enak, sekarang tanggung sendiri akibatnya, lapar...lapar deh.’ “baik tuan, saya akan membelikan makanan untuk tuan. Kalau begitu saya tutup dulu telponnya.” Zaki lalu mengakhiri panggilan itu.


“Apa sudah matang?” tanya Zaki sambil menatap Kania yang masih sibuk dengan masakannya.


“Kenapa kamu menyuruhku untuk membuatkan makanan untuk dia, apa kamu tadi tidak melihat dia menolak masakan aku!” Kania meletakkan makanan itu ke tempat bekal makan siang dengan raut wajah kesal.


“Apa kamu tidak kasihan dengan suami kamu yang kelaparan,” goda Zaki.


“Buat apa aku peduli sama dia, sedangkan dia sama sekali tidak peduli denganku. Dia bahkan tega menghinaku di depan kamu.” Kania mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi kedua pipinya.


Zaki tidak ingin memperkeruh keadaan, “apa sudah siap?” tanyanya lalu beranjak dari duduknya dan mendekati Kania. Wanita itu hanya mengangguk sambil memasukkan bekal makan siang itu ke dalam paper bag.


“Makasih ya, aku berharap kamu bisa sabar dalam menghadapi Tuan Veon.” Zaki mengambil paper bag itu dari atas meja lalu melangkah pergi.


Kania mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi meja makan, “sabar, masih kurang sabarkah aku menghadapi sikap dia selama ini.” Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh membasahi kedua pipinya.


“Maafkan aku Kania, semua ini terjadi karena aku, tapi aku janji, aku akan membuat Tuan Veon mencintai kamu dan mau menerima kamu sebagai istrinya.” Zaki lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.

__ADS_1


***


 


Veon saat ini sedang menikmati makanan yang dibawa oleh Zaki, “Zak, dimana kamu membeli makanan ini? Makanan ini sangat enak,” ucapnya sambil terus memasukkan satu suap makanan ke dalam mulutnya.


“Direstoran dekat rumah, Tuan,” ucap Zaki berbohong.


“Apa kamu tidak berbohong?”


Zaki menelan ludah, “maksud tuan apa?” tanyanya cemas.


“Aku tau ini tempat bekal makan siang yang biasanya Chelsea pakai.” Veon mengambil segelas air putih lalu meneguknya, “apa makanan ini masakan Kania?” tanyanya kemudian.


Zaki menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “em...maafkan saya Tuan, saya hanya ingin anda mencicipi masakan Nona Kania,” ucapnya.


Veon telah menyapu bersih bekal yang dibawa oleh Zaki, dia tidak memungkiri jika masakan Kania memang terasa lezat. Dia bahkan ingin kembali memakan masakan wanita itu, tapi dia gengsi untuk mengatakannya kepada Zaki.


“Lain kali saya akan membelikan makanan di tempat biasa Tuan makan,” ucap Zaki sambil menundukkan wajahnya.


“Terserah kamu saja. Sekarang kamu urus semua kekacauan ini.” Veon menunjuk semua benda yang tercecer di lantai.


Zaki membulatkan kedua matanya, dia tidak menyadari jika sejak tadi ruangan Veon sudah berubah seperti kapal pecah, ‘apa saat aku pulang tadi, tuan Veon meluapkan kekesalannya?’ gumamnya dalam hati.


Zaki lalu mulai mengambil semua barang-barang yang tergeletak di lantai. Pria itu mengambil bingkai foto yang sudah pecah, “Tuan, bagaimana dengan bingkai foto ini, apa perlu saya ganti bingkainya?” tanyanya sambil memberikan bingkai foto itu kepada Veon.


Veon mengambil bingkai foto itu dari tangan Zaki, “biar aku saja, kamu bereskan saja yang lain,’ ucapnya.


“Tuan, kalau saya boleh tau, siapa wanita yang bersama dengan tuan itu?”


“Kamu tidak perlu tau, dia hanya masa lalu aku.” Veon lalu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


“Kenapa wajah Tuan Veon berubah murung? Apa wanita itu mantan kekasihnya? Jika itu benar, lalu bagaimana nasib Kania nanti?” Zaki nampak tengah berpikir keras, “tapi jika Tuan Veon ingin kembali dengan wanita itu, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.”


Zaki lalu kembali membersihkan ruang Veon, “apa salah laptop ini, hingga tuan Veon harus menghancurkan laptop ini,” gerutunya.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2