
Waktu menunjukkan pukul 23.30 malam. Kania tetap menanti kedatangan Veon dengan kue tart di tangannya. Dia sengaja membuat kejutan ulang tahun untuk suaminya itu, tapi yang ditunggu tidak kunjung datang.
“Mungkin sekarang dia sedang merayakan ulang tahunnya bersama dengan Bella, jadi untuk apa aku terus menunggunya.”
Kania lalu meletakkan kue tart itu di atas meja, dia lalu mengganti pakaiannya dengan piyama, “lebih baik aku tidur saja, mungkin malam ini dia benar-benar tidak akan pulang.” Dia lalu berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di atas sana.
Sedangkan di sisi lain, Bella sudah membuat pesta ulang tahun bersama dengan Veon. Dia sengaja menyiapkan pesta kejutan itu.
“Jadi ini alasan kamu meminta aku untuk menemani kamu sepanjang malam?”
Bella menganggukkan kepalanya, dia lalu menyuruh Veon untuk meniup lilin yang berada di atas kue tart yang sudah dia siapkan.
Dengan sangat malas Veon meniup lilin itu, ‘apa Kania juga tau kalau hari ini ulang tahun aku?’ gumamnya dalam hati.
“Selamat ulang tahun ya sayang.” Bella mengambil kotak dari dalam paper bag, “ini aku sengaja membelinya untuk kamu, semoga kamu menyukainya,” ucapnya sambil memberikan kotak itu kepada Veon.
Veon mengambil kotak itu, “apa ini?” pria itu lalu membuka kotak hadiah itu, “jam tangan?”
Bella mengambil jam tangan itu dan memakaikannya di pergelangan tangan Veon, “apa kamu menyukainya?” tanyanya saat jam tangan itu sudah terpasang di pergelangan tangan Veon.
“Bagus.” Hanya itu yang terucap dari mulut Veon, entah mengapa hatinya merasa tidak tenang, dia dalam pikirannya hanya ada Kania, “aku minta maaf, aku tidak bisa menginap disini, istri aku pasti sedang menungguku,” ucapnya lalu beranjak dari duduknya.
“Jangan tinggalkan aku sendirian,” pinta Bella dengan wajah memelasnya.
“Aku sudah menemani kamu semalaman disini, aku juga tidak mungkin mengabaikan istri aku, kamu adalah seorang wanita, kamu pasti tau bagaimana perasaan istri aku sekarang ini.”
“Tapi kamu sudah berjanji untuk menikahi aku, apa kamu...”
“Bella, janji itu sudah berlalu, dan aku minta maaf karena aku tidak bisa menepati janji itu. Sekarang situasinya sudah berbeda, aku sudah menikah, dan kamu pantas mendapatkan pria yang lebih baik dari aku. Jangan pernah berpikiran sempit dalam mengambil keputusan, sayangi hidup kamu sendiri. Aku pergi,” pamit Veon lalu melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Bella mengepalkan kedua tangannya, “aku akan mencari tahu siapa istri kamu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan kamu!” serunya.
Dalam perjalanan pulang, Veon menghubungi Zaki untuk menjaga Bella. Walaupun dia sudah memantapkan keputusannya untuk tetap memilih Kania, tapi hatinya tetap tidak tenang. Rasa takut akan apa yang akan di lakukan Bella masih menghantuinya.
Sesampainya di rumah, dia bergegas menuju kamarnya. Dengan perlahan dia mulai membuka pintu kamarnya itu dan masuk ke dalam kamar itu.
Veon sangat terkejut saat melihat kue tart dengan lilin diatasnya berada di atas meja, “jadi dia juga tau kalau hari ini aku berulang tahun?” pria itu lalu berjalan menuju ranjang.
“Apa tadi dia menungguku pulang?” Veon duduk di tepi ranjang, dia lalu mengecup kening Kania dengan sangat lembut.
Kania sebenarnya belum sepenuhnya terlelap, dia bisa merasakan kecupan yang Veon berikan di keningnya. Dengan perlahan dia mulai membuka kedua matanya, “kamu sudah pulang?” tanyanya dengan mengusap kedua matanya yang masih sangat mengantuk.
__ADS_1
“Apa aku membangunkan kamu?”
Kania mengubah posisinya menjadi duduk, dia melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 01.00 dini hari, “apa kamu mau mandi? Aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu,” tawarnya.
Veon menggelengkan kepalanya, “apa itu kue untuk aku?” tanyanya sambil menunjuk kue tart di atas meja.
Kania menganggukkan kepalanya, “Mama yang memberi tahu aku kalau kamu hari ini berulang tahun,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.
“Apa kamu mau merayakan ulang tahun bersamaku?”
Kania menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, “tentu saja,” ucapnya lalu beranjak dari ranjang. Veon dan Kania melangkahkan kakinya menuju sofa, mereka lalu duduk saling berdampingan di sofa itu.
Kania lalu menyalakan lilin yang berada di atas kue tart itu, “sebelum kamu meniup lilin ini, mintalah satu permintaan,” ucapnya.
Veon pun mulai memejamkan kedua matanya, dia pun mulai berbicara di dalam hati. Entah apa yang diminta pria itu di dalam doanya itu. Setelah selesai berdoa, Veon membuka kedua matanya, dia lalu mulai meniup lilin itu.
Kania tersenyum bahagia, “selamat ulang tahun ya, semoga apapun yang kamu minta dalam doamu itu terkabulkan,” ucapnya.
Veon mengecup kening Kania, “terima kasih ya, maaf, karena aku sudah membuatmu menunggu lama,” ucapnya.
Kania mengambil kotak hadiah dari dalam paper bag, “aku harap kamu menyukai hadiah pemberian aku ini, jangan kamu lihat dari harganya, tapi lihatlah dari niat baik aku,” ucapnya.
“Tapi walaupun begitu kamu harus tetap menerimanya, kalau kamu tidak suka, kamu bisa memberikannya kepada siapa saja.”
Veon mengambil kotak hadiah itu lalu membukanya, “jam tangan?” tanyanya sambil mengernyitkan dahinya.
“Kenapa, apa kamu tidak suka?”
Veon lalu melepas jam tangan pemberian Bella, “apa kamu mau memakaikannya?” pintanya.
Kania mengangguk kan kepalanya, dia lalu mengambil jam tangan dari kotak itu dan memakaikannya di pergelangan tangan Veon, “apa kamu menyukainya?” tanyanya penasaran.
Veon menggenggam tangan Kania lalu mengecupnya, “aku sangat menyukainya, terima kasih ya,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
“Aku senang kamu menyukai hadiahnya.”
Veon memotong kue tart itu lalu dia suapkan ke mulut Kania, ‘semoga di tahun berikutnya, aku masih bisa merayakan ulang tahun aku bersamamu,’ gumamnya di dalam hati.
***
__ADS_1
Zaki melihat pergelangan tangan Veon, ‘jadi Kania sudah memberikan hadiah itu pada Tuan Veon,’ gumamnya dalam hati.
Veon mengernyitkan dahinya saat melihat Zaki yang terus menatap jam yang dia pakai, “kenapa, apa kamu juga menginginkan jam ini?” tanyanya dengan menyungingkan senyumannya.
Zaki menggelengkan kepalanya, “walau saya mencarinya di toko manapun, saya tidak akan bisa mendapatkan jam tangan seperti itu,” ucapnya.
“Kok bisa? Apa kamu tau ini jam tangan dari siapa?” tanya Veon terkejut.
Zaki menganggukkan kepalanya, “bukankah itu hadiah ulang tahun dari istri anda, itu jam tangan hanya ada satu di Indonesia. Nona Kania beruntung mendapatkannya,” ucapnya.
“Kenapa kamu tidak bilang sama aku kalau Kania ingin membuat pesta kejutan ulang tahun aku?”
“Maafkan saya, Tuan. Karena Nona Kania meminta saya untuk merahasiakannya, selain itu bukannya tuan sedang bersama dengan Nona Bella? Jadi saya tidak mungkin mengganggu anda.” Zaki berucap sambil menundukkan wajahnya.
Veon menghela nafas panjang, “Zak, mulai sekarang kamu awasi semua gerak-gerik Bella, lalu kamu laporkan semuanya padaku,” pintanya.
“Baik, tuan. Lalu bagaimana dengan Alex?”
“Biarkan dia, kita hanya akan menunggu kehancurannya,” ucap Veon sambil menyunggingkan senyumannya.
Terdengar suara pintu diketuk, “masuk,” sahut Veon.
Pintu itu dengan perlahan mulai terbuka, Kania muncul dari balik pintu itu sambil membawa dua paper bag di tangannya.
“Apa yang kamu bawa?” Veon beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekati Kania.
“Aku membawa bekal makan siang untuk kita bertiga.” Kania lalu mengeluarkan kotak makan itu dari dalam paper bag dan menatanya di atas meja.
“Aku juga dapat jatah ini,” ucap Zaki dengan senyuman di wajahnya.
“Tentu saja, kamu adalah kakak aku yang paling baik,” ucap Kania dengan senyuman di wajahnya.
Veon mendudukkan tubuhnya di sofa, “kakak dari hongkong!” serunya sambil mencemberutkan bibirnya.
Zaki dan Kania tersenyum, ini pertama kalinya bagi mereka melihat sisi Veon yang seperti ini. Lucu juga wajahnya, pikirnya.
“Zak, ayo kita makan, mumpung masih hangat,” ajak Kania sambil mendudukkan tubuhnya di samping suaminya.
Zaki menganggukkan kepalanya, dia lalu mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal. Pria itu menggelengkan kepalanya saat melihat Veon yang meminta Kania untuk menyuapinya, ‘aku baru tau tuan Veon bisa semanja itu sama Kania. Semoga mereka akan selalu seperti itu,’ gumamnya dalam hati.
~oOo~
__ADS_1