Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Anugerah terindah


__ADS_3

Alex melihat ruang pemeriksaan terbuka, dia lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri dokter itu, “apa istri saya sudah melahirkan, dok?” tanyanya cemas.


Dokter itu menggelengkan kepalanya, “tekanan darah Nyonya Chelsea tinggi, jadi kami tidak berani untuk melakukan persalinan secara normal. Saya ingin mengusulkan kepada anda untuk melakukan persalinan secara caesar, jadi saya ingin meminta persetujuan anda.”


“Saya akan menandatanganinya, dok. Tolong selamatkan anak dan istri saya.”


Dokter itu menganggukkan kepalanya, dia lalu mengajak Alex ke ruangannya untuk menandatangani surat persetujuan. Setelah itu mereka kembali ke ruang pemeriksaan. Dokter meminta kedua suster itu untuk membawa Chelsea ke ruang operasi.


“Dok, apa saya boleh menemani istri saya?” Alex menatap Chelsea yang terlihat begitu lemah, dengan keringat yang mengucur di keningnya, “sayang, bertahanlah. Demi anak-anak kita,” imbuhnya sambil mengecup kening Chelsea.


“Lex, kalau seandainya nanti terjadi sesuatu sama aku, tolong jaga anak-anak kita dengan baik,” ucap Chelsea dengan suara lirih.


Alex menggelengkan kepalanya, “tidak akan aku biarkan terjadi sesuatu sama kamu. Kita yang akan mengurus anak-anak kita, kita besarkan mereka bersama-sama.”


“Tuan Alex, maaf, saya tidak bisa mengizinkan anda untuk masuk ke dalam ruang operasi, agar operasi bisa berjalan dengan lancar tanpa gangguan apapun,” ucap dokter itu.


Alex mengangguk mengerti, “sayang, berjuanglah. Aku dan anak-anak kita masih sangat membutuhkan kamu, jadi jangan pernah menyerah dan berpikir akan meninggalkan aku,” ucapnya sambil mengecup punggung tangan Chelsea.


Dokter kembali meminta kedua susternya untuk membawa Chelsea ke ruang operasi. Alex dengan berat melepaskan genggaman tangannya. Pria itu mengikuti dari belakang dan menunggu di kursi tunggu.


Alex merasakan getaran di saku celananya, dia lalu mengambil ponselnya, “halo,” sahutnya.


“Kamu dimana? Aku sudah ada di depan ruang bersalin, tapi kamu tidak ada.”


“Aku sedang berada di depan ruang operasi, Chelsea akan melahirkan secara caesar.”


Tanpa menjawab, Veon lalu mengakhiri panggilannya, dia lalu mengajak Kania menuju ruang operasi. Sesampainya di ruang operasi, mereka melihat Alex yang tengah duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Veon dan Kania melangkahkan kakinya mendekati Alex, “tenanglah, Chelsea pasti akan baik-baik saja,” ucap Veon sambil menepuk bahu Alex.


Veon dan Kania duduk di samping Alex, mereka berusaha untuk tetap saling menguatkan satu sama lain. Berharap semoga operasinya berjalan dengan lancar dan semua dalam keadaan baik-baik saja.


“Veon, apa Chelsea dan anak-anak aku akan baik-baik saja? Ini sudah lebih dari dua jam, tapi kita belum mendengar suara tangisan bayi.” Alex terlihat sangat cemas, dia terus menatap ke pintu orang operasi itu.


“Tenanglah, kita akan segera...” Veon belum selesai mengucapkan kata-katanya, suara tangisan bayi sudah mulai terdengar, “itu suara tangisan anak-anak kamu,” ucapnya sangat bahagia.


“Itu...” kedua mata Alex sudah berkaca-kaca.


Veon menganggukkan kepalanya, “itu suara tangisan anak-anak kamu.”


“Mereka sudah lahir, akhirnya aku benar-benar menjadi seorang Ayah sekarang.” Alex begitu terharu, dia tidak menyangka akan segera melihat kedua buah hatinya.


Tak berselang lama pintu ruang operasi itu terbuka, dokter keluar dari ruang operasi itu dan menyuruh Alex untuk masuk ke dalam ruang operasi itu.


“Masuklah,” ucap Veon dengan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


Alex menganggukkan kepalanya, dia lalu beranjak dari duduknya dan bergegas masuk ke dalam ruang operasi itu. Pria itu melihat dua bayi mungil yang masih merah, berada di gendongan kedua suster.


“Selamat ya Tuan Alex, kedua anak anda laki-laki, mereka sangat sehat dan sempurna, juga sangat tampan. Silahkan jika anda ingin meng-adzankan dan meng-iqomatkan anak-anak anda,” ucap dokter itu.


Alex berjalan mendekat, dia tatap wajah kedua anaknya secara bergantian. Pria itu lalu mengambil salah satu anaknya dari gendongan suster itu, “terima kasih, Tuhan. Engkau telah memberikan hamba anugerah terindah, hamba berjanji, hamba akan menjaga mereka dengan sangat baik,” ucapnya lalu mengecup kening dan kedua pipi gembul putranya.


“Yang anda gendong saat ini, dia yang pertama kali terlahir. Dan yang satunya, setelahnya,” jelas dokter itu.


“Jadi kamu adalah kakaknya sayang, Papa sangat berterima kasih, karena kamu sudah mau hadir dalam hidup Papa dan Mama,” ucap Alex tanpa sadar air mata menetes dari kedua sudut matanya.


Alex lalu mulai meng-adzankan dan meng-iqomatkan anak pertamanya, setelah itu dia mengembalikan anak pertamanya kepada suster dan mengambil alih anak keduanya. Sebelum meng-adzankan dan meng-iqomatkan anak keduanya, dia terlebih dahulu menciumi seluruh wajah anak keduanya.


“Dok, bagaimana keadaan istri saya?”


“Nyonya Chelsea baik-baik saja, tapi dia masih dalam pengaruh obat, jadi beliau belum sadarkan diri,” ucap dokter itu.


Alex yang masih menggendong putra keduanya, melangkah mendekati Chelsea yang belum sadarkan diri, “sayang, terima kasih. Kamu sudah berjuang untuk melahirkan anak-anak kita. Sekarang kita mempunyai dua jagoan yang sangat tampan,” ucapnya lalu mengecup kening Chelsea.


“Saya akan melakukan pemeriksaan lanjutan, jadi anda boleh kembali bersama dengan keluarga anda,” ucap dokter itu.


Sebelum keluar dari ruang operasi itu, Alex mengecup kening kedua putranya, setelah itu dia kembali melangkah mendekati Chelsea, “sayang, terima kasih, kamu sudah memberikan aku anugerah terindah. Kedua jagoan kecil kita saat ini sangat ingin bertemu dengan kamu sayang. Jadi, cepatlah sadar, aku mencintaimu,” ucapnya sambil mengecup kening Chelsea.


Alex keluar dari ruang operasi itu, dia lalu menghampiri Veon dan Kania yang saat ini pasti menunggu kabar tentang keadaan Chelsea dan kedua anaknya.


Alex menganggukkan kepalanya, “mereka baik-baik saja, sekarang aku sudah mempunyai dua jagoan kecilku,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


“Selamat ya, akhirnya kalian mendapatkan apa yang kalian tunggu-tunggu selama ini,” ucap Kania dengan senyuman di wajahnya.


“Terima kasih.”


Veon memeluk Alex, “selamat ya, jadilah Ayah dan suami yang baik untuk keluarga kecil kamu.”


Alex menganggukkan kepalanya, “terima kasih, aku janji, aku akan menjaga mereka bertiga dengan baik.”


**


Chelsea dan kedua anaknya sudah dipindahkan ke ruang inap VIP. Alex ingin membuat istri dan kedua anaknya merasa nyaman. Setelah satu jam berada di ruang perawatan, Chelsea akhirnya sadar, dia mulai membuka kedua matanya dengan perlahan.


Chelsea mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu yang begitu terang di ruangan itu, “Lex,” panggilnya lirih.


“Sayang, bagaimana keadaan kamu?” Alex mengecup punggung tangan Chelsea.


“Dimana anak-anak kita, apa mereka selamat?”


Alex menganggukkan kepalanya, dia lalu melihat Veon dan Kania yang sedang menggendong kedua buah hatinya, “mereka terlahir dengan sehat dan sempurna.”

__ADS_1


“Apa mereka perempuan dan laki-laki? Atau mereka...”


Veon dan Kania melangkahkan kakinya mendekati ranjang Chelsea.


“Kedua anak kita laki-laki, sekarang kita mempunyai dua jagoan yang sangat tampan,” ucap Alex lalu beranjak dari duduknya, dia mengambil putra pertamanya yang berada di gendongan Veon.


“Chel, anak-anak kamu sangat tampan, apa kamu ingin melihatnya?” tanya Kania.


Chelsea menganggukkan kepalanya, “izinkan aku untuk menggendongnya.”


“Apa kamu benar-benar sudah baikkan, sayang?” tanya Alex cemas.


Chelsea menganggukkan kepalanya, “aku baik-baik saja, aku ingin sekali menggendong anak-anak kita.”


Alex menganggukkan kepalanya, dia lalu memberikan bayi mungil yang digendongnya kepada Chelsea. Chelsea begitu terharu, bayi mungil itu begitu imut, kulitnya begitu halus.


“Lex, anak-anak kita sangat mirip denganmu,” ucap Chelsea dengan senyuman di wajahnya.


Alex duduk di tepi ranjang, dia lalu merangkul pundak Chelsea dan mengecup keningnya, “terima kasih ya sayang, terima kasih untuk semuanya.”


Kania berdiri di sisi satunya, “mereka benar-benar sangat mirip, lalu bagaimana cara kalian untuk membedakannya?”


Alex menggelengkan kepalanya, “aku juga tidak tahu, wajah mereka benar-benar mirip.”


Chelsea tersenyum, “aku tahu, ada yang bisa membedakan mereka berdua.”


Alex mengernyitkan dahinya, “apa itu sayang?”


Chelsea memegang tangan kanan bayi mungil yang ada di pangkuannya, “lihatlah, ada tahi lalatnya, sedangkan tangan anak kita satunya...tidak ada,” ucapnya sambil menatap tangan kanan bayi mungil yang di gendong Kania.


Alex tersenyum, “mata kamu benar-benar jeli sayang, aku hampir tidak melihatnya.”


“Meskipun tidak ada tahi lalat ini, aku juga masih bisa membedakan mereka, karena aku Ibunya,” ucap Chelsea lalu mengecup kening kedua putranya secara bergantian.


Veon tersenyum, akhirnya Chelsea bisa mendapatkan kebahagiaannya, meskipun begitu banyak cobaan yang harus dilalui terlebih dahulu. Apa yang dikatakan semua orang memang benar, mendapatkan kebahagiaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus melewati berbagai macam cobaan agar bisa mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.


~oOo~


Anggap saja mirip ya ini 😁😁




__ADS_1


__ADS_2