Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Kenapa harus aku?


__ADS_3

Veon menyuruh Zaki untuk menjemput Kania di rumahnya, dia sengaja menghindari kedua orang tuanya. Chelsea yang melihat Zaki masuk ke dalam rumahnya segera menyambut kedatangan pemuda itu.


“Di mana Nona Kania?”


“Nona! Kenapa kamu memanggilnya Nona?” tanya Chelsea penasaran.


“Karena dia kekasih kakak kamu, majikan aku.” Zaki berjalan melewati Chelsea yang masih mengernyitkan dahinya. Gadis itu lalu mengikuti pemuda itu dari belakang.


“Apa kamu benar-benar tidak tau kalau majikan kamu itu kakak aku?”


Zaki mengangguk, dia lalu berjalan menghampiri Kania yang tengah duduk berdua bersama dengan Vera. Zaki membungkukkan tubuhnya saat Vera menatapnya.


“Maaf, Nyonya. Saya di suruh Tuan Veon untuk menjemput Nona Kania,” ucapnya.


“Kenapa tidak Veon sendiri yang menjemputnya?” tanya Vera begitu penasaran. Apa dia sengaja ingin menghindari soal rencana pernikahannya? Pikirnya.


“Tuan Veon sedang menghadiri meeting penting dengan client yang tidak bisa beliau tinggal.” Zaki sudah memikirkan alasan apa yang akan dia katakan saat kedua orang tua Veon menanyakan kenapa Bos nya itu tidak menjemput Kania sendiri.


“Kalau begitu katakan kepada Veon, kalau Kania akan menginap di sini malam ini,” ucap Vera sambil mengusap lengan Kania dengan sangat lembut.


Tidak! “em...maaf, tante, Kania tidak bisa menginap di sini, karena Kania tidak bisa meninggalkan Papa sendirian, selain itu Kania juga belum meminta izin sama Papa,” ucap Kania mencoba memberi alasan. Kania ingin segera pergi dari rumah itu, bukan karena dirinya tidak suka dengan penghuni rumah itu, tapi dia tidak ingin membahas soal apapun yang berhubungan dengan pernikahan yang sama sekali tidak dia harapkan, dalam mimpi pun dia tidak pernah menginginkannya.


Vera nampak kecewa, padahal dia ingin dekat dengan calon menantunya itu, “baiklah jika itu kemauan kamu, tapi sering-seringlah datang ke sini. Selain itu jangan lupa beritahu papa kamu tentang rencana pernikahan kalian. Tante akan menunggu kapan tante bisa bertemu dengan papa kamu,” ucapnya.


Kania menganggukkan kepalanya, dia lalu mencium tangan Vera dan berpamitan. Dalam mobil Kania nampak murung hingga membuat Zaki begitu penasaran tentang apa saja yang sudah mereka bicarakan tadi.


“Apa yang kedua orang tua Tuan Veon bicarakan sama kamu?” Zaki tetap fokus menatap ke depan.


“Apalagi kalau bukan soal pernikahan.” Kania menatap Zaki yang masih menatap ke depan, “sekarang beritahu aku rencana Bos kamu itu, apa dia akan menolak pernikahan ini atau justru menerimanya. Rencana kalian telah gagal,” imbuhnya.


“Tuan Veon akan menikahi kamu.”


Kedua mata Kania membulat dengan sempurna, “tidak, aku tidak mau menikah! Bukankah aku hanya harus bekerja sebagai pelayan di rumah itu? Tapi kenapa kamu malah membawa aku ke dalam masalah Tuan kamu itu!” serunya kesal.

__ADS_1


“Siapa yang bilang jika kamu akan menjadi pelayan di rumah itu?”


“Ya Tuan kamu itu lah!”


“Itu hanya rencana cadangan.”


“Apa! Maksud kamu apa, hah!”


“Tuan Veon memang ingin memperkenalkan kamu sebagai calon istrinya sejak awal, tapi itu hanya untuk membuat kedua orangtuanya membatalkan perjodohannya dan menunda pernikahannya. Dan jika rencananya berhasil maka kamu akan bekerja sebagai pelayan, tapi jika rencananya gagal, kamu akan menjadi istrinya.”


Kania menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya jika dia sudah dibohongi selama ini. Kenapa dia bisa begitu saja percaya dengan mereka?


***


 


Kania menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang, dia lalu jatuh terkulai lemas di lantai, “tidak! Aku tidak mau menikah, aku tidak mencintainya, dia juga tidak mencintai aku. Lalu pernikahan apa yang akan aku jalani nanti, apa dia akan selalu menyiksa ku dengan sifat buruknya itu?”


Kania mendengar suara dering ponselnya, dia lalu mengambil benda pipih itu dari dalam tas selempangnya. Dia melihat siapa yang sudah menghubunginya, “Papa!” gadis itu langsung mengangkat panggilan itu, “halo, Pa,” sahutnya.


“Bagaimana kabar kamu sayang?”


Buruk, Pa. sangat buruk. “Kania baik-baik saja kok, Pa. Papa tidak perlu mengkhawatirkan Kania. Tuan Veon sangat baik terhadap Kania.” Kania tidak mungkin mempunyai keberanian untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya, karena dia tidak ingin membuat papanya khawatir.


“Papa senang mendengarnya. Papa juga sudah mendengar tentang rencana pernikahan kamu dengan Tuan Veon.”


Kedua mata Kania membulat dengan sempurna, dia mengepalkan tangannya. Dia tidak menyangka Veon akan secepat itu memberi tahu papanya tanpa meminta izin dulu dari dirinya.


“Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak bahagia dengan rencana pernikahan kalian?”


Kania bingung harus menjawab apa, hatinya kini tengah di penuhi oleh amarah. Dia meminta maaf kepada papanya jika dirinya ingin pergi ke kamar mandi, dan mengakhiri panggilan itu. Sebenarnya dia masih ingin berbicara banyak dengan papanya, tapi ada hal yang harus dia luruskan terlebih dahulu.


Wanita itu mencoba berdiri dan membuka pintu kamarnya. Kebetulan saat ini Veon baru saja sampai di rumah. Kania melangkahkan kakinya menghampiri pemuda yang sedang berjalan menuju tangga.

__ADS_1


“Tunggu!” teriak Kania dengan nada keras.


Veon menghentikan langkahnya, dia mengubah posisinya menghadap gadis yang kini sudah berdiri di depannya, “ada apa? Kenapa kamu berteriak? Apa kamu pikir aku tuli!” serunya.


“Kenapa kamu memberi tahu Papa aku tentang pernikahan yang sama sekali tidak aku inginkan, kenapa?” tanya Kania dengan nada sedikit berteriak.


Veon melangkah mendekat, hingga jarak mereka semakin dekat. Dia lalu mencengkram dagu gadis itu, “apa kamu pikir aku juga menginginkan pernikahan ini? Aku melakukan ini hanya karena kedua orang tua aku!” serunya.


Kedua sudut mata Kania mulai berkaca-kaca, “tapi kenapa harus aku, kenapa?” air mata itu akhirnya mengalir membasahi kedua pipinya dan juga jemari Veon.


“Mungkin itu memang nasib kamu yang buruk karena menjadi anak dari papa kamu. Kalau kamu ingin menyalahkan orang lain, salahkan saja papa kamu, karena dia berhutang banyak padaku!” Veon melepaskan cengkeramannya, “kamu hanya perlu menuruti kata-kata aku, jangan banyak membantah, karena aku paling tidak suka dibantah, ingat itu!” serunya.


Kania bersujud di depan Veon, dia mengatupkan kedua telapak tangannya, “aku mohon, batalkan rencana kamu. Kalau kamu ingin menikah, menikahlah dengan orang lain, aku tidak ingin menikah dengan mu, aku...” Kania tidak sanggup menahan isak tangisnya.


Veon berjongkok di depan gadis itu, “kenapa kamu begitu tidak inginnya menikah dengan ku? Padahal begitu banyak gadis yang mengantri ingin menikah dengan ku?” tanyanya penasaran.


Padahal begitu banyak wanita yang berharap bisa menjadi kekasih CEO muda yang berwajah tampan itu, tapi kenapa gadis muda itu sama sekali tidak tertarik padanya.


“Karena aku belum mau menikah, aku belum siap. Aku masih ingin mencapai mimpi-mimpi ku, aku tidak ingin menyia-nyiakan masa muda begitu saja.”


Veon mengernyitkan dahinya saat mendengar jawaban gadis itu, tapi jawaban gadis itu malah membuat Veon semakin tertantang untuk menaklukan gadis itu. Kania adalah gadis yang berbeda, karena dia sama sekali tidak terpikat oleh daya tarik CEO muda itu.


Veon berdiri, “aku tidak akan mengubah keputusan aku, aku akan tetap menikah denganmu,” ucapnya.


Kania mendongakkan wajahnya menatap pemuda yang berdiri di depannya, “tapi kenapa? Aku bukan siapa-siapa kamu, kamu juga tidak mengenal ku? Aku juga tidak mencintai kamu?” tanyanya penasaran.


“Justru karena kamu tidak mencintai aku, aku ingin menikah dengan mu, karena kamu tidak akan menyusahkan aku. Tapi jika aku menikah dengan gadis yang tertarik dengan ku, itu malah akan membuat aku pusing, dan aku tidak mau itu.” Veon melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya, dia meninggalkan Kania yang masih terus menangis merutuki nasib buruknya.


Zaki yang melihat Kania menangis sambil bersimpuh di lantai juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena semua ini adalah ide darinya. Dirinya lah yang meminta Veon untuk menjadikan gadis itu sebagai calon istri Veon. Tapi dia tidak menyangka rencana awalnya akan gagal, hingga membuat Veon harus melakukan rencana kedua, yaitu menikahi gadis itu.


Zaki melangkahkan kakinya menjauh, dia akan membiarkan gadis itu terus menangis, karena dia pikir itu akan mengurangi beban gadis itu.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2