Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Hatinya akan benar-benar hancur


__ADS_3

Alex sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah sakit, dia juga sudah tidak sabar menunggu hasil lab dirinya dan juga Chelsea. Sebenarnya, selama ini, Alex merasa sangat penasaran kenapa Chelsea belum juga hamil, padahal dia selalu membuangnya di dalam saat melakukan hubungan itu.


Bahkan dulu, saat pertama kali Alex merenggut kesucian Chelsea, dia juga tidak memakai pengaman, karena saat itu mereka sama-sama dalam keadaan mabuk. Alex mengira mungkin dia gagal saat itu, tapi ini...3 bulan dia memasukkan benihnya ke dalam rahim Chelsea, bahkan tidak bolong seharipun. Tapi, kenapa Chelsea belum juga hamil? Apa dia yang bermasalah, atau dirinya yang bermasalah?


Alex memang sengaja tidak membahas itu dengan Chelsea selama ini, karena dia takut akan menyinggung perasaan Chelsea, tapi sekarang malah Chelsea yang mengusulkan untuk melakukan tes kesuburan. Alex sebenarnya takut, takut jika dirinya yang bermasalah. Jika Chelsea mengetahui jika memang benar Alex yang bermasalah, apa Chelsea akan meninggalkannya? Itu yang ada di pikiran Alex saat ini.


Alex sudah sampai di rumah sakit, dia pun mulai masuk ke dalam lobby rumah sakit dan melewati koridor demi koridor rumah sakit, untuk bisa sampai di ruangan Dokter Anisa. Setelah sampai di depan ruangan Dokter Anisa, Alex lalu mengetuk pintu itu, setelah mendapat sahutan dari dalam, Alex langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangan itu.


“Silahkan duduk,” pinta Dokter Anisa.


Alex menganggukkan kepalanya, dia lalu menarik salah satu kursi yang berada di depan meja kerja dokter Anisa, lalu mendudukkan tubuhnya di kursi itu. dokter Anisa lalu memberikan dua hasil tes lab kepada Alex.


“Bagaimana hasilnya, Dok?”


“Silahkan anda baca hasilnya, nanti saya akan menerangkannya.”


Alex pun membuka kedua amplop itu satu persatu, pertama dia membaca hasil lab Chelsea, dan hasil lab Chelsea hasilnya dia dalam keadaan sehat dan subur. Lalu Alex membaca hasil lab miliknya, tapi yang tertulis di situ, sangat berbeda dengan yang ada di hasil lab Chelsea, “dok, ini...”


Dokter Anisa menganggukkan kepalanya, “anda mandul, itu disebabkan karena produksi *** anda sangat rendah, dan fungsi *** abnormal.”


Alex menggelengkan kepalanya, “tidak dok, ini pasti salah, saya tidak mungkin mandul, tidak!” Pria itu tidak bisa menerima kenyataan pahit itu, apa yang harus dia katakan kepada Chelsea nanti, padahal Chelsea ingin sekali memiliki anak, jadi semua karena dirinya hingga Chelsea sampai sekarang belum juga bisa hamil.


“Kalau anda masih belum yakin, anda bisa melakukan tes ulang di rumah sakit lain, hanya itu yang bisa saya sampaikan.”


“Dok, apa tidak ada cara lain, operasi misalnya, agar saya bisa mempunyai anak?”


“Ada, dengan cara mengobati infeksi, yaitu menggunakan antibiotik yang mungkin bisa mengatasi infeksi pada saluran reproduksi, tapi hal itu belum tentu bisa mengembalikan kesuburan anda. Dengan obat-obatan dan terapi hormon juga bisa, jika kemandulan disebabkan seperti yang anda alami saat ini, tapi itu juga belum tentu berhasil, dan yang terakhir operasi, tapi ada yang takut melakukan operasi, karena itu akan menurunkan tingkat kepercayaan diri pada diri pria itu.”


Alex seakan sedang berpikir, dia memang takut untuk melakukan operasi, dia takut, setelah melakukan operasi, barang kebanggaannya tidak akan bisa berfungsi seperti awal, “dok, saya ingin melakukan mengobati infeksi dan juga obat-obatan dan terapi hormon, tapi sebelum itu, apa saya boleh meminta tolong?”


