Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Permintaan maaf


__ADS_3

Dengan perlahan Alex naik ke atas ranjang, dia lalu merebahkan tubuhnya di samping Chelsea. Dia lalu memiringkan tubuhnya menghadap Chelsea, “apa kamu benar-benar sudah tidur?” Alex masuk ke dalam selimut yang sama dengan Chelsea.


Selama hidupnya, Alex tidak pernah merasakan se-gugup itu saat sedang bersama dengan wanita, tapi kali ini rasanya berbeda. Apa karena dia benar-benar tulus dan menghargai wanita itu?


Chelsea menggelengkan kepalanya, dia tidak memungkiri jika saat ini dirinya benar-benar takut, takut kalau Alex akan mengingkari janjinya dan akan memaksa kan kehendaknya kepadanya. Dengan perlahan Chelsea mulai membuka matanya, dia lalu mengubah posisinya menjadi menghadap Alex, dan mereka kini saling berhadap-hadapan.


Alex menatap lekat kedua mata Chelsea, mata yang sangat indah, “apa kamu tidak kedinginan? Kamu tidak perlu melakukan semua ini untuk mengujiku.”


“Kenapa? apa kamu sudah tidak bisa menahan diri lagi?” tanyanya dengan senyuman di wajahnya, tentu saja itu senyuman yang dipaksakan.


Alex membelai rambut panjang Chelsea, dan menyikap rambut yang menutupi bahu mulusnya, “aku akan tetap mencoba untuk bertahan, tapi aku juga tidak bisa memungkiri jika di bawah sana sudah ada sesuatu yang sudah merasa sangat sesak,” godanya.


Chelsea menelan ludah, tapi dia mencoba untuk tetap bersikap biasa saja, “benarkah? Lalu kenapa kamu masih menahannya?”


Alex tersenyum, “karena aku ingin kamu sendiri yang memintanya.”


Chelsea tertawa, “kenapa kamu seyakin itu?”


“Karena aku yakin, suatu hari nanti, kamu akan mau menerima aku menjadi suami kamu yang seutuhnya.”


Chelsea tidak mau berdebat lagi dengan Alex, apalagi saat ini dia sudah merasa sangat kedinginan, ingin sekali dia mematikan AC di kamarnya, tapi dia tidak ingin Alex curiga, “aku mau tidur, aku sudah mengantuk.” Wanita itu lalu mengubah posisinya menjadi membelakangi Alex.


Alex menelan ludah saat melihat punggung mulus Chelsea, dia ingat dulu punggung itu selalu dipenuhi dengan tanda kepemilikannya, tapi sekarang untuk menyentuhnya saja, dia harus berpikir dua kali.


“Chel, kamu yakin kamu tidak kedinginan?” Alex bisa melihat tubuh di depannya mulai menggigil kedinginan.


“Tidurlah, jangan pedulikan aku.”


“Jika kamu ingin aku memelukmu, maka dengan senang hati aku akan melakukannya,” goda Alex dengan senyuman di wajahnya.


“Jangan pernah berharap, karena aku tidak akan meminta itu.”


“Baiklah, kalau begitu aku tidur dulu.” Alex lebih memilih untuk mengubah posisinya menjadi membelakangi Chelsea, karena dia tidak akan bisa menahan diri jika harus terus menatap punggung mulus Chelsea.


Waktu semakin larut, udara semakin dingin. Chelsea sama sekali tidak bisa tidur, dia ingin sekali beranjak dari ranjang dan mengambil piyamanya, tapi dia takut akan membuat Alex terbangun dan mulai menertawakannya.


Chelsea membalikkan tubuhnya, dia tatap punggung Alex yang sangat lebar, pikiran aneh mulai berputar di otaknya, seperti hangatnya punggung bidang itu, dan rasa ingin memeluk punggung bidang itu.


Chelsea menggelengkan kepalanya, “lebih baik aku tidur.” Wanita itu lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, dia mencoba untuk memejamkan kedua matanya.


Alex mendengar apa yang Chelsea katakan, dia tahu jika wanita itu belum tidur sejak tadi. Pria itu lalu membalikkan tubuhnya, dia tidak peduli dengan apa yang akan Chelsea katakan padanya, mungkin umpatan atau bahkan menganggap dirinya sudah ingkar janji.


Tapi yang terpenting bagi Alex saat ini adalah memberikan rasa nyaman dan kehangatan untuk Chelsea, dan membuatnya untuk tidur nyenyak. Tanpa pikir panjang Alex menarik tubuh Chelsea dan mendekapnya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Alex merasa Chelsea akan segera memberontak, “jangan salah paham, aku tidak akan melakukan apa-apa sama kamu, aku tahu kamu dari tadi merasa kedinginan, bahkan tubuhmu sangat dingin. Aku hanya ingin memelukmu dan memberimu kenyamanan agar kamu bisa segera tidur, apalagi ini sudah tengah malam.”


