
Kania mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah mertuanya, dia lebih memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya. Sesampainya di rumahnya, Kania tidak langsung masuk ke dalam rumahnya. Dia mengambil ponselnya dari dalam tas selempang yang dia bawa, wanita itu ingin mengirim pesan kepada Veon dan memberitahu dia kalau dirinya saat ini berada di rumah orang tuanya.
Meskipun hatinya sangat sakit, tapi dia tidak melupakan jika dia harus tetap memberi tahu Veon kemanapun dia pergi. Selain itu dia juga tidak ingin bertengkar lagi dengan suaminya itu hanya karena kesalahpahaman. Jika itu sampai terulang lagi, Kania tidak akan sanggup untuk menerima hukuman itu lagi.
Meskipun hukuman itu juga memberinya kenikmatan, tapi dia juga merasakan sakit yang luar biasa. Kania bahkan tidak akan sanggup untuk membayangkan kejadian malam itu. Dimana Veon memaksakan kehendaknya dengan sangat kasar, dia bahkan tidak memperdulikan jeritan kesakitan yang keluar dari mulutnya dan juga air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya.
Veon bisa lembut kepada Kania jika wanita itu tidak membangkang dan menuruti apa kemauannya, tapi dia bisa berubah menjadi pria yang sangat kasar, jika Kania melakukan suatu kesalahan yang sangat tidak sukai.
Sekarang aku sedang di rumah Papa. Aku minta maaf tidak meminta izin dulu sama kamu, tapi aku tadi sudah datang ke kantor untuk menemuimu, tapi ternyata kamu tidak ada di kantor. Aku memberitahu kamu supaya kamu tidak khawatir. Kania yang sudah selesai mengetik pesannya lalu mengirim pesan itu pada Veon.
Tidak butuh waktu lama pesan itu sudah dibaca oleh Veon, tapi bukan balasan chat yang Kania dapat, melainkan panggilan video call. Kania tampak kebingungan untuk menjawab panggilan video call itu. Dia tidak ingin Veon tahu jika dirinya sedang dalam keadaan sedih, apalagi kedua matanya sangat merah karena dia sejak tadi terus menangis.
“Apa yang harus aku lakukan? Jika aku tidak menjawab panggilan itu, dia pasti akan marah dan salah paham lagi.” Akhirnya Kania memutuskan untuk menjawab panggilan Video call itu. Kania menampakkan senyuman palsunya, “apa kamu marah?” tanyanya sambil menatap layar benda pipih itu yang menampakkan raut wajah suaminya.
“Kamu kesana naik apa? kenapa tadi kamu tidak menghubungi aku? kalau kamu menghubungi aku, aku akan mengantarmu ke sana.”
‘Bagaimana aku bisa menghubungi kamu, jika kamu sedang asyik berduaan dengan pacar kamu itu,’ gumam Kania dalam hati. Hatinya terasa sangat sakit.
“Kenapa kamu diam saja, apa terjadi sesuatu?” Veon menatap jeli gambar istrinya dari layar benda pipih itu, “kenapa kamu berada di luar rumah, apa kamu baru saja sampai?” tanyanya penasaran.
Kania menggelengkan kepalanya, “aku sudah sampai dari tadi, aku hanya ingin mencari udara segar,” ucapnya berbohong.
Veon mengernyitkan dahinya, “bagaimana kamu bisa menghirup udara segar, kalau kamu berdiri di tempat yang terik seperti itu, apa kamu ingin membohongi aku?” tanyanya tidak percaya.
__ADS_1
Kania menelan ludah, ‘kenapa dia bisa sejeli itu sih?’ “untuk apa aku membohongi kamu.” Wanita itu lalu melangkahkan kakinya menuju teras depan, “aku tadi hanya mengecek sesuatu,” imbuhnya lalu mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di teras depan rumahnya.
“Nanti kamu jangan pulang sendiri, aku akan menjemputmu.”
Kania menggelengkan kepalanya, “tidak usah, aku bisa pulang sendiri kok,” tolaknya.
“Awasa saja kalau kamu berani pulang sendirian, aku akan memberimu hukuman untuk itu,” ancam Veon lalu mengakhiri panggilan video call itu.