“Apa yang bisa saya bantu untuk anda?”


“Apa dokter bisa merubah hasil tes lab saya, saya tidak ingin membuat istri saya kecewa nantinya.”


“Tapi, itu melanggar etika kedokteran, maaf, saya tidak bisa.”


Alex mengatupkan kedua telapak tangannya, “saya mohon, Dok. Istri saya begitu ingin mempunyai seorang anak, jika dia tahu saya mandul, hatinya akan benar-benar hancur, saya tidak bisa melihat itu, saya mohon,” pintanya lagi.


Dokter Anisa menghela nafas panjang, “ini bantuan terakhir saya, karena kalau sampai ini ketahuan sama pihak rumah sakit, maka saya yang akan terkena imbasnya.”

__ADS_1


“Terima kasih, dok. Saya yang akan bertanggung jawab untuk semua itu.”


Dokter Anisa pun beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya.


Alex meraup wajahnya gusar, “Chel, maafkan aku, maafkan aku, ternyata yang bermasalah adalah aku, bukan kamu. Aku terpaksa harus membohongi kamu, aku tidak ingin kamu pergi meninggalkan aku saat kamu tahu yang sebenarnya. Cukup aku dan dokter Anisa saja yang tahu tentang semua ini, aku akan berusaha untuk melakukan pengobatan, demi kamu sayang, karena aku tidak mau kehilangan kamu.”


Dokter Anisa membuka pintu dan masuk ke dalam ruangannya, dia lalu memberikan sebuah amplop untuk Alex, “saya berharap anda bisa memberitahu yang sebenarnya kepada istri anda, bagaimanapun dia berhak tahu semua ini. Dan untuk pengobatan yang anda inginkan, saya akan memberikan antibiotik dan anda harus meminumnya secara teratur.”


Alex menganggukkan kepalanya, “terima kasih dok.”


“Tapi anda harus ingat, manusia hanya bisa berusaha, tapi yang Di-Atas yang menentukan semuanya.” Alex kembali menganggukkan kepalanya.


Setelah Alex menyelesaikan urusannya dengan dokter Anisa, Alex pamit undur diri dan keluar dari ruangan itu. Alex merobek hasil tes lab-nya dan membuangnya ke dalam tong sampah, dia lalu bergegas menuju parkiran.


**


Alex memasuki sebuah butik tempat Vika dan Betrand melakukan fitting baju. Pria itu melihat Chelsea yang sedang merapikan gaun pengantin yang Vika pakai, dia lalu melangkahkan kakinya menghampiri mereka bertiga.


“Itu Alex,” tunjuk Betrand ke arah Alex.


Chelsea menengok ke arah jari telunjuk Betrand, dia pun tersenyum saat melihat Alex memang benar-benar datang. Wanita itu lalu memeluk Alex, “kenapa lama sekali?” tanyanya.


“Lalu bagaimana dengan hasil tes Lab-nya, semua baik-baik saja kan? Tidak ada masalah apa-apa kan?”


Alex dengan sangat berat hati menggelengkan kepalanya, ‘maafkan aku sayang, aku terpaksa berbohong,’ gumamnya dalam hati.


“Coba, aku ingin melihatnya sendiri,” pinta Chelsea sambil menengadahkan telapak tangannya.


Alex mengambil dua amplop yang tadi di berikan dokter Anisa dari dalam saku jas-nya dan dia berikan kepada Chelsea. Chelsea yang sudah tidak sabar ingin melihat hasil tes itu pun segera membuka amplop itu satu persatu dan membacanya.


Alex bisa melihat senyuman mulai merekah dari kedua sudut bibir Chelsea, sebenarnya dia tidak ingin membohongi Chelsea, tapi dia terpaksa melakukan itu, ‘maafkan aku sayang, maafkan aku,’ gumamnya dalam hati.


