Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Butuh perjuangan


__ADS_3

Kania tengah duduk di taman bersama dengan Eca. Vera meminta Kania untuk tinggal di rumah utama untuk beberapa hari, karena Vera masih sangat merindukan menantunya itu, apalagi sekarang Kania tengah mengandung cucunya, cucu yang sangat dia harapkan selama ini.


Vera sebenarnya juga ingin segera melihat putri satu-satunya menikah, tapi Chelsea selalu menghindar jika Mama dan Papanya membahas soal pernikahan. Vera dan Dion memang memperlakukan Chelsea berbeda dengan Veon. Mereka tidak akan memaksa Chelsea untuk menikah, jika wanita itu tidak menginginkannya.


Berbeda saat mereka menginginkan Veon menikah, mereka bahkan sampai mencarikan jodoh untuk Veon, walau akhirnya Veon menikah dengan gadis pilihannya sendiri. Bahkan gadis itu berhasil merubah sisi buruk Veon menjadi lebih baik. Membuat pria itu merasa nyaman, dicintai dan diinginkan.


“Kania, aku benar-benar tidak menyangka kedua mertua kamu begitu baik dan sayang sama kamu. Tidak seperti yang aku dengar selama ini, kalau mertua itu jahat, dia bahkan menyuruh kita untuk melakukan apapun yang mereka inginkan.”


“Kamu itu jangan terlalu sering melihat sinetron, tidak semua mertua itu jahat. Mama dan Papa itu menganggap aku seperti anak mereka sendiri, bahkan mereka lebih membela aku ketimbang putranya sendiri.”


Eca menghela nafas panjang, “kapan ya aku bisa menemukan pria yang mau menerima ku apa adanya, yang mau menikah denganku?”


“Suatu saat kamu pasti akan menemukannya, siapa tau jodoh kamu berada di sekitar sini.” Kania tersenyum sambil menggerakkan kedua alisnya naik turun.


Eca menatap langit yang terlihat begitu cerah, berwarna biru, dan hanya sedikit awan yang terlihat pagi itu, “Kania, kamu tau tidak, hubungan Kak Zaki dengan Kak Chelsea?”


“Setahu aku mereka itu teman sewaktu sekolah dulu. kenapa kamu menanyakan itu?”


“Apa aku boleh mempunyai perasaan untuk Kak Zaki? Sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya.”


Kania tersenyum, “kenapa kamu bertanya sama aku? lebih baik kamu bertanya sama Zaki langsung.”


Eca menggelengkan kepalanya, “aku takut, aku takut ditolak, dan aku belum siap untuk itu,” ucapnya dengan menundukkan kepalanya.


Kania menepuk bahu Eca, “aku akan mendukungmu. Zaki itu pria yang baik, meskipun sifatnya tak jauh beda dengan suami aku, tapi jika kamu sudah berhasil mendekati dia, dan bisa menjadi temannya, maka dia akan memperlakukanmu dengan baik.”


“Apa aku bisa? aku merasa dia tidak menyukai aku.”


“Jangan putus asa, cinta itu butuh perjuangan” Kania mengepalkan tangan kanannya, dia lalu menekuk lengannya membentuk siku, “kamu harus semangat!”


Eca pun melakukan hal yang sama, “ya...aku akan semangat, cinta itu butuh perjuangan, aku bahkan belum berjuang, jadi aku tidak akan menyerah sebelum berjuang.”


Eca melihat Zaki keluar dari mobil bersama dengan Chelsea, dia melihat mereka tertawa bahagia. Entah mengapa melihat mereka tertawa selepas itu membuat hatinya sakit. Cemburu...ya, dia sangat cemburu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Siapa dirinya? Apa dia kan sanggup bersaing dengan wanita secantik dan sekaya Chelsea? Dirinya bahkan bukan siapa-siapa.


Kania juga melihat apa yang sahabatnya lihat, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain memberi dukungan kepada sahabatnya itu untuk terus berjuang, meskipun dia tidak tahu bagaimana hasilnya nanti. Kania juga tidak bisa memilih antara Chelsea dan Eca, karena baginya mereka berdua sama-sama penting untuknya.


