
Veon yang sudah tertidur, tiba-tiba terbangun di tengah malam. Dia merasa begitu kehausan, kedua mata Veon terbuka dengan perlahan, dirinya melihat lampu kamarnya masih menyala terang.
“Dasar! Apa dia lupa mematikan lampunya?”
Veon paling tidak suka tidur dengan lampu yang menyala, karena lampu di kamarnya begitu terang. Pria itu lalu bangun dan turun dari ranjang tanpa melihat ke arah gadis yang tertidur di sampingnya, dia berjalan keluar dari kamar untuk mengambil minuman. Entah kenapa malam ini dirinya begitu merasa kehausan.
Veon mengambil botol minum di atas meja makan, setelah membuka botol yang berisi air putih itu, dia lalu menuangkan air putih itu ke dalam gelas. Veon meneguknya sampai habis. Setelah dahaganya hilang, dia kembali ke dalam kamar. Kedua mata Veon membulat seketika saat melihat Kania yang tengah tertidur terlentang dengan mengenakan lingerie berwarna merah maron.
Veon mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, dia berharap apa yang dilihatnya hanyalah ilusi, tapi itu bukanlah ilusi, “apa dia sudah gila! Kenapa dia memakai pakaian seperti itu! Aku memang menyuruhnya untuk berganti pakaian, tapi bukan pakaian seperti itu yang aku maksud.”
Kania merubah posisinya, hingga lingerie bagian bawahnya menyibak ke atas hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus tanpa noda sedikitpun. Veon memalingkan wajahnya, wajahnya mulai memanas bersamaan munculnya gejolak dalam dirinya. Pria itu bahkan menelan saliva nya berkali-kali.
Veon memberanikan diri untuk menatap Kania yang masih tertidur lelap dengan posisi terlentang, “mana mungkin aku tidur bersama dengan wanita ini dengan keadaan seperti ini. Ya Tuhan, kenapa menikah itu begitu merepotkan.”
Veon menghela nafas, akhirnya dia menyerah. Tidak mungkin juga dirinya harus tidur di kamar lain, karena saat ini dirinya sedang di rumah orangtuanya. Veon menarik selimut untuk menutup tubuh Kania, tapi pria itu memejamkan kedua matanya saat menutup tubuh Kania itu.
Veon merasa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan, dia juga masih sangat mengantuk. Dengan sangat terpaksa dia naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping wanita itu. Veon tidur sambil memunggungi Kania, dia tidak ingin melihat Kania mengenakan lingerie. Akhirnya Veon mulai memejamkan kedua matanya, karena dia sangat lelah dan mengantuk.
***
__ADS_1
Kania membuka kedua matanya dengan perlahan saat merasakan ada sesuatu yang terasa berat menimpa bagian tubuhnya. Wanita itu mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sesosok wajah tampan dengan kedua mata yang masih terpejam kini berada tepat di depannya. Bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas hangat yang keluar dari lubang hidung pria itu.
Kania menahan nafas, dia tidak ingin hembusan nafasnya akan membangunkan pria yang kini tertidur lelap dengan posisi yang tidak pernah dibayangkan. Di mana saat ini dirinya sedang berada dalam pelukan pria yang kini sudah SAH menjadi suaminya.
Kedua mata Kania membulat dengan sempurna saat tiba-tiba ada pergerakan dari Veon. Wanita itu memilih untuk kembali memejamkan kedua matanya. Dia menyadari jika pria itu tau kalau dirinya sudah melihat apa yang pria itu lakukan saat ini, mungkin pria itu tidak akan mempunyai muka di depan wanita itu.
Veon merasakan ada yang aneh, dia merasa dirinya kini tengah memeluk sesuatu, tapi dia tau jika yang dia peluk bukanlah guling, karena guling tidak mungkin sekeras dan sebesar itu. Dengan perlahan Veon mulai membuka kedua matanya, dia terlihat begitu terkejut saat melihat sosok yang berada di depannya. Selain itu dirinya melihat tangannya kini sedang memeluk Kania.
Menyadari akan posisinya saat ini seketika dia langsung menarik tangannya yang berada di atas pinggang Kania, “apa aku sudah gila, kenapa aku bisa tidur sambil memeluknya?” gerutunya.
Veon mengibas-ngibas kan telapak tangannya di depan wajah wanita itu, berharap wanita itu tidak melihat apa yang dia lakukan. Tapi pria itu tidak menyadari jika wanita itu hanya berpura-pura terlelap. Veon menghembuskan nafas lega, “untung dia tidak menyadarinya. Mau ditaruh dimana muka aku kalau sampai dia tau apa yang tadi aku lakukan,” gumamnya dalam hati.
Apa karena kita sudah menikah, dia bisa melakukan apapun yang dia mau? Dasar! Kania terus mengumpat di dalam hatinya. Dia tidak berani membuka kedua matanya, karena Veon masih betah tiduran di atas ranjang. Mau sampai kapan aku akan terus pura-pura tidur seperti ini? Pikirnya.