Alex merasa Chelsea sudah tidak lagi memberontak, dia bahkan merasakan tubuh Chelsea semakin melekat pada tubuhnya. Pria itu lalu menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, ‘aku tahu sayang, sebenarnya kamu tidak sejahat itu, karena Chelsea yang aku kenal adalah wanita yang manja dan juga baik hati.’


Alex memasukkan tangannya ke dalam selimut dan memeluk tubuh Chelsea, dia bisa merasakan kulit tubuh Chelsea yang dingin. Pria itu lalu memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat, dan memberikan kehangatan dan rasa nyaman hingga membuat Chelsea benar-benar terlelap dalam tidurnya.


Alex pun mulai memejamkan kedua matanya untuk menghindar dari pikiran-pikiran kotor yang mulai berputar di kepalanya. Dia bahkan tidak memungkiri jika bagian bawahnya sudah mulai memberontak sejak tadi, tapi dia mencoba untuk menahannya.


**


Chelsea membuka matanya dengan perlahan, dia tidak melihat Alex di sampingnya, “apa dia sudah bangun?” wanita itu lalu melihat jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.


Chelsea bergegas turun dari ranjang, dia tidak ingin Alex melihatnya dengan kondisinya saat ini, meskipun semalam pria itu sudah melihatnya bahkan memeluknya. Wanita itu lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Chelsea seakan ingin menyembunyikan wajahnya, dia tidak sanggup untuk bertemu dengan Alex. Dia yang menantang, tapi dirinya sendiri yang kalah taruhan dan malah terjebak ke dalam pelukan Alex yang terasa sangat hangat dan membuatnya nyaman.


Setelah selesai berpakaian Chelsea keluar dari kamarnya, tidak seperti biasanya Alex tidak masuk ke dalam kamar untuk membawakannya sarapan. Wanita itu pun merasa curiga, dia ingin tahu apa yang sedang dilakukan Alex saat ini.


“Nyonya Chelsea sudah bangun,” sapa wanita paruh baya yang sedang membersihkan sisa makanan Alex.


“Apa Alex sudah berangkat kerja, Bi?”


Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, “tadi Tuan Alex berpesan, beliau meminta maaf karena tidak bisa menemani Nyonya Chelsea sarapan, karena beliau ada meeting penting pagi ini.”


“Iya, Tuan Alex bangun pagi-pagi sekali hanya untuk memasak semua makanan ini, Tuan Alex bilang, semua ini adalah makanan kesukaan Nyonya.”


Chelsea mencoba menepis sesuatu yang begitu menusuk hatinya, “sekarang Bibi boleh kembali bekerja.”


“Oh ya, Nyonya. Tadi Tuan Alex juga berpesan, jika Nyonya ingin pergi keluar, Nyonya harus diantar jemput oleh supir, karena Tuan sangat mengkhawatirkan Nyonya.”


“Bibi tenang saja, hari ini saya tidak akan pergi kemana-mana.”


Wanita itu menganggukkan kepalanya, dia juga bernafas lega karena dengan begitu majikannya itu tidak perlu mengkhawatirkan istrinya lagi.


Setelah kepergian wanita paruh baya itu, Chelsea mulai memakan makanan yang ada di meja makan, dia tidak menyangka Alex bisa memasak semua makanan itu, bahkan makanan itu semuanya terasa enak.


“Apa selama ini sikap aku sudah keterlaluan ya sama Alex? Tapi dia memang pantas untuk mendapatkan semua itu, aku ingin dia merasakan penderitaan yang aku rasakan dulu!”


***


Sedangkan di kantor, Alex terlihat sangat bahagia. Setelah selesai meeting, dia mendapatkan kabar dari asisten rumah tangganya, jika Chelsea menghabiskan semua makanan yang dia buat, selain itu dia juga merasa senang karena Chelsea tidak pergi kemana-mana dan memilih untuk tetap di rumah.


Alex memberitahu asisten rumah tangganya, jika dia akan makan siang di rumah, dan menyuruh wanita paruh baya itu untuk tidak usah memasak apa-apa, karena dia akan membawa makanan dari luar. Alex berencana membeli makanan dari restoran favorit mereka saat mereka masih berpacaran dulu.

