
Veon sedang duduk di sofa kamarnya sambil membaca buku. Jika sedang berada di rumah kedua orangtuanya, Veon memang menghabiskan waktunya dengan membaca buku, dia sama sekali tidak pernah pergi keluar rumah jika tidak ada urusan penting atau para sahabat-sahabatnya mengajak ketemuan di luar rumah.
Terdengar suara ketukkan di pintu, “masuk,” sahut Veon dari dalam.
Vera membuka pintu dengan perlahan, dia lalu masuk ke dalam kamar putranya itu, “apa Mama mengganggu mu?” tanyanya sambil berjalan mendekati Veon.
Veon menggelengkan kepalanya, dia lalu menutup buku yang dia baca lalu meletakkannya di atas meja, “apa ada hal yang penting hingga Mama mendatangi kamar Veon?” tanyanya. Veon bertanya seperti itu karena semenjak papanya sakit, mamanya memang jarang masuk ke dalam kamarnya.
“Apa Mama tidak boleh masuk ke kamar putra Mama sendiri?” tanya Vera sambil mendudukkan tubuhnya di samping Veon.
“Karena Mama memang jarang masuk ke kamar Veon kalau bukan karena ada hal penting yang ingin Mama bicarakan.”
Vera menghela nafas, “karena sekarang kamu sudah dewasa sayang, jadi Mama tidak mungkin bisa sembarangan masuk ke dalam kamar kamu. Mama tahu kamar kamu ini adalah tempat privasi kamu,” ucapnya sambil menggenggam tangan Veon.
“Apa yang ingin Mama bicarakan dengan Veon? Jika Mama ingin membujuk Veon untuk menikah, maka lupakan saja, karena sampai kapan pun Veon tidak akan menikah,” ucap Veon penuh penekanan.
“Tapi kenapa sayang? umur kamu sudah matang untuk menikah. Sekarang usia kamu sudah 27 tahun, apa itu masih belum cukup untuk kamu menikah?”
Veon menggelengkan kepalanya, “Veon akan menikah setelah Veon berusia 30 tahun,” ucapnya.
“Tapi sayang, apa kamu tidak ingin melihat Papa kamu bahagia di sisa umurnya? Kamu pasti tahu apa yang Mama maksud,” ucap Vera sedih.
Veon memeluk mamanya dengan sangat erat, “Mama harus yakin jika Papa kan tetap hidup hingga Veon berusia 30 tahun, bahkan setelahnya,” ucapnya.
“Mama juga berharap seperti itu sayang, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok,” ucap Vera lalu melepas pelukan Veon.
Veon beranjak dari duduknya, “maaf, Ma, tapi Veon tetap tidak mau menikah,” ucapnya.
Vera menghela nafas lalu beranjak dari duduknya, “Mama sudah tidak bisa berbuat apa-apa jika itu sudah menjadi keputusan kamu. Sekarang kamu sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidup kamu sendiri. Mama hanya berharap kamu tidak akan menyesal nantinya,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Veon. Sebelum menutup pintu kamar itu, Vera menatap Veon yang masih berdiri sambil menatapnya, “Mama hanya berharap kamu akan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua kamu. Mama merasa telah gagal mendidik kamu selama ini, maafkan Mama,” gumamnya dalam hati.
Vera lalu menutup pintu itu, dia berjalan menuruni tangga. Vera melihat putrinya sudah berdandan cantik, “sayang, kamu mau ke mana?” tanyanya sambil berjalan mendekati putrinya yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon.
__ADS_1
Chelsea mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas, “Chelsea mau pergi jalan-jalan sama teman-teman Chelsea, Ma,” ucapnya.
“Tapi ini sudah mau malam sayang, kamu mau pergi ke mana?”
“Cuma ke cafe, Ma.” Chelsea mencium tangan mamanya, “Chelsea pergi dulu ya, Ma,” pamitnya lalu berjalan keluar.
“Nanti pulangnya jangan malam-malam!”
“Iya, Ma!” teriak Chelsea sambil melambaikan tangannya ke atas.
“Apa aku ibu yang sangat buruk dalam mendidik anak-anak ku? Apa kesalahan aku di masa lalu hingga kedua anakku sama sekali tidak ada yang mau menurut sama aku,” keluh Vera lalu berjalan menuju dapur untuk membantu asisten rumah tangganya menyiapkan makan malam.
***
Chelsea kini tengah berada di cafe bersama dengan teman-temannya. Chelsea selama ini bergaul dengan orang yang salah. Sejak Chelsea menjalin hubungan dengan pria yang bernama Alex, dia menjadi gadis yang suka membangkang.
“Tumben kamu di izinin keluar sama Mama kamu,” ucap Alex sambil merangkul pundak Chelsea.
“Sayang, kamu tahu kan Mama aku tidak bisa melarang aku pergi,” ucap Chelsea sambil melingkarkan kedua lengannya ke leher Alex.
Semua teman-teman Alex yang ada di cafe itu hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Alex dan Chelsea tengah berciuman panas di depan mereka. Pemandangan itu tidak membuat mereka terkejut sama sekali, karena mereka sering mengumbar kemesraan mereka di di depan umum.
Dengan nafas yang terengah-engah Alex mengakhiri ciumannya, “makasih sayang, aku mencintaimu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya. Wajah Chelsea langsung bersemu merah setiap Alex mengatakan cinta padanya.
“Habis ini kita mau ke mana nih?” tanya Vika sahabat Chelsea.
“Bagaimana kalau kita ke club, pasti seru tuh,” usul Betrand yang tak lain pacar Vika dan juga sahabat Alex.
“Gimana yang lain setuju tidak?” Vika bertanya kepada semua sahabatnya yang ada di cafe itu.
“Setuju!” teriak mereka bersamaan.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Chelsea, dia sama sekali belum pernah menginjakan kakinya ke dalam club, “maaf, aku tidak bisa ikut,” ucapnya.
“Kenapa sayang, apa kamu takut? Kan ada aku,” ucap Alex sambil menggenggam tangan Chelsea.
“Aku tidak pernah pergi ke tempat begituan, kalau sampai kedua orang tua aku atau Kak Veon tau bagaimana? Aku takut,” ucap Chelsea.
“Kamu tenang saja, mereka tidak akan pernah tahu kalau kamu tidak memberitahu mereka,” ucap Betrand.
“Kamu tenang saja sayang, mereka tidak akan tahu. Kamu mau ikut kan?” bujuk Alex.
“Ayolah Chel, nggak ada kamu nggak seru tau,” bujuk Vika.
Chelsea seakan tengah berfikir, “tapi jangan malam-malam ya pulangnya,” ucapnya.
“Iya sayang, jam sembilan kita sudah pulang,” ucap Alex.
“Em...baiklah, aku akan ikut kalian.” Chelsea akhirnya termakan oleh bujukan teman-temannya.
Sesampainya di club mereka lalu mencari tempat yang nyaman untuk mereka duduk sambil menikmati musik yang sangat memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya. Betrand dan Alex memesan wine, mereka memang sudah biasa mengkonsumsi minuman beralkohol.
“Sayang, bukankah kamu sudah berjanji akan berhenti minum?” Chelsea mau menerima Alex menjadi kekasihnya dengan syarat dia harus berhenti mengkonsumsi minuman keras. Tapi sampai dua tahun mereka berpacaran, Alex belum juga menghilangkan kebiasaan buruknya. Chelsea sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena dia sudah terlanjur mencintai Alex.
“Alex sebenarnya sudah berhenti minum kok, Chel. Dia hanya sesekali minum, hanya di saat penting seperti ini,” ucap Betrand mencoba membantu sahabatnya yang tengah terpojok.
“Iya sayang, aku sudah berhenti kok. Mungkin hanya sesekali aku minum,” ucap Alex sambil merangkul bahu Chelsea.
“Untuk kali ini aku akan memaafkan kamu, tapi tidak untuk lain kali,” ucap Chelsea dan langsung mendapat anggukkan dari Alex.
Betrand dan Vika hanya tersenyum sinis melihat Chelsea yang selalu percaya dengan ucapan Alex.
Kalau sudah bucin, apapun pasti akan dia percayai. Vika meneguk minuman di atas meja. Vika memang gadis liar, dan terjerumus dalam pergaulan bebas. Vika berasal dari keluarga yang broken home, hingga tidak ada satu orang pun yang memperdulikan dirinya. Entah mamanya maupun papanya, itu sebabnya Vika terjerumus dalam pergaulan bebas.
__ADS_1
Dan sayangnya Chelsea gadis yang sangat polos harus mempunyai teman seperti Vika, yang akhirnya membawa dampak buruk untuk dirinya. Chelsea terpengaruh oleh pergaulan Vika dan teman-temannya, lewat Vika juga dirinya mengenal Alex. Pria yang kini menjadi kekasihnya, Chelsea rela melakukan apa saja agar bisa membuat Alex bahagia.
~oOo~