“Apa kamu perlu sesuatu, hingga membangun kan aku pagi-pagi begini?” Kania seakan-akan tengah melebarkan kedua matanya supaya Veon percaya jika dirinya baru saja terbangun dari tidur lelapnya.
Veon melipat kedua lengannya di dada, “apa maksud kamu berpakaian seperti itu? Aku meminta kamu untuk berganti pakaian, tapi bukan pakaian seperti itu juga yang harus kamu pakai. Atau jangan-jangan kamu ingin menggodaku?” tanyanya dengan tatapan yang dingin.
Kania tidak bisa menebak arti dari tatapan itu, “siapa yang ingin menggodamu. Apa kamu benar-benar tidak tau apa yang ada di dalam lemari pakaian itu?” tanyanya balik.
__ADS_1
“Apa maksud kamu?”
Kania bangun dan mengubah posisinya duduk bersila sambil menghadap kearah Veon, dia lupa jika dirinya kini tengah mengenakan lingerie yang begitu transparan hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya, “kamu yakin tidak tau apa-apa? Atau kamu memang sengaja menaruh semua baju-baju itu?” tuduhnya.
Veon memalingkan wajahnya, sebisa mungkin dia tidak menatap wanita itu, “aku tidak tau dengan apa yang kamu katakan.” Pria itu mencoba mengalihkan pikirannya, entah kenapa lekuk tubuh Kania kini mulai memenuhi pikirannya, “aku tidak ingin melihat kamu memakai pakaian itu lagi, jika kamu masih memakainya, jangan harap aku akan mengijinkan kamu untuk tidur di ranjang aku,” ancamnya tanpa menatap lawan bicaranya.
“Kenapa kamu memalingkan wajah kamu? Apa kamu takut melihatku memakai pakaian ini?” Kania seakan memiliki cara untuk membuat Veon tidak berkutik di depannya, meskipun dirinya harus menahan malu saat dirinya memakai pakaian itu.
Veon memberanikan diri untuk menatap Kania, dia tidak ingin wanita itu berpikiran jika dirinya tergoda dengan lekuk tubuhnya. Pria itu mencoba untuk tidak terpengaruh dengan apa yang dilihatnya, tapi Veon masih pria normal. Lekuk tubuh Kania memang sangat menggoda, tapi Veon berusaha untuk tetap bersikap biasa-biasa saja, “apa kamu bilang, aku takut saat melihat kamu memakai lingerie itu?” Veon berdecak, “aku tidak ingin menatapmu karena aku pikir kamu akan merasa malu saat memakai pakaian itu. Apa kamu pikir aku tergoda dengan lekuk tubuh kamu? Apa kamu berharap aku akan melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh sepasang suami istri?” tanyanya yang seketika membuat Kania mengepalkan kedua tangannya. Dia begitu merasa terhina dengan apa yang pria itu katakan.
Veon mencengkeram dagu Kania, “aku harap kamu sadar akan posisi kamu! Meskipun kita sudah menikah, tapi jangan harap aku akan memperlakukanmu selayaknya seorang istri!” serunya.
Kania yang merasa sangat geram, akhirnya menepis tangan Veon hingga terlepas dari dagunya, “kamu tidak perlu memperingatkan aku, aku sadar akan posisi aku. tapi...” Kania mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Veon. Veon membulatkan kedua matanya saat wanita itu dengan berani mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan kedua matanya.
“Aku tetaplah istri kamu yang SAH, dan kamu tidak bisa memungkiri itu. Apa kamu pikir aku wanita yang lemah, yang akan diam saja saat kamu memperlakukan aku dengan buruk?” Kania menggelengkan kepalanya, “sebelum aku menikah denganmu, aku memang tidak berani melawanmu, tapi sekarang situasinya berbeda. Di sini bukan aku yang membutuhkanmu, tapi kamu yang membutuhkan aku. Aku bisa saja membalikkan keadaan dengan membongkar semuanya di depan kedua orang tua kamu, tapi aku tidak akan melakukan itu, karena apa? Karena aku sekarang istri kamu.”
Veon mencengkram kedua bahu Kania dengan sangat kuat hingga membuat gadis itu meringis kesakitan, “apa kamu sedang mengancamku?” pria itu menyunggingkan senyumannya, “kamu mengancam orang yang salah. Aku tidak takut kamu membongkar sandiwara ini, tapi kamu harus ingat, aku bisa melakukan lebih dari ini!” ancamnya.
Veon menghempaskan tubuh Kania hingga gadis itu terjatuh dengan posisi terlentang, untung saat ini dirinya berada di atas kasur, jika tidak, entah apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Veon beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Kania meringkuk menahan tangisannya, “aku tidak boleh lemah. Aku akan buktikan sama pria brengsek itu kalau aku masih tetap bisa bertahan.” Wanita itu mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri.
~oOo~