
Kania menghapus air matanya, dia lalu berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya, “aku akan buktikan sama dia, aku bukan wanita yang lemah. Aku akan membuat dia bertekuk lutut di hadapan aku.” setelah apa yang tadi Veon lakukan padanya, wanita itu bertekad untuk menaklukan pria yang berhati dingin itu. Dia ingin melihat apa pria itu akan tetap memperlakukannya seperti biasanya.
Setelah membetulkan kaos yang dikenakannya, Kania keluar dari kamarnya, dia menuruni anak tangga satu persatu. Wanita itu melangkahkan kakinya menuju dapur, dan ternyata semua keluarga Veon sudah berkumpul di meja makan.
“Sayang, duduklah, ayo kita sarapan,” ajak Vera saat melihat menantunya itu berjalan menuju meja makan.
Kania hanya menganggukkan kepalanya, dia melirik ke arah Veon yang hanya diam sambil menikmati makanannya, ‘dia bahkan tidak mengajak aku untuk sarapan, bahkan setelah apa yang dia lakukan padaku!’ wanita itu lalu menarik kursi di sebelah Veon lalu dia duduki.
“Kalian sudah satu bulan menikah, apa kalian tidak ingin pergi berbulan madu?” tanya Dion.
Kania menatap Veon yang hanya diam, ‘kenapa dia hanya diam saja, apa aku juga yang harus menjawabnya, lalu apa yang harus aku katakan?’
Veon mendongakkan wajahnya, “Veon tidak akan pergi berbulan madu, karena pekerjaan Veon sangat menumpuk,” tolaknya dengan nada dingin.
“Tapi pergi berbulan madu itu sangat penting, dengan begitu kalian bisa menghabiskan waktu berdua saja tanpa ada yang mengganggu kalian,” ucap Dion.
“Dan Mama akan secepatnya mendapatkan cucu,” imbuh Vera.
Kania yang sedang mengunyah makanannya tiba-tiba terbatuk karena tersedak makanan yang berada di mulutnya, dia lalu mengambil segelas air minum lalu meneguknya.
“Sayang, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Vera cemas.
Kania menganggukkan kepalanya, “Kania tidak apa-apa kok, Ma,” ucapnya.
“Mama tidak usah terlalu berharap untuk segera memiliki cucu, karena Veon belum ingin punya anak. Apa Mama lupa, Veon menikah karena kemauan Mama dan Papa, bukan kemauan Veon.” Veon lalu melanjutkan makannya, dia mengucapkan semua itu bahkan tanpa memikirkan perasaan Kania.
“Sayang, bukankah kamu sendiri yang ingin menikah dengan Kania, tapi kenapa sekarang kamu berkata seperti itu?” tanya Vera terkejut.
“Veon, apa maksud dari perkataan kamu tadi, jangan bilang kamu menikahi Kania juga karena terpaksa, jangan bilang sampai sekarang kalian belum...” Dion menghentikan ucapannya, tiba-tiba dadanya terasa begitu sakit.
Vera memegang pundak serta lengan suaminya, “Papa, kenapa?” tanyanya cemas.
__ADS_1
“Veon, Papa tidak ingin tau, kamu dan Kania harus memiliki anak, jika kamu tidak ingin memiliki anak, lalu siapa yang akan menjadi penerus keluarga ini?” Dion meremas dadanya yang semakin terasa sakit.
“Pa, jaga emosi Papa. Ingat dengan penyakit Papa,” ucap Vera.
“Apa kamu ingin melihat Papa kamu mati dulu, baru kamu mau memberikan cucu untuk Papa dan Mama kamu?” Dion semakin meninggikan suaranya.
“Papa selalu saja mengancam Veon dengan penyakit Papa itu, apa Veon sama sekali tidak bisa menentukan jalan hidup Veon sendiri!” Veon beranjak dari duduknya, “Veon tidak peduli, pokoknya Veon belum siap mempunyai anak!” serunya lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan meja makan.
“Dasar anak tidak tau diri! Apa sekarang sifat kamu sudah seperti ibu kandungmu!” teriak Dion keras.
Veon menghentikan langkah kakinya saat mendengar ibu kandung keluar dari mulut papanya. Pria itu lalu membalikkan tubuhnya, “apa sekarang Papa menyesal karena memiliki anak seperti Veon? Bukankah Veon ini adalah anak yang dulu tidak Papa inginkan kehadirannya!” teriaknya keras.
Vera beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati Veon, “sayang, apa yang kamu katakan, Papa kamu sangat menyayangi kamu, jadi mana mungkin Papa kamu tidak mengharapkan kehadiran kamu,” ucapnya mencoba menenangkan Veon.
Kania hanya diam, dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Ibu kandung, anak yang tidak diharapkan, apa maksudnya semua ini? pikirnya.
