
Setelah mendapat tugas baru dari Veon, pagi-pagi sekali Zaki sudah standby di rumah Chelsea. Dia menunggu di pos penjagaan rumah itu. Zaki memilih menunggu sambil mengobrol dengan petugas keamanan di rumah kedua orang tua Veon.
Chelsea keluar dari rumahnya. Zaki yang melihat Chelsea yang sedang berjalan menuju mobilnya pun bergegas menghampiri gadis itu.
“Kamu mau pergi ke mana?” tanyanya.
“Kamu! Kenapa kamu di rumah aku jam segini?” tanya Chelsea terkejut.
“Mulai hari ini aku ditugaskan oleh kakak kamu untuk mengantar kemanapun kamu pergi.”
Chelsea menggeleng, dia menolak. Dia lalu membuka pintu mobilnya, tapi dengan cepat Zaki menutup pintu mobil itu.
“Apa yang kamu lakukan?” seru Chelsea kesal.
“Lebih baik kamu aku antar, kalau kamu menolak aku akan...”
“Akan apa, hah! Kamu akan melapor sama kakak aku atas apa yang kamu lihat kemarin?” teriaknya.
Zaki terkejut mendengar teriakan Chelsea, dia merasa yang ada di depannya saat ini bukan lagi Chelsea yang dia kenal dulu. Dia sudah banyak berubah, rupanya. Pikirnya.
“Kenapa? Apa kamu terkejut melihat aku yang sekarang? Asal kamu tau, aku bukan Chelsea yang dulu lagi, yang dapat dengan mudah kamu sakiti!”
Zaki mencengkram pergelangan gadis itu, “aku tidak peduli siapa diri kamu sekarang, aku di sini untuk bekerja, aku harap kamu tidak melakukan hal yang bisa merugikan aku nantinya,” ancamnya.
Chelsea menghempaskan tangan Zaki, “apa kakak meminta kamu untuk memata-matai aku?” wanita itu melipat kedua lengannya di dada.
“Dia hanya mengkhawatirkan kamu.”
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku tidak segera datang ke rumah Alex, maka dia pasti akan marah. Kalau sampai itu terjadi, dia akan menyebar luaskan video itu. Aku sudah melakukan berbagai cara untuk menghapus video itu, tapi tetap saja gagal. Aku sudah bosan menjadi budak nafsu Alex selama ini? Chelsea nampak tengah melamun.
Zaki menepuk bahu gadis itu, “kenapa kamu malah bengong?” tanyanya.
Apa aku kasih tau Zaki ya, tapi aku malu, aku takut dia akan membenciku dan menganggapku murahan. Pikirnya. “Em...kalau begitu antar aku ke rumah teman aku,” ucapnya.
Zaki menganggukkan kepalanya, mereka lalu berjalan menuju mobil Zaki. Dalam perjalanan hanya ada keheningan di dalam mobil itu, tidak ada suara yang keluar dari mulut Zaki maupun Chelsea. Chelsea terus menatap keluar jendela, sedangkan Zaki fokus menatap ke depan.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang berasal dari dalam tas Chelsea, tapi dia tidak mengangkat telepon itu.
“Kenapa tidak kamu jawab?” tanya Zaki penasaran.
__ADS_1
“Tidak penting.”
“Kok kamu bisa tau itu tidak penting? Padahal kamu belum melihat siapa yang menelpon kamu, siapa tau itu dari kakak kamu?”
“Mana mungkin itu dari kakak, nada dering itu kan khusus untuk panggilan masuk dari si brengsek Alex!” umpat Chelsea dalam hati.
Ponsel Chelsea kembali berdering.
“Kalau kamu tidak mau menjawabnya lebih baik kamu matikan ponsel kamu itu, suaranya bikin telinga aku jadi tuli.”
Chelsea mendengus kesal. Dia akhirnya menjawab panggilan itu, “halo,” sahutnya.
Zaki melihat wajah Chelsea yang tiba-tiba berubah pucat pasi, “ada apa?” tanyanya cemas saat Chelsea mengakhiri panggilan itu.
Chelsea hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tapi Zaki tidak langsung percaya begitu saja. Pemuda itu lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, “aku tau kamu berbohong, katakan ada apa? Siapa yang tadi menelpon kamu, apa pria yang kemarin bertengkar dengan mu?” tanyanya.
“Itu bukan urusan kamu!” seru Chelsea dengan kedua mata yang mulai menggenang.
“Sekarang itu menjadi urusan aku, karena kakak kamu memerintahkan aku untuk menjaga kamu.”
