
Setiap waktu, Chelsea selalu membicarakan soal anak, dan itu sungguh membuat Alex merasa sangat frustasi. Dia tidak tahu harus dengan siapa membagi masalahnya itu, dia juga tidak mungkin menceritakan semua itu kepada Betrand, karena sekarang sahabatnya itu akan menikah dengan Vika, yang tak lain adalah sahabat istrinya sendiri.
Alex semakin merasa tertekan, dia memang saat ini tengah menjalani terapi hormon, tapi dia juga tidak yakin, apa itu akan mengembalikan kesuburannya. Pria itu bahkan merasa begitu enggan pulang ke rumahnya sendiri, karena setiap dia bersama dengan Chelsea, pasti yang wanita itu bahas adalah tentang anak.
Alex memang tidak memungkiri, dia juga ingin sekali mempunyai anak, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sekarang tengah berusaha, tapi...jika dia selalu di tekan seperti itu, lama-lama dia juga merasa jengah dan frustasi.
Betrand sudah bersiap-siap untuk pulang, masih ada waktu satu minggu lagi untuk dia mengambil cuti, “Lex, apa kamu tidak ingin pulang?” tanyanya saat dia sudah membuka pintu ruangan Alex.
“Kamu duluan saja, aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
Betrand masuk ke dalam ruangan Alex, “kita masih punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan ini, lebih baik kamu sekarang pulang. Chelsea pasti sedang menunggumu.”
“Iya, sebentar lagi lagi ini juga selesai kok, jadi kamu duluan saja,” ucap Alex tanpa mengalihkan tatapan dari layar laptop di depannya.
Betrand menghela nafas, “baiklah, kalau begitu aku balik dulu, jangan terlalu memikirkan masalah pekerjaan ini, aku yakin kita pasti bisa menyelesaikannya tepat waktu,” ucapnya sambil menepuk bahu Alex.
“Hem...”
Betrand lalu membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Alex. Setelah Betrand benar-benar keluar dari ruangannya, Alex menghela nafas kasar, dia lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya.
Alex menatap langit-langit ruangannya, “apa Chelsea sedang menungguku sekarang? Aku sebenarnya ingin sekali pulang, aku sangat merindukan dia, tapi...kenapa yang ada di pikirannya hanya anak...anak dan anak. Aku benar-benar muak mendengar semua itu. Aku tahu, dia sangat menginginkan anak, aku juga, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.”
Alex meraup wajahnya gusar, “sayang, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku yang tidak sempurna ini, maafkan aku.”
**
Chelsea melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 20.00 malam, tapi Alex belum juga pulang ke rumah. Wanita itu terlihat begitu cemas, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Alex. Tapi, setelah beberapa menit, sama sekali tidak ada jawaban dari Alex, dan itu membuat Chelsea semakin cemas.
“Apa Alex lembur lagi, tapi dia kan sekarang sudah jarang lembur. Lebih baik aku hubungi Betrand, dia kan sekarang bekerja dengan Alex.”
Chelsea pun menghubungi Betrand, dan tak butuh waktu lama, panggilan itu mulai tersambung, “halo,” sahutnya.
“Tumben kamu menghubungi aku?”
“Apa Alex ada bersama denganmu? Sampai sekarang Alex belum juga pulang ke rumah.”
Betrand mengernyitkan dahinya, “belum pulang ke rumah! Tapi dia tadi katanya akan segera pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya.”
“Apa Alex lembur lagi?”
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu, kalau benar, tunggu saja sebentar lagi, dia pasti akan pulang. Jangan terlalu mencemaskan dia, dia itu sudah besar, bukan lagi anak kecil,” ledek Betrand.
“Ya wajarlah, kalau aku mengkhawatirkan dia, dia kan suami aku, kalau terjadi apa-apa dengannya bagaimana?”
“Iya-iya, Nyonya Alex yang terhormat. Aku tidak menyangka kamu akan se-bucin ini sama Alex,” godanya.
“Apa kamu sedang meledekku sekarang!” seru Chelsea kesal.
“Bukannya mengejek kamu, tapi kalau mengingat sikap kamu ke Alex dulu, aku masih belum percaya kamu akan secinta ini sama Alex.”
“Semua orang itu bisa berubah, termasuk aku. ya sudah, aku tutup dulu telponnya, aku mau menunggu suamiku pulang.” Chelsea lalu mengakhiri panggilan itu.
Chelsea beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya menuju pintu. Saat dia ingin membuka pintu kamarnya, tiba-tiba pintu itu dibuka dari luar. Alex muncul dari balik pintu itu.
“Sayang, akhirnya kamu pulang juga.” Chelsea lalu memeluk Alex, “aku kira kamu akan pulang larut malam lagi,” imbuhnya.
Alex melepas pelukan Chelsea, “maaf, apa aku sudah membuatmu cemas?” tanyanya sambil menepiskan senyumannya.
“Tentu saja, aku sangat mencemaskanmu, aku tadi juga menghubungi Betrand untuk mencari tahu keberadaan kamu,” ucap Chelsea sambil mengerucutkan bibirnya.
Alex mengecup kening Chelsea, “maafkan aku, aku tadi harus menyelesaikan pekerjaan aku dulu, aku juga tidak menyangka akan sampai jam segini.” Pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju pintu yang terhubung dengan ruang kerjanya.
Alex keluar dari ruang kerjanya, “aku mau mandi dulu,” ucapnya.
“Kalau begitu aku siapkan makan malam untuk kamu.”