“Apa Mama juga menganggap Veon sebagai anak tiri Mama? Apa Veon sama sekali tidak ada artinya untuk Mama?” setiap kali Dion marah, dia selalu mengatakan jika Veon sangat mirip dengan ibu kandungnya yang begitu keras kepala, dan karena sikap Dion itulah yang membuat Veon tumbuh menjadi pria yang berhati dingin.
Veon menggelengkan kepalanya, dia lalu memeluk Vera dengan sangat erat, “jangan pernah membenci Veon, Ma. Karena Veon sangat menyayangi Mama,” ucapnya.
Vera melepaskan pelukannya, “Mama tidak pernah membenci kamu sayang, karena kamu adalah anak kesayangan Mama,” ucapnya.
Chelsea yang melihat kakak dan mamanya yang terlihat begitu dekat pun akhirnya beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati kakak dan mamanya, “apa Chelsea bukan anak kesayangan Mama juga?” godanya.
Vera tersenyum, dia lalu memeluk kedua anaknya, “kalian adalah anak-anak kesayangan Mama dan Papa,” ucapnya lalu melepaskan pelukannya.
“Apa kakak juga tidak menganggap aku sebagai adik kakak, hanya karena kita terlahir dari rahim yang berbeda?” tanya Chelsea dengan kedua mata sendunya.
Veon mengusap puncak kepala Chelsea, “sampai kapanpun kamu adalah adik kesayangan kakak,” ucapnya sambil menepiskan senyuman.
Kania begitu terharu melihat kedekatan Veon dengan keluarganya, ini pertama kalinya dia melihat sisi lemah Veon. Jadi dia mempunyai sifat seperti itu juga, aku kira dia hanya bisa bersikap dingin saja, pikirnya.
__ADS_1
“Sayang, kamu jangan marah sama Papa kamu ya, sebenarnya maksud Papa kamu itu baik. Papa kamu hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Jika kamu memiliki anak, maka...”
“Cukup, Ma. Veon tidak ingin membahas itu sekarang, jadi Veon mohon, jangan membicarakan soal itu lagi.” Veon lalu melangkahkan kakinya menjauh.
“Ma, Mama tau kan bagaimana sifat Kak Veon, semakin Mama memaksanya, Kak Veon akan semakin menentangnya. Biarkan Kak Veon sendiri dulu, jika kemarahannya sudah hilang, baru Mama membicarakan itu lagi sama Kak Veon,” bujuk Chelsea.
Vera menghela nafas panjang, dia lalu menganggukkan kepalanya. Chelsea mengajak mamanya untuk kembali ke meja makan.
“Sayang, maaf ya, untuk kejadian yang baru saja kamu lihat. Kamu pasti sangat terkejut setelah melihat apa yang terjadi tadi,” ucap Vera.
“Tidak apa-apa kok, Ma. Kania memang sangat terkejut, tapi Kania tau jika setiap keluarga pasti memiliki masalah pribadi. Dulu Mama dan Papa juga sering memarahi Kania jika Kania berbuat kesalahan,” ucap Kania sambil menepiskan senyumannya.
Dion yang sudah menyelesaikan makannya pun beranjak dari duduknya, “Ma, Papa mau ke kamar dulu,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menjauh. Vera pun mengikuti suaminya dari belakang. Dia tau jika saat ini suaminya tengah kesakitan.
“Kak, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan?”
“Apa?”
“Apa kakak dan Kak Veon benar-benar saling mencintai, seperti apa yang dulu Kak Veon katakan sebelum kalian menikah?”
Kania membulatkan kedua matanya, dia tidak tahu harus menjawab apa, “ke—napa kamu bertanya seperti itu?” tanyanya dengan nada gugup.
“Karena aku melihat sikap Kak Veon selama ini tidak memperlihatkan jika Kak Veon mencintai kakak, begitu juga dengan sikap kakak. Kalian bahkan bersikap seperti orang asing yang baru saja saling kenal.”
“Itu hanya perasaanmu saja, aku sama kakak kamu sudah saling kenal lama, dan kita juga saling mencintai, jadi kamu salah paham,” ucap Kania sambil tersenyum.
Chelsea mengernyitkan dahinya, “tapi kakak tidak bisa membohongi aku, karena aku sangat mengenal Kak Veon seperti apa. Dia bahkan tidak ingin menikah saat Papa memintanya untuk menikah, tapi setelah kakak mendengar dirinya akan dijodohkan, tiba-tiba kakak berubah pikiran,” ucapnya.
Apa! Jadi Veon meminta aku untuk menikah dengannya hanya karena dia tidak ingin dijodohkan? Aku kira dia meminta aku untuk menikah dengannya karena dia ingin memenuhi permintaan Mama dan Papanya, tapi ternyata karena alasan ini. Kania beranjak dari duduknya, “maaf, aku ada janji dengan seseorang, aku pergi dulu,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menjauh.
“Aku semakin yakin jika pernikahan kakak hanyalah sandiwara” gumam Chelsea dalam hati.
__ADS_1
~oOo~