
Setelah kejadian di rumahnya beberapa waktu yang lalu, Alex sama sekali belum bertemu dengan Chelsea. Wanita itu selalu menghindar jika Alex ingin bertemu dengannya. Berbagai cara sudah dilakukan pria itu, tapi Chelsea sudah tidak perduli dengan segala ancamannya.
“Brengsek!” Alex melempar botol wine di tangannya, “dia berani sekali melawanku, dia bahkan tidak perduli lagi dengan ancaman yang aku berikan!” teriaknya.
Alex mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas meja, dia lalu menghubungi seseorang, dan tidak butuh waktu lama panggilan itu mulai tersambung. Seseorang yang Alex hubungi adalah Veon.
“Halo, siapa ini?” tanya Veon.
“Kamu tidak perlu tau siapa aku, aku hanya ingin memberikan hadiah untuk pernikahan kamu.”
Veon mengernyitkan dahinya, “siapa kamu! Aku tidak membutuhkan hadiah dari kamu!” serunya.
“Tapi sebagai calon adik ipar kamu, sudah semestinya aku memberikan kamu hadiah. Sekarang kamu tunggu hadiah dari aku.” Alex lalu mengakhiri panggilan itu.
“Chelsea, kita lihat saja, sampai kapan kamu akan terus menghindar dari aku. Aku akan membuat kamu dan kakak kamu bertekuk lutut di hadapan aku.” Alex tertawa sarkas.
Alex lalu mengirimkan video dirinya dan juga Chelsea saat beradengan panas di atas ranjang kepada Veon, “aku tidak pernah main-main dengan ancaman aku, Chelsea, kita lihat saja nanti, siapa yang akan mendatangi aku duluan,” ucapnya sambil tertawa sarkas.
Veon mendapatkan kiriman video dari nomor yang tidak di kenal, tanpa pikir panjang pria itu lalu mulai memutar video itu. Kedua mata Veon membulat dengan sempurna, dia lalu mematikan video itu sebelum adegan dalam video itu berakhir.
“Brengsek! Apa yang telah di lakukan sama Chelsea? Kenapa dia merahasiakan semua ini selama ini? Lalu pria itu, bukankah dia itu pria yang selama ini aku cari?”
Veon lalu menghubungi Alex, “apa mau kamu sebenarnya?” pria itu bersuara dengan nada tinggi setelah panggilannya tersambung.
“Tenang dulu dong, kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik. Sekarang temui aku di restoran yang letaknya tak jauh dari kantor kamu. Kamu pasti tau di mana restoran itu, aku akan menunggumu.” Alex lalu mengakhiri panggilan itu, “permainan baru akan di mulai,” ucapnya sambil menyunggingkan senyumannya.
***
Veon menghubungi Zaki untuk segera menemuinya. Zaki yang sedang menikmati makanannya mau tidak mau harus mengakhirinya dan pergi untuk menemui majikannya itu. Setelah beberapa menit Zaki sudah berada di dalam ruangan Veon.
Veon beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya menghampiri asisten pribadinya itu. Zaki sangat terkejut saat tiba-tiba Veon menampar pipinya dengan sangat keras.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan selama ini? Bukankah aku menyuruh kamu untuk mengikuti Chelsea, tapi apa ini!” Veon meleparkan ponselnya ke arah Zaki, tapi dengan cepat Zaki menangkap ponsel itu.
“Aku percayakan Chelsea sama kamu, tapi apa itu!” Veon lalu menyuruh Zaki untuk membuka video yang di kirim oleh Alex.
Kedua mata Zaki membulat dengan sempurna saat dia melihat adegan panas wanita yang sangat dia cintai dengan pria lain, “maafkan saya, tuan. Saya teledor,” ucapnya sambil menundukkan wajahnya. Jadi dia pria yang di ceritakan Chelsea waktu itu, apa ini juga yang Chelsea maksud dengan video yang akan pria itu sebar luaskan? Pikirnya.
“Maaf, kamu bilang! Apa hanya dengan kata maaf, semua masalah akan selesai!”
Zaki menggelengkan kepalanya, “apapun akan saya lakukan untuk menebus keteledoran saya,” ucapnya.
“Kenapa masalah dalam hidup aku tidak pernah berakhir. Masalah aku dengan Papa saja belum selesai, sekarang malah ditambah dengan masalah Chelsea. Apa yang akan terjadi dengan Papa dan Mama jika mereka tau tentang video itu? Aku sama sekali tidak bisa membayangkannya.” Veon meraup wajahnya gusar, “Zak, apa yang harus aku lakukan?” tanyanya kemudian.
“Tuan, sebenarnya saya sudah tau tentang masalah ini,” ucap Zaki pelan.
Veon membulatkan kedua matanya, “apa maksud kamu?” tanyanya terkejut.
“Sebenarnya satu bulan yang lalu Nona Chelsea menceritakan semua itu kepada saya. Dia terlihat sangat sedih dan kebingungan.”
Veon mengernyitkan dahinya, “kenapa dia malah menceritakan hal seperti itu sama kamu, kenapa dia tidak menceritakan itu sama aku?” tanyanya heran.
“Apa! Tapi kenapa selama ini kamu hanya diam dan tidak menceritakan itu sama aku!”