“Ca, aku mau masuk ke dalam, apa kamu mau ikut?”


Eca menggelengkan kepalanya, “aku masih ingin disini, kamu duluan saja.”

__ADS_1


Kania pun beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya menjauh. Wanita itu berjalan menghampiri Zaki dan juga Chelsea. Kania menyapa mereka berdua, menanyakan apa yang membuat mereka bisa tertawa selepas itu.


“Apa? serius?” Kania begitu terkejut mendengar apa yang diceritakan oleh Zaki, “kenapa bisa begitu?” wanita itu akhirnya tidak bisa menahan tawanya.


“Semua itu karena ulah Chelsea, kamu akan melihatnya langsung nanti. Suamimu saja terus mengumpat sampai kuping aku panas,” ucap Zaki sambil menahan perutnya yang terasa sedikit sakit karena tidak bisa berhenti tertawa.


“Aku tidak sengaja melakukan itu, tapi meskipun begitu Kak Veon masih terlihat tampan, dia bahkan terlihat semakin berwibawa,” ucap Chelsea yang sudah berhasil menghentikan tawanya.


“Sebenarnya tadi aku ingin mengantarnya, tapi entah mengapa aku malas keluar rumah. Apa dia marah sama aku ya?”


“Kak Veon mana mungkin marah sama kamu, kamu itu wanita yang sangat dia cintai. Apalagi saat ini kamu sedang mengandung anaknya, mau kamu melakukan kesalahan sebanyak apapun, Kak Veon akan tetap memaafkan kamu.”


“Semoga saja.” Kania lalu menatap Eca yang saat ini menatap ke arah mereka, “Chel, apa kamu mau berteman dengan Eca?” tanyanya kemudian.


“Hem...” Chelsea menatap ke arah mana ekor mata Kania menatap, “kenapa? apa aku harus?” tanyanya balik.


“Hem...” Kania mengalihkan tatapannya ke arah Chelsea, “tidak juga sih, kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa.” wanita itu lalu menepiskan senyumannya, “kalau begitu aku masuk dulu,” pamitnya kemudian.


Zaki menatap Eca yang tengah duduk sendirian, “Chelsea, kenapa kamu tidak bisa berteman dengan Eca? Dia itu gadis yang baik, dia hidup sebatang kara, hanya Kania yang dia miliki saat ini.”


“Apa kamu mulai bersimpati padanya?” tanya Chelsea tidak suka.


“Simpati ya...” Zaki menggelengkan kepalanya, “tapi aku merasa nasib aku sama seperti dia, aku juga hidup sebatang kara. Kedua orang tua aku sudah meninggal semenjak aku lulus kuliah, aku bahkan belum bisa membahagiakan mereka.”


Zaki menganggukkan kepalanya, “jika kamu belum bisa menjawabnya, aku akan tetap menunggu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


“Aku hanya tidak ingin kamu menyesal nanti. Jika ada gadis yang mencintai kamu, dan gadis itu lebih baik dari aku, apa kamu masih tetap akan memilihku?” Chelsea selama ini tau, jika Eca diam-diam menaruh hati pada Zaki. Wanita itu bahkan sering melihat Eca mencuri-curi pandang untuk menatap Zaki.


“Tidak akan ada orang yang mencintai aku, kamu saja begitu enggan untuk menerima perasaan aku.”


“Tapi jika memang ada, siapa yang akan kamu pilih?”


Zaki seakan tengah berpikir, “em...siapa ya...apa aku harus menjawabnya sekarang?” tanyanya dengan nada bercanda.


Chelsea mendengus kesal, dia begitu serius, tapi Zaki hanya menanggapinya dengan bercanda, “tahun depan!” serunya lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah meninggalkan Zaki yang saat ini tengah menahan tawa.


“Kalau lagi ngambek gitu, wajahnya semakin tambah imut.”