“Kamu hanya perlu melakukan tugas kamu, tapi kamu tidak berhak ikut campur dengan urusan pribadi aku. Lebih baik sekarang kamu melajukan mobilnya, teman aku sudah menunggu.” Chelsea memalingkan tatapannya menatap keluar jendela. Dia tidak ingin Zaki melihatnya menangis.
Chelsea menghapus air matanya sebelum dia mengubah posisinya menghadap Zaki, “mau kamu apa, hah!” teriaknya kesal.
“Aku hanya ingin membantu kamu.”
“Apa aku pernah meminta kamu untuk membantu aku! Tidak kan! Jadi tidak usah sok peduli!” teriak Chelsea keras.
Zaki menatap kedua mata Chelsea, masih ada sisa air mata di kedua sudut matanya, “apa kamu masih menganggapku sebagai teman kamu? Kamu bisa menceritakan semua masalah kamu sama aku, aku janji tidak akan memberi tahu masalah ini kepada kakak kamu,” ucapnya.
Chelsea menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi penumpang, “sudahlah, Zak. Aku tidak mau melibatkanmu dalam masalah aku,” ucapnya.
“Aku tau selama ini aku sudah menyakiti hati kamu, aku juga bukan siapa-siapa kamu lagi tapi...”
Zaki menghentikan ucapannya saat Chelsea menangkup kedua pipinya. Kedua matanya kini bisa melihat Chelsea dengan jarak yang begitu dekat, “apa yang kamu lakukan?” saat ini jantung Zaki berdetak lebih cepat dari biasanya. Ini lah alasan kenapa dia tidak ingin menerima tugas yang diberikan oleh Veon, karena dirinya mungkin tidak bisa menahan perasaannya yang dia pendam untuk wanita itu.
“Zak, apa yang harus aku lakukan sekarang?” Chelsea masih menangkup kedua pipi Zaki.
“Maksud kamu apa?”
__ADS_1
“Zak, apa kamu tau, selama ini aku masih begitu penasaran, kenapa kamu pergi meninggalkan aku waktu itu? Apa salah aku sama kamu?” Chelsea menatap kedua mata Zaki dengan tatapan sendunya.
“Kenapa kamu malah membahas itu?” Zaki menurunkan kedua tangan Chelsea dari pipinya.
“Karena aku...aku ingin tau apa alasan kamu.”
“Aku tidak ingin membahas itu, semua itu sudah berlalu.” Zaki hendak menyalakan mesin mobilnya, tapi Chelsea mematikan mesin itu kembali, “apa yang kamu inginkan sebenarnya?” tanyanya.
“Apa kamu masih mencintai ku?”
Zaki menatap kedua mata Chelsea yang mulai berkaca-kaca, “kenapa kamu menangis?” tanyanya cemas.
“Jawab, Zak! Apa kamu masih mencintai ku?”
Zaki menggeleng, “aku tidak mencintai mu,” ucapnya berbohong tanpa berani menatap kedua mata Chelsea.
“Lihat aku, jawab pertanyaan aku dengan kamu menatap kedua mata aku, Zak,” pinta Chelsea.
“Omong kosong apa kamu bicarakan, sekarang aku akan mengantarmu ke rumah teman kamu.” Zaki kembali menyalakan mesin mobilnya.
Zaki mendengar suara tangisan yang keluar dari mulut Chelsea, dia melihat Chelsea yang mulai terisak, “kenapa kamu malah menangis?” dia lalu menghapus air mata Chelsea.
“Zak, aku ingin mati saja.”
Kedua mata Zaki membulat dengan sempurna, mulutnya menganga, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, “apa! Kamu ingin mati!” serunya.
“Buat apa aku hidup, jika aku harus terus hidup dalam kehinaan ini. Aku tidak ingin mempermalukan keluarga aku.” Chelsea berbicara di sela isak tangisannya.
Zaki mencengkeram kedua bahu Chelsea, “maksud kamu apa, hah! Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan?” tanyanya.
“Jika kamu berada di posisi aku saat ini, apa kamu masih ingin terus hidup? Apa kamu akan diam saja saat melihat nama baik keluarga kamu tercemar?”
Zaki semakin mengernyitkan dahinya, dia sama sekali tidak bisa memahami semua kata-kata yang keluar dari mulut Chelsea, “katakan dengan jelas apa maksud kamu!” serunya.
Chelsea menatap kedua mata Zaki, dia bingung harus menceritakan semuanya atau tidak, tapi dia juga tidak ingin selamanya hidup seperti itu, menjadi budak nafsu Alex.
“Zak, sebenarnya aku...
~oOo~
__ADS_1