Kania tersenyum, “apa dia sekarang peduli padaku?” wanita itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, dia lalu menatap langit yang begitu cerah hari ini, “apa mencintai seseorang yang tidak mencintai kita akan menyakitkan seperti ini? Bukankah cinta itu sangat indah, tapi kenapa itu tidak berlaku untukku? rasanya sungguh sakit,” imbuhnya sambil menghela nafas panjang.
Asisten rumah tangga keluarga Kania sangat terkejut saat melihat Kania berada di luar rumah, “Non Kania kenapa tidak masuk?” tanyanya terkejut.
Kania tersenyum, dia lalu beranjak dari duduknya, “aku baru sampai kok, Bik. Bagaimana keadaan Papa?” tanyanya.
“Tuan sudah mulai membaik, Non. Sekarang tuan sedang berada di teras belakang rumah.”
“Itu sudah menjadi tugas bibik, Non.”
Kania tersenyum, dia lalu masuk ke dalam rumahnya dan melangkah menuju teras belakang rumahnya. Dia melihat Papanya sedang memberi makan ikan sambil duduk di tepi kolam ikan.
“Papa,” panggil Kania sambil melangkahkan kakinya mendekati Papanya.
“Sayang, kapan kamu datang?”
__ADS_1
Kania duduk di tepi kolam, lebih tepatnya di samping Papanya dengan posisi menghadap pria paruh baya itu, “baru saja kok, Pa. Kania sangat mengkhawatirkan kesehatan Papa,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Pria paruh baya itu mengusap dengan lembut lengan Kania, “Papa baik-baik saja kok sayang, jadi kamu tidak usah khawatir,” ucapnya.
“Kania minta maaf ya, Pa. karena Kania tidak bisa selalu menemani Papa, apalagi Papa sedang tidak sehat seperti ini,” ucap Kania sedih.
“Papa bisa mengerti kok sayang, sekarang kan kamu sudah mempunyai suami, sudah selayaknya kamu lebih mementingkan suami kamu ketimbang Papa. Selain itu suami kamu itu sangat berbeda dengan pria-pria lain di luar sana.” Pria paruh baya itu mengenal betul bagaimana sifat menantunya itu, dia sebenarnya juga mengkhawatirkan keadaan Kania, apa dia bahagia dengan pernikahannya? Apa dia diperlakukan baik oleh suaminya?
“Papa bisa saja.” Kania menepiskan senyumannya, “Papa tidak perlu cemas, suami Kania memperlakukan Kania dengan sangat baik. Dia sudah tidak seperti dulu lagi, karena Kania sudah berhasil merubah sifat buruknya itu,” ucapnya berbohong.
Kania tidak ingin Papanya tau tentang penderitaan yang dia alami saat ini. Jika sampai Papanya mengetahui semuanya, dia akan sangat shock dan menyalahkan dirinya sendiri. Wanita itu tau jika saat itu Papanya tidak mempunyai pilihan lain selain menyerahkan dirinya kepada Veon sebagai alat penebus semua hutang-hutangnya.
Kania lalu berdiri, “Papa sebaiknya kita masuk sekarang, Papa juga harus banyak istirahat agar Papa bisa lekas sembuh,” ajaknya sambil membantu Papanya berdiri.
Mereka lalu masuk ke dalam rumah, mereka berjalan beriringan menuju ruang tengah.
“Sayang, apa malam ini kamu akan menginap disini?” pria paruh baya itu lalu mendudukkan tubuhnya di sofa dan di bantu oleh Kania.
Kania lalu mendudukkan tubuhnya di samping Papanya, “Kania tidak bisa, Pa,” tolaknya dengan menepiskan senyumannya.
Kania bisa melihat kesedihan di raut wajah Papanya, dia pun merasa tidak tega, “Pa, coba nanti Kania akan tanyakan sama suami Kania, apa Kania boleh menginap disini atau tidak,” ucapnya.
Pria paruh baya itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Mereka pun lalu berbincang-bincang, Kania terlihat sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Papanya. Dia bisa melupakan masalah dalam hidupnya untuk sesaat.
__ADS_1
~oOo~