***

__ADS_1


 


Veon membuka pintu kamarnya, seperti yang dikatakan Zaki dan Chelsea tadi siang, Veon memang sedang dalam keadaan tidak baik. Terlihat jelas di wajahnya, yang saat ini seperti tengah memendam amarah.


Tapi bagi Kania, wajah suaminya itu bukannya terlihat menakutkan, tapi malah semakin tampan dan menggemaskan. Potongan rambutnya tidaklah buruk, tapi kenapa suaminya itu tidak menyukai gaya rambutnya itu.


“Jangan menatapku seperti itu, apa kamu tidak tau, aku ingin sekali menghajar orang saat ini juga!”


Kania tersenyum, dia lalu menatap wajah tampan suaminya, mengamati gaya rambut suaminya, “kenapa kamu ingin menghajar orang? Apa orang itu sudah melakukan kesalahan besar?”


“Bukan hanya kesalahan besar, tapi dia sudah berani-beraninya mempermalukan aku!”


Kania menangkup kedua pipi Veon dengan kedua telapak tangannya, “apa kamu marah gara-gara gaya rambut baru kamu?”


“Aku malu dengan gaya rambut seperti ini.”


“Tapi kenapa? menurut aku gaya rambut kamu bagus kok, aku suka.” Kania lalu menatap kedua mata Veon secara bergantian, “sekarang aku tanya sama kamu. Setelah kamu berganti gaya rambut, apa ada karyawan kamu yang menertawakan gaya rambut kamu?”


Veon nampak tengah mengingat-ngingat, dia lalu menggelengkan kepalanya, “tapi aku merasa mereka terus memperhatikan aku. Mereka bahkan tidak berkedip saat melihat ke arahku,” akunya.


Mendengar apa yang Veon katakan, malah membuat Kania kesal. Dia tidak rela jika suaminya menjadi pusat perhatian semua karyawan wanita di kantor suaminya itu.


Veon mengernyitkan dahinya saat melihat perubahan raut wajah Kania, “sayang, kamu kenapa? kok tiba-tiba kamu jadi kesal gitu? Apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya bingung.


“Lebih baik kamu sekarang mandi, aku akan menyiapkan makan malam untukmu.” Kania berbicara dengan nada dingin, sebenarnya dia tidak ingin bersikap seperti itu. Tapi semenjak dirinya hamil, dia menjadi wanita yang sangat sensitif, bahkan moodnya pun sering berubah-ubah.


Veon memeluk Kania, dia lalu memutar tubuh istrinya itu agar menatap ke lain arah. Pria itu lalu menopangkan dagunya di bahu Kania, “apa kamu cemburu, saat aku bilang mereka menatapku terus menerus bahkan mereka tidak berkedip sedikitpun?” bisiknya.


“Siapa juga yang cemburu, aku juga tidak peduli.” Kania mencoba untuk melepaskan pelukan Veon dari tubuhnya, tapi Veon memeluknya semakin erat.


“Aku senang jika kamu cemburu, itu berarti kamu benar-benar mencintaiku.”


Kania lalu mengubah posisinya menjadi menghadap Veon, “jangan pernah menampakkan senyuman kamu di depan karyawan wanita di kantor kamu, aku tidak suka!”


“Ya tidak bisa gitu dong sayang, aku kan seorang pemimpin, sudah semestinya aku bersikap ramah dengan semua karyawan aku.” Veon ingin melihat reaksi Kania setelah mendengar ucapannya.


“Aku tidak suka! Jika di kantor, aku ingin kamu menjadi Veon yang dulu. Seorang CEO yang berhati dingin, aku hanya mau kamu tersenyum hanya untukku.” Kania mengerucutkan bibirnya.


Veon tersenyum, wajah istrinya itu semakin membuatnya gemas, ingin sekali dia melahapnya saat itu juga, “aku akan melakukan apapun yang kamu minta, tapi...”pria itu lalu mencondongkan wajahnya, “temani aku mandi,” bisiknya.

__ADS_1


“Hah...”


~oOo~


__ADS_2