__ADS_1


Chelsea sebenarnya merasa bosan di rumah, karena rumah itu sangat sepi. Biasanya dia setiap hari menghabiskan waktunya untuk pergi jalan-jalan bersama dengan Vika, mengunjungi semua tempat pariwisata yang berada di kota Jakarta, itu sebabnya dia selalu pulang malam.


Meskipun dia sangat membenci Alex, dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang di luar batas, karena dia juga tidak ingin mempermalukan keluarganya jika sampai semua sikapnya itu diketahui oleh keluarganya.


Chelsea yang merasa sangat bosan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya menonton acara televisi di ruang tengah sambil menikmati cemilan yang dia beli waktu pergi bersama dengan Vika. Chelsea tidak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikannya.


Alex sudah sampai di rumah 10 menit yang lalu, setelah memberikan makanan yang dia beli kepada asisten rumah tangganya, dia lalu bergegas menuju ruang tengah tempat Chelsea berada, “sayang, ayo kita makan siang,” ajaknya sambil melangkahkan kakinya mendekati Chelsea.


Chelsea membulatkan kedua matanya saat melihat Alex berada di rumah, “sejak kapan kamu ada di rumah?” tanyanya terkejut.


“Baru saja, aku ingin makan siang bersama denganmu, anggap saja ini sebagai permintaan maaf aku karena aku tadi pagi tidak bisa menemani kamu sarapan,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Chelsea sangat benci melihat senyuman itu, karena dia ingin melihat Alex menangis, bukannya tersenyum, “aku belum lapar, kalau kamu lapar, kamu makan duluan saja,” tolaknya dengan nada dingin.


“Kalau begitu biar aku suruh Bibi untuk membawa makanannya kesini, aku yakin rasa kenyang kamu akan berubah menjadi rasa lapar saat kamu melihat makanan itu.” Alex lalu menyuruh asisten rumah tangganya untuk membawakan makanan itu ke ruang tengah.


Chelsea menelan ludah saat melihat makanan yang ditata di meja tepat di depannya. Wanita paruh baya itu langsung undur diri setelah selesai meletakkan semua makanan yang dibeli Alex di atas meja.


“Yakin kamu tidak ingin makan?” Alex mengambil piring yang berisi makanan kesukaan Chelsea, dia lalu mengambil satu sendok makanan lalu dia sodorkan di depan mulut Chelsea, “sekarang buka mulut kamu,” pintanya.


“Alex, aku belum lapar.” Chelsea masih menutup mulutnya rapat-rapat.


“Kalau kamu tidak mau, biar aku yang menghabiskan semua makanan ini, kebetulan aku sangat lapar. Meeting pagi tadi sungguh membuat perutku lapar.” Alex langsung memasukan satu suapan ke mulutnya, dia bahkan menunjukkan kepada Chelsea bagaimana nikmatnya makanan itu.


Chelsea yang melihat cara makan Alex pun terus menerus menelan ludah, sebenarnya dia merasa sangat lapar, melihat makanan yang ada di atas meja sungguh membuat perutnya semakin bergemuruh minta segera diisi.


“Sekarang buka mulut kamu, aku hanya akan memberikan kamu penawaran sekali, jika kamu tetap tidak mau, aku benar-benar akan menghabiskan semua makanan ini sendirian.” Mendengar ancaman yang keluar dari mulut Alex, mau tidak mau akhirnya Chelsea membuka mulutnya, dia tidak mau mati kelaparan karena gengsinya yang besar.


Alex tersenyum, dia pun mulai menyuapi Chelsea dengan penuh kasih sayang, hingga makanan itu benar-benar habis di makan mereka berdua.


Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Chelsea, dia lalu mengecup kening istrinya itu, “aku akan kembali ke kantor, mungkin nanti aku akan pulang malam, jadi jangan menunggu pulang.”


Chelsea berdecih, “siapa juga yang akan menunggu kamu pulang.”


Alex tersenyum, “yakin, kalau begitu siapa semalam yang tidak bisa tidur sebelum aku memeluknya,” godanya.


Chelsea menelan ludah, wajahnya mulai memerah karena malu, dia mulai merutuki dirinya sendiri, kenapa semalam dia bisa tidur se-nyenyak itu saat Alex memeluknya.


Alex yang melihat wajah Chelsea yang mulai merona pun tidak ingin membuat wanita itu semakin merasa malu, dia lalu mengusap puncak kepala Chelsea, “aku pergi dulu.” pria itu lalu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


Chelsea menepuk-nepuk kedua pipinya, “sadar Chelsea, sadar. Kamu berada disini itu untuk membalas dendam, tapi kenapa kamu selalu terjebak dengan semua yang Alex katakan!”


~oOo~

__ADS_1



__ADS_2