Zaki semakin menundukkan wajahnya, “maafkan saya Tuan, tapi yang harus Tuan khawatirkan sekarang bukan itu, tapi Nona Chelsea,” ucapnya.
Veon jadi teringat akan kata-kata yang Alex ucapkan saat dia mengakhiri panggilan itu, “oya, pria itu meminta aku untuk menemuinya di restoran, sekarang kamu temani aku untuk menemui pria brengsek itu,” perintanya.
Zaki menganggukkan kepalanya, mereka lalu keluar dari ruangan itu. Zaki juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Alex, jika mempunyai kesempatan, dia ingin sekali menghajar pria itu, melampiaskan semua kekesalannya, dan sakit hati wanita yang sangat dia cintai.
Sesampainya di restoran, mereka lalu melangkahkan kaki mereka untuk menemui Alex yang sudah menunggu mereka di dalam restoran. Alex mempersilahkan Veon dan Zaki untuk duduk, saat kedua pria itu sudah berdiri di hadapannya.
Bukannya duduk, Zaki malah mencengkeram erat kerah kemeja Alex hingga pria itu beranjak dari duduknya, “brengsek! Apa yang kamu inginkan sebenarnya!” serunya.
“Siapa kamu? Apa kamu ingin memukulku? Pukul saja aku kalau kamu berani,” tantang Alex sambil menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Zaki langsung melayangkan pukulan tepat di pipi kiri Alex hingga membuat pria itu jatuh tersungkur. Alex yang mendapatkan pukulan tiba-tiba dari Zaki hanya tersenyum miring, pria itu lalu bangkit berdiri.
“Apa kamu merasa puas setelah memukulku? Atau mungkin kamu ingin memukul aku lagi?” Alex menyentuh sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah, “aku tidak akan tinggal diam dengan apa yang sudah kamu lakukan sama aku. Apa kamu tidak takut dengan apa yang akan aku lakukan dengan video itu?” ancamnya.
“Maksud kamu apa, hah!” Zaki kembali menarik kerah kemeja Alex.
“Zak, lepaskan dia,” titah Veon.
Alex menyunggingkan senyumannya saat Zaki menuruti perintah Veon dan melepaskan cengkraman tangannya. Alex lalu kembali duduk di tempat semula.
Veon melipat kedua lengannya di dada, dia lalu menyilangkan kakinya, “sebenarnya apa mau kamu? Apa kamu ingin mengancam aku dengan video yang kamu kirim? Atau kamu ingin meminta uang untuk memerasku?” pria itu mencoba untuk tetap tenang, dia ingin mencari tau tentang maksud dan tujuan Alex yang sebenarnya.
“Aku akan memperkenalkan diri aku terlebih dahulu.” Alex lalu mengulurkan tangannya, “nama aku Alex,” ucapnya mencoba memperkenalkan diri.
Tapi Veon tetap tidak bergeming dari posisinya, dia bahkan tidak menyambut uluran tangan Alex, “aku tidak suka berbasa-basi, aku bahkan sudah tau siapa kamu? Bukankah kamu kekasih Chelsea, lalu kenapa kamu melakukan ini kepada wanita yang kamu cintai?” tanyanya.
Alex tertawa sarkas, “wanita yang aku cintai kamu bilang...” pria itu menggelengkan kepalanya, “aku sama sekali tidak mencintai adik kamu, tapi aku...”
Zaki yang mendengar ucapan Alex sudah tidak sanggup lagi menahan amarahnya, hingga pukulan yang kedua kalinya dia layangkan ke wajah Alex, hingga pria itu kembali jatuh tersungkur. Para pelanggan restoran itu menatap ke arah meja Veon. Mereka salaing berbisik satu sama lain.
“Zak, tenanglah. Jangan kotori tangan kamu dengan darah pria brengsek ini,” ucap Veon dan masih tetap di posisinya.
Alex mencoba untuk berdiri, demi mencapai tujuannya, dia mengabaikan apa yang Zaki lakukan padanya, “apa kamu sama sekali tidak mengenal aku?” tanyanya lalu kembali duduk di kursinya.
“Untuk apa aku mengenalmu?” justru pertanyaan yang keluar dari mulut Veon.
“Baiklah, aku akan memperkenalkan diri lagi. Aku adalah Alex Fernando.” Alex lalu melipat kedua lengannya di dada, “apa kamu merasa tidak asing dengan nama Fernando?” tanyanya kemudian.
Veon dan Zaki saling menatap, mereka lalu membulatkan kedua mata mereka dengan sempurna.
“Ya, Fernando adalah nama Papa aku, yang perusahaannya telah kamu hancurkan. Dan gara-gara itu juga Papa aku meninggal!” seru Alex keras.
“Tapi Tuan Fernando meninggal bukan karena Tuna Veon,” bantah Zaki.
__ADS_1
“Aku tidak perduli itu, bagi aku Veon lah yang telah membunuh Papa aku. Aku sudah berjanji kepada mendiang Papa aku, kalau aku akan membalaskan dendam kematiannya.” Alex tertawa sarkas, “dan sekarang aku sudah memulai permainannya, aku sudah menghancurkan masa depan adik kamu, dan aku tidak akan pernah menikahi nya. Tapi....” pria itu menghentikan ucapannya.
~oOo~