Chelsea lalu memeluk Alex dan mencium kilas bibir suaminya itu, “aku benar-benar sudah tidak sabar ingin segera memiliki anak dari kamu sayang, mereka pasti akan sangat lucu-lucu dan tampan seperti kamu.”


Alex hanya mampu menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Vika dan Betrand juga ikut bahagia saat melihat Alex dan Chelsea bahagia, mereka berdoa agar tidak ada lagi yang akan memisahkan mereka berdua.


Betrand dan Vika sudah berganti pakaian dengan pakaian yang semula mereka pakai. Setelah itu mereka keluar dari butik itu untuk pergi makan siang. Mereka memutuskan untuk pergi ke restoran langganan mereka dulu, sekalian ingin mengenang masa-masa mereka dulu.


Chelsea tidak henti-hentinya mengatakan keinginan dan ketidak sabarannya ingin memiliki anak, dan itu semakin membuat Alex semakin bersalah.

__ADS_1


“Lex, ada apa, kenapa kamu terlihat sedih seperti itu?” tanya Betrand curiga.


Alex menggelengkan kepalanya, “bukan apa-apa, aku hanya merasa sangat lelah. Akhir-akhir ini banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan sebelum kamu mengambil cuti nanti,” ucapnya berbohong.


“Kamu tenang saja, aku janji akan menyelesaikan semuanya sebelum aku cuti.”


Chelsea merangkul lengan Alex, “kamu jangan terlalu capek ya sayang, kita kan berencana untuk mempunyai anak,” ucapnya manja.


Vika dan Betrand hanya menggelengkan kepala mereka saat melihat tingkah Chelsea yang seakan tidak ingin lepas dari Alex. Mereka tidak menyangka, Chelsea akan menjadi se-bucin itu dengan Alex setelah kepulangan mereka dari berbulan madu.


Dua pelayan datang untuk mengantarkan makanan dan minuman yang mereka pesan, setelah meletakkan semua makanan dan minuman itu ke atas meja, kedua pelayan itu pamit undur diri.


“Sayang, suapin dong,” pinta Chelsea dengan manja.


Alex pun menuruti permintaan Chelsea dan memberikan satu suapan ke mulut Chelsea. Chelsea menjadi teringat akan kejadian waktu di kantin rumah sakit, saat Rena minta di suapin oleh Zaki, tapi Zaki menolaknya.


“Sayang, apa kamu ingat dengan Rena, kekasihnya Zaki?” Alex menganggukkan kepalanya, “waktu kami ke kantin rumah sakit waktu itu, aku melihat gelagat aneh dari Zaki, sepertinya dia terpaksa berpacaran dengan Rena,” ucapnya.


“Itu mana mungkin, Zaki tidak mungkin berani mempermainkan Rena, dia akan putri satu-satunya Pak Faisal.”


“Tapi itu yang aku lihat, karena Zaki menolak dengan sangat keras saat Rena minta di suapin sama Zaki, selain itu dia lebih mementingkan...” Chelsea menghentikan ucapannya, dan itu membuat Alex mengernyitkan dahinya.


“Mementingkan siapa? Kenapa kamu terdiam?” tanyanya penasaran.


“Dia ingat sama makanan kesukaan aku, tapi dia malah lupa menanyakan Rena mau pesan makanan apa,” jawab Chelsea pelan.


Alex mengepalkan kedua tangannya, mendengar ucapan Chelsea, dia bisa menebak jika Zaki masih memiliki perasaan kepada Chelsea. Pria itu semakin merasa takut, takut Chelsea akan pergi meninggalkannya.


“Sayang, maaf, tapi aku sama Zaki benar-benar sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi,” ucap Chelsea menjelaskan.


Alex tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “aku percaya sama kamu, kamu tidak akan mungkin pernah mengkhianati aku,” ucapnya.


Betrand dan Vika hanya diam, mereka tidak akan berkomentar, karena itu bukan urusan mereka. Mereka pun akhirnya selesai makan, Chelsea dan Alex pergi terlebih dahulu, sedangkan Betrand dan Vika masih berada di restoran itu untuk sejenak menurunkan makanan yang baru saja mereka makan.


~oOo~



 

__ADS_1


__ADS_2