Alex menggelengkan kepalanya, “aku tidak merasa lapar, lebih baik kamu istirahat saja.” Pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Chelsea semakin merasa penasaran dengan perubahan sikap Alex, tapi dia tidak ingin berpikiran buruk. Wanita itu memilih untuk menyiapkan pakaian untuk Alex. Sambil menunggu Alex keluar dari kamar mandi, Chelsea memilih untuk membaca buku kesukaannya, tentu saja seputar kehamilan. Akhir-akhir ini, Chelsea sering membaca buku tentang kehamilan dan cara merawat anak dengan baik. Dia meminta Vika untuk menemaninya memborong semua buku yang isinya tentang keduanya itu.
Chelsea bahkan sampai sudah membaca separuh buku itu, tapi sampai sekarang Alex belum juga keluar dari kamar mandi. Wanita itu pun merasa sangat cemas, dia pun beranjak dari duduknya. Saat dia hendak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, pintu itu tiba-tiba terbuka. Alex keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya.
Tubuh kekar yang masih basah, rambut Alex juga yang masih basah, membuat Chelsea menelan ludah. Entah kenapa setelah bulan madu mereka waktu itu, Chelsea begitu terobsesi dengan tubuh suaminya itu, dia bahkan belum merasa puas sebelum bisa merasakan kenikmatan dari tubuh suaminya itu.
Sentuhan-sentuhan tangan Alex di sekujur tubuhnya, sungguh mampu membuatnya melayang. Chelsea tersadar dari lamunannya saat Alex tiba-tiba menepuk bahunya, ternyata Alex sudah selesai berpakaian.
“Apa yang kamu lamun kan sayang?”
“Em...bukan apa-apa,” ucap Chelsea sambil menepiskan senyumannya.
__ADS_1
Alex mendudukkan tubuhnya di samping Chelsea, “hari ini aku capek sekali, pekerjaan di kantor tadi sangat menumpuk,” keluhnya sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
“Apa mau aku pijat?” tawar Chelsea.
Alex memiringkan kepalanya, dia tatap wajah Chelsea, “tumben, pasti kamu ingin sesuatu dari aku,” godanya.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “jangan berpikiran buruk dulu, aku tulus mau memijit kamu. Masa suami bilang capek, aku cuekin gitu saja, nanti kamu bilang aku istri yang tidak pengertian lagi,” ucap Chelsea sambil mengerucutkan bibirnya.
Alex tersenyum, dia lalu menyandarkan kepala Chelsea di bahunya, “nanti saja, aku ingin seperti ini dulu sama kamu.”
“Apa terjadi sesuatu? Apa kamu ada masalah? Kenapa kamu tidak cerita sama aku?”
Alex menggelengkan kepalanya, “tidak apa-apa, aku hanya kangen situasi seperti ini,” ucapnya.
“Sayang, apa kamu sangat capek?” tanya Chelsea sambil memainkan jari lentiknya di dada bidang Alex.
Alex sudah paham maksud dari pertanyaan Chelsea, dia pasti menginginkan itu. Tapi Alex juga tidak bisa menolaknya, karena tubuh Chelsea sudah bagaikan candu buatnya. Yang membuat Alex merasa frustasi adalah, setelah mereka selesai melakukan hubungan itu, Chelsea selalu bilang, jika dia berharap dia akan segera hamil.
Alex tersenyum, “aku memang capek sayang, tapi untuk hal itu, aku tidak akan pernah merasa capek.” Pria itu lalu beranjak dari duduknya dan dengan satu gerakkan, Alex sudah membopong tubuh Chelsea dan membawanya ke ranjang.
“Sayang, apa kamu sangat mencintai aku?” tanya Alex sambil membelai lembut pipi Chelsea.
“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Chelsea penasaran.
“Karena aku ingin tahu, apa kamu akan meninggalkan aku saat aku tidak mampu mewujudkan keinginan kamu?”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu,” ucapnya.
“Aku mencintaimu.” Alex lalu mengecup bibir Chelsea, di saat Chelsea yang memulainya, Alex tidak akan bisa menahan dirinya.
**
Alex merebahkan tubuhnya di samping Chelsea. Dengan nafas yang tersengal-sengal, Alex memeluk tubuh Chelsea dan mengecup puncak kepala wanita itu.
Chelsea sudah mulai terlelap. Alex memutuskan untuk turun dari ranjang dan membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi dan berpakaian, dia memilih untuk keluar menuju balkon kamarnya.
Alex menatap langit yang begitu cerah, “Ya Tuhan, apa ini karma yang Engkau berikan buat aku, apa ini hukuman buat aku, karena aku dulu sering mempermainkan perasaan wanita, hingga Engkau berikan aku cobaan seberat ini?”
“Aku akui, aku dulu sama sekali tidak peduli dengan wanita-wanita yang aku tiduri, bahkan aku memperlakukan mereka dengan sangat keji. Tapi, Tuhan...apa hukuman ini tidak terlalu berat untuk aku jalani? Aku tidak ingin membuat Chelsea kecewa, dia ingin sekali mempunyai anak. Tapi, dengan keadaan aku seperti ini, aku tidak akan bisa mewujudkan keinginannya.” Alex menghela nafas panjang, jika Alex adalah Alex yang dulu, dia akan melampiaskan semua masalah dengan cara minum minuman keras. Tapi, sekarang Alex sudah berubah, dia tidak ingin mengecewakan Chelsea lagi.
__ADS_1
~oOo~