
Alex merasa sangat lelah, dia pun beranjak dari kursi kerjanya. Sebenarnya Alex malas pulang ke rumah, karena tidak ada Chelsea di rumah itu. Selama dua bulan ini, Alex sudah terbiasa dengan kehadiran Chelsea di rumah itu.
Dia tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi dengan dirinya jika Chelsea benar-benar akan meninggalkannya suatu saat nanti, tapi jika itu memang harus terjadi, Alex akan menerimanya dengan ikhlas, karena selamanya dia tidak bisa mengikat Chelsea. Bagaimanapun Alex ingin melihat Chelsea bahagia, meskipun tanpa dirinya di sisinya.
Alex membuka pintu rumahnya, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Hidungnya mencium baru harum makanan yang berasal dari dapur. Pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju dapur, dia terkejut saat melihat sosok yang sedang berada di dapur bersama dengan asisten rumah tangganya.
“Chelsea!” serunya terkejut.
Chelsea yang mendengar suara Alex pun langsung membalikkan tubuhnya, “kamu sudah pulang.” Wanita itu lalu melangkahkan kakinya mendekati Alex.
“Kenapa kamu ada disini? Bukankah kamu sedang berada di rumah kedua orang tua kamu?”
“Kenapa? apa aku tidak boleh pulang ke rumah ini lagi?”
Alex seketika langsung menggelengkan kepalanya, “bukan seperti itu, kamu mau tinggal disini kapanpun kamu mau, pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu. Aku hanya heran, bukannya kamu masih ingin tinggal di rumah kedua orang tua kamu?”
Chelsea tersenyum, dia lalu mengambil tas kerja yang ditenteng oleh Alex, hingga membuat Alex heran dengan perubahan sikap Chelsea, “kamu pasti capek, sekarang lebih baik kamu mandi dulu, setelah itu makan malam, sebentar lagi siap.”
“Apa kamu memasak makanan itu?” Alex menatap ke arah kompor, dimana kompor itu masih menyala.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku masih harus banyak belajar, agar masakan aku layak untuk dimakan.”
Alex tersenyum, “masakanmu enak kok, hanya saja kurang...”
Chelsea menutup mulut Alex dengan jari telunjuknya, “apa kamu ingin membuatku semakin malu?” tanyanya dengan mengerucutkan bibirnya.
“Aku bukannya ingin membuat kamu malu, kan disini hanya ada aku, kamu dan bibi. Bibi kan sudah tahu kalau kamu tidak bisa memasak, lalu kenapa kamu harus malu?”
Chelsea membalikkan tubuh Alex, “badan kamu bau, cepetan mandi,” ledeknya sambil mendorong tubuh Alex.
Alex tersenyum, “iya-iya aku mandi sekarang, kenapa sekarang kamu jadi bawel? Biasanya kamu tidak peduli aku mau mandi apa tidak.”
“Aku tidak mau tidur sama orang yang bau.” Chelsea lalu berlalu pergi keluar dari dapur.
Alex menatap wanita paruh baya yang saat ini tengah menahan senyumannya, “Bi, sejak kapan Chelsea pulang ke rumah ini?”
“Belum lama, Tuan. Nyonya Chelsea langsung masuk ke dalam dapur dan meminta saya untuk membantu beliau membuat makan malam untuk Tuan.”
__ADS_1
“Benarkah?” Alex tampak terkejut mendengar penjelasan asisten rumah tangganya.
“Iya, Tuan. Sepertinya Nyonya Chelsea sudah mulai berubah.”
“Semoga saja, Bi. Kalau begitu saya ke kamar dulu, nanti makan malamnya tolong antar ke kamar saja.” Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya.
Alex lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya, dengan perlahan dia membuka pintu kamarnya. Pria itu melihat Chelsea sedang menyiapkan pakaian untuknya. Alex sangat heran dengan perubahan sikap Chelsea saat ini, tapi dia juga merasa bahagia, sekarang Chelsea lebih perhatian dan peduli padanya.
“Apa kamu akan terus berdiri di depan pintu seperti itu?” Chelsea melipat kedua lengannya di dada, dia menatap tajam ke arah Alex yang sejak tadi masih berdiri di depan pintu.
Alex tersenyum, dia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, “sebenarnya aku sangat penasaran, kenapa kamu bisa berubah sikap dalam sekejap, apa ada sesuatu yang tidak aku tahu?” pria itu menghentikan langkahnya di depan wanita itu.
“Apa aku butuh alasan untuk berubah?”
Alex menganggukkan kepalanya, “harus dong, aku saja mau berubah demi kamu,” ucapnya sambil mencolek hidung mancung Chelsea hingga membuat wajah itu merona.
Chelsea membalikkan tubuhnya, “lebih baik sekarang kamu mandi, aku akan menyiapkan makan malam untuk kamu.”
Alex menarik tangan Chelsea saat wanita itu ingin melangkahkan kakinya, “aku sudah menyuruh bibi untuk membawa makan malam kita ke kamar.”
“Tapi kenapa?”
Sambil menunggu Alex selesai mandi, Chelsea memilih untuk membantu asisten rumah tangganya menyiapkan makan malam, dia tidak ingin hanya berdiam diri di dalam kamar.
“Jangan keluar dari kamar! Kalau tidak aku akan menghukummu!” teriak Alex dari dalam kamar mandi.
Chelsea mendengus kesal, “bagaimana dia bisa tahu kalau aku mau keluar dari kamar ini?” wanita itu lalu memilih untuk duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Tapi tidak berselang lama dia mendengar suara pintu kamarnya di ketuk, “masuk saja, Bi,” sahutnya.
Wanita paruh baya itu membuka pintu kamar itu, dia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Chelsea bergegas beranjak dari duduknya dan mengambil alih nampan yang dibawa asisten rumah tangganya itu dan mengucapkan terima kasih. Wanita paruh baya itu lalu pamit undur diri.
Chelsea meletakkan nampan itu ke atas meja, dan tak berselang lama, Alex keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit tubuhnya. Kedua mata Chelsea membulat dengan sempurna, meskipun itu bukan pertama kalinya bagi Chelsea melihat tubuh Alex, tapi ini pertama kalinya dia melihat tubuh itu tanpa ada rasa benci di dalam hatinya.
Alex tersenyum melihat ekspresi wajah Chelsea, dia pun melangkahkan kakinya mendekati wanita itu, “jangan melihatku seperti itu, aku takutnya nanti kamu akan jatuh cinta sama aku lagi,” godanya.
Chelsea memalingkan wajahnya, “cepatan pakai pakaian kamu, setelah itu kita makan malam, aku sudah lapar.”
Bukannya pergi memakai pakaiannya, Alex malah mendudukkan tubuhnya di samping Chelsea. Dulu Chelsea yang bersikap seperti itu untuk menggodanya, tapi sekarang dirinya ingin menguji Chelsea, dia ingin tahu, apa wanita itu akan tergoda saat melihat dirinya yang hanya bertelanjang dada?
__ADS_1
Chelsea membulatkan kedua matanya, “apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu malah duduk disini?”
“Tentu saja untuk makan malam.”
“T—tapi, kenapa kamu tidak memakai pakaian kamu terlebih dahulu.” Chelsea memalingkan wajahnya, dia tidak berani menatap Alex.
“Kenapa? apa kamu lupa, dulu kamu juga melakukan ini sama aku,” sindirnya.
Chelsea menelan ludah, dia tidak bisa berkata-kata, seakan suaranya tercekat di tenggorokannya, dia begitu malu, jika mengingat apa yang telah dia lakukan waktu itu.
Alex mengambil piring dari atas nampan, “jangan hiraukan aku, bukannya tadi kamu bilang kalau kamu lapar.” Pria itu menyodorkan piring yang tadi dia ambil di depan Chelsea, “sekarang makanlah,” imbuhnya.
Chelsea mengalihkan tatapannya, “em...aku...”
Alex mengernyitkan dahinya, “apa kamu mau aku suapin?” Chelsea menganggukkan kepalanya, tapi kali ini Alex akan berlagak sok jual mahal, “tapi maaf, aku tidak akan menyuapimu lagi mulai dari sekarang,” tolaknya.
“Kenapa? apa kamu sudah tidak...”
“Chel, sekarang aku sadar, aku tidak bisa memaksakan perasaan aku ke kamu. Mungkin benar, aku belum bisa untuk melepaskan kamu, tapi mulai sekarang aku harus membiasakan diri agar kelak saat kamu pergi meninggalkan aku, aku tidak akan terlalu berat untuk melepaskan kamu.”
Kedua mata Chelsea membulat dengan sempurna, “apa maksud kamu? Apa kamu sekarang mulai menyerah?”
Alex menggelengkan kepalanya, “aku bukannya menyerah, tapi aku sudah sadar, selama ini aku sudah jahat sama kamu, dan tidak seharusnya aku bersikap seperti itu sama kamu.”
“Lex, bukan kamu yang jahat, tapi aku. Aku akui sikap aku selama ini sudah keterlaluan, aku sama sekali tidak menghargai kamu sebagai suami aku.” Chelsea lalu menundukkan wajahnya, “aku...aku minta maaf,” ucapnya.
Alex menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, ternyata cara yang diberitahukan Betrand berhasil, Chelsea kini mulai menyadari kesalahannya. Tapi Alex belum sepenuhnya yakin, sebelum Chelsea benar-benar menunjukkan perubahan sikapnya dan mau menerimanya menjadi suaminya sepenuhnya.
Alex meletakkan piring yang dia bawa ke atas meja, dia lalu mendongakkan wajah Chelsea, “lihat aku. Bagiku kamu sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan, aku tahu kamu melakukan semua itu hanya untuk membalas dendam atas semua sikapku selama ini, dan aku menerima semua itu.”
“Maafkan aku.”
Alex kembali mengambil piring yang berisi makanan itu, dia lalu mengambil satu sendok makanan dan dia sodorkan di depan mulut Chelsea, “sekarang buka mulut kamu, bukannya kamu mau makan dari tangan aku?” godanya.
Chelsea pun mulai membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Alex. Setelah itu dia melakukan hal yang sama kepada Alex. Alex tidak menyangka akan mendapatkan perhatian seperti itu dari wanita yang sangat dia cintai.
‘Sayang, maafkan aku, aku tadi tidak berniat untuk berbicara seperti itu sama kamu, aku hanya ingin mengujimu. Aku senang, kamu sekarang sudah mulai peduli padaku, semoga ini tidak hanya bertahan sementara, tapi untuk selamanya,’ gumam Alex dalam hati.
__ADS_